Skip to main content

Pergilah, Dakilah Puncak Everest Itu, Sobat

Oleh Arif Hifzul*)

Menjadi suatu kesan tersendiri ketika ada seseorang nun jauh di sana menanyakan kabar dan kondisi kita, apalagi orang tersebut merupakan salah satu orang yang kita kagumi, bahkan menghargai karya yang kita miliki walaupun tak seindah karya beliau.

Maaf, mungkin sudah lama aku tak dapat bersapa dengan kalian (anggota FAM Indonesia), sudah lama rindu ini ingin kutuangkan ke dalam ruang hati kalian masing-masing, mengisinya hingga penuh, hingga tak ada lagi ruang kosong. Ingin aku belajar lebih banyak bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik seperti kalian. Menebarkan semangat dengan tulisan-tulisan yang bermanfaat.

Maaf, aku hanya bisa menatap lebih dalam tulisan-tulisan kalian yang begitu luar biasa itu melalui layar kecil yang bisa kumasukkan dalam saku celana. Aku belum bisa menyapa satu persatu tulisan kalian yang muncul hampir setiap harinya di beranda FAM Indonesia.

Mungkin aku bakalan ketinggalan lebih jauh dengan kalian. Pergilah, selagi kalian masih bisa berpergian jauh. Tinggalkan aku sendiri di sini, agar aku bisa mengambil semua hikmah yang kalian tebarkan lewat tulisan ini.

Pergilah hingga kalian bisa mendaki puncak yang tertinggi di dunia itu. Pergilah hingga kalian benar-benar menancapkan bendera FAM Indonesia yang takkan pernah mati dimakan usia, di puncak Everest. Hingga aku bisa tersenyum lebar melihat keberhasilan kalian di semua media yang tersebar.

Salam hangat.

*) Arif Hifzul, ID FAM 865M, anggota FAM Medan, Sumatera Utara

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…