• Info Terkini

    Tuesday, October 16, 2012

    Menimbang Novel “5 Bintang”: Kisah Anak-anak yang Dewasa Sebelum Waktunya

    Oleh Muhammad Subhan*)

    Tidak banyak orang yang mampu menulis panjang. Tidak banyak juga penulis yang baru pertama kali membuat novel tiba-tiba naskahnya diterima editor lalu diterbitkan menjadi buku dan beredar luas di pasaran. Kedua hal ini tidak berlaku bagi Maizul, pengarang novel 5 Bintang yang karyanya diterbitkan penerbit besar sekelas Salsabila (September 2011). Salsabila adalah Divisi Sastra dari Penerbit buku-buku agama berkualitas Pustaka Al-Kautsar, Jakarta.

    Novel 5 Bintang ketebalannya 606 halaman. Ini buku yang sangat fantastis. Jarang novel-novel terbitan Indonesia memiliki ketebalan di atas 500 halaman. Namun tentu saja Maizul dan banyak penulis Indonesia lainnya masih tertinggal jauh dari penulis-penulis dunia yang menerbitkan novel dengan ketebalan lebih dari seribu halaman. Satu diantara novel dunia itu adalah “Perang dan Damai” (War and Peace) karya Leo Tolstoy yang memiliki ketebalan 1.443 halaman.

    Novel-novel era pujangga lama dan pujangga baru malah lebih tipis lagi, rata-rata kurang dari 200 halaman. Novel Dibawah Lindungan Ka’bah karya Hamka yang baru-baru ini dirilis kembali filmnya hanya memiliki ketebalan 66 halaman. Novel Si Jamin dan Si Johan karya Merari Siregar 102 halaman, novel Belenggu karya Armin Pane 150 halaman, begitu juga novel Dari Ave Maria Jalan Lain ke Roma 171 halaman. Itu beberapa contoh judul novel (roman) di era sebelumnya yang terbit kurang dari 200 halaman. Tentu masih banyak judul yang lain.

    Pertanyaan yang layak diajukan, adakah korelasi antara tebalnya sebuah novel dengan bermutunya isi novel itu sendiri? Tentu jawabannya sangat relatif. Ada novel-novel yang dianggap sejumlah ahli sastra sebagai novel bermutu, tidak tebal-tebal amat, tetapi sulit didapatkan di pasaran atau kalau pun ada sedikit sekali yang membeli dan membacanya. Sebaliknya ada novel-novel yang dianggap “kurang bermutu” dan tidak layak disebut sebagai sebuah novel malah menguasai pasar, dicetak berulang kali, menyandang status best seller book, diterjemahkan ke berbagai bahasa bahkan difilmkan. Tentu ini sangat aneh tapi nyata. Bila dipolemikkan di ruang media, tidak akan ada ujungnya.

    Pada kesempatan ini saya tidak mengkaji soal ketebalan novel atau laris tidaknya sebuah novel di pasaran pascaterbitnya. Saya hanya ingin melihat sisi lain dari novel 5 Bintang yang coba saya ulas. Tentu ini hanyalah pandangan subyektif usai menuntaskan membacanya.

    * * *

    Novel 5 Bintang berkategori cerita anak-anak semi remaja. Nama 5 Bintang dilekatkan kepada 5 orang anak sekolah dasar SDN 2 Sijunjung (Joel, Jamaris, Kenedy, Rajab dan Kansas). Sejak pertama masuk sekolah kelimanya menjadi sahabat akrab meski berbeda watak dan karakter. Ceritanya kocak, tetapi tutur bahasa penceritaan yang dipakai pengarang terlalu cerdas, melampaui lumrahnya anak-anak yang berbicara di dunianya. Agaknya Maizul sulit melepaskan dirinya sebagai pengarang dari tokoh ciptaannya sehingga bahasa-bahasa yang sangat cerdas itu menjadi tidak lumrah diucapkan oleh anak-anak usia sekolah dasar.

    Misalnya begini:

    “Itulah kenapa ia tidak mau melepaskan kupu-kupu imitasi dari kepalanya. Dibeli ibu saya seminggu sebelum ia meninggal di pasar Sawah Lunto!” Itu keterangan terakhir yang dapat kusimak dari sang ibu, kenapa anaknya sampai sudah seperti Xan-Thippe, seorang perempuan bengis yang nyerempet jadi istri Socrates. (hal. 44)

    Bagi seorang anak sekolah dasar, baru pertama masuk sekolah pula, bagaimana ia dapat mengenal sosok Xan-Thippe dan Socrates yang filosof itu? Sangat mustahil sekali. Anak SMP dan SMA pun, saya kira sedikit yang tahu akan sosok itu, sebab porsi materi ajar yang minus, kecuali mereka membaca buku-buku filsafat yang diajarkan di bangku perguruan tinggi. Di sini yang cerdas bukanlah tokoh Aku (Joel) melainkan pengarangnya sendiri.

    Begitupun pada paragraf berikut ini:

    “...Mengambil ungkapan bijak dari kaum filosof sekaliber Socrates, Aristoteles, Ibnu Sina, dan Imam Ghazali. Tapi yang sering ia ucapkan adalah ungkapan dari tokoh yang bernama Jamain gelar Sutan Batuah Muko Picak. Entah siapa tokoh keramat ini. Sampai tamat sekolah aku masih juga belum bisa mengetahui apa saja penemuan penting beliau. Ataukah orang itu kawan satu indekosnya Plato? (hal. 46)

    Sangat hebat sekali saya kira bila seorang anak SD sudah tahu dan kenal akrab dengan Socrates, Aristoteles, Ibnu Sina, dan Imam Ghazali. Disamping itu, walau bernada guyon, mensejajarkan tokoh yang bernama Jamain gelar Sutan Batuah Muko Picak sebagai kawan satu indekosnya Plato juga tidak nyambung sebab keduanya hidup di jaman yang berbeda.

    * * *

    Menulis cerita anak dan cerita remaja memang tidak mudah walau semua orang pernah berangkat dari dunia anak-anak kemudian hidup di dunia dewasa. Tetapi Maizul lihai menentukan tulisannya agar enak dibaca, maka ia memakai sudut pandang orang pertama (Aku) sebagai tokoh utama (Joel). Dengan sudut pandang ini pengarang dapat menyapa pembaca tulisannya. Dapat menentukan reaksi ataupun respon pembaca bahkan pembaca merasa menjadi pelaku utama di dalam tulisan tersebut dan berteman dengan penulisnya. Tetapi seringkali teknik ini menjebak sehingga pengarang tidak dapat melepas dirinya yang dewasa dengan tokoh ciptaannya yang anak-anak atau remaja.

    Aspek lainnya yang penting diperhatikan seorang pengarang di dalam menulis cerita anak-anak atau cerita remaja adalah aspek nilai moral. Taufiq Ismail (2003) menyebutnya sebagai nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam karya sastra, seperti keimanan, kejujuran, ketertiban, pengendalian diri, tanggung jawab, kerjasama, kerja keras, optimisme dan menghargai nyawa manusia. Nilai luhur ini menjadi penentu moral tokoh di dalam sebuah cerita.

    Di dalam 5 Bintang, banyak saya temukan kata, kalimat, dan ungkapan yang (maaf) agak tabu bila anak-anak seusia sekolah dasar menyebutkannya, meski bukan berarti tidak ada anak-anak yang bertutur kata demikian. Walaupun fiksi adalah karya imajinasi seorang pengarang, tetapi bila pembacanya adalah anak-anak, tentu pesan moral yang ingin disampaikan pengarang bila menyimpang malah akan menjadi sebuah pembenaran bagi mereka.

    Beberapa bagian di dalam 5 Bintang yang saya kutip sebagai berikut:

    Sang anak kian over acting berjalan dengan mengipas-ngipas pantat, seraya mengangkat gaun setinggi paha... (hal. 12)

    ...Ia seperti tidak peduli dengan pantat yang menggelepar-gelepar tak terkontrol. Dada aman! Sambil lari terus dipegangi dengan kedua tangan. (hal. 14)

    Pertanyaan apa ini? Pakai acara pangkal-pangkal segala. Otakku mikir! Haruskah aku menjawab dengan “pangkal paha”! Atau... (hal. 61)

    “Aku sudah mempersiapkan kutang dan kolor baru untukmu!” kata Dian pagi tadi terus mengiang...” (hal. 129)

    “...Aku tersentak dari lamunan. Warna kolor yang berwarna-warni dan kutang yang berwarna pink beterbangan di benakku. Dian memang brengsek! Mampu memancing daya khayalku dengan celana dalam dan kutang...” (hal. 132)

    “...Sepertinya yang kulihat bukan Dian yang anggun. Tapi Dian yang aneh. Memakai kolor di kepala dan kutang sebagai ikat pinggang. Seperti mengukur masa depanku bahwa kelak dalam otakku hanya berisi kolor wanita sementara daya pikiranku hanya selingkaran pinggangnya. (hal. 137)

    Lumrahnya, batas pubertas seorang anak laki-laki adalah usia 15 tahun. Namun dalam 5 Bintang, tokoh utama dan kawan-kawannya yang masih duduk di bangku sekolah dasar berusia kurang dari 10 tahun sudah mengenal benda-benda vital di tubuh manusia yang selayaknya belum perlu terlalu serius mereka pikirkan. Dan, bagi pembaca apa yang mereka ucapkan dan perbuat itu tentulah sangat mengejutkan.

    Itu hanya beberapa hal saja yang sedikit mengusik pembacaan saya. Tetapi sesungguhnya novel ini mengandung estetika bahasa luar biasa yang mewarnai kisah-kisah didalamnya, khususnya soal cinta.

    Seperti terungkap dalam paragraf berikut ini:

    Rupanya bila penyair jatuh cinta maka dunia akan ikut menari. Namun bila sebaliknya cinta ditolak, maka dunia pun muram meratap. Syair-syair duka. Pantun-pantun menawan penuh seribu makna luka dan ungkapan-ungkapan malapetaka akan mengalir dari pena seorang seniman. Keluar dan terus mengalir bak bunga-bunga layu di musim kemarau. (hal. 146).

    Seniman memang tidak pernah sendirian dalam menyimpan luka. Duka nestapa bagi mereka adalah sebuah bentuk kemenangan seni yang akan menakjubkan dunia. (hal. 146)

    Indah sekali kalimat-kalimat itu. Walau tidak lumrah untaian kata sedemikian halus dan indahnya diucapkan oleh anak sekolah dasar (yang cenderung berbahasa latah dan comel), tetapi di sinilah letak kemampuan berbahasa pengarang yang pantas pula mendapat pujian. Artinya Maizul telah bekerja keras agar karyanya memiliki nilai estetika yang tinggi agar menjadi karya sastra yang benar-benar bernilai dan tentu juga memiliki makna yang dalam.

    Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, novel 5 Bintang telah lahir ke tengah-tengah khalayak pembaca dan pantas diberikan apresiasi yang tinggi kepada pengarangnya. Mengarang membutuhkan waktu dan motivasi terus menerus agar karya itu dapat lahir sempurna dan tidak prematur. Maizul telah membuktikan dirinya mampu duduk berlama-lama di depan komputer, mengetik berlembar-lembar halaman, mengumpulkan ide dan gagasan hingga menjadi sebuah cerita yang menarik dan enak dibaca. Sudah selesailah untuk sementara waktu tugasnya sebagai seorang pengarang, yaitu menulis karangan. Setelah karya itu menjadi buku, tentu kita sepakat bahwa setiap buku akan punya nasibnya sendiri.

    MUHAMMAD SUBHAN, jurnalis dan penulis. Novelnya Rinai Kabut Singgalang (2011), Cinta Regu Badak (akan terbit), Abu di Atas Tungku (akan terbit). Menulis cerpen dan puisi. Berkegiatan di Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menimbang Novel “5 Bintang”: Kisah Anak-anak yang Dewasa Sebelum Waktunya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top