Skip to main content

Profil Anggota FAM Indonesia: Setyono (Riau)

"Penulis Buku Managemen Kritik”

Nama lengkapnya Setiyono. Kadang dipanggil Tiyo, kadang dipanggil Yono. Lahir tanggal 15 Maret 1990, di Desa Muara Jaya, Kecamatan Kepenuhan Hulu, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Dilahirkan di tengah keluarga yang sangat sederhana, namun tidak pernah meminta-minta kepada tetangga untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Ayahnya bernama Didik Suwadi dan ibunya bernama Kirmiati. Tyo anak ketiga dari lima bersaudara, yang terdiri dari tiga putri dan dua putra, namun sekarang tinggal empat bersaudara, karena salah satu adik laki-lakinya sudah kembali kepangkuanNya.

Saat ini, Tyo masih menempuh pendidikan Strata 1 di Universitas Islam Riau, Fakultas Teknik, Jurusan Planologi (Perencanaan Wilayah & Kota), angkatan 2008, Pekanbaru. Di kampus ini ia banyak mendapatkan berbagai disiplin ilmu, serta memiliki banyak teman baru yang baik, cerdas, suka berpikir positif, dan taat beribadah, sehingga membuat Tyo makin bersemangat untuk belajar kepada mereka.

Seharusnya ia sudah wisuda tahun ini tapi karena tuntutan kehidupan, demi untuk membantu keluarga, dengan bekerja serabutan dan berwirausaha, Tyo menunda tiga semester. Tyo mengaku ia bekerja mengelola bengkel dinamo bersama pamannya. Memiliki usaha jenis food yakni Pisang Goreng Kriuk keju yang terdapat di beberapa titik di daerah kelahirannya. Pernah punya usaha minuman yang sering dikenal oleh masyarakat Riau sebagai Cappuccino Cincau.

Tyo belajar berorganisasi di Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Ia juga pernah belajar berorganisasi di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), dan belajar berorganisasi di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari ilmu-ilmu yang ia dapat selama belajar di organisasi-organisasi itu, membuatnya lebih semangat dalam menjalani kehidupan. Sering diminta oleh rekan-rekan mahasiswa untuk berbagi pengalaman melalui acara-acara yang mereka adakan di Provinsi Riau.

Lelaki ini memiliki banyak hobi. Hobinya membaca, berpetualang, menulis, bulu tangkis, berenang, beladiri, mancing, masak, dan berdagang. Ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Penulis, Wirausahawan, dan Dosen. Alasannya terinspirasi untuk menjadi seorang wirausaha, penulis, dan dosen, adalah dikarenakan ketiga profesi itu menurutnya adalah profesi yang bermanfaat bagi banyak orang.

Mulai menyukai dunia tulis menulis sejak tahun 2008, masuk tahun 2009 baru mulai serius menulis tapi sebatas untuk dokumen pribadi. Tahun-tahun selanjutnya mulai sesekali publikasi tulisan ke rekan-rekan dan media sosial. Dan mulai serius untuk menulis buku. Bukunya yang berjudul “Managemen Kritik” segera diterbitkan FAM Publishing.

Tyo tertarik untuk bergabung menjadi anggota FAM Indonesia, sebab menurutnya FAM itu forum kepenulisan yang simpel, konkrit, tujuan jelas dan cakupannya Nasional. “Berusaha melakukan yang baik, untuk kehidupan yang baik,” ujarnya mantap.

[sumber: www.famindonesia.blogspot.com]

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…