• Info Terkini

    Thursday, November 22, 2012

    Apa Kabar Royalti?

    Oleh Aliya Nurlela*)

    Sudah setahun menanti kabar penjualan salah satu buku saya yang diterbitkan oleh sebuah penerbit cukup terkenal dengan cara konvensional. Setahun lalu, buku tersebut telah mendapat setoran laporan royalti dari penerbitnya. Bahagia, tentu saja. Royalti pertama atas penjualan buku sejumlah 400 eksemplar lebih, meskipun penyetoran royalti tersebut diluar jadwal yang telah menjadi kesepakatan dalam perjanjian. Dalam surat perjanjian antara penerbit dan penulis, seharusnya penjualan dilaporkan dan disetorkan setiap tiga bulan. Tapi ini kok sampai setahun? Ah, tak masalah pikirku. Toh aku penulis pemula–yang bukuku diterbitkan oleh penerbit besar  dan dipasarkan di Gramedia seluruh Indonesia—sudah sebuah kebahagiaan bagiku. Apalagi niat awalku menulis untuk menyebar kebaikan, dakwah bil qalam, bukan semata mengejar royalti.

    Impian semua penulis, setelah bukunya diterbitkan, tentu saja berharap penjualan bukunya bagus, royalti yang lancar dan transparan. Sebab, kedua hal tersebut sesungguhnya merupakan satu paket mimpi penulis. Apalagi ketika melihat pengarang-pengarang sukses yang selain namanya menjadi perbincangan banyak pihak, buku-bukunya menjadi acuan, juga kehidupan ekonomi mereka berubah drastis. Ada yang dalam sekian bulan saja bisa meraup rupiah hingga menembus angka ratusan juta. Angka yang fantastis bagi seorang penulis.
    Royalti adalah nilai apresiasi sebuah buku yang dihasilkan dari peluh seorang penulis, hasil memeras otak, menggerakkan pikiran, bertempur dengan imajinasi, pontang-panting mengumpulkan fakta/data, teliti memilih dan memilah kata atas sebuah idealisme atau gagasan yang ditulis. Bagi seorang penulis pemula, menerbitkan buku yang ditulisnya barangkali sama ajaibnya dengan ‘menerbitkan matahari.’ Ada pihak yang berkuasa yaitu penerbit. Penulis pemula seringkali terlalu bahagia saat naskahnya lolos seleksi dan diterbitkan penerbit konvensional tanpa keluar biaya sepeser pun. Bahagia tidak salah memang. Sebab menembus penerbit konvensional itu tidaklah mudah. Naskah kita harus memiliki direct selling dan perkiraan peluang pasar yang menjanjikan. Penerbit tentu saja tidak mau rugi, mengeluarkan dana sekian juta untuk sebuah naskah yang menurut mereka tidak memiliki nilai jual. Dalam hal ini penulis bukanlah penguasa atas bukunya yang sudah terbit. Faktanya yang membiayai sejumlah rangkaian penerbitan bukunya--dari pracetak, cetak hingga pendistribusian—bukanlah dirinya sendiri.

    Dalam banyak kasus, penulis sering tidak berkutik. Bahkan memahami MoU (Memorandum of Understanding) pun belum bisa. Asal teken dan oke saja. Keluguan penulis dalam memahami MoU sering menjadi awal ‘kesengsaraan’ di kemudian hari. Dapat dimaklumi, sebagai penulis pemula apalagi yang bukunya baru pertama kali diterbitkan penerbit konvensional membuat adrenalin menulisnya menggebu-gebu. Sekali tancap, revisi naskah permintaan penerbit dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

    Itu pula yang terjadi pada saya. Ketika di awal naskah bergenre remaja akan diterbitkan. Penerbit meminta revisi dalam waktu lima hari, bukan lagi bergenre remaja tapi umum. Sistem lembur gila-gilaan ditempuh. Artinya, tidak usah lima hari, tiga hari pun jadi, he-he-he. Mengutip slogan seorang tokoh, “Lebih cepat lebih baik!”

    Tak bisa dipungkiri, harapan seorang penulis setelah MoU disepakati adalah menanti laporan hasil penjualan bukunya. Itu saat yang mendebarkan. Bahkan mungkin mimpi-mimpi baru pun telah dicatat. Sebab punya harapan semuanya berjalan lancar dan sukses. Lalu apa yang terjadi? Setelah ‘berdarah-darah’ dan babak belur dengan ribuan kalimat? Banyak kisah pilu penulis. Meskipun yang berkisah ceria dan sukses tak kalah banyak.

    Seorang teman penulis, yang sudah bertahun-tahun bukunya diterbitkan penerbit konvensional, (beberapa bukunya ada pada penerbit yang sama dengan buku saya) waktu kita sedang mengadakan diskusi menulis, saya coba menyampaikan padanya tentang ‘raib’nya laporan hasil penjualan buku saya. Dengan entengnya, ia memberi jawaban: “Anda baru satu buku saja yang sudah terbit, sudah heboh bertanya. Saya nih sudah menerbitkan 46 buku nonfiksi, sampai sekarang tak satu pun saya mendapat laporan hasil penjualan apalagi royalti.”

    “Wah, benarkah?” Mata saya terbelalak, mulut menganga mendengar jawaban itu, hi-hi-hi. Lalu apakah penulis lantas diam saja? Waktu itu saya sendiri bingung memberi jawaban jika ada orang menemui kasus seperti itu. Kalau diurus, kesannya penulis lebih mementingkan materi daripada tersebarnya karya-karya yang memberi manfaat. Tapi kalau dibiarkan, lalu apakah menulis itu sebatas memproduksi tulisan, lalu diberikan kepada penerbit setelah itu, “Apa yang terjadi, terjadilah?” Ah, saya bingung sendiri sebaiknya bagaimana langkah yang harus diambil penulis? Benarkah, saya harus diam saja atas ketidakjelasan buku sendiri? Lalu menunggu menerbitkan 45 buku lagi, baru boleh menanyakan soal kejelasan hasil penjualan kepada pihak penerbit? Hati ini berontak, “Masa sih sampai segitunya?”

    Kisah pilu lainnya, seorang teman penulis bahkan berkata dengan nada ketus. “Dari pada nasib bukuku enggak jelas, lebih baik kuterbitkan sendiri saja Mbak!” Tak menunggu lama, naskahnya ia tarik dari penerbit sebelumnya dan diterbitkan sendiri dengan penerbitan self publishing. Ia pun merasa puas dan bukunya yang baru saja ‘lahir’ dipamer-pamerkan di depan muka saya. “Pesan ya Mbak dan boleh koq ngundang saya untuk workshop menulis.” Sudah hilang wajah ketusnya he-he-he.

    Masih banyak kisah pilu lainnya termasuk penulis yang tidak berbagi cerita alias kepiluannya dinikmati sendiri. Nah, saya termasuk salah seorang yang hendak berbagi sedikit kisah pilu. Jangan sedih ya sobat, he-he.

    Setahun adalah waktu yang panjang untuk sebuah penantian. Menanti dan menanti. Alhamdulilah, dalam tahun ini saya memiliki aktivitas yang menjadi fokus perhatian yaitu mengelola wadah Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sehingga penantian itu tidak terasa, tidak membuat kaki kesemutan dan muka mengeras, hi-hi-hi. Bahkan, terkesan sedikit lupa. Aha, suatu malam saya ingat, kemanakah buku saya? Saat jalan-jalan ke toko buku Gramedia Kediri langsung saja saya berdiri di depan kasir dan minta bantuannya melihat buku karya saya dengan judul yang saya sebutkan. Jawab si kasir yang berpostur tinggi, “Stok sudah habis, Mbak.” Wah sudah habis? Berarti laku dong. Tapi kenapa tak selembar pun laporan hasil penjualan dalam setahun ini saya terima? Oh, mungkin penerbitnya sedang sibuk merekap jadi lupa melaporkan. Tak apa. Saya penulis yang cukup toleran dan tidak cerewet, he-he-he. Saya tunda keinginan mengontak penerbit tersebut hingga beberapa minggu.

    Suatu malam saya terdorong mengumpulkan seluruh keberanian untuk menghubungi direktur penerbit tersebut. Maklum, beberapa pesanan buku saya yang katanya “laris manis tanjung kimpul” itu sudah menanti. Saat tersambung, baru saja saya membuka hello dan salam, Direktur penerbit tersebut langsung mengucapkan kata maaf, “Maaf Mbak Aliya, setahun ini kami sibuk, lalu tertimpa musibah. Musibah di keluarga juga di penerbitan. Manajemen kami juga dalam perbaikan. Buku-buku retur dari beberapa toko juga menumpuk di gudang. Beberapa penulis belum saya bayar royaltinya. Ada yang setahun, ada yang dua tahun bahkan lebih. Saya sebenarnya merasa bersalah kepada para penulis. Merasa memiliki dosa pada mereka. Mungkin musibah ini adalah teguran Allah buat kami. Semoga Mbak Aliya dapat memaklumi. Bagaimana kalau royalti Mbak Aliya diganti buku saja? Mbak Aliya boleh ambil buku yang sudah dicetak hingga 250 eksemplar...”

    Wah, belum juga berbasa-basi apalagi menagih sudah mendapat penjelasan yang mengagetkan. Akhirnya, terjadilah komunikasi yang cukup lama dengan pimpinan penerbit tersebut. Harus bagaimana dan lain-lain. Termasuk beliau blak-blakan tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik penerbitannya yang memakai sistem konvensional. Semua ucapan direktur itu saya simak baik-baik. Tak tanggung-tanggung saya siapkan pena dan buku saat menyimak telepon itu. Saya tulis bagian-bagian penting tentang penerbitan dan pernak-perniknya. Itu ilmu yang berharga, apalagi FAM sudah memiliki penerbitan sendiri yaitu FAM Publishing, walau masih konsep self publishing. Dari pembicaraan yang memakan waktu hampir dua jam tersebut, saya mantap memutuskan menarik naskah buku saya dan akan diterbitkan lewat FAM Publishing, penerbit yang saya kelola.

    Ah, buku satunya terselip kisah pilu juga. Buku ini pun diterbitkan penerbit konvensional. Saat saya tanyakan, bagaimana nasibnya? Jawaban penerbit, “Buku Mbak terbilang sukses, dari 1.500 eksemplar hanya tersisa sekitar 200 eksemplar lagi. Nah, tapi maaf royalti masih belum bisa saya berikan.” Wih, nunggu berapa tahun lagi? Karena ilmu sedikit demi sedikit yang diserap dari sana-sini soal penerbitan, akhirnya mantap naskah buku itu saya tarik juga.

    Ada kalanya mimpi penulis harus buyar dan menurunkan semangat menulis buku berikutnya. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas buyarnya mimpi ini? Sudahlah seleksi ketat, proses lama, royalti tidak seberapa, eh, dihutang pula. Mengenaskan sekali! Mungkin di awal sebagai penulis pemula akan mengelus dada, menyabarkan diri sendiri. Maklum masih eufhoria menikmati sebutan berstatus “penulis.” Hal-hal seperti kejelasan dari kesepakatan MoU sering diabaikan.

    Mau beralih menerbitkan buku sendiri? Memiliki kendala. Kendala utama adalah dana. Kendala berikutnya, mungkin berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan pascaterbit. Seperti distribusi, promosi, pencatatan, penjualan, dll. Penulis seringkali tak berkuasa untuk urusan terbit-menerbitkan, mengurus ISBN, jual-menjual, tawar-menawar, yang perkaranya terkadang lebih rumit dari menulis buku itu sendiri. Kemampuan penulis yang pandai dalam mengorganisasi kata-kata, kalimat, fakta dan imajinasi, tak berkutik ketika berhadapan dengan masalah penjualan buku. Dalam konteks uang, buku adalah kertas, tinta, komputer, mesin cetak, mesin wraping, angkutan, jasa pos/pengiriman, honor pegawai, dll. Ini semua benar-benar diluar kuasa penulis.

    Namun bukan berarti kisah pilu menerbitkan buku di penerbit konvensional berlaku pada semua penulis. Masih banyak penerbit yang bersikap amanah dan bertanggung jawab. Penerbit yang menjunjung nilai profesionalitas, yang artinya tidak akan mencederai hak dan kewajiban masing-masing yang sudah disepakati pihak penerbit dan penulis. Sehingga penulis yang bernaung di bawahnya, mendapatkan hak-haknya sesuai kesepakatan.

    Demikian pula, banyak penerbitan indie atau self publishing yang mampu menerbitkan buku dengan baik dan memasarkan buku penulis dengan professional, serta melaporkan hasil penjualan secara transparan. Meskipun penulis membiayai sendiri penerbitan bukunya, tetapi penerbit yang benar-benar menjaga kualitas sebuah karya, akan mengolah terlebih dulu naskah tersebut, hingga benar-benar layak dihidangkan ke publik.

    Tetapi, semua kembali kepada penulis. Penerbitan seperti apa yang akan Anda ambil untuk menerbitkan karya terbaik yang Anda miliki? Pilihan terbaik adalah keberanian Anda untuk memilih.

    Salam santun, salam karya!

    *) Penulis buku, Sekjen FAM Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. Makasih mbak Aliya atas infonya... ini sangat bermanfaat sekali

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Apa Kabar Royalti? Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top