Skip to main content

Pendiri FAM Indonesia Itu Ternyata Berdarah Aceh

Apa itu Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia?

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia didirikan oleh “duo penulis muda” Indonesia, Muhammad Subhan dan Aliya Nurlela. FAM Indonesia berdiri pada tanggal 2 Maret 2012. FAM Indonesia berkantor pusat di Pare, Kediri, Propinsi Jawa Timur yang tujuannya menyebarkan semangat cinta (aishiteru) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya. FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan. Dalam waktu dekat akan dibentuk kepengurusan cabang FAM di seluruh daerah di Indonesia.

Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia bertekad melahirkan penulis-penulis muda Indonesia masa depan. FAM Indonesia berbasis di sekolah-sekolah dan melebur di tengah masyarakat dalam berbagai kegiatan kepenulisan.

Banyak yang bertanya, siapa saja Tim FAM Indonesia? Organisasi kepenulisan Nasional sebesar ini dengan seribuan lebih anggotanya rasanya mustahil digerakkan oleh satu-dua orang saja. Pasti banyak orang yang bekerja “di dapur” FAM Indonesia sehingga berbagai kegiatannya berjalan dengan baik dan selalu update di dunia maya. [Baca: Mereka yang Bekerja di Dapur FAM Indonesia]

Sejak berdiri di Pare, Kediri, Jawa Timur pada tanggal 2 Maret 2012, FAM Indonesia memproklamirkan dirinya sebagai wadah kepenulisan Nasional yang bertekad membina dengan hati calon penulis Islami, sesuai motto yang diusungnya. Target FAM Indonesia adalah menumbuhkan semangat membaca buku dan menulis di kalangan generasi muda Indonesia dan membinanya lewat wadah kepenulisan ini. Tentu bukan hanya di dunia maya, tetapi benar-benar hadir di dunia nyata.

FAM Indonesia resmi memiliki Akta Notaris Pendirian Organisasi dengan Nomor Akta 01 tertanggal 29-09-2012 yang dibuat di hadapan Notaris Setyawardhana, S.H., M.Kn, yang beralamat di Jalan Lawu, No. 16 Pare, Kediri. Legalitas ini sangat penting untuk memudahkan segala urusan FAM Indonesia, disamping komitmen FAM sebagai organisasi yang taat aturan dan taat hukum di Negara Republik Indonesia.

FAM Indonesia memiliki banyak Tim yang terlibat memenej jalannya roda wadah kepenulisan ini. Mulai dari Tim profesional yang mengulas seluruh karya anggota, editor naskah buku-buku yang diterbitkan FAM Publishing, admin yang mengurusi email, facebook, manejemen keuangan, FAM-Preneurship hingga Tim Promosi. FAM juga mengangkat calon-calon ketua cabang di beberapa kota yang merupakan kader-kader terbaik FAM Indonesia.

Nah, salah seorang pendiri FAM Indonesia adalah Muhammad Subhan. Dia lelaki berdarah Aceh-Minang. Lahir di Medan, 3 Desember 1980. Bersama Aliya Nurlela (Malang, Jawa Timur) mendirikan wadah kepenulisan Nasional FAM Indonesia. Lebih 12 tahun ia menjadi wartawan di banyak media, di antaranya Harian Mimbar Minang, Harian Serambi Minang, Harian Haluan (Padang), dan majalah Islam Sabili (Jakarta).

Novelnya yang telah terbit berjudul Rinai Kabut Singgalang (Rahima Intermedia, Yogyakarta, 2011). Novel remaja Cinta Regu Badak yang ditulisnya segera terbit di FAM Publishing, begitu juga dua buku tunggal kumpulan cerpennya. Selain itu, ia menulis cerpen dan puisi di koran-koran lokal dan Nasional. Beberapa karyanya terkumpul dalam antologi bersama, di antaranya Lautan Sajadah (Puisi, Kuflet Publishing, 2009), Ponari for President (Puisi, Malang Publishing, 2009), Musibah Gempa Padang (Puisi, e-Sastra Malaysia, 2009), G30S: Gempa Padang (Puisi, Apsas Jogja, 2009), Kado untuk Jepang (Flash Fiction, 2011), Menyirat Cinta Haqiqi (Puisi, Malaysia, 2012), Fesbuk (Cerpen, LeutikaPrio, 2012). Bersama wartawan senior Sumatera Barat Hasril Chaniago dan Ekoyanche Edrie Ia menulis buku Kredit Mikro Nagari (2009) yang membawanya mengunjungi sejumlah kota di Tanah Air untuk meneliti perkembangan ekonomi mikro masyarakat rural.

Sejumlah penghargaan jurnalistik sempat diraihnya, di antaranya Liputan Perburuhan (AJI, 2009) dan wartawan penulis buku dari PWI Sumatera Barat (2010)—Piagam Penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua PWI Pusat di RRI Padang. Ia sering diundang tampil sebagai pembicara di banyak iven seminar, workshop, pelatihan jurnalistik/kepenulisan baik lokal dan nasional. Pada Maret 2012, ia ikut memenej Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya yang dipusatkan di Padang dan mengundang 300 sastrawan dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam dan Thailand.

Selama lebih 4 tahun ia “studi” sastra di Rumah Puisi Taufiq Ismail Sumatera Barat, sekaligus bertindak menjadi instruktur sanggar sastra siswa Rumah Puisi. Ia mendapat banyak ilmu dan pengalaman berharga dari “pengabdiannya” itu. Mulai 2013, Ia akan menetap di dua kota, Pare dan Padangpanjang, sekaligus terjun ke sekolah-sekolah baik di kota dan di pelosok desa membina generasi muda untuk mencintai membaca buku dan menulis karangan bersama FAM Indonesia. Sebab, katanya, dengan dua hal inilah (membaca buku dan menulis) bangsa-bangsa besar di dunia maju dan berkembang. [Fadel Aziz Pase]

Mari bergabung dengan Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, klik: FAM INDONESIA

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…