• Info Terkini

    Friday, October 12, 2012

    Profil Anggota FAM Indonesia: Lina Saputri (Banjarmasin)

    "Penulis Novel Sabda Cinta di Atas Nama Tuhan”

    Nama lengkapnya Lina Saputri. Lahir di Sungai Ulak, pada tanggal 2 September 1990. Anak terakhir dari enam bersaudara, pasangan dari Asera (ayah) dan ibu Hatnah (almh). Sejak masih berumur 10 tahun Ia sering menulis puisi dan cerpen asal jadi di buku pelajaran. Hingga sering  mendapat teguran dari guru matematika dan guru lainnya. "Kalau buku pelajaran jangan di jadikan gado-gado, alias jangan dicampur-campur dengan tulisan lain,” komentar guru-gurunya.

    Tapi karena menulis adalah hobi bagi Lina, Ia tetap menulis di buku mana pun yang Ia suka. “Andai saja saat itu saya punya uang jajan yang lebih, tentunya saya akan menulis di buku yang khusus. Seharusnya FAM Indonesia sudah berdiri saat itu, karena menulis di grup FAM jauh lebih murah dari pada di buku,” ujarnya sembari mengenang masa yang telah lewat.

    Lina Saputri memiliki kebiasaan menulis di dinding kamar, dinding sekolah, bahkan di daun talas. Ia mengaku benar-benar tertarik menjadi seorang penulis, yaitu sejak merasakan jatuh cinta. Ia bercerita tentang cinta pertamanya saat di bangku SMP yang kemudian mendorongnya untuk mencintai menulis dan bertekad menjadi seorang penulis.

    “Setiap hari, ketika matahari terbenam di ufuk barat, saya sering duduk manis di Jembatan Barito. Duduk sendirian memandang sungai yang luas sambil menyaksikan ombak yang menghantam tepian pantainya. Buih-buih putih itu berjatuhan memecah sang ombak dari roda kapal pesiar dan kapal tongkang penghantar batu bara yang berlalu lalang melintasi sungai tersebut. Saya pun terus menulis surat cinta untuk orang yang dimaksud pada selembar kertas putih. Lucunya, saya tidak punya keberanian agar lelaki itu mengetahui apa yang ada dalam hati saya. Sehingga saya hanya memasukannya ke dalam botol aqua plastik, lalu melabuhkan surat itu ketika air berlandas pasang bersama tiupan angin selatan yang berhembus di sore hari. Tak pernah tahu ke mana angin itu akan membawa surat saya, bahkan air sungai penghantar sang kertas putih tersebut tak pernah memberi jawabannya. Surat itu berlayar mengikuti arus yang pasang di muara Sungai Barito menuju ke arah Sungai Kapuas, atau sungai terpanjang di Kalimantan. Sementara, orang yang saya kagumi ada di belahan arah perkotaan jalan raya. Jelas saja surat itu tak akan sampai ke orang yang saya tuju. Jatuh cinta membuat orang suka berkhayal, berfantasi, menangis dan kadang tertawa sendiri. Sejak saat itulah, saya semakin gemar menulis apapun yang terlahir di otak saya,” ujarnya dengan kalimat sastrawi yang indah sekali.

    Lina merasa perlu mengembangkan kemampuannya dalam hal menulis, tapi faktor ekonomi keluarga ketika itu tidak mendukungnya untuk bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Akhirnya, nikah muda pun ditempuhnya untuk mendapat kehidupan yang lebih baik. Dari pernikahannya, Lina telah memiliki seorang anak. Lina juga menjadi seorang pengusaha di bidang pakaian dan beras. Meskipun telah menikah dan memiliki usaha tetap yang ditekuni, kecintaannya pada menulis tak pernah hilang. Hingga, suatu hari ia dikenalkan suaminya kepada FAM Indonesia yang diketahui melalui internet.

    Lina sangat gembira sekali, tak berpikir panjang, Ia pun menghubungi Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela dan memintanya membimbing cara bergabung menjadi anggota FAM Indonesia. Atas motivasi Mbak Aliya pula, Ia percaya diri menerbitkan novelnya di FAM Publishing. Novel itu berjudul “Sabda Cinta di Atas Nama Tuhan” dan segera terbit.  Endorsement dari kedua pendiri FAM Indonesia, menghiasi back cover novel tersebut. Tidak hanya itu, Lina juga mendapat motivasi dari Mbak Aliya untuk mempromosikan FAM ke sekolah-sekolah di lingkungan tempat tinggalnya. Ia benar-benar menjalankan pesan itu dan kini beberapa sekolah di daerahnya menyambut baik kehadiran FAM Indonesia.

    “Harapan saya hanya satu. Jika suatu hari nanti saya telah tidak ada lagi, saya ingin tulisan saya itu bisa dikenang sepanjang masa. Terutama buat orang-orang terdekat, juga buat teman-teman semua yang mengenal saya di dunia nyata ataupun maya. Karena hari ini atau esok, akan menjadi sejarah sepanjang masa. Bahkan saya tak pernah tahu, suatu hari nanti saya akan dikenang seperti apa di mata kalian semua. Tetapi buat saya, FAM telah menjadi bagian sejarah terindah yang membangun kehidupan, cinta, dan mimpi saya menjadi lebih nyata,” katanya serius.

    Lina juga berharap, semoga anak cucu turunan ke-100 tahun ke depan dan generasi selanjutnya tetap memilih FAM Indonesia sebagai wadah membangun kemajuan bangsa. Karena bangsa yang maju, dimulai dari rakyatnya yang mampu membangun bangsanya lewat buku.

    “Mulai sekarang, ajarkan orang-orang terdekat kita untuk cinta menulis dan membaca. Sudahkah Anda memperkenalkan FAM kepada orang-orang terdekat kita? Jika belum, mulailah berbenah diri mengenalkan FAM bukan hanya di media, tapi juga di lingkungan kita berada. FAM is My Soul, mengapa? Karena FAM adalah wadah yang tepat untuk mengembangkan bakat menulis kita,” ujarnya penuh semangat,” katanya lagi.

    “Apakah kalian ingin tahu, sejak kapan saya benar-benar tertarik untuk menjadi penulis? Jawabannya, sejak saya ..., jatuh cinta...!”

    Hmm, jatuh cinta? Jadi penulis? Mengapa memilih FAM?”

    Lina mengungkapkan, setiap orang selalu ingin mengembangkan apa yang menjadi hobinya, begitu juga dirinya. Tapi faktor keuangan keluarga ketika itu mencegah langkah kakinya untuk maju. Bukan hanya dirinya yang mendapat pendidikan sekolah yang terbatas. Kakak-kakaknya juga.

    “Hanya Kak Nana yang bisa sekolah mencapai sarjana, itu pun karena memang dia pintar dan mendapat beasiswa. Meskipun begitu, saya tidak pernah menyesal terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Karena saya yakin dalam hati kedua orangtua saya, mereka pun sebenarnya bersedih melihat anak-anaknya putus sekolah. Alhamdulillah, sekian waktu berjalan saya bisa merajut pendidikan di FAM Indonesia. Itu membuat saya merasa bangkit dari keterpurukan, dari semangat yang pernah hilang dalam hidup saya,” ujarnya.

    Lina mengatakan lagi, "Jika suatu hari saya bisa menerbitkan buku, saya tidak berharap lebih dari buku tersebut. Saya menulis tidak berharap tulisan saya harus dibeli orang, ataupun mengharap royalti yang segudang. Saya menulis karena hobi, karena saya suka, dan karena saya cinta kepada kertas dan pena. Walau pun tidak menutup kemungkinan, sukses dalam menulis akan membuat diri kita nantinya bisa kaya karena seringnya berkarya. Sehingga akan dikenal orang di mana-mana, bahkan mendapat keuntungan yang luar biasa. Tapi apapun itu, menulislah karena cinta dan jangan mengharap layak terbit atau tidak. Karena dengan seringnya menulis, akan menunjukkan jati diri kita yang sebenarnya, kalau kita pun bisa berkarya dengan menulis. Bukankah tidak etis, kalau di zaman modern rakyatnya hanya suka sebagai pembaca yang siap saji semata? Ayolah, kita jangan hanya sebagai pembaca. Mulailah ambil kertas dan pena, tulis tulis dan tulis,” ajaknya optimis.

    [www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Profil Anggota FAM Indonesia: Lina Saputri (Banjarmasin) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top