• Info Terkini

    Monday, October 22, 2012

    Ulasan Cerpen “Cappuccinoku Tak Hangat Lagi” Karya Rahmizakia Rifka (FAM Padang)

    Cerpen “Cappuccinoku Tak Hangat Lagi” ini bercerita tentang kerinduan seorang anak kepada kedua orangtuanya yang telah tiada. Ia merindukan hangatnya kebersamaan saat menikmati cappuccino buatan sang Ibu.

    Penulis benar-benar merasakan kepiluan yang mengisi ruang jiwanya, terutama saat ia menerima surat kelulusan Ujian Nasional (UN). Teman-temannya bergembira dan bahagia menerima surat kelulusan itu bersama orangtuanya, sementara ia? Tak tahu entah kepada siapa surat kelulusan itu dipersembahkan. Batinnya berkecamuk.

    Dan, puncaknya, ia mengadukan keadaan yang dialaminya kepada Allah SWT. Jiwanya dilanda duka. Hidupnya dirundung nestapa. Untaian kalimatnya benar-benar menggetarkan jiwa. Itulah sebait doa yang terucap dari hati penuh cinta.

    Ada beberapa majas yang dijumpai pada cerpen ini yang dipakai penulis untuk berindah-indah di dalam ceritanya. Misalnya majas Prosopopoeia tampak di dalam kalimat:

    “Pikiranku melayang jauh.”

    Majas Perifrasis terlihat di dalam kalimat berikut ini:

    1. Hhhh… rasanya aku ingin berhenti saja menjadi penghuni dunia ini.

    2. Ayahku, sudah berhenti jadi penghuni dunia ini, 6 tahun yang lalu. Ibuku sudah 3 tahun yang lalu.

    Majas Epistrofa jelas terlihat di dalam kalimat berikut ini:

    Sungguh berkecamuk dadaku saat ini Tuhan. Serasa ingin luluh semuanya, Tuhan. Tak terbendung lagi Tuhan. Jika Engkau masih mengizinkanku menjadi penghuni dunia ini, mohon berikan aku kekuatan Tuhan.

    Untuk sempurnanya cerpen, maka berikut ini koreksiannya:

    “Siapa yang datang, nak??” seharusnya ditulis: “Siapa yang datang, Nak?”

    “alumni”, seharusnya “alumnus”

    “Aku tahu dari Guru, bahwa aku lulus dalam Ujian Nasional”, seharusnya ditulis: “Aku tahu dari guru bahwa aku lulus UN (Ujian Nasional)”.

    “Nak, ini sudah Ibu ambilkan suratnya. Ibu pulang dulu ya.” Seharusnya ditulis: “Nak, ini sudah ibu ambilkan suratnya. Ibu pulang dulu ya.”

    “Oh… iya Bu. Terima kasih banyak.” Aku menerima surat itu dan tersenyum.

    Seharusnya ditulis: “Oh, iya Bu. Terima kasih banyak,” aku menerima surat itu dengan tersenyum.

    Ayahku, sudah berhenti jadi penghuni dunia ini, 6 tahun yang lalu. Ibuku sudah 3 tahun yang lalu.
              
    Seharusnya ditulis:         

    Ayahku sudah berhenti menjadi penghuni dunia ini selama enam tahun yang lalu, sedangkan ibuku sudah tiga tahun yang lalu.

    Mereka menerima surat kelulusan itu dengan penuh suka cita. Sedangkan aku?? Bukannya aku tidak bersyukur Ibu. Tapi, apa tidak boleh aku merindu?
              
    Seharusnya ditulis:         

    Mereka menerima surat kelulusan itu dengan penuh sukacita, sedangkan aku? Bukannya aku tidak bersyukur, ibu... namun tidak bolehkah kumerindukanmu?

    Sungguh berkecamuk dadaku saat ini Tuhan. Serasa ingin luluh semuanya, Tuhan. Tak terbendung lagi Tuhan. Jika Engkau masih mengizinkanku menjadi penghuni dunia ini, mohon berikan aku kekuatan Tuhan.
              
    Seharusnya ditulis:         

    Sungguh berkecamuk dadaku saat ini, Tuhan. Serasa ingin luluh semuanya, Tuhan. Tak terbendung lagi, Tuhan. Jika Engkau masih mengijinkanku menjadi penghuni dunia ini, berikanlah aku kekuatan, Tuhan.

    Hari sudah gelap. Dan aku masih bernapas. Sepertinya aku harus teruskan perjuangan ini. Meski cappuccinoku tidak hangat lagi, aku harus tetap berjuang.

    Seharusnya ditulis:

    Hari sudah gelap dan aku masih bernapas. Sepertinya aku harus teruskan perjuangan ini, meskipun cappuccinoku tidak hangat lagi. Aku harus tetap berjuang.

    Semoga, suatu hari nanti aku bisa berjumpa dengan Ayah dan Ibuku.

    Seharusnya ditulis:

    Semoga suatu hari nanti aku bisa berjumpa dengan ayah dan ibuku.

    Secara umum cerpen ini bagus. Menggugah. Bagi pembaca yang tak lagi memiliki kedua orangtua, ketika membaca cerpen ini bisa meneteskan air mata. Dan, itu lumrah.

    Kepada penulisnya diharapkan terus berkarya, menulis tema-tema kehidupan lainnya yang lebih luas, tidak larut dalam kesedihan bila cerpen ini berangkat dari pengalaman empirik penulisnya. Sebab, hidup harus tetap dijalankan.

    Selamat berkarya, salam aktif, salam santun.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Cappuccinoku Tak Hangat Lagi
    Oleh Rahmizakia Rifka

    FAM145M, Padang

    Langit sore itu begitu elok. Udaranya begitu bersahabat. Duduk aku sejenak di bangku di sudut teras rumahku. Pikiranku melayang jauh. Mataku mengikuti arah terbang burung-burung itu. Sungguh, entah apa namanya. Perasaanku sedang campur aduk. Rasanya, terlalu banyak partikel-partikel duka yang melayang di alam pikirku. Kondisi ini, memutar memoriku beberapa tahun lalu. Persis seperti ini langit di waktu itu. Burung-burung pun, terbang mengikuti irama angin, persis seperti saat dulu.

    Aku letih, baru pulang dari sekolah. Banyak sudah yang aku hadapi hari ini. Bermacam-macam gejolak yang aku terima. Hhhh….rasanya aku ingin berhenti saja menjadi penghuni dunia ini. Serasa tak sanggup aku menghadapinya. Selalu saja begini, kalau aku pulang dari sekolah. Ada-ada saja yang akan kupikirkan.

    Aku tetap menghirup udara sore itu. Ditemani secangkir cappuccino hangat. Hanya saja, rasa cappuccino itu begitu berbeda. Tidak persis seperti saat itu. Hangat memang. Tapi, rasanya masih ada yang kurang.

    Aku coba meneguk cappuccinoku perlahan. Sekilas, aku melihatnya di depanku. Sekilas, aku merasakan kehadirannya di sampingku. Sekilas, aku merasa berada dalam dekapannya.

    Ternyata itu cuma perasaanku. Aku harus sadar. Aku tidak boleh berkhayal atau pun berangan-angan.

    “Siapa yang datang, nak?? “

    “…………….” Aku hanya tersenyum.

    Hari itu, adalah hari pembagian surat kelulusan siswa dalam Ujian Nasional. Begitu ramai sekolahku hari itu. Lapangan parkir dipenuhi oleh mobil-mobil mewah. Motor-motor tersusun rapi di pojok lapangan. Oh…tidak lama lagi aku harus meninggalkan sekolah ini. Ya, jelas itu harus kulakukan. Aku sudah lulus dari sekolah ini. Statusku, sebentar lagi akan menjadi alumni sekolah ini.

    “Siapa yang datang, nak? “

    “…………….” Aku tetap diam dan tersenyum.

    Lagi-lagi, pertanyaan itu dilontarkan kepadaku.

    Surat kelulusan itu belum di tanganku. Aku tahu dari Guru, bahwa aku lulus dalam Ujian Nasional.

    “Nak, ini sudah Ibu ambilkan suratnya. Ibu pulang dulu ya.”

    “Oh…iya Bu. Terima kasih banyak.” Aku menerima surat itu dan tersenyum.

    Kembali aku teguk perlahan cappuccinoku yang sudah mulai dingin. Pikiranku masih mengingat kejadian tadi siang di sekolah. Itulah yang membuatku ingin mengundurkan diri menjadi penghuni dunia ini. Aku tidak sanggup jika harus selalu dihadapkan pada kondisi seperti itu.

    Terkadang aku iri pada teman-temanku. Mereka menjemput surat kelulusan dengan didampingi orang tua. Jelas, mereka turun dari mobil mewah mengkilap. Sementara aku?? Jangankan turun dari mobil mewah mengkilap. Yang akan menjemput surat kelulusanku saja, aku tak tahu. Ayahku, sudah berhenti jadi penghuni dunia ini, 6 tahun yang lalu. Ibuku sudah 3 tahun yang lalu.

    Aku iri. Aku juga ingin merasakan seperti yang teman-temanku rasakan. Aku rindu kepalaku dibelai. Aku rindu pundakku ditepuk. Aku juga rindu tubuhku didekap. Oh Tuhan…kepada siapa harus kutunjukkan surat kelulusanku ini?? Sungguh, pedih sekali rasanya. Belum ada yang bisa aku persembahkan. Waktu itu aku belum tahu apa-apa. Tapi sekarang, saat aku ingin mencoba untuk memberi sedikit saja yang kupunya, aku bingung. Pada siapa aku harus memberi? Pada siapa aku harus berbagi?

    Cappuccinoku terasa semakin tidak enak. Semakin dingin saja. Semakin hambar terasa di lidahku. Tidak nikmat seperti dulu. Ibu, aku rindu cappuccino buatanmu. Tidak ada cappuccino sehangat cappuccino buatanmu. Rindu rasanya duduk bersamamu sembari meneguk cappuccino kita. Ibu, aku rindu berada dalam dekapan cintamu. Aku sudah lulus SMA Ibu!! Anakmu sudah besar. Aku iri pada mereka Ibu! Mereka menerima surat kelulusan itu dengan penuh suka cita. Sedangkan aku?? Bukannya aku tidak bersyukur Ibu. Tapi, apa tidak boleh aku merindu? Apa tidak boleh aku berharap, Ibu?

    Tidak terasa, cangkirku sudah kosong. Hari juga semakin gelap. Aku tinggalkan bangku di teras rumahku sembari membawa cangkir kosongku. Aku masuk ke dalam rumah. Aku taruh cangkir kosongku, sebelum menutup pintu.

    Surat kelulusan itu, tepat aku pajang di samping potret kedua orang tuaku. Harus apakah diriku ini? Haruskah aku tersenyum?? Atau haruskah aku menangis? Oh Tuhan surat itu sungguh menyulitkanku. Sungguh berkecamuk dadaku saat ini Tuhan. Serasa ingin luluh semuanya, Tuhan. Tak terbendung lagi Tuhan. Jika Engkau masih mengizinkanku menjadi penghuni dunia ini, mohon berikan aku kekuatan Tuhan. Aku juga ingin tersenyum Tuhan. Aku juga ingin tegak berdiri. Aku pun juga ingin kuat, menahan beban di pundakku. Mohon Tuhan, kuatkan aku. Tapi, jika semua itu tidak mungkin, mohon pertemukan aku dengan mereka Tuhan.

    Hari sudah gelap. Dan aku masih bernapas. Sepertinya aku harus teruskan perjuangan ini. Meski cappuccinoku tidak hangat lagi, aku harus tetap berjuang. Surat kelulusanku adalah awal dari segalanya. Aku harus kuat. Mereka adalah kekuatanku. Semoga, suatu hari nanti aku bisa berjumpa dengan Ayah dan Ibuku. Ibu, tunggu aku dengan cappuccino hangat kita.

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Cappuccinoku Tak Hangat Lagi” Karya Rahmizakia Rifka (FAM Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top