Skip to main content

Zainuddin Labay Tokoh Pers Padangpanjang

Zainuddin Labay El Yunusy lahir tanggal 12 Rajab 1308 Hijriyah atau pada tahun 1890 Masehi di sebuah rumah gadang di Jalan Lubuk Mata Kucing, Kenagarian Bukit Surungan, Padangpanjang. Ia anak dari seorang ulama ternama di Pandai Sikek, yaitu Syekh Muhammad Yunus. Ia kakak kandung tertua dari Rahmah El Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Putri. Ibunya bernama Rafiah. Ia bersaudara lima orang.

Dalam buku Peringatan 55 Tahun Diniyah Putri Padangpanjang (1978) disebutkan, Zainuddin Labay mula-mula ingin belajar agama ke Sungai Batang Maninjau dengan ulama terkenal Haji Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka). Namun karena Maninjau dianggap jauh ketika itu, ibunya keberatan melepaskannya. Akhirnya ia memilih mengaji ke Padang Japang, Payakumbuh. Di sana ia belajar dengan seorang ulama terkenal bernama Haji Abbas selama dua tahun (1911-1913).

Ketika belajar di Padang Japang ini, Zainuddin pernah berselisih paham dengan gurunya. Ia termasuk anak yang tercerdas, sehingga diangkat pula menjadi guru bantu di sana. Kebiasaannya dalam memanggil murid belajar ialah dengan pluit. Terjadinya perselisihan dengan gurunya ialah, karena ia berani mengajar ilmu agama yang belum pernah diajarkan kepadanya.

Ketika Haji Abdul Karim Amrullah (Inyiak DR, ayah Hamka) menetap di Padangpanjang untuk menyiarkan agama yang berbasis di Surau Jembatan Besi, Zainuddin tertarik untuk belajar kepada guru itu. Ia pun pulang ke Padangpanjang untuk menuntut ilmu. Ia termasuk seorang murid yang cerdas. Ia lebih banyak belajar sendiri. Oleh gurunya telah tampak bakat mengarangnya sejak remaja. Bahasa tulisnya bagus dan tajam. Ia banyak membaca buku-buku karangan Mustafa Kamil, dan sering melakukan surat menyurat (korespondensi) dengan tokoh kebangsaan Mesir ini, walaupun keduanya tidak pernah bertemu muka. Zainuddin Labay dikagumi oleh guru dan kawan-kawannya.

Setelah belajar langsung dari Inyiak DR di Surau Jembatan Besi, Zainuddin kemudian berinisiatif menambah ilmunya dengan menuntut ke Kota Padang, karena ia mendengar di kota ini terdapat seorang ulama modern bernama Dr. Haji Abdullah Ahmad. Oleh ibunya ia diberi uang bekal sebesar 20 gulden. Tapi selang seminggu kemudian ia telah muncul kembali di rumah ibunya. Semua uang yang diberikan ibunya dulu, dibelinya buku-buku dan koran atau majalah berbahasa Inggris. Di Padang banyak dijual orang majalah atau koran dalam bahasa asing. Untuk apa koran, majalah, dan buku-buku yang banyak itu orang lain tidak tahu dan tidak ada yang berani menegurnya.

Selain kesenangannya membaca surat kabar dan buku-buku, ia juga menguasai beberapa bahasa asing, selain Bahasa arab, yaitu Inggris, Perancis dan Belanda. Semua itu ia pelajari tanpa guru. Pada masa itu pernah turis asing datang ke Padangpanjang, dialah yang diajak untuk menjadi juru bahasa.

Pada tahun 1914 ia telah mulai membantu menulis dalam majalah “Al Munir” yang diterbitkan di Padang di bawah pimpinan Haji Abdullah Ahmad (terbit 1911). Menurut Buya Hamka, pena Zainuddin ini tajam. Akhirnya ia dijadikan pembantu tetap dalam Majalah “Al Munir” tersebut.

Rupanya ia merasa tidak puas menjadi pembantu di Majalah “Al Munir” Padang ini, maka ia kemudian melakukan pendekatan ke Sumatera Thawalib di Padang Panjang untuk menerbitkan sebuah majalah Islam yang lain isinya untuk kemajuan umat. Setelah Majalah “Al Munir” Padang tidak terbit lagi karena percetakannya terbakar, terbitlah majalah yang sama namanya yaitu “Al Munir El Manar”, tetapi berbeda dalam metode pengupasan dan cara penyajiannya. Di majalah ini, pengupasan masalah agama Islam tidak hanya dari sudut pandang mazhab Imam Syafi’i saja, tetapi juga mazhab-mazhab lain. Dengan terbitnya majalah “Al Munir” versi Padangpanjang yang didirikan Zainuddin Labay ini, mulailah pengkajian ajaran agama Islam secara mendalam.

Buya Hamka dalam catatannya menulis; “1924, suasana ketika itu masih diliputi kesedihan, karena orang besar yang dikenal di rumah gadang itu baru saja meninggal dunia, yaitu Allahummaghfirlahu Zainuddin Labay El Yunusy. Tetapi meskipun muram suram karena kesedihan, namun rumah itu tetap diliputi suasana agama. Ummi Rafi’ah, orang tua dari semua tetap berwajah tenang dan bersikap lemah lembut. Demikian juga anak-anak perempuan beliau, Mariah, Rahmah, dan Upik. Kepada saya diperlihatkan surat kabar “Al Akhbar” yang dipimpin Tuan Labay sebelum mengeluarkan sendiri surat kabar “Al Munir” di Padangpanjang.”

Hampir seabad tokoh agama yang juga wartawan ini meninggalkan tanah Padangpanjang. Selama usia itu pula, belum terbetik kabar ada majalah lain yang dipimpin tokoh-tokoh sekaliber Zainuddin Labay di Padangpanjang. Dan, tentu saja kita rindu hadirnya “Zainuddin Labay-Zainuddin Labay” yang baru, yang tidak saja berdakwah secara lisan namun juga melalui tulisan-tulisannya yang tajam di media-media dakwah yang dimpimpinnya sendiri. Wallahu a’lam.

MUHAMMAD SUBHAN
www.famindonesia.blogspot.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…