• Info Terkini

    Sunday, October 21, 2012

    Mewujudkan Masyarakat Sadar Arsip


    Oleh Muhammad Subhan*)

    Rumah gadang itu tidak terlalu luas. Hanya sekitar 3 x 6 meter. Di dalamnya punya tiga ruang. Tidak lumrah seperti rumah gadang lainnya di Minangkabau. Ruang depan seperti serambi. Ada pintu kayu di bagian kanan serambi rumah itu. Di bawahnya ada tangga batu.

    Dinding-dinding kayu bagian dalam dilapisi kain beraneka warna. Dominan warna kuning. Tonggak-tonggak rumah itu pun sudah terlihat sangat tua. Juga dilapisi kain. Kusam dimakan usia. Rumah itu beratapkan seng.

    Di ruang utama rumah gadang itu tampak tertata rapi sejumlah benda-benda pusaka. Di sebuah ruang yang berbentuk singgasana terdapat kotak kayu berdinding kaca. Di dalam kotak itu, terlihat sebuah dulang besar terbuat dari kuningan. Meski warnanya sudah sedikit pudar dimakan usia, tapi ia masih terlihat indah. Dulang itu milik Bundo Kanduang, yang konon, adalah seorang pemimpin perempuan pertama Minangkabau.

    Di dekat dulang itu, berjejer beberapa buah keris pusaka. Tak bergagang, dan dilapisi kain berwarna kuning. Di bawah kotak kaca, ada perkakas-perkakas yang berusia tua. Ada juga tempat sirih, lampu minyak, guci, pisau, kain songket, dan sejumlah perkakas lainnya. Di bawah kotak kaca tempat dulang itu juga ada dua buah Alquran tua yang bertuliskan tangan. Tak berkulit cover. Beberapa kitab beraksara arab gundul, juga sudah sangat tua tentunya.

    Sementara, di tiang-tiang penyangga di bagian tengah rumah itu bersandar beberapa buah tombak pusaka dalam kondisi terikat. Tombak-tombak itu diberi nama “Tombak Giwang Linggar Jati”, “Tombak Giwang Teratai Putih”, dan “Tombak Kijang Sakti Kenanga Putih”. Sementara, di sudut dinding rumah gadang itu terpajang beberapa buah foto. Satu foto menyebutkan lokasi makam Bundo Kanduang di Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan. Sedangkan di sebelah foto makam Bundo Kanduang, ada foto-foto beberapa orang penghulu berpakaian adat, namun tak bernama.

    Itulah sekilas suasana di dalam Rumah Gadang Bundo Kanduang di Batu Basurat (Batu Basurek), Gudam, Pagaruyung, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Konon, di rumah inilah raja-raja Pagaruyung yang bertahta di Istana Pagaruyung turun usai dilewakan menjadi raja. Tapi sejarah itu masih kabur. Namun yang pasti, Rumah Bundo Kanduang ini ada, dan di dalamnya tersimpan sejumlah benda-benda pusaka yang menjadi bukti sejarah. Di antaranya beberapa kitab kuno, Alquran bertulis tangan dan surat-surat yang menjadi arsip sejarah, meski terlihat kurang terawat.

    Hadrianto Sutan Pamenan, 35 tahun, didampingi kakaknya Harmaini, 47 tahun, adalah pewaris Rumah Gadang Bundo Kanduang itu. Penulis berkesempatan mengunjungi rumah ini dalam perjalanan ke Tanah Datar untuk berdarmawisata. Ketika ada orang menyebut di Pagaruyung terdapat Rumah Gadang Bundo Kanduang, penulis tertarik menyinggahinya. Sebab, selama ini yang dikenal luas dan menjadi icon pariwisata Sumatera Barat di Tanah Datar hanyalah Istana Pagaruyung yang beralamat di Jalan Sutan Alam Bagagarsyah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar (Istana Pagaruyung terbakar tanggal 27 Februari 2007 sekitar pukul 19.10 WIB, terbakar kedua kalinya setelah musibah yang sama terjadi di tahun 1945. Sekarang pembangunan kembali Istana Pagaruyung sedang dikerjakan—pen).

    Berdasarkan wawancara penulis dengan Hadrianto, dari cerita orangtua dan neneknya, di tahun 1804 Rumah Gadang Bundo Kanduang itu pernah terbakar. Tidak jelas kapan pertama kali rumah itu dibangun dan oleh siapa. Yang pasti, awalnya rumah gadang ini memiliki 13 ruang. Setelah terbakar, di tahun 1950 rumah gadang itu dibangun kembali dengan tujuh ruang. Karena nenek Hadrianto saat itu tinggal sendirian, rumah gadang tersebut tidak terawat dan hancur satu persatu hingga tersisa tiga ruang sampai sekarang.

    Dan, tidak jauh di depan Rumah Gadang Bundo Kanduang ini, terdapat Batu Basurat, yang konon dibuat oleh Raja Alam Minangkabau Adityawarman (memerintah sekitar abad ke-14 antara tahun 1339-1375). Batu ini seolah menjadi saksi bisu mengokohkan keberadaan Rumah Gadang Bundo Kanduang. Namun sayangnya, jalan raya kabupaten menjadi pemisah jarak antara Rumah Gadang Bundo Kanduang dan situs Batu Basurat.

    Tidak hanya itu, kunjungan-kunjungan wisatawan pun nyaris lupa menyinggahi Rumah Gadang Bundo Kanduang karena lebih terkonsentrasi mengunjungi Batu Basurat ataupun Istana Pagaruyung. Hanya beberapa wisatawan asal Malaysia saja yang pernah datang ke rumah gadang ini karena mereka penasaran dengan isi di dalamnya.

    Yang disayangkan, selama ini belum ada upaya pemerintah daerah setempat untuk melakukan pemugaran rumah gadang itu. Bahkan setiap tahunnya Pemda Tanah Datar tetap memungut Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dari ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang. Padahal, tempat mereka tinggal, layaknya situs Batu Basurat, adalah cagar budaya yang harus dijaga dan dipelihara kelestariannya. Ketika beberapa bulan lalu penulis sempat melewati kembali jalan di depan rumah gadang ini, dari kejauhan penulis melihat atap rumah gadang ini sedang diperbaiki. Semoga itu merupakan kerja dari pemerintah daerah setempat yang melakukan pemugaran, atau pihak-pihak lain yang peduli terhadap kelestarian situs-situs sejarah Minangkabau.

    * * *

    Bercermin dari kondisi Rumah Gadang Bundo Kanduang tersebut, penulis berkesimpulan bahwa masih banyak situs-situs sejarah di Indonesia khususnya di Sumatera Barat yang di dalamnya menyimpan arsip-arsip penting yang belum tersentuh pihak-pihak berwenang, khususnya pemerintah. Apa yang terjadi di Rumah Gadang Bundo Kandung adalah sebuah fakta “penganaktirian” terhadap situs sejarah.

    Belum terungkap apa isi sejumlah kitab maupun dokumen-dokumen lainnya yang tersimpan di dalam rumah gadang ini. Para ahli sejarah masih minus melakukan penelitiannya, atau terlewati lantaran ada “proyek” penelitian lain yang lebih penting. Atau pula memang ada pihak yang “mengkondisikan” agar Rumah Gadang Bundo Kanduang tidak usah diperhatikan, karena ketidakjelasan sejarahnya yang sejak dulu dipolemikkan siapa nama Bundo Kanduang yang sebenarnya itu. Dan, masih banyak pertanyaan lain yang benar-benar mengundang rasa penasaran.

    Menurut kabar atau cerita lisan Minangkabau, Bundo Kanduang adalah nama seorang tokoh perempuan yang menurunkan raja-raja Minangkabau, berkedudukan di Istana Pagaruyung. Dalam perkembangan selanjutnya, Bundo Kanduang atau Bunda Kandung menjadi istilah yang berarti ibu sejati yang memiliki sifat-sifat keibuan dan kepemimpinan. Menurut adat Minangkabau ibu adalah tempat menarik tali turunan yang disebut matrilineal. Hal ini mengandung makna agar manusia yang dilahirkan oleh kaum ibu terutama laki-laki, menghormati dan memuliakan ibu tanpa pandang bulu.

    Sedangkan menurut ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang, Hadrianto, Bundo Kanduang Minangkabau sebenarnya adalah bernama Siti Halimah yang beristana di Rumah Gadang Bundo Kanduang di Gudam, Pagaruyung, Tanah Datar. Semua benda-benda pusaka di dalam rumah gadang tersebut adalah milik Bundo Kanduang Siti Halimah. Dan, Bundo Kanduang Siti Halimah ini bermakam di Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, yang saat ini makamnya dijaga oleh Mande Rubiah yang juga ahli waris Bundo Kanduang di Lunang.

    Masih kaburnya siapa sebenarnya tokoh Bundo Kanduang itu mengundang penasaran banyak pihak untuk melakukan penelitian lebih mendalam khususnya di kalangan para sejarahwan. Dan, salah satu penelusuran itu, adalah dengan menggali kebenaran fakta Bundo Kanduang dari arsip-arsip yang tersimpan di dalam rumah gadang ini. Sebab, menurut Hadrianto, beberapa berkas dokumen-dokumen tua di dalamnya bisa saja akan memperjelas sejarah Bundo Kanduang serta kepingan-kepingan sejarah Minangkabau lainnya yang tercecer. Dia sendiri tidak punya ilmu untuk membaca teks-teks sejarah yang ada di dokumen-dokumen yang ada di rumah gadang itu. Dulu, katanya, di Rumah Gadang Bundo Kanduang banyak terdapat manuskrip-manuskrip, namun telah hilang di makan usia karena minusnya perawatan.

    Di sinilah pentingnya peran pemerintah daerah setempat memberikan perhatian mendalam, bukan sekedar memugar kembali secara fisik bangunan rumah gadang itu, namun juga mengumpulkan dokumen-dokumen penting yang tersisa di dalam rumah gadang itu serta menempatkankannya pada tempat yang layak di samping menugaskan para sejarahwan untuk meneliti isi arsip-arsip kuno itu. Jika arsip-arsip tersebut terbaca dan benar-benar berisi informasi penting tentang sejarah Minangkabau, maka artinya sejarah yang hilang ditemukan kembali. Tidak lagi sekadar tambo (legenda) yang secara turun-temurun diceritakan secara lisan dan diragukan kebenarannya.

    Sejarahwan-sejarahwan perguruan tinggi di Sumatera Barat juga tak salah untuk berinisiatif melakukan penelitian mereka di rumah gadang ini, dengan menurunkan tim yang benar-benar ahli membaca teks-teks kuno yang tersimpan di dalamnya. Hasil penelitian itu nanti hendaknya dapat dipublikasikan secara luas ke tengah masyarakat agar tidak terjadi lagi polemik tentang siapa sebenarnya Bundo Kanduang, sehingga dapat pula menambah wawasan baru masyarakat tentang adat istiadat Minangkabu yang tercecer itu.

    Di samping proaktifnya pemerintah daerah dan para sejarahwan, ahli waris Rumah Gadang Bundo Kanduang hendaknya berinisiatif pula melaporkan keberadaan arsip-arsip sejarah di rumah gadang itu, baik berupa surat menyurat, kitab, Alquran bertulis tangan, maupun dokumen-dokumen lainnya ke lembaga-lembaga yang berkompeten mengurusnya, salah satunya adalah kantor Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Pelaporan ini sangat penting sebagai upaya mewujudkan masyarakat yang sadar terhadap penyelamatan situs-situs sejarah yang tercecer di lembar-lembar kertas ataupun media tulis lainnya.

    Kelemahan masyarakat Indonesia dibanding negara-negara lain, adalah seringnya menganggap remeh keberadaan arsip, khususnya arsip yang mendokumentasi sejarah. Sebab, kemampuan pemerintah sangat terbatas mengumpulkan semua dokumentasi sejarah itu dengan berbagai alasan, salah satunya minusnya informasi dari masyarakat serta kurangnya tenaga arsiparis yang bertugas merawat dan menyimpan dokumen-dokumen tersebut, di samping terbatasnya ruang penyimpanan arsip. Padahal, jika serius menangani persoalan arsip ini, kelak akan sangat berguna bagi kelangsungan hidup anak cucu. Sebab, mereka akan belajar dari sejarah yang tersimpan rapi di pusat-pusat penyimpanan arsip khususnya yang terkait dengan sejarah leluhur mereka.

    Kita salut dengan Negeri Belanda yang punya KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-Land-en Volkendkunde), sebuah institusi terbesar di Belanda yang begitu rapi dalam pengarsipan dokumen bersejarah milik bangsa Indonesia di masa lalu. KITLV berdiri sejak tahun 1857 dengan memfokuskan diri pada koleksi Indonesia. Tidak hanya dalam bentuk foto atau gambar-gambar pada masa lalu, namun juga koleksi buku-buku, majalah dan surat kabar mengenai Indonesia. Sangat aneh, dokumentasi sejarah Indonesia malah Belanda yang menyimpannya. Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena Indonesia pernah menjadi daerah jajahan Belanda selama lebih dari 300 tahun.

    Belajar dari Belanda ini pula sudah saatnya Indonesia membangun masyarakat sadar arsip agar generasi bangsa di kemudian hari tidak kehilangan jejak sejarah bangsanya sendiri. Sebab, kita mengetahui dan memahami bahwa arsip memiliki arti penting yang dapat digunakan sebagai bukti keberadaan atau sebagai jati diri, namun pengetahuan dan pemahaman itu barangkali belum sampai pada tingkat kesadaran untuk penyelamatan dan pelestarian arsip. Tidak bisa kita bayangkan, apa yang akan terjadi bila aktivitas kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun organisasi tanpa catatan (arsip). Seperti dikatakan Mikland, niscaya ia akan kehilangan memory, tanpa kepastian hukum, tanpa sejarah, tanpa kebudayaan, tanpa ilmu pengetahuan dan seterusnya. Jawaban ini setidaknya memiliki pengertian bahwa sebenarnya arsip mengandung banyak dimensi. Kehadiran arsip dalam setiap aktivitas manusia maupun organisasi dari segala aspeknya sebenarnya dalam status dibutuhkan dan bukan diinginkan.

    Maka, sadar arsip merupakan sikap mental untuk peduli terhadap nilai dan manfaat arsip sebagai memori kegiatan baik perorangan maupun instansi untuk kemudian secara aplikatif mampu mengaktualisasikan kegiatan kearsipan menuju ke arah terselamatkannya arsip sesuai dengan fungsi dan nilai gunanya. Oleh karena itu, sudah merupakan kewajiban pemerintah daerah dan masyarakat khususnya untuk menyelamatkan arsip-arsip yang ada di sekitar kita agar kekeliruan penyelenggaraan kearsipan tidak terus terjadi. Tentu saja dengan harapan baru sejarah tidak termanipulasi, dikaburkan, atau juga dihilangkan untuk kepentingan-kepentingan tertentu yang berbau politis dan lainnya.

    Untuk membangun masyarakat sadar arsip ini harus dimulai semenjak arsip-arsip itu diciptakan oleh seseorang ataupun instansi sampai arsip-arsip tersebut disimpan di Kantor Arsip Daerah sebagai lembaga kearsipan yang bertanggung jawab menjaga dan merawatnya. Kesadaran ini harus dibangun pada pribadi setiap manusia. Dan yang perlu diingat bahwa sadar arsip bukan hanya monopoli arsiparis dan petugas kearsipan sebagai pengelola dan pengendali arsip saja, tapi juga tanggung jawab kita semua. Sebab, bak kata pepatah, jika bukan sekarang kapan lagi, jika bukan kita siapa lagi.

    *) Pengurus Pusat Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mewujudkan Masyarakat Sadar Arsip Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top