• Info Terkini

    Monday, October 8, 2012

    Ulasan Cerpen “Impian” Karya Lya Lutfuntika (FAM Sleman)

    Cerpen “Impian” ini bercerita tentang kegigihan seseorang untuk mewujudkan cita-citanya. Pada awalnya Rina mendapat tentangan yang begitu keras dari ibunya. Namun secara perlahan tapi pasti, waktu yang berbicara. Hati seorang ibu pun akan tersentuh, melihat sang anak bersungguh-sungguh.

    Bukti itu memang diperlukan untuk meyakinkan orang-orang yang kita kasihi bahwa apa yang kita lakukan ini adalah demi kebahagiaan mereka. Dalam hal ini, Rina telah membuktikannya dengan menjadi pemenang juara pertama menulis novel.

    Cerpen ini mengingatkan kita akan kebenaran firman Allah SWT: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS 94:5-6)

    Berikut ini beberapa koreksi agar cerpen ini menjadi lebih sempurna:

    1. bersebrangan seharusnya ditulis: berseberangan

    2. berfikir seharusnya ditulis: berpikir

    3. “Sampai kapan kamu diambegini Rin?” Pertanyaan mamah mengerutkan dahiku. Seharusnya ditulis: “Sampai kapan kamu diam seperti ini, Rin?” Pertanyaan Mama membuatku mengerutkan dahi.

    4. “Maksud mamah?” Aku menatap mamah mencoba menerka arah pembicaraan ini. Seharusnya ditulis: “Maksud mama?” Aku menatap mama, mencoba menerka arah pembicaraan ini.

    5. “Kamu ini sarjana rin. Janganlah kamu sia-siakan dengan seperti ini. Apa kamu tidak ingin bekerja seperti kebanyakan orang?”

    Seharusnya ditulis: “Kamu ini sarjana, Rin. Janganlah kamu sia-siakan dengan "menganggur" seperti ini. Apa kamu tidak ingin bekerja seperti kebanyakan orang?”

    6. “Rina kan sudah bekerja mah”

    Seharusnya ditulis: “Rina kan sudah bekerja, Ma....”

    7. mamah, seharusnya: Mama

    8. ...mamah sebenarnya tidak setuju. Tapi karena aku...

    Seharusnya ditulis: ...Mama sebenarnya tidak setuju, tetapi karena aku...

    9. tapi sampai sekarang aku belum juga bisa membuktikan penerbitan impianku. Dan aku masih saja menjadi penulis biasa.

    Seharusnya ditulis: Sampai sekarang pun aku belum juga bisa mendirikan penerbit buku impianku. Aku masih saja menjadi penulis biasa.

    10. Sebenernya bisa saja aku membentuk penerbitan sekarang. Tapi tak akan seperti konsep yang aku impikan.

    Seharusnya ditulis: Sebenarnya bisa saja aku mendirikan penerbit buku sekarang, tetapi tak kan seperti konsep yang kuimpikan.

    11. Tapi aku yakin dampaknya tidak akan baik dalam jangka panjang.

    Seharusnya ditulis: Namun hati kecilku mengatakan kalau dampaknya kurang baik untuk jangka panjang.

    12. sekedar, seharusnya ditulis: sekadar

    13. Mencoba memikirkan rangkaian kata yang akan aku sampaikan.

    Seharusnya ditulis: ..., mencoba memikirkan rangkaian kata yang akan kusampaikan.

    14. ...handphone di saku menghamburkan konsentrasiku.

    Seharusnya ditulis: ...handphone di saku membuyarkan konsentrasiku.

    15. Cepat-cepat aku membuka sms di Handphone ku bergelanyut penasaran.

    Seharusnya ditulis: Cepat-cepat kubuka SMS di handphone yang membuatku penasaran.

    16. Dengan minim nya dana yang kami miliki,buletin itu masih bisa terus hidup sampai bisa aku wariskan ke adik-adik angkatan.

    Seharusnya ditulis: Dengan minimnya dana yang kami miliki, buletin itu masih bisa terus bertahan hidup hingga dapat kuwariskan ke adik-adik angkatan.

    17. Baru akhirnya banyak sponsor yang mendatangi kami untuk iklan di buletin yang kami rintis sempoyongan.

    Seharusnya ditulis: Akhir-akhir ini memang banyak pihak sponsor yang datang untuk beriklan di buletin yang dengan susah payah kami rintis.

    18. “Ayuk kita ikut. Masih ingatkan dengan mimpi kita menciptakan dunia dengan tinta?”

    Seharusnya ditulis: “Ayo kita ikut! Masih ingat, kan... dengan mimpi kita untuk mewarnai dunia dengan tinta?”

    19. Dari dulu dia lah yang mampu menyaingiku soal per-mediaan.

    Seharusnya ditulis: Dari dahulu memang hanya ia yang mampu menyaingiku bila berbicara tentang media.

    20. “Ada apa rin? Tadi manggil mamah, kenapa sibuk dengan HP?”

    Seharusnya ditulis: “Ada apa, Rin? Tadi memanggil mama, lalu mengapa sekarang asyik dengan HP?”

    21. “oh, tidak mah. Rina berangkat dulu ya mah. Assalamualaikum” Buru-buru aku mencuim tangan mamah. Untunglah mamah tidak menanyaiku lagi macam-macam.

    Seharusnya ditulis: “Oh, tidak ada apa-apa, Ma. Rina berangkat dulu ya, Ma. Assalamualaikum.” Secepat kilat kucium tangan Mama. Untung saja ia tak lagi menanyaiku.

    22. Sampailah aku di mushola apung. Tempat penyendirian favouritku. Kubuka laptop ungu kesayanganku. Sekitar lima belas menit akhirnya ku dapatkan tulisan yang lama tersimpan. Ciptakan Dunia Dengan Tinta. Inilah judul novel yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku.

    Seharusnya ditulis: Sampailah aku di musala terapung. Tempat favoritku untuk menyendiri. Kubuka laptop ungu kesayanganku. Sekitar lima belas menit akhirnya kudapatkan tulisan yang lama tersimpan. "Ciptakan Dunia Dengan Tinta". Inilah judul novel yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku.

    Judul novel boleh ditulis miring atau diapit tanda "dan".

    23. Matahari semakin mendekat sembunyi di bagian bumi barat. Cahaya kuning pun menyadarkanku hari sudah sore.

    Seharusnya ditulis: Mentari beranjak menuju peraduannya. Semburat senja menyadarkanku segera.

    24. Ya ALLAH, ijinkan aku membuat bangga orang tuaku.

    Seharusnya ditulis: Ya Allah, ijinkanlah aku membahagiakan kedua orangtuaku.

    25. “Rin, pertanyaan mamah kemarin belum kamu jawab”

    Seharusnya ditulis: “Rin, pertanyaan Mama kemarin belum kamu jawab?”

    26. Aku tak tahu harus aku jawab apa. kali ini aku tak bisa menghindar dari mamah lagi.

    Seharusnya ditulis: Aku tak tahu harus menjawab apa. Kali ini kutak bisa menghindari Mama lagi.

    27. Aku tak mau, sungguh aku tak ngin jadi dosen.

    Seharusnya ditulis: Aku tak mau!!! Sungguh, kutak ingin menjadi dosen.

    28. “iya...iya mah” Jawabku gagap. Dadaku bergemuruh. Apa yang harus aku katakan pada mamah.

    Seharusnya ditulis: “Iya.... Iya, ma....” Jawabku tergagap. Dadaku bergemuruh. Apa yang harus kukatakan kepada mama. (Batinku berperang) Boleh ditambahkan kata-kata di dalam tanda kurung.

    29. “Rina masih ingin membangun penerbitan mah”

    Seharusnya ditulis: “Rina masih ingin membangun bisnis penerbitan, Ma....”

    30. “Waalaikumsalam” Jawabku membalas senyum sahabat yang lama tak aku jumpai itu.

    Seharusnya ditulis: “Waalaikumsalam....” Jawabku membalas senyum sahabat yang lama tak kujumpai itu.

    31. Gayanya yang lugas, cerdas dan sopan disetiap diskusi dengannya membuatku diam-diam mengaguminya.

    Seharusnya ditulis: Gayanya yang lugas, cerdas, dan sopan di setiap diskusi dengannya membuatku diam-diam mengaguminya.

    32. Ia memelukku dengan erat, hangat.

    Seharusnya ditulis: Ia memelukku erat-erat.

    33. Ku sambut pelukan cintanya.

    Seharusnya ditulis: Kusambut pelukan cintanya.

    34. Ku usap tetesan air matanya.

    Seharusnya ditulis: Kuusap tetesan air matanya.

    35. Suara mamah memecah kehengingan sore itu. Menyadarkan kami tidak sedang berada diatas awan.

    Seharusnya ditulis: Suara mama memecah keheningan sore itu. Menyadarkan kami agar tidak berada di atas awan.

    36. Aku dapat hadiahnya 1M Rin. Besok aku diminta datang menemui direkturnya. Uang itu bisa kita jadikan modal awal membanghun penerbitan Rin”

    Seharusnya ditulis: Aku dapat hadiah satu miliar, Rin!!! Besok aku diminta datang menemui direkturnya. Uang itu bisa kita jadikan modal awal untuk membangun penerbitan, Rin.”

    37. Selama ini aku mengira dia pergi meninggalkan aku dan mimpi kami. Tapi ternyata tak pernah sekejap pun dia melupakannya. Sekian lama aku telah menuduhnya. Senang dan perasaan bersalah menggelanyuti ku.

    Seharusnya ditulis: Selama ini kukira dia pergi meninggalkanku. Tapi ternyata tak pernah sekejap pun dia melupakannya. Sekian lama aku telah menuduhnya. Perasaan senang dan bersalah menghantuiku.

    37. Atau, kamu berubah fikiran?” matanya menelisik ke arahku. Mecari-cari apa yang ada dihatiku.

    Seharusnya ditulis: Atau, kamu berubah pikiran?” Matanya menelisik ke arahku. Mencari-cari apa yang ada di hatiku.

    38. “Aku belum ada uang sebanyak itu. Aku tidak bisa jika tidak menyumbang modal”

    Seharusnya ditulis: “Aku belum ada uang sebanyak itu. Aku tidak bisa jika tidak menyumbang modal (sedikitpun).” Perhatikan tanda titik.

    39. Ternyata sudah tiga kali menelfonku dan tak aku angkat.

    Seharusnya ditulis: Ternyata sudah tiga kali menelepon dan belum kuterima.

    40. “iya”

    Seharusnya ditulis: “Iya.”

    41. “Saya Citra dari Nukasya Press. Novel Ibu telah terpilih menjadi Juara Satu di Sayembara Novel yang kami adakan. Presiden Direktur kami ingin menemui anda besok jika ibu berkenan.”

    Seharusnya ditulis: “Saya Citra dari Nukasya Press. Novel Ibu telah terpilih menjadi juara satu di sayembara novel yang kami adakan. Besok presiden direktur kami ingin bertemu, jika Ibu berkenan.”

    42. ALLAH tahu apa yang aku butuhkan, dan aku yakin ALLAH memiliki banyak jalan untuk menjalankan takdir-Nya.

    Seharusnya ditulis: Allah Maha Tahu apa yang kubutuhkan, dan kuyakin Allah memiliki banyak jalan untuk menjalankan takdirNya.

    43. Man Jadda Wa jada. Alhamdulillah.

    Seharusnya ditulis: Man jadda Wa jada. Alhamdulillah. (Ditulis miring)

    Demikianlah. Terus dan terus berkarya.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT NASKAH PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    IMPIAN

    Oleh Lya Lutfuntika
    IDFAM1013M Anggota FAM Sleman

    Aku memang sering bersebrangan dengan cara berfikir kebanyakan orang. Mereka selalu melihatku terlalu idealis. Yah, itulah komentar yang sering aku dapatkan dari teman-temanku.

    “Sampai kapan kamu diambegini Rin?” Pertanyaan mamah mengerutkan dahiku.

    “Maksud mamah?” Aku menatap mamah mencoba menerka arah pembicaraan ini.

    “Kamu ini sarjana rin. Janganlah kamu sia-siakan dengan seperti ini. Apa kamu tidak ingin bekerja seperti kebanyakan orang?”

    “Rina kan sudah bekerja mah”

    Aku terdiam. Menjadi penulis bukanlah profesi yang menjanjikan secara materi. Dari dahulu mamah sebenarnya tidak setuju. Tapi karena aku menyatakan mimpiku ke mamah kalau aku akan membangun penerbitan, mamah tidak bisa memaksaku mencari pekerjaan lain. tapi sampai sekarang aku belum juga bisa membuktikan penerbitan impianku. Dan aku masih saja menjadi penulis biasa.

    Sebenernya bisa saja aku membentuk penerbitan sekarang. Tapi tak akan seperti konsep yang aku impikan. Banyak teman yang mengajakku. Tapi aku yakin dampaknya tidak akan baik dalam jangka panjang. Karena tujuanku bukanlah sekedar mendapat uang.

    “Mah...” aku terdiam sejenak. Mencoba memikirkan rangkaian kata yang akan aku sampaikan. Belum sampai aku bicara lagi, handphone di saku menghamburkan konsentrasiku.

    Vita??? Tumben dia menghubungiku. Cepat-cepat aku membuka sms di Handphone ku bergelanyut penasaran.

    “Assalamualaikum. Rin, ada sayembara menulis novel. Juara satu mendapat hadiah 1 M. Bisa buat modal kita bikin penerbitan kalau lolos.”

    Kita??? Aku kira dia sudah lupa dengan mimpi yang pernah kami buat dulu semasa kuliah. Vita lah partnerku satu-satunya membuat buletin kampus on line. Dengan minim nya dana yang kami miliki,buletin itu masih bisa terus hidup sampai bisa aku wariskan ke adik-adik angkatan. Baru akhirnya banyak sponsor yang mendatangi kami untuk iklan di buletin yang kami rintis sempoyongan.

    “Ayuk kita ikut. Masih ingatkan dengan mimpi kita menciptakan dunia dengan tinta?” Aku membalasnya bernada tantangan sekaligus harapan. Vita memang partner media yang cocok denganku. Dari dulu dia lah yang mampu menyaingiku soal per-mediaan.

    “Ada apa rin? Tadi manggil mamah, kenapa sibuk dengan HP?” Nada mamah penasaran melihatku yang senyum-senyum sendiri memencet-mencet HP.

    “oh, tidak mah. Rina berangkat dulu ya mah. Assalamualaikum” Buru-buru aku mencuim tangan mamah. Untunglah mamah tidak menanyaiku lagi macam-macam.

    Sampailah aku di mushola apung. Tempat penyendirian favouritku. Kubuka laptop ungu kesayanganku. Sekitar lima belas menit akhirnya ku dapatkan tulisan yang lama tersimpan. Ciptakan Dunia Dengan Tinta. Inilah judul novel yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupku.

    Matahari semakin mendekat sembunyi di bagian bumi barat. Cahaya kuning pun menyadarkanku hari sudah sore. Aku pulang dengan perasaan senang penuh debar jantung. Oh, kalau aku bisa menjadi juara, aku bisa membuat penerbitan bersama Vita. Ya ALLAH, ijinkan aku membuat bangga orang tuaku.

    “Rin, pertanyaan mamah kemarin belum kamu jawab” Pertanyaan mamah menahanku di depan pintu. Debaran bahagiapun sekejap berubah diam dan menjadikanku sesak. Aku tak tahu harus aku jawab apa. kali ini aku tak bisa menghindar dari mamah lagi. Tak mungkin aku harus membuat mamah sedih dengan ketidakpastianku. Mamah pasti akan memaksaku mendaftar jadi dosen. Aku tak mau, sungguh aku tak ngin jadi dosen. Pekerjaan yang akan membuatku tersiksa pasti.

    “iya...iya mah” Jawabku gagap. Dadaku bergemuruh. Apa yang harus aku katakan pada mamah.

    “Rina masih ingin membangun penerbitan mah” Akhirnya kata-kata ini keluar juga. Entahlah apa yang akan dikatakan mamah selanjutnya. Aku pasrahkan saja keputusan mamah. Meski harus menjadi dosen.

    “lalu?” jawab mamah singkat membuatku bingung berdengung lagi. Apalagi yang harus aku katakan untuk menjawab mamah.

    “Rina sedang membangun jaringan mah. Kalau Rina rasa sudah cukup apa-apa yang diperlukan, Rina akan langsung membangun mah.”

    “Kapan targetmu?” Deg. Jantung terasa berhenti mengikuti diamku. Aku terdiam lama. Mamah melihatku lalu menyeruput secangkir teh yang dipegangnya dari tadi.

    “Assalamualaikum” Suara keras dari luar pagar mengagetkanku. Aku menengok dan melihat sesosok gadis putih tinggi dengan jilbabnya yang melambai-lambai disentuh angin. Senyum kecilnya khas menghiasi baby face-nya.

    “Waalaikumsalam” Jawabku membalas senyum sahabat yang lama tak aku jumpai itu. Hampir enam bulan aku tak menemui gadis yang sering kali membantaiku dalam diskusi. Gayanya yang lugas, cerdas dan sopan disetiap diskusi dengannya membuatku diam-diam mengaguminya. Bukan tak jarang aku berdebat kusir dengannya, tapi bukan tak jarang pula aku dan dia pergi tertawa dan menangis bersama. Yah, dia lah sahabat terbaikku.

    “Rina...” teriaknya sambil berlari menujuku. Ia memelukku dengan erat, hangat. Dia memang tak berubah. Bahkan parfumnya sama seperti yang di pakainya dulu semasa kuliah. Ku sambut pelukan cintanya. Semakin erat aku menyambungkan tanganku ke tubuhnya.

    Pundakku basah. Aku angkat wajahnya, matanya merah sedikit bengkak. Ku usap tetesan air matanya. Tak terasa, air pun menetes dari kelopak mataku. Aku tak sanggup melihatnya menangis. Padahal aku tak punya alasan untuk menangis. Dan aku pun tak tahu kenapa dia menangis. Ikatan hatiku dengannya memaksaku untuk merasakan apa yang ia rasakan tanpa ada alasan.

    “Kalian ini kenapa? Ketemu kok malah nangis?” Suara mamah memecah kehengingan sore itu. Menyadarkan kami tidak sedang berada diatas awan.

    “Rin...aku tadi ditelfon Nukasya Press. Novelku jadi juara dua. Aku dapat hadiahnya 1M Rin. Besok aku diminta datang menemui direkturnya. Uang itu bisa kita jadikan modal awal membanghun penerbitan Rin”

    Senyumnya mengembangkan hatiku. Aku bahagia dia ternyata masih mengingat mimpi yang dulu kami buat. Selama ini aku mengira dia pergi meninggalkan aku dan mimpi kami. Tapi ternyata tak pernah sekejap pun dia melupakannya. Sekian lama aku telah menuduhnya. Senang dan perasaan bersalah menggelanyuti ku.

    “Tapi Vi...” Kataku tertahan.

    “Kenapa Rin? Kamu masih ingat mimpi kita kan? Atau, kamu berubah fikiran?” matanya menelisik ke arahku. Mecari-cari apa yang ada dihatiku.

    “Aku belum ada uang sebanyak itu. Aku tidak bisa jika tidak menyumbang modal”

    Vita dan Mamah pun terdiam. Menunduk. Mungkin mereka memikirkan jawaban apa untukku. Vita memang bukanlah orang yang perhitungan masalah uang. Tapi dia tahu aku tak bisa mendapatkan sesuatu dengan cuma-cuma.

    Suara HP mengalihkan perhatianku.

    Nomor siapakah ini? Ternyata sudah tiga kali menelfonku dan tak aku angkat.

    “Assalamualaikum”

    “Waalaikumsalam. Apakah ini dengan Ibu Rina?” suara wanita yang lembut itu membalas. Nada bicaranya seperti dia sudah mengenalku, menjadikanku penasaran siapakah gerangan.

    “iya”

    “Saya Citra dari Nukasya Press. Novel Ibu telah terpilih menjadi Juara Satu di Sayembara Novel yang kami adakan. Presiden Direktur kami ingin menemui anda besok jika ibu berkenan.”

    Dunia memang penuh kejutan. ALLAH tahu apa yang aku butuhkan, dan aku yakin ALLAH memiliki banyak jalan untuk menjalankan takdir-Nya. Man Jadda Wa jada. Alhamdulillah.

    Ket: Gambar sekadar ilustrasi, diambil dari google.com

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Impian” Karya Lya Lutfuntika (FAM Sleman) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top