• Info Terkini

    Wednesday, October 3, 2012

    Pipo Londo

    Cerpen Resa Abdullah‎*)

    Hari Senin awal pekan baru di bulan yang baru dan di tahun yang baru 1980. Adi berangkat ke sekolah dengan semangat yang baru. Ia selalu datang nomor satu setidaknya selalu di bilangan sepuluh. Meskipun hari itu bukan hari tugas piket menyapu. Jalan tanah tak berbatu berpagar bambu. Teduh sejuk segar udara pagi mengiringi langkah Adi yang nyeker menuju samudera ilmu. Semburat keemasan sinar matahari menyelinap menghangatkan di sela dedaunan dan ranting pohon. “Pagi indah surya bersinar memancar sepanjang hari. Tuhan, engkau baik hati menghangatkan hidup kami. Sekarang sepanjang hari...” lirih suara Adi bernyanyi.

    “Selamat pagi, Pak Yoso!” salam Adi pada penjaga sekolah saat membuka pintu kelas tiga bertepatan dengan kedatangan Adi.

    “Pagi Adi, kamu piket ya hari ini?” balik tanya Pak Wiyoso dengan bahasa Indonesianya yang medok.

    “Tidak, Pak. Sudah biasa seperti Bapak, biasa berangkat pagi kan?” jawab Adi yang mengandung pujian. Pak Wiyoso pun tersenyum sambil berlalu membuka pintu kelas lainnya dan membuat minuman teh untuk para guru. Adi menaruh buku di bangku berbahan kayu jati mengkilap vernis cokelat tua kehitaman berlapis dangkal saking tuanya. Di deretan bangku di tengah kelas, sekejap mata kemudian ia sudah di pelataran sekolah di bawah pohon jambu mete.

    “Kring-kring-kring…” bunyi sepeda tromol Pak Warsito.

    “Selamat pagi, Pak Guru!” salam Adi berjalan sembari mendekati guru kelasnya itu yang akan memarkir sepedanya tepat di bawah dan menyandar di batang pohon jambu mete. Setelah mencium tangan, Adi segera menenteng tas kulit sapi warna cokelat milik Pak Warsito ke ruang guru.

    Pak Warsito adalah sosok guru yang paling ditakuti. Badannya tinggi besar, galak dan tegaan. Tak segan tangannya menjewer kuping atau menarik athi-athi kami anak muridnya sampai pedas kalau berbuat salah. Bahkan kalau sampai diberi tugas menghafal peta buta atau tidak becus berhitung setelah diajarkannya berulang-ulang, terkadang penuding bambunya bersarang mulai dari tangan hingga kepala.

    “Anak-anak, di kelas tiga ini kita akan belajar hitungan matematika tentang perkalian sampai pembagian. Kalian sudah belajar penjumlahan dan pengurangan di kelas dua. Perkalian kita pelajari terlebih dahulu, karena pembagian itu lebih sulit,” tegas Pak Warsito.

    Beliau terus menjelaskan dengan gamblang dan Adi menyimak dengan penuh perhatian. Sementara ada saja temannya yang main lempar kertas atau potongan kapur ketika beliau menghadap papan tulis. Sesekali mereka ketangkap basah dan tak ayal jeweran dan satu dua tiga kali penuding itu bersarang di kepala. Seperti Iswanto alias semplo kali ini, yang tengah bermain-main melempar kertas buntelan ke Untari.

    “Kalian harus memerhatikan ketika diterangkan, sampai betul-betul jelas dan bisa mengerjakan soal-soal. Kalian juga harus mampu menghafal hasil perkalian dua bilangan dibawah sepuluh. Pak Guru sudah ajarkan bagaimana caranya menggunakan sepuluh jari tangan kita untuk hitungan perkalian itu. Pak Guru juga sudah sampaikan hitungan matematika yang paling sulit adalah pembagian. Kalian harus hati-hati. Operasikan dulu sesuai urutannya PIPOLONDO. Ping-Poro-Lan-Sudo. Perhatikan tanda kurungnya! Sehingga hitunganmu tidak akan salah,” Pak Warsito menyimpulkan.

    * * *

    “Pipolondo dengan operasi hitungan menggunakan tanda kurung buka dan tutup serta bilangan bulat positif dan negatif melewati nol sebagai titik netral ditambah dengan bumbu pedas jeweran Pak Warsito apalagi panasnya pukulan penuding bambunya yang membuat milur telah mengantarkan aku masuk ke SMP terbaik, SMA terbaik dan perguruan tinggi Negeri terbaik”. Cerita Adi kepada Kusnandar, MH temannya yang telah menjadi anggota legislatif dua periode dari partai Islam.

    “Bilangan negatif dan positif itu pulakah yang menginspirasimu memilih jurusan teknik elektro, sehingga sekarang telah mampu menyumbangkan karya membuat piranti sensor dini gempa dan tsunami?” tanya Kusnandar.

    Absolutly, yes! Tetapi sekarang terhadap antum sebagai kawan, tidak mungkin aku mengajarimu dengan jeweran apalagi pukulan. Sekali tendang ane pasti kalah oleh antum. Ane hanya mengingatkan, karena antum bukan dari jurusan exacta, maka berhati-hatilah dengan hitungan. Banyak saudara-saudara kita antipati terhadap partai bahkan institusi DPR. Meskipun tidak semua aleg itu jelek, masyarakat kita tidak mau tahu. Mereka berharap DPR itu semuanya orang baik dan cerdas lagi pintar. Tetapi jangan sampai kepintarannya itu untuk minteri rakyat. Bilangnya demi rakyat, tetapi menumpuk kekayaan sendiri. Tak lagi peduli kanan-kiri. Bahkan yang telah melandasi dakwah ini tanpa meminta ataupun menerima gratifikasi bahkan sampai sekarang masih makan sekadar nasi lauk terasi. Kurung itu harus jelas mana yang harus antum pisahkan dan keluarkan haknya. Kalau belum jelas tanyakan pada pakarnya. Insya Allah antum akan tetap selamat. Dan hasil kerja kita bernilai ibadah dunia dan akhirat. Konstituen pun akan senantiasa mendoakan dan membela di kala fitnah mendera tanpa antum harus meminta apalagi menghiba. Jangan sampai kasus aleg “JP” menimpa antum. Sebelum Mei 2009 selalu membacakan ayat-ayat yang tegas memberondong dan mengkritisi. Namun sekarang setelah menikmati empuknya kursi semua ayat serba toleransi. Tak tahu batas kurung operasi hitung. Bahkan semua mau dimasukkan kantung karungnya sebagaimana dulu selagi masih juragan sapi. Na’udzubillaahi mindzalik”.

    * * *

    “Sebelum ane berangkat ke Australia, pesan ane: Ane akan selalu datang ke antum membawa aspirasi dengan cara yang berbeda dan mungkin tidak pernah antum sangka. Karena logika dan semesta kita berbeda. Ane akan mengikuti terus perkembangan antum seirama gelombang transfersal dan longitudinal di masyarakat. Ia akan terus eksis sampai ukuran limit diferensial dan integral. Hitungan pipolondo-ku bisa saja meledakkan kesabaranmu bagai reaksi fisi dan fusi nuklir akibat tembakan newtron yang hanya bergerak lambat. Sekarang apa pesan antum pada ane?” pinta Adi pada Kusnandar.

    Dengan mata basah Kusnandar memeluk Adi sambil terisak berbisik. “Selamat berjuang akhi. Kita sama-sama berjuang. Ingatkan ane terus, untuk menepati janji setia perjuangan kita. Ane suka cara antum. Antum bisa melihat bagaimana ane saharusnya. Karena ane adalah antum dan antum adalah ane. Nahnu dhu’at qobla kulli syai’. Uhibbuka fillaah…”

    Pesawat Qantas mulai mendesing. Semua penumpang dari Jakarta tujuan Sydney harus boarding. Adi pun melepaskan pelukan Kusnandar sambil menepuk bahu belakang. “Good Luck!!! Keep in touch!”

    *) Resa Abdullah, anggota FAM Jerman (IDFAM 1040U), Memory in Sunshine Coast Queensland, Australia 2010.

    Keterangan:
    pipolondo: pipa cerutu untuk menghisap tembakau/rokok.
    nyeker: telanjang kaki tanpa sepatu
    medok: melekat kuat logat/dialek Jawa
    dangkal: kotoran/kerak yang menempel karena keringat
    kuping: (daun) telinga
    athi-athi: rambut jambang depan telinga
    semplo: satu nama alias untuk panggilan
    buntelan: kertas diremas membentuk bulatan bola kecil
    milur : bekas pukulan pada kulit (otot) daging yang membengkak
    exacta: jurusan IPA

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Pipo Londo Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top