• Info Terkini

    Thursday, November 1, 2012

    Aku dan Kakak Kembaranku, Semua Serba Sama

    Oleh Aliya Nurlela

    Kemarin, kakak kandungku dari Pulau Garam ‘membombardir’ perkataan di telepon. Maklum berbulan-bulan tidak telepon. Begitu ada kesempatan, tanpa ba-bi-bu langsung to the point melontarkan uneg-unegnya. Alhasil, tak ada kesempatan bagiku untuk menyela atau melakukan sedikit pembelaan. Akhirnya, cukup puas menjadi pendengar dan menyimak baik-baik setiap butiran kata yang keluar dari lisannya.

    “Dulu, kita tumbuh bersama. Sekolah pun selalu sama. SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi ada pada tempat yang sama dan kos pun bersama pula. Kesukaan kita sama dan kegiatan pun sama. Hingga, orangtua selalu menganggap kita anak kembar. Banyak kemiripan meskipun sifat bertolak belakang. Orang-orang di sekitar kita pun selalu tertukar memanggil nama apalagi jika melihat dari belakang.

    Masa kecil kita lalui dengan menulis cerita dongeng, hingga menjadi bertumpuk-tumpuk buku tulis yang berisi dongeng. Salah seorang sepupu bahkan memanggil kita “Akela dan Kelabu.” Kau Akela dan aku Kelabu. Semua itu karena tokoh-tokoh dongeng yang kita buat. Kita selalu menulis bersama dan mengikuti lomba juga bersama.

    Ingatkah kau saat kita bergelut di dunia seni, menjadi vokalis band. Lalu kita menangis bersama di suatu malam dan berjanji akan meninggalkan dunia itu. Lalu kita ‘hijrah’ dengan mengenakan busana muslimah. Meskipun di awal masih busana muslim yang gaul, modis dan bongkar pasang. Tapi kita menikmati proses itu.

    Ingatkah, saat kita sudah aktif dalam kegiatan keislaman dengan memakai gamis dan jilbab lebar, lalu kita berdua dihadapkan pada fasilitas karaoke. Saat memegang mikrofon, kau dan aku tersipu malu. Suara kita tak mampu lagi untuk bernyanyi bersama seperti waktu dulu. Entah mengapa ada rasa malu yang menyeruak. Padahal kita hanya berdua di ruangan itu, tak ada siapapun. Aneh, dulu kita berjingkrak-jingkrak di panggung musik dengan bangganya tapi setelah ‘hijrah,’ mengapa kita sangat malu melakukannya?

    Dulu cerpenku sering kau tamatkan. Menulis dan membaca menjadi teman setia yang mewarnai hidup kita. Tak sedikit pun lepas dari menulis juga membaca. Oleh-oleh dari orangtua yang selalu kita nanti adalah buku bukan makanan. Kita selalu bertukar pikiran soal menulis dan buku yang dibaca. Intinya, kita selalu sama.

    Aneh, mengapa sekarang kamu ‘melesat’ sendiri. Kamu menghasilkan beberapa buku, sementara aku? Satu buku pun belum. Bukankah kita selalu sama? Bukankah kita ‘kembar’? Mengapa sekarang berbeda? Kamu harus membawaku lagi pada aktivitas yang sama. Kita harus berkarya dan menekuni dunia menulis bersama. Ayo ajaklah aku bergabung di FAM Indonesia dan bantulah membina murid-muridku menulis, “ ujarnya panjang lebar dengan bahasa telepon yang dibumbui gaya cerita he-he-he. Wah, tak ada kesempatan menyela sedikit pun. Kakak seolah terburu-buru ingin menumpahkan semua bebannya dalam waktu yang cepat dan bisa kutangkap serta kusikapi segera.

    Lucu memang kakak kandung sendiri yang sudah seperti saudara kembar, merasa ditinggal sendiri tanpa diajak aktivitas menulis yang intens. Alhamdulillah, jika memang ia akan bergabung juga menjadi anggota FAM Indonesia. Itu artinya, seorang lagi dari pihak saudara siap menguatkan wadah kepenulisan ini. Sekaligus menjadi jalan terbukanya cabang FAM di Pulau Madura.

    Amrina Rosyada nama penanya. Ia kakak kandung yang terpaut dua tahun usianya dariku. Benar, hubunganku dengannya sebagai saudara sangat dekat sekali. Banyak hal yang membuat kita selalu satu pandangan dan bahu membahu meraihnya. Memiliki hobi dan impian yang sama. Hingga beberapa takdir yang diberikan Allah pun sama.

    Kesamaan demi kesamaan itu berlanjut hingga kini, setelah masing-masing berkeluarga dan tinggal di kota yang berbeda. Sering sekali kita terkaget-kaget saat bertemu. Mengapa sepatu yang kita kenakan bisa sama persis, baik warna atau merek. Bahkan, kita pernah tergelak bersama saat mengeluarkan sabun kecantikan yang dipakai masing-masing ternyata juga sama persis. Aku yakin tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua adalah bagian dari desain dalam takdir-Nya.

    Dulu masa SMA, ketika orang bertanya atau diharuskan mengisi kolom idola. Aku selalu menyebut bahwa idolaku adalah kakakku. Sebagai adik, aku juga heran mengapa bisa mengidolakannya? Tapi di mataku, kak Amrina Rosyada memang memiliki banyak kelebihan yang saat itu kukagumi. Cantik, modis, bersuara merdu, pandai menulis dan pintar. Mungkin cara pandangku saat remaja masih sebatas itu. Menilai secara lahir dan kedekatan saja. Di satu sisi, aku mengidolakannya. Namun di sisi lain, aku selalu waspada dengan sepak terjangnya he-he-he. Ia pesaing berat dalam segala hal. Kalau ia ikut lomba menulis yang kuikuti juga, aku harus siap-siap menjadi nomor sesudahnya. Pasti ia pemenangnya. Seperti cerpenku “Romantika Perawan Desa” harus puas menjadi peringkat dua, karena cerpennya “Nostalgia Tragis” bertengger di peringkat satu. Hmmm….tak apa. Untung posisiku sebagai adik, jadi enggak kecewa-kecewa amat gitu loh hi-hi.

    Satu hal yang kurang kusukai darinya adalah kebiasaan saat akan bepergian. Ia akan menyemir sepatunya hingga mengkilat dan membutuhkan waktu yang lama. Kadang sampai satu jam. Aku pasti sudah cemberut menunggunya. Ketika jalan bersama dan tak sengaja sepatuku menyenggol sepatunya, wih…bisa dibayangkan ekspresi marahnya. Ia akan mencubitku hi-hi.

    Benar kata kak Amrina, bahwa dulu kita berdua sangat suka menulis dan membaca bersama. Kemana-mana menenteng buku tulis dan pulpen. Cerpennya yang belum tuntas, sering kutamatkan karena tak sabar dengan endingnya. Setiap hari Rabu ketika ayah pulang dari kantor membawa majalah atau koran langganan, kita akan berebut untuk membaca lebih awal. Ayah yang humoris selalu sengaja mempermainkan kita. Koran atau majalah itu diangkatnya tinggi-tinggi, hingga kita berusaha meraihnya dengan memeluk dan menggelitiki ayah ramai-ramai.

    Aku dan kakak memiliki hobi lain yang sama pula. Kita sering bernyanyi teriak-teriak di atas batu sungai. Bersahut-sahutan dengan suara yang tinggi. Hitung-hitung latihan vocal he-he. Atau berdiri di pinggir kolam yang menghadap pesawahan luas, lalu bernyanyi keras menantang suara angin yang bergemuruh datang dari lembah. Rambut kita tersibak ditiup angin. Wih, saat itu rasanya sedang pengambilan gambar video klip. Atau kita berlari mendekati orangtua yang sedang membakar daun-daun cengkih kering. Asap tebal akan mengepul dari pembakaran itu. Kita akan bernyanyi dan bergaya diantara kepulan asap. Meskipun disertai batuk-batuk sesak oleh asap yang kotor. Maklum, yang kita bayangkan bukan asap pembakaran daun cengkih tapi asap buatan di panggung artis yang waktu itu sering kita lihat di televisi nasional.

    Kesamaan itu termasuk dalam hal menerima surat cinta. Kita akan tertawa terbahak, ketika ada satu surat dari seorang lelaki yang ditujukan untuk berdua. Wah, lelaki itu bingung kayaknya. Harus pilih yang mana? Hi-hi. Mungkin pikirnya, “Ah, dua-duanya saja. Siapa tahu salah satunya ‘nyangkut.’” Otomatis kita jadikan agenda rapat berdua. “Kamu terima? Aku enggak mau.” Kata kakak. Aku pun menggeleng dan jawabannya ditolak bareng-bareng. Demikianlah masa remaja, yang mungkin juga sempat menimpa semua orang.

    Banyak hal yang sama antara aku dan kakak. Anehnya, selalu ada perasaan rindu yang meluap jika lama tak berjumpa. Ketika kesempatan bertemu itu ada, kita akan langsung asyik ngobrol berdua di kamar hingga berjam-jam. Keluarga masing-masing sudah sangat mafhum. Termasuk suamiku dan suami kakak akan memberikan waktu seluas-luasnya untuk kita bercerita berdua.

    Alhamdulillah, akhirnya aku dan kak Amrina menemukan jalan yang lebih baik dari sebelumnya. Kita pun bahu membahu saling menguatkan agar tak ada lagi kata “mundur.” Kita yakin semua niat itu akan terwujud, jika kita konsisten. Meskipun di awal, kak Amrina pernah mengalami kejadian tak sedap. Saat pulang latihan band, ia mendongakkan muka ke kelas pembinaan Islam intensif yang dibimbing guru agama. Guru tersebut melihat ke arah kak Amrina dan berujar,”Saya ragu Anda bisa berubah.” Betapa sedihnya hati kakak saat itu. Ia pun bertekad menunjukkan pada guru agama dan orang-orang di sekitar, bahwa ia bisa berubah. Tekadnya itulah yang membawanya pada perubahan. Bukan sekadar menunjukkan pada makhluk, tapi sebagai bentuk syukur pada Sang Pencipta. Jejak itulah yang kemudian ku ikuti juga.

    Sangat wajar jika sekarang kak Amrina mengatakan bahwa aku melesat sendiri dan meninggalkannya. Sekian lama memang kita memiliki kesamaan yang diakui banyak pihak. Baiklah, sudah saatnya untuk bersama lagi dan aku harus siap-siap ‘terkapar’ menjadi nomor sesudahnya he-he. Semoga kak Amrina benar-benar bisa bergabung di FAM Indonesia.

    Foto: Aku dan Amrina Rosyada saat masih bersama.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Aku dan Kakak Kembaranku, Semua Serba Sama Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top