• Info Terkini

    Saturday, October 6, 2012

    Ulasan Cerpen “Lingkaran Cinta Ar Rahman” Karya Anis Swedia (FAM Malang)

    Cerpen ini menceritakan tokoh cerita Reisya yang ditinggal oleh ibunya yang telah mendahuluinya meninggal dunia, sementara ayahnya sendiri merupakan sosok yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ketika ibunya meninggal, ayahnya tidak mau menandatangani prosesi pemakaman oleh pihak rumah sakit.

    Reisya akhirnya menjalani hidup sendiri dan tinggal di tempat kost. Dalam kesendiriannya seorang temannya, Adit selalu berupaya menemani dan memberikan semangat kepada Reisya.

    Suatu hari ketika Adit dan Reisya menuju masjid, didapatinya seorang tua tertidur di teras masjid. Adit dan Reisya bertanya kenapa tidur di teras masjid, bapak tua itu menjawab bahwa dia bermimpi bahwa istri dan anaknya menunggu di sini dan istrinya sudah memaafkannya. Sampai di sini hampir menimbulkan kesan bahwa bapak tua itu adalah ayah kandung Reisya yang selama ini berpisah.

    Bapak tua itu ikut salat berjamaah di masjid, tetapi dalam sujud terakhirnya berlangsung lama sekali, walaupun Adit sebagai imam sudah selesai lama tapi orang tua itu tetap bersujud. Merasa ada yang ganjil, salah seorang makmum membangunkan bapak tua itu namun ternyata orang tua itu telah meninggal dunia.

    Suatu saat Reisya dan Adit pergi ke rumah Reisya yang telah lama ditinggalkannya. Dari dalam rumah keluar seorang wanita muda yang menyebabkan Reisya semakin benci terhadap ayahnya yang masih saja bermain perempuan. Dari penuturan wanita itu, Reisya semakin kaget mendapati kenyataan rumah itu telah dijual oleh ayahnya. Tetapi dari pertemuan dengan wanita itu Reisya mendapat petunjuk keberadaan ayahnya.

    Ternyata ayahnya telah berubah dan mendirikan sebuah panti asuhan yang mengambil nama Reisya dan ibunya.

    Penulis berhasil mendesain cerita yang hampir-hampir membuat pembaca salah menebak, sehingga cerpen ini menarik untuk dibaca.

    Isi cerita dengan penulisan hampir berbanding terbalik, karena masih banyak penulisan yang perlu diperhatikan seperti kata-kata yang bertanda merah. Tetapi kesalahan penulisan itu sebenarnya tertuju pada satu hal, yaitu penulisan kata setelah kata depan “di” yang seharusnya dipisah. Contoh: “dihadapan” seharusnya ditulis “di hadapan”

    Teruslah berkarya. Salam santun.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Lingkaran Cinta Ar Rahman

    Oleh Anis Swedia

    IDFAM966U Anggota FAM Malang

    Reisya duduk diberanda masjid menunggu Adit dan Nita keluar dari masjid. Saat dilihatnya kedua temannya itu sudah keluar, dia lalu berjalan dahulu. Ia bosan dan marah sekali saat melihat Adit dan semua tingkahnya yang mulai mendekatinya dan berusaha ikut campur akan urusan keluarganya. Baginya tidak akan ada orang yang mampu mengerti akan hidupnya setelah kematian ibunya.

    Adit berlari menyusul langkah Reisya yang cepat. Ia menggapai lengan gadis itu, gadis yang telah mencuri hatinya. Ia menatap Reisya dengan penuh kasih dan cinta meski Reisya tak pernah membalas perasaannya itu dan selalu mengacuhkannya.

    “Kau masih marah padaku?” Tanya Adit kepada Reisya. Reisya diam. “Sya.. aku tidak pernah bermaksud mencampuri urusan pribadimu..”Tambah Adit, dan Reisya masih diam. “Aku hanya tidak ingin kau tanamkan sifat bencimu selamanya dihatimu kepada orang tuamu yang tinggal seorang!” Tambah Adit.

    “Cukup dit! Hentikan!” Perintah Reisya. “Kau pikir kau siapa?! Kau tidak tahu aku! Dan kau tidak pernah menjadi aku!” Ucap Reisya.

    “Tidak memang sya.. aku tidak akan pernah menjadi dirimu, namun, aku akan berusaha agar kau tidak menjadi diriku yang yatim piatu…”Ujar Adit dalam. Reisya akhirnya  memandang Adit serba salah.

    “Diam!” Ucap Reisya. Reisya tidak tahu harus bersikap seperti apa lagi kepada pemuda yang selama ini tulus sayang kepadanya, kepada pemuda yang tak pernah lelah menerima sikap angkuh dan kasarnya, kepada pemuda yang selalu menemaninya duduk sendirian di pinggir kolam saat Reisya sedih. Kepada pemuda yang selalu diam saat Reisya melampiaskan kemarahannya karena Reisya tak tahu harus marah dan kesal kepada siapa saat ia marah dan kesal kepada Ayahnya. Akhirnya butir-butir air mata keluar bagai mutiara dari kelopak matanya. Selama empat tahun ini ia sudah tak pernah menangis. Terakhir ia menangis adalah saat dimana ia memohon ayahnya menandatangani surat prosesi pemakaman ibunya yang diabaikan oleh ayahnya. Dipemakaman ibunyapun ia tak menangis, airmatanya sudah kering, mungkin juga habis saat seminggu lamanya ia terus menangis, bersujud di musholla rumah sakit memohon kepada Ilahi untuk menyelamatkan Ibunya, namun yang maha Kuasa tetap memanggil ibunya untuk kembali kesisiNya. Tak ada yang mengerti kesedihannya, tak ada yang mengerti bagaimana ia merindukan hubungan keluarga yang harmonis, tak ada yang mengerti bagaimana usaha Reisya untuk bisa membuat ibunya tersenyum dengan prestasinya, hanya  agar ibunya lupa akan penghinaan yang diterima dari Ayahnya. Dulu, setiap hari ia mengaji bersama dengan ibunya, sementara Ayahnya bermain-main dengan perempuan lain.

    Reisya terjatuh mengingat itu semua, Adit dengan sigap langsung menghampirinya, berusaha menggapai Reisya, namun Reisya menolak uluran tangan Adit. Ia berdiri sendiri dan segera mengahapus air matanya. Ia tak ingin terlihat lemah didepan siapapun termasuk Adit.

    Semenjak hari itu, setiap subuh Adit selalu datang ke kost Reisya, di pagi hari pertama Reisya kaget tak terkira saat ibu kostnya membangunkannya, dan saat diketahuinya Adit telah menunggunya diambang pintu rumah kostnya. Alasan Adit datang subuh-subuh teramat sederhana, ia meminta Reisya untuk menemaninya adzan, karena ia takut pergi kemasjid sendirian. Sebuah alasan yang aneh. Semula Reisya menolak keras, namun setelah Adit mengancam bahwa tidak akan yang adzan kecuali dirinya, akhirnya Reisya menyerah. Reisya hanya kasihan kepada Adit jikalau ia nanti disalahkan oleh para takmir masjid karena ia tidak konsisten kepada jadwal yang telah ditetapkan. Sehari, dua hari, Reisya menemani Adit dan menunggunya diteras masjid, dua hari itu pula Adit menawarkan Reisya untuk sholat, namun Reisya tetap saja enggan sholat dan Adit tak memaksa Reisya. Hari ketiga, Reisya tetap menemani Adit, namun terkejutnya mereka berdua saat mereka mendapati seorang pria tua tertidur diteras masjid. Bapak tua itu adalah bapak tua yang tinggal sendirian di ujung jalan, bapak tua itu adalah penjual es keliling, entah dimana keluarganya berada, sehingga ia tinggal sendiri di ujung rumah tua yang telah reot itu. Adit dan Reisya  mengampiri dan membangunkan bapak tua itu. bapak tua itu terbagun dengan sedikit terkejut, namun  ia segera tersenyum, menampilkan gusi-gusi tanpa giginya.

    “Bapak? Bapak kenapa tidur diberanda masjid? Disini dingin pak…” Tanya Reisya lembut. Bapak tua itu tersenyum

    “Istri dan anak saya datang di mimpi saya, mereka menunggu saya disini, kata istri saya, dia sudah memaafkan saya.. leganya hati saya jika semua mimpi saya barusan benar nyata adanya. Namun, semua saya pasarahkan kepada Ilahi, saya adalah suami yang tidak bertanggung jawab, sehingga istri dan anak saya dipanggil terlebih dahulu olehNya.. dahulu saya sering sekali menghina istri saya, tapi dia tetap sabar dan terus mencintai saya dengan tulus, mencintai saya yang telah mengabaikannya…” Tanpa terasa air mata Reisya mengalir. Ia tak pernah tahu kehidupan bapak tua yang selalu ia beri uang setiap bulannya itu. Reisya hanya bangga kepada bapak tua itu karena ia gigih mencari nafkah, dan tetap mempertahankan harga dirinya dengan tidak menengadahkan tangannya menunggu belas kasihan orang lain. Ia jadi teringat akan ibunya yang tulus mendoakan ayahnya meski ayahnya tak pernah menghiraukan ibunya sekalipun.

    Adit diam memandang Reisya, ia lalu perlahan pergi untuk mengambil wudlu. Reisya masih terdiam, air matanya mengalir mengingat Ibunya,Ibunya yang sangat mencintai Ayahnya, Ibunya yang menderita dan Ibunya yang sabar. Mungkin cerita keluarga Bapak tua dihadapannya ini tidak jauh berbeda dengan cerita keluarga Reisya,pikirnya dalam-dalam.

    “Sya… sayang.. titip Ayahmu, bagaimanapun buruknya ayahmu, ia tetap Ayahmu, darahnya ada dalam tubuhmu nak… tidak akan ada dirimu jika tidak ada Ayahmu, takdir Allah yang menjadikanku Ibumu dan menjadikan Ayahmu sebagai orang tua lelakimu nak…. Maafkanlah dia…” itu adalah kata-kata terakhir Ibunya sebelum akhirnya ia pergi selama-lamanya karena kanker . Reisya menjerit saat Ibunya menutup kedua matanya tanpa orang sangat dicintainya berada disebelahnya.

    Reisya menarik nafas dalam-dalam. Menatap kembali bapak tua itu yang kini sedang berjalan tertatih menuju tempat wudlu. Ia jadi teringat dulu ia berjalan selama tiga hari mencari Ayahnya dan menemukan Ayahnya dikompleks para kupu-kupu malam. Ia masih teringat bagaimana Ayahnya mengabaikannya dan tak menghiraukan surat dari rumah sakit yang meminta tanda tangan Ayahnya untuk prosesi pemakaman ibunya. Jika mengingat itu semua, amarah Reisya meledak. Namun, kini Reisya semakin bingung apa yang harus ia lakukan, selama empat tahun ini ia telah tinggal sendiri, hidup sendiri tanpa uang sepeserpun dari Ayahnya. Empat tahun ini pula Reisya enggan menemui Ayahnya, ia selalu lari jika ayahnya datang menemuinya, ia selalu bersembunyi didalam kamar kostnya jika ayahnya datang. Reisya juga sudah banyak mendengar bahwasannya kini Ayahnya telah berubah. Namun, Reisya tak percaya. Reisya tak mau kembali kerumahnya lagi, karena rumahnya yang dulu hanya akan membuka kembali luka dihatinya. Namun, melihat bapak tua itu, Reisya jadi merindukan Ayahnya, bagaimanpun juga Reisya adalah anak kandung satu-satunya, dan sewaktu kecil ia menjadi anak yang paling disayang oleh Ayahnya…

    “Sya..” Panggil seseorang. Reisya menoleh seketika dengan matanya yang merah, menatap Adit yang memandangnya penuh sayang dan cinta. Hati Adit semakin teriris melihat mata Reisya, meski Reisya tak pernah cerita mengenai hidupnya, namun Adit mengerti betul kesedihan yang dipendam Reisya, Adit semakin ingin memeluknya, menjadikannya halal untuknya, menghapus kesedihannya dan menyayangi Reisya yang tegar dan kuat selamanya. “Mau sholat berjamaah?” Tanya Adit dengan suara yang parau karena ia menahan air matanya. Reisya menatap Adit dalam. Ia ragu-ragu namun ia ingin sekali sholat, ia menatap dalam-dalam masjid dihadapannya itu, lalu kembali menatap Adit, pemuda yang selama ini menemaninya dengan tulus, pemuda yang tak pernah banyak bertanya dan menyalahkan sikap Reisya yang angkuh dan egois kepada Ayahnya. Pemuda yang mulai masuk kedalam hatinya, pemuda yang juga sebenarnya telah berhasil meluluhkan hati Reisya. Reisya tak pernah ingin lemah dihadapan siapapun, namun dihadapan Adit ia ingin berbagi apa yang ia rasakan.

    “Sya.. didalam Insya Allah kau bisa tenang…” Ucap Adit lembut, seketika itu pula air mata Reisya kembali banjir dan Adit bingung seketika. Reisya tak pernah menyangka bahwa kalimat yang didengarnya barusan itu berasal dari Adit. Dulu, saat ia berumur enam tahun, Ibunya mengajaknya masuk kedalam masjid. Waktu itu Reisya enggan masuk karena banyak orang, namun ibunya berkata, bahwa didalam masjid ia akan menjadi tenang. Waktu itu Reisya yang masih sekolah ditaman kanak-kanak pulang dalam keadaan menangis karena teman-temannya mengatainya dengan kata-kata kotor,lalu ibunya mengajaknya kemasjid, dan itu adalah kali pertama Reisya pergi kemasjid dan selalu tenang didalamnya. Dan kalimat yang sama itu kini terdengar kembali, namun bukan dari Ibunya, melainkan dari Adit. Reisya berdiri. Adit masih bingung. Reisya ingin memeluk Adit, namun Reisya malu dan ia sadar bahwa ia belum halal untuk Adit. Reisya mengangguk lemah kepada Adit dan ia lalu pergi berwudlu. Adit lalu bertasbih kepada Ilahi melihat perubahan sikap Reisya. Selama empat tahun ini Adit telah jatuh hati kepada Reisya karena suara Reisya yang merdu saat ia membaca surat Ar Rahman dan menjadikannya juara tartil di SMUnya dulu. Sejak itu Adit selalu memperhatikan Reisya, kebaikan-kebaikannya, kecerdasannya, sikapnya yang tegar dan gigih. Dan Reisya yang kuat dan tangguh.

    Salah satu takmir masjid menunjuk Adit untuk menjadi imam. Adit ragu-ragu namun ia ingin sekali. Akhirnya sebelum ia melangkah maju ke posisi imam, ia menoleh kearah Reisya, dan Reisya mengangguk kepadanya. Gadis itu terlihat cantik sekali dengan mukenah putih yang ia kenakan. Dan hati Adit kembali bergetar menatap Reisya. Adit lalu maju kedepan dan memulai takbir.

    Suara Adit lantang dan merdu saat ia membaca surat Al Fatihah dengan tajwid yang sempurna. Lalu tanpa diduga Adit memilih membaca Surat Ar Rahman sebagai surat dirakaatnya yang pertama. Air mata Reisya kembali tumpah, hatinya berdegup kencang saat ia menghayati surat kesayangan Ibunya dan dirinya itu dibaca oleh pemuda yang telah mampu meluluhkan hatinya. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan mendengar surat itu hari ini, disubuh ini, dan dilantunkan pula oleh pemuda yang mulai ia cintai. Ia semakin mencintai dan menyayangi Adit, bukan sebagai teman, melainkan sebagai seorang lelaki dewasa.

    Seusai salam, Reisya memandang Adit dari tempatnya dengan penuh kasih dan sayang. Ia mencintai Adit karena keteguhannya, karena kesetiaanyya kepadanya yang acuh, karena kesolehannya dan karena Adit lah yang mulai menyadarkannya. Reisya lalu mengalihkan pandangannya kearah bapak tua yang masih saja dalam posisi sujud. Beberapa orang memperhatikan sujud bapak tua tersebut yang mulai terasa janggal. Tetapi, tidak ada yang berani mengganggunya sampai akhirnya Adit menutup doa dan bapak tua itu masih dalam posisi sujudnya. Akhirnya dengan keberanian salah seorang dari makmum , seorang pria paruh baya menggoyangkan tubuh bapak tua itu dan begitu terkejutnya semua orang didalam masjid itu termasuk Reisya dan juga Adit. Bapak tua itu terjatuh dengan mata yang tertutup dan senyum ikhlas yang terpampang rapi diwajahnya. Adit dengan sigap memeriksa kondisi bapak itu.

    “Innalillahi wainna ilaihi roji’un” Ucap Adit pasrah. Hati Reisya meloncat kaget, bapak tua itu meninggal dalam posisi sujudnya. Subhanalloh…. Air mata Reisya kembali mengalir. Dan kali ini Reisya semakin takut kalau ia akan kehilangan Ayahnya…

    ***

    Reisya dan Adit berdiri diambang pintu rumah Reisya yang megah. Reisya ragu-ragu untuk memasuki rumahnya itu, namun karena Adit berdiri tegap disebelahnya, keragu-raguannya hilang seketika. Saat Reisya hendak melangkah kembali, begitu terkejutnya ia saat ada seorang gadis muda keluar dari rumahnya. Amarahnya kembali memuncak dan fikirannya mulai penuh dengan hal-hal yang negetif tentang Ayahnya. Ternyata rumor mengenai Ayahnya yang telah berubah tidak benar! Pikirnya. Reisya seketika berbalik dan..

    “Adit!” ia mendengar ada seorang yang memanggil Adit. Reisya kembali berbalik dan mendapati gadis muda tadi berlari kearahnya dan juga Adit. Gadis itu tersenyum melihat Adit, sedang Reisya jijik melihatnya. Adit mengerutkan kening mencoba mengingat-ingat siapa gadis yang berlari kearahnya. Gadis itu sampai dan ingin memeluk Adit, namun Adit dengan sigap menolak pelukan gadis itu. Reisya semakin melotot melihat gadis itu dan tingkahnya yang genit. “Dit.. ini gua Neti, sahabat loe kecil! Leo Adit kan? Praditya Amuja? Universitas Indonesia jurusan kedokteran?” Tanya gadis itu. Adit mengangguk lemah sembari mengingat-ingat gadis itu. Adit lalu teringat seketika saat Adit memerhatikan tahilalat di telapak tangan gadis itu.

    “Neti, kamu, Aneti Seisa Rahardja?” Tanya Adit, dan gadis itu mengangguk pelan. “Kenapa kamu ada disini?” Tanya Adit. Lalu gadis itu menceritakan bahwa ia dan keluarganya sudah dua tahun ini pindah kesini. Begitu terkejutnya Reisya saat mendengar kenyataan bahwa rumahnya telah dijual oleh Ayahnya. Lalu gadis itu juga memberitahu pemilik rumahnya itu yang dahulu sekarang tinggal dimana. Tanpa membuang-buang waktu Reisya dan Adit lalu pergi mencari alamat yang diberikan gadis itu.

    ***

    Adit dan Reisya tiba di sebuah rumah yang besar namun tak mewah, dengan halaman yang luas dengan papan nama yang tertulis “PANTI ASUHAN REISYA DAN ALIYA” Reisya ternganga membaca namanya dan nama ibunya itu. ia lalu melayangkan pandangannya kepada rumah itu. Diberanda rumah itu terdapat seorang lelaki paruh baya yang duduk diatas kursi roda sedang membacakan buku yang dihadapannya terdapat sekitar duapuluh hingga tiga puluh anak-anak. Reisya lalu berlari menuju kesana. Sesampainya disana, ia berdiri terkejut memandang ayahnya yang duduk diatas kursi roda. Tanpa pikir panjang Reisya lalu berlari memeluk Ayahnya.

    “Ayah.. maafkan Reisya..” ucap Reisya terisak. Ayahnya memeluk Reisya erat sekali. Dalam hati, ia bersyukur sekali bahwa putri yang amat disayanginya telah kembali, bahwa bukan Reisya yang semestinya minta maaf kepadanya, melainkan dirinyalah yang seharusnya minta maaf kepadanya…Adit tersenyum dan juga menangis bahagia untuk gadis yang dicintainya.

    ***

    Hari ini hari yang begitu cerah dihati Reisya. Reisya terlihat cantik sekali dalam busana muslim kebaya putih. Ia melihat dirinya dicermin. Ia tak pernah menyangka bahwa ia akan melangsungkan pernikahan sederhana disebuah panti asuhan milik ayahnya. Dihalaman rumah penuh berjejer mobil-mobil mewah milik kolega-kolega bisnis Ayahnya. Lalu pintu kamarnya terbuka, seorang sahabatnya masuk, menggandeng tangannya dan menggiringnya keluar.

    Reisya memandang Adit sejenak, sebelum akhirnya ia duduk disebelah Adit. Dihadapnnya duduk Ayahnya yang siap menikahkannya dengan Adit. Dua orang lelaki itu saling berjabat tangan mengucapkan janji dihadapan para malaikat atas nama Allah, dan tanpa diduga oleh Reisya, Adit membacakan surat Ar Rahman sebagai maharnya untuk Reisya. Reisya menangis  disetiap ayat yang terlantunkan sebagai maharnya itu. Ia merasa bahwa ibunya turut hadir dipernikahannya. Ayahnya terharu saat Adit membacakan surat itu, ia kembali teringat akan istrinya. Istri yang telah disia-siakannya. Dan kini ia berjanji bahwa ia tak akan pernah menyia-nyiakan putrinya.

    Fabiayyi ala irobbikumma tukadziban
    Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan

    Ket: Gambar sekadar ilustrasi yang diambil dari google.com

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Lingkaran Cinta Ar Rahman” Karya Anis Swedia (FAM Malang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top