• Info Terkini

    Wednesday, November 21, 2012

    Di Sini Aku Menemukan Saudara yang Memotivasi

    Kepada:
    FAM Indonesia
    di-
    Pilar Dakwah

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Dear FAM…

    Di sayap-sayap pagi menyambut sang surya mencium tanah merah, detik-detik mempertanyakan apa yang kulakukan untuk sebuah kenangan hari ini? Saat ingin menuliskan surat ini, kupandang langit, warnai biru lembut membelai mata, ku terkantuk dan terhanyut dalam dunia imajinasi yang tak pandang waktu. Hingga di ujung jemariku, kulantunkan suara hati, mengisi ruang waktu bersemayam pada cintaku padamu. Garis melengkung pun tersirat pada bibir ini. Ah, FAM kau begitu indah.

    Dear FAM yang di rahamati Allah.

    Kutuliskan senandung kisahku mengenalmu FAM. Sesosok pria dan berjiwa besar, mengetuk pintu hatiku. Menyambut dengan santun penuh dengan rasa cinta. Mengundangku untuk menjejakkan kaki pada pilarmu FAM. Dan aku tak menyangka itu adalah Ketua Umum FAM Indonesia. Itu adalah sesuatu yang benar-benar indah.

    Bagaikan kaca, kau memiliki magnet agar aku tak melepaskanmu. Aku pun melirik engkau, kuamati para bayi-bayi mungil tengah asik menggelitikmu. Aku memberanikan diri untuk bergabung di pilar yang kau suguhkan madu itu. Lama aku di sana. Bak bunga yang kuncup, kau menyiramnya kembali. Mungkin tak mudah bagiku meniti jalan untuk maju ke depan, melangkah untuk gabung bersamamu FAM. Namun jika kupandang Pilar Dakwah yang kau suguhkan, laksana mentari memberikan sinar dan kehangatan yang bersitimulus. Aku bagaikan saudaramu yang tersayang.

    Dear FAM yang dirahamati Allah.

    Jika engkau bertanya kenapa aku seperti saudarimu yang tersayang. Di pilarmu inilah aku menemukan saudara-saudari. Kalau aku boleh jujur, aku bukanlah saudara sedarah mereka dan aku juga tak mengenal mereka sebelumnya. Namun, setelah melangkah keluar, bersilaturahim dengan keluarga FAM khususnya di Bukittinggi. Apalah daya, tiada yang dapat kuungkapkan untuk kehangatan cinta dan kasih persaudaraan ini. Ikatan ukhuwah yang terjalin begitu menarikku dalam dunia penuh pesona.

    Aku baru menyadari bahwa aku memiliki saudara-saudari yang banyak, yang mencintaiku, walaupun darah yang mengalir di tubuh kami bukanlah berasal dari darah yang sama. Aku menyadari bahwa saudara bukan dilihat dari hubungan sedarah. Tapi saudara adalah orang-orang yang mencintaimu dan engkau mencintainya. Itulah yang engkau punya FAM. Segudang ilmu, segudang saudara, segudang cinta, segudang kasih. Hingga akhir detik-detikku, kau tetap kukenang.

    Dear FAM yang di rahmati Allah.

    Lembaian angin sepoi menggoda dedaun yang tengah asik menikmati sang surya. Di antara tumpukan buku-buku yang disusun rapi di rak, kududuk menatap engkau yang jauh di sana.
    FAM yang dirahmati Arrahim…

    Seujung pena yang menyentuh kertas putih, akankah aku sanggup menyentuh engkau? Seperti dirimu telah menyentuh relung hatiku untuk menuliskan kisahku, dukaku dalam menulis.
    Mengingat kenanganku sewaktu beranjak remaja, aku mulai merasa dan terasa sesuatu yang tak pernah kurasakan sewaktu kecil, rasa takut, cemas dan khawatir. Hingga rasa itu aku tuangkan dalam buku diary yang di hadiahkan oleh sahabat seperjuanganku. Kumulai meniti jalan hidup dengan menulis segalanya dalam buku, hingga waktu itu tiba, di mana aku tak menulis dan diam terpukul. Hatiku tak menemukan tempat berbagi. Saat itu, di pagi yang cerah, tubuhku menggigil, sekujur badanku berkeringat, mukaku pucat dan aku demam luar biasa. Tak ada yang tahu tentang sakit yang tiba-tiba menyerangku. Namun hanya ku sendiri yang bisa merasakannya. Dan aku menulisnya di diaryku untuk catatan diri sendiri.

    “Deary, kau tahu hari ini, hari di mana aku menerima hasil try out. Aku tahu aku sangat lemah dalam bidang matematika namun aku telah berusaha, tapi kenapa nilai tak lolos. Kenapa engkau begitu sulit untukku taklukan”.

    Bukan main pengaruhnya nilai itu bagiku, seluruh energi sepertinya tertarik oleh dunia lain. Hingga aku menyilangkan kedua tangan dan mendekapnya pada tubuh mungilku, mengunci diri di kamar. Aku malu untuk keluar. Aku t akut ibu tahu. Aku mulai menggambarkan diri sendri sebagi anak yang tak bisa membalas jasa waktu itu. sepertinya aku tak bisa memberikan hadiah untuk ibu hari ini. Apa yang harus kuperbuat, anak remaja seperti aku, yang diharapkan pastilah prestasi yang tinggi oleh orangtua. Apa jadinya jika prestasiku yang kudapatkan selama ini terlelap hanya karena nilai tes try out jelek, saat itulah demam melanda ke tubuhku.

    Hingga malam tiba, kuberselimut menutupi tubuh agar tak menggigil, namun terasa sakit. Aku pun berusaha memanggil ibu untuk menuntunku ke kamar mandi. Namun, tak ada jawaban di malam sepi itu. Aku pun menuntun diriku sendiri, dengan bekata, “aku bisa” tertatih melangkah akhirnya aku sampai ke pintu kamar mandi. Saat kubuka pintu, bruk…, aku jatuh seketika. Aku tak tahu apa yang terjadi, aku hanya merasa ada yang menangkap tubuhku dan sayup-sayup suara berlantun asma Allah menggema.

    Setelah aku sadarkan diri, aku mendapati diriku telah kembali ke tempat tidur. Dan perawatan dari bidan terdekat pun telah aku dapatkan. “Aku butuh istrirahat dan jangan terlalu banyak berpikir” katanya. Alhamdulillah aku sembuh. Hingga aku bisa melangkahkan kaki ke sekolah lagi. Seperti biasa, rasa itu ada, dan tetap bergema. Hingga tak sabar aku segera pulang untuk menuliskan kisahku beberapa hari yang telah terlewati. Namun, bukan main. Aku tak melihatnya. Aku berusaha mencari kesana-kemari namun tak kutemui. Ternyata abang aku telah memperhatikan diriku sejak tadi “kamu cari apa!” katanya. Sepontan kualihkan diriku ke pemilik suara itu. Kutatap wajahnya, rasa takut dan khawatir pun merasuk dalam tubuhku. Hingga diam mencekam. Abang tak suka melihatku menulis cerpen. Cerpen perdana yang aku buat pun hanya sebuah sampah baginya. Baginya menulis cerita fiksi, adalah hanya membual saja. Dan kadang aku dikatakan bodoh karena terhanyut di dalam dunia hayal. Aku hanya boleh menulis tentang pelajaran saja.

    Tak mudah untuk tetap melanjutkan kisah ceritaku. Ingin atau tak ingin, aku harus tetap menulis. Pada suatu hari ia mendapati ku menulis cerita. Dia menghampirinku “ tulis apa?” cerpen untuk tugas pelajaran bahasa Indonesia bang. Ia pun langsung pergi melepaskan ku.

    Tapi, rasa takut untuk mengatakannya waktu itu ditepis oleh rasa penasaran. Aku mencoba mencari cara bagaimana mengatakannya. “Caria pa?” katanya lagi, aku pun menarik napas panjang dan berkata “abang ada lihat buku hitam tebal”. “Maksud kamu diary kamu?” katanya dengan sedikit keras dari suara biasanya. Aku menganggukkan kepala perlahan-lahan dan tak berani menatap matanya lagi. “Buku itu udah abang bakar.” Aku seperti disambar petir. Tercengang.

    Ingin rasanya aku mencaci makinya, emosiku telah berkobar-kobar tapi dengan tatapan tajam aku pergi keluar mengalihkan semuanya. Mengambil pakaian dalam lemari untuk mencucinya kembali. Pakaianlah menjadi keamarahanku waktu itu. “Kamu kemana?” kata abang yang heran membawa pakaian bersihku ke kamar mandi. “Kau sakit karena buku itukan? Dan kau begini juga karena buku itukan?” Aku terdiam dan berusaha mengontrol emosi, “ tidak, aku sakit karena nilai try outku jelek bang!” dengan tegas. “Tak mungkin kau dapat nilai jelek. Abang udah baca dearymu, dan di sana kau lukiskan bahwa kau mengimpikan seorang pangeran.”

    Terkejut aku, mendengarkan lontaran itu, sebuah hayalan. Ah, kenapa ia harus baca diaryku pada judul itu “Menanti Sang Pangeran”, kenapa tidak di lembaran terakhirnya saja, yang baru aku buat. “Aku pun langsung berkata”, itu sebuah cerita masa laluku, tapi tidakkah abang baca halaman terakhir? Yang berjudul “Kegetiran Diriku Menerima Hasil ujian. “Ah, kau membual”. “Abang, tak ada hak membaca diaryku!” dengan lantang. Aku pergi dan meninggalkannya dalam kebingungan. Mulai hari itu aku tak lagi menulis. Aku berpikir kisahku telah usang bersama abunya. Aku telah lebur, yang akan dibawa angin kemana ia mau. Allah selalu memberikan hikmah dibalik itu, saat aku membersihkan kamarku, aku menemukan buku diaryku di bawah kasur. Aku tak menyadari hal itu sebleumnya. Aku yang berpikir bahwa abangku “sungguh tega” ternyata tidak. Mungkin ia khawatir terhadap diriku saja. Kini saat aku pulang, ia pun menikmati penggalan cerpen yang kuketik.

    Dear FAM yang dirahmati Allah.

    Teriring surat suka dan duka kuhaturkan, aku ucapkan terima kasih. Jika jari-jemari ini asyik menari dalam luapan rasa dan perasa. Kuharap ini akan menemukan titik terang. Di mana aku dan engkau menjalin ikatan yang erat. Tiada pertemuan tanpa ada jembatan yang menyatukan. Maka setulus doa, kuhaturkan agar pilar ini menjadi jembatan untuk kita bersua.

    Semoga engkau dalam limpahan kasihnya, Amin…

    Hormat saya
    Nuridasari
    Anggota FAM Bukittinggi

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Di Sini Aku Menemukan Saudara yang Memotivasi Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top