Skip to main content

Profil Anggota FAM Indonesia: Laura Crismadhani (Tegal)

"Penulis Buku Kumcer Pigura Retak”

Laura Crismadhani lahir di Tegal, Jawa Tengah pada tanggal 20 Oktober 1977. Ia berhasil lulus dari Universitas Diponegoro dengan Jurusan Teknik Sipil pada tahun 2000. Jurusan yang menurutnya bertolak belakang dengan hobi menulisnya. 

Saat Sekolah Dasar, ia sempat menulis sebuah cerita karena terinspirasi dari tayangan di TVRI (zaman dulu belum ada stasiun televisi swasta) dengan menggunakan kertas folio dan ballpoint. Namun hasil tulisan tersebut tidak disimpannya karena banyaknya coretan mewarnai tulisannya. Sejak SMP hingga duduk di bangku kuliah, Laura lebih suka membaca ketimbang menulis. Terutama membaca novel, Agatha Christie.

Keinginan menulisnya kembali muncul setelah berhenti dari Perusahaan tempatnya bekerja selama 11 tahun. Laura merasa beruntung dapat bergabung dalam wadah FAM Indonesia yang bisa membuat semangatnya bangkit kembali. Sekarang ia sudah resmi menjadi angota FAM dengan Nomor ID FAM890U. Karya pertamanya yaitu cerpen dengan judul "Ajari Aku Mencintaimu" berhasil masuk dalam buku Antologi Cinta Bernilai Dakwah "Pesona Odapus".

“Saya sangat berterima kasih kepada Mbak Aliya Nurlela yang telah memberikan suntikan motivasi sehingga saya optimis mengirimkan naskah supaya bisa diterbitkan. Alhamdulilah, buku kumpulan cerpen saya yang berjudul “Pigura Retak” akan segera diterbitkan FAM Publishing,” ujarnya senang. Harapannya setelah bergabung dengan FAM Indonesia, akan membuatnya semakin aktif berkarya.

Untuk menjalin silaturahim dengan Laura dapat dihibungi pada email: lcrismadhani@yahoo.co.id.

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…