• Info Terkini

    Thursday, November 22, 2012

    FAM Hadir di Tengah Minimnya Minat Membaca dan Menulis Generasi Muda

    BUKU-BUKU TERBITAN FAM PUBLISHING
    Oleh Muhammad Abrar *)

    Selain menggambar, menulis merupakan pekerjaan yang paling tidak aku suka. Aku sangat malas sekali ketika di sekolah dasar (SD) dulu ketemu pelajaran Bahasa Indonesia yang di situ ada pelajaran mengarangnya. Meski begitu pernah suatu ketika aku terpikir, Buya Hamka dikenal karena buku-bukunya. Natsir dihargai karena tulisan-tulisannya. Bung Hata masih diingat sampai saat ini juga karena tulisan-tulisanyanya. Bahkan sebagian besar orang-orang hebat di zamannya hampir tidak ada yang tidak meninggalkan karya berupa buku setelah mereka tidak ada lagi.

    Teringat dengan itu, maka di tahun 2007 timbul semangat untuk menulis. Setiap apa yang dialami dan yang terjadi di sekitar lingkungan hampir semuanya digambarkan ke dalam bentuk tulisan. Namun seiring berjalannya waktu, karena tidak adanya motivasi dan juga wadah untuk diskusi, telah menjadikan semangat yang menggebu-gebu pada awalnya, akhirnya menjadi kendor, sampai beberapa tahun setelahnya. Ketika minat menulis itu hampir saja tenggelam, aku dikenalkan dengan sebuah wadah kepenulisan bernama Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Berawal pada suatu hari di jejaring social facebook kutemukan sebuah informasi seminar yang diadakan oleh “Minangkabau Youth Forum” yang disponsori Beastudi Etos dan Dompet Dhuafa Singgalang Sumatera Barat.

    Dari informasi itu 6 orang pembicara akan menjadi narasumber dalam seminar tersebut, di antaranya: Buya Mas’oed Abidin (Mantan Ketua MUI Sumatera Barat), Prof. Dr. Ir. Puti Reno Raudha Thaib, MP (Bundo Kanduang Sumbar), Hanif Rasyid (Keponakan Buya Hamka), juga ada para pemuda: Muhammad Subhan (Journalist dan Penulis), Braditi Moulevey (Ketua BPC HIPMI Kota Padang), dan Phobi Kevin, S.TP (Trainer dan Motivator Muda Sumbar).

    Dari ke enam narasumber tersebut, aku terkesan sekali ketika menelusuri facebook dari seorang pembicara Muhammad Subhan. Dari sana kuketahui bahwa beliau merupakan seorang ketua FAM Indonesia, sebuah forum kepenulisan Nasional yang beranggotakan ribuan orang. Yang lebih mengagetkan dan memotivasiku adalah sebuah forum berskala nasional bahkan internasional dinakhodai oleh seorang pemuda berdarah Minangkabau. Itulah salah satu alasan mengapa aku ingin sekali untuk ikut berpartisipasi sebagai peserta pada seminar ini.
    Karena belum menemukan nomor kontak beliau sementara rasa penasaran itu semakin kuat sehingga membuatku tidak merasa bosan untuk terus menelusuri biodata beliau. Sampai kutemukan group bernama “Forum Aishiteru Menulis”, sebuah group diskusinya anggota FAM Indonesia. Melalui pesan inbox yang kukirim ke admin, kudapatkan nomor Hp Muhammad Subhan.

    Dengan rasa percaya diri yang tinggi kucoba untuk SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan menelepon nomor Hp yang telah kudapatkan. Harapannya sebelum seminar diadakan, aku sudah mengenal dan berinteraksi dengan beliau. Dua kali telepon tak diangkat, kuputuskan untuk memperkenalkan diri ke beliau lewat sms. Beberapa saat setelah itu handphoneku berdering. Betapa kaget dan terkejutnya ternyata telepon dari Bang Muhammad Subhan. Aku merasa kaget sekaligus tersanjung sekali, ditelepon oleh seorang penulis berskala Nasional sekaligus sebagai salah satu pembicara pada seminar nantinya. Dengan agak gugup kusapa beliau sambil mengucapkan salam dan menyebut nama beliau dengan panggilan Bang Subhan. Aku memanggil abang karena memang umur beliau tidak terpaut jauh dengan umurku. Beliau menjawab salamku dan kuteruskan memperkenalkan diri.

    Ketika itu aku gugup sekali tidak tahu apa yang akan disampaikan. Dengan menggunakan jurus pamungkasku, maka kukatakan bahwa aku ingin sekali diskusi panjang lebar tentang dunia kepenulisan ketika seminar MYF nantinya. Beliau mengamini, dan di akhir percakapan beliau mengucapkan salam, dan kubalas salam beliau. Terakhir kuketahui bahwa novel beliau berjudul “Rinai Kabut Singgalang” mendapat tawaran dari salah satu PH di Jakarta yang tertarik memfilmkannya. Semoga saja itu segera terwujud sehingga akan mengangkat nama Sumatera Barat di Ranah Nasional mengikuti jejak Novel ‘Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata yang bisa mengharumkan nama daerahnya lewat film yang diangkat dari novel tersebut.

    Kamis 15 November 2012. Aku menghadiri seminar yang salah satu narasumbernya itu adalah Muhammad Subhan. Entah apa yang ada di benakku ketika itu. Tanpa sengaja aku salah menuliskan nama beliau. Seharusnya yang kutulis nama Muhammad Subhan, namun mata penaku menari-nari dengan percaya dirinya menulis nama Muhammad Abrar. Tidak tahu persis itu pertanda apa. Sempat terlintas di pikiran, oo.. barangkali ini sebagai suatu pertanda, barangkali suatu saat 3, 5, 10,atau 15 tahun ke depan, akulah yang akan menjadi salah satu narasumber pada waktu, tempat dan moment yang lain. Semoga saja itu betul dan sebagai isyarat sehingga menjadi motivasi bagiku untuk menjadi lebih dan mempersembahkan karya-karya terbaik ke depannya. Dan aku akan tetap menyimpan buku kenang-kenangan ini sampai suatu saat memang betul-betul terjadi dan akan menjadi kenangan yang indah untuk diceritakan kepada anak cucu.

    Satu lagi yang menjadi sebuah pengalaman yang berharga bagiku. Ketika sekolah SD, SMP, SMA, bahkan sampai di perguruan tinggi, baik di bangku kuliah maupun di organisasi yang kugeluti, kegiatan bertanya, menjelaskan/menerangkan sesuatu di hadapan banyak orang, menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan bagiku. Namun pada kesempatan itu, dorongan kuat dari dalam diri mengatakan bahwa aku harus bertanya ketika sesi diskusi. Tanpa menghiraukan apakah pertanyaanku berbobot atau tidak, dengan percaya diri kuangkat tangan.

    Di saat kedua sesi seminar sudah selesai, maka kumanfaatkan berbincang-bincang dengan Bang Subhan. Dari perbincangan itu aku tahu bahwa ternyata beliau merupakan seorang yang diamanahkan sebagai Pengelola Rumah Puisi Taufiq Ismail di Aie Angek Kota Padangpanjang, Sumatera Barat. Sebuah tempat yang tidak asing lagi bagiku, karena setiap kali pulang kampung ke Bukittinggi, selalu melewati tempat tersebut. Namun sayang sekali belum pernah mampir ke sana. Beliau mengundang jika ada kesempatan untuk mampir di Rumah Puisi. Memang untuk bisa berkunjung di Rumah Puisi sudah lama terniat di hati, namun kesempatan yang belum ada.

    Ternyata Allah tidak sia-sia, ketika keinginan kita adalah untuk menuntut ilmu yang baik, maka jalan itu selalu terbuka lebar. Dua hari setelah itu, tepatnya hari Sabtu, 18 Nov 2012, aku berkesempatan untuk berkunjung ke Rumah Puisi karena ada keperluan ke Bukittinggi untuk membayar pajak motor yang jatuh tempo bulan ini, maka kusempatkan singgah di Rumah Puisi. Mengendarai sepeda motor antara Padang dan Bukittinggi merupakan pekerjaan yang jarang kulakukan sudah sejak tiga tahun ini. Kembali Karena niat tulus kita untuk menuntut ilmu ternyata ada saja jalan yang diberikan oleh Allah SWT.

    Singkat cerita, tanpa menghubungi Bang Subhan terlebih dahulu, aku langsung ke Rumah Puisi. Alhamdulillah berkat izin Allah SWT, aku bertemu beliau di sana. Ditemani secangkir kopi torabika panas yang disuguhkan Bang Subhan, kami sharing ilmu dan berbagi pengalaman di sana. Ketika pembicaraan tentang masa lalu beliau, ada sebah pengalaman pahit yang pernah beliau alami, yang tidak bisa beliau lupakan sampai saat ini. Kalau tidak salah di tahun 2000, ketika itu beliau melamar pekerjaan di sebuah bank swasta. Beberapa hari setelah lamaran dikirimkan, ada panggilan dari pihak bank tersebut untuk mengikuti test wawancara di salah hotel di Kota Padang. Namun sebelumnya harus menyetorkan uang sejumlah Rp90.000 kepada pihak bank. Karena sangat harapnya akan sebuah pekerjaan, beliau pun mentransfer uang yang diminta pihak bank tersebut. Ketika pada hari H, di samping beliau juga sudah berkumpul puluhan orang di hotel tersebut untuk mengikuti test yang sama. Karena melihat suasana ramai, maka pihak satpam hotel pun bertanya mau ada acara apa. Maka salah  seorang calon perserta test menjawab mau mengikuti test wawancara yang diadakan Bank “X” di hotel ini. Satpam pun menyampaikan bahwa tidak ada bank tersebut melakukan test di hotel ini. Mendengar informasi dari Pak Satpam, Bang Subhan beserta puluhan peserta yang lain sangat kecewa sekali, ketika mengetahui bahwa mereka adalah korban penipuan dari bank “X”. Maka bermacam kata pun keluar. Ada yang mengatakan Bank “X” biadap, kurang ajar dan lain sebagainya. Namun bagi Bang Subhan sendiri, beliau mengambil positifnya saja. Barangkali ada hikmah di balik ini semua, ungkap beliau.

    Beliau juga menyampaikan bahwa setelah lebih kurang 4 tahun mengabdi di Rumah Puisi, akhir Desember 2012 ini beliau tidak lagi di Rumah Puisi. Beliau punya target lain yaitu fokus dan membesarkan FAM Indonesia, dan merencanakan diri meneruskan studi ke Malang, Jawa Timur. Beliau mengungkapkan, setiap aktivitas apapun yang ditekuni harus memiliki target. Ketika 4-5 tahun belum ada perkembangan, maka beliau pun akan mencari jalan lain.

    Tanpa terasa diskusi kami sudah berlangsung selama lebih kurang satu jam saja. Karena takut terlalu sore sampai di Bukittinggi, maka aku pun mohon pamit kepada Bang Subhan. Beliau pun mengingatkan untuk hadir di Kopdar Bukittinggi pada besok harinya. Insya Allah Bang, jawabku mantap.

    Minggu, 18 Nov 2012, aku menyempatkan diri untuk hadir Kopdar FAM Bukittinggi. Meskipun terlambat karena ada agenda lain, itu lebih baik bagiku daripada tidak datang sama sekali. Menariknya, Kopdar juga dihadiri langsung oleh Ketua FAM Indonesia Bang Muhammad Subhan. Dan sekaligus yang ketiga kalinya aku ketemu dan diskusi dengan beliau.

    Banyak pengalaman dan pertemanan yang kudapatkan disaat Kopdar di Bukittinggi tersebut. Salah satunya yang menarik adalah tidak hanya oleh anak muda, Kopdar pun juga dihadiri oleh beberapa orang yang dari segi usia jauh di atas kami. Itu sekaligus menjadi motivasi bagi kami yang bisa dikatakan dari segi usia masih terbilang muda. Dari semangat mereka bisa kutangkap umur boleh tua, akan tetapi semangat masih tetap muda. Salam dan salutku kepada mereka.

    Alhamdulillah pada hari Senin 19 Nopember 2012, aku sudah menyetorkan uang registrasi keanggotaan FAM Indonesia melaui Bank BRI Bukittinggi. Menyusul biodata dan tulisan sederhanaku yang sudah dikirimkan beberapa hari sebelumnya. Dan Insya Allah No ID FAM ku akan keluar dalam minggu ini, sebagaimana yang dijanjikan Mbak Aliya Nurlela, selaku Sekjen FAM Indonesia.

    Aku berharap semoga saja FAM merupakan wadah yang kucari selama ini. Mudah-mudahan dari wadah FAM Indonesia akan lahirlah para pejuang dan para pencetak sejarah yang menyampaikan dakwah lewat tulisan-tulisanya (dakwah bil qalam). Aamiin…

    Padang, 21 November 2012

    *) Anggota FAM Padang, Sumatera Barat
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: FAM Hadir di Tengah Minimnya Minat Membaca dan Menulis Generasi Muda Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top