• Info Terkini

    Wednesday, October 24, 2012

    Ulasan Cerpen “Mengukir Impian Mengejar Cita” Karya Ahmad Dasri (FAM Padang)

    Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang bekerja sambilan sebagai seorang sales. Ia melakukan semua itu karena membutuhkan uang untuk biaya sekolahnya. Maka pekerjaan yang membutuhkan mental dan kesabaran yang kuat itu dilakukannya.

    Cerita ini cukup pendek. Konfilk dan klimaks cerita kurang terasa. Beberapa kesalahan dapat ditemui terutama dalam penulisan EYD dan dialog. Teknik penulisan dialog yang benar adalah sebagai berikut:

    1. Akhir dialog diakhiri dengan tanda baca (titik, koma, tanya, seru) lalu ditutup dengan tanda petik

    2. Jika dialog diakhiri dengan tanda baca koma, maka huruf pertama setelah tanda petik adalah huruf kecil. Namun jika diakhiri dengan tanda baca titik, tanya dan seru, maka huruf pertama setelah tanda petik menggunakan huruf besar.

    Sisi positifnya, secara tersirat cerpen ini mengajarkan kepada kita untuk pantang menyerah mengejar apa yang kita impikan. Meski harus berjuang keras, mengesampingkan rasa lelah yang terus mendera. FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas tulisan semakin membaik.

    Salam santun, salam karya!

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.blogspot.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Mengukir Impian Mengejar Cita

    Oleh Ahmad Dasri

    IDFAM1017U, Padang, Sumatera Barat

    “Ah ... sudahlah, kalau memang nasib baik takkan kemana” pasrahku dalam hati sambil menghentikan lamunan yang dari tadi membawaku entah kemana,kutenteng tas besar berisi barang dagangan yang hendak kubawa keliling kota itu untuk dijual. “Salesman”, ya .. itulah profesi yang kugeluti saat duduk di bangku sekolah menengah di kota ini, setelah pindah sekolah dari kampungku.

    “Assalamu ‘Alaikum kak, buk”, begitu awal pembicaraan yang diajarkan seniorkuuntuk membuka pembicaraan dengan customer. Ada yang menjawab salam, ada yang diam saja dan bahkan ada pula yang cuek dan tidak menoleh sama sekali. “Permisi sebentar kak, buk”, “boleh nggak saya minta waktunya sebentar?, ini saya ada bawa perlengkapan untuk keperluan ibuk dan kakak sehari-hari, siapa tau nanti ada minat atau sekedar liat-liat barangkali juga nggak apa apa” kata kata itu selalu kuhafalkan untuk menawarkan barang dagangan pada customer.“Senyum dan sabar jadi modal yang sangat penting” begitu seniorku menambahkan.

    Sepulang sekolah, siang itu cuaca cukup bersahabat, kuteguk segelas air putih dan sepotong roti kelapa sambil mengumpulkan energi yang tersisa untuk mencari biaya semesteran yang tinggal seminggu lagi harus dibayar sebagai syarat ujian akhir.

    Pampangan, nama sebuah kelurahan kecil di kota itukuputuskansebagai sasaran lokasi untuk menjajakan barang daganganku hari itu, emak-emak dan anak gadis yang duduk di beranda rumahnya, entah ngegosip atau sekedar bercengkerama akanmenjadi pusat perhatian untuk customer yang akan dihandle karena jenis produk yang dijual umumnya buat perempuan.

    Kurogoh saku celana, masih ada lima ribu perak.“Cukuplah untuk ongkos” pikirku. Sesampai di lokasi, dari Rumah ke rumah aku tenteng tas besar itu berharap ada customer yang membeli, terik matahari bukan main garangnya membakar kulit sawo matangku.Kali ini pandanganku tertuju pada seorang ibuk separuh baya tengah bersantai di halaman rumahnya sambil membaca surat kabar, pagar rumahnya cukup tinggi namun tidak terkunci. Seperti biasa, aku minta izin sama pemilik rumah sebelum masuk.

    “Assalamu ‘alaikum” ucapku menyapa.

    “Wa ‘alaikum salam” jawab ibu itu sambil menghentikan bacaannya dan melihat ke arahku.

    “Ada apa dik, silahkan masuk” tambahnya lagi dengan ramah.

    Aku buka pintu pagar rumahnya yang tinggi itu dan menutupnya kembali lalu masuk untuk menemui. Baru berjalan sekitar tujuh atau delapan langkah ke depan, tiba tiba dua ekor anjing herder menggonggong ke arahku bahkan langsung mengejarku. Saking takutnya, tanpa pikir panjang aku langsung melempar tas besar lagi berat itu ke luar pagar dan langsung melompat pagar dan berlari sekencang-kencangnya. Kuurungkan niat untuk kembali ke rumah itu meski pemilik rumah itusudah mengusirnya.Setelah berlari beberapa jauh dari rumah itu “Kok bisa ya, pagar setinggi itu bisa kulompati dan tas seberat ini terasa ringan seketika” pikirku dalam hati, heran.

    Seminggu berlalu menjelang ujian akhir, Alhamdulillah biaya semesteran bisa dilunasi dan aku bisa mengikuti ujian akhir seperti teman-temanku yang lain. Uhhh ... Lega sekali rasanyaJ

    Minggu depan Raport dibagikan, kali ini tidak akan lagi seperti biasanya waktu belajar di bangku Sekolah Dasar, mamak (Ibu) akan datang ke sekolah mengambil raportku, mamak akan belikan hadiah 1 buah tas kalau aku meraih Juara I, 1 kodi buku paperline kalau meraih Juara II, dan sebutir telur ayam plus “upa upa” (culture batak) kalau dapat Juara III, tapi perjalanan waktu menuntutku berperan lebih menghadapi semuanya. Sebuah piala mungil kuterima dari kepala sekolah. Sedih namun bahagia suasana hati bercampur saat itu. betapa tidak, kali ini bukan mamak yang terima. “Mak, andai mamak ada disini, aku akan kasih piala ini untuk mak” gumamku dalam hati, rasa sedih dan bahagia bercampur jadi satu.Tangisan tak mampu kubendung saat menerima piala itu, disambut peluk hangat dari Ibu Kepala Sekolahyang mencoba menghentikan tangisanku.

    Sumber foto: Google.com

    [sumber: www.famindonesia.blogspot.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Mengukir Impian Mengejar Cita” Karya Ahmad Dasri (FAM Padang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top