• Info Terkini

    Saturday, November 10, 2012

    Filosofi Air yang Mengalir

    Oleh Muhammad Subhan*)

    Air adalah sumber kehidupan. Tanpa air manusia akan mati. Bahkan juga seluruh makhluk yang melata di bumi ikut mati jika ketiadaan air. Air memberikan nyawa. Air memberikan napas makhluk hidup lebih panjang.

    Tak terbilang banyaknya manfaat air bagi kehidupan manusia. Ketika dahaga manusia mencari air untuk diminumnya. Begitu pun air digunakan untuk menunjang kebutuhan manusia sehari-hari, seperti mandi, mencuci, memasak, membersihkan kotoran, menyiram tanaman, mengairi sawah, minuman ternak, hingga digunakan sebagai bahan campuran semen untuk membuat bangunan.

    Manusia yang hidup di zaman purba selalu mencari tempat tinggal di dekat sumber-sumber air; sungai, danau, rawa, maupun laut. Di sanalah mereka membangun peradaban. Para arkeolog sering menemukan temuan-temuan mereka tentang kehidupan suatu bangsa yang telah punah di dekat sumber-sumber air itu. Sudah tentu, sejak manusia pertama hidup di bumi, air menjadi konsumsi yang tak pernah henti hingga mati.

    Di zaman modern sekarang ini, pemukiman-pemukiman penduduk bertumbuhan di bantaran-bantaran sungai, tepian danau, pinggiran laut dengan berbagai arsitektur bangunan indah. Meski kadangkala pada masa-masa tertentu air menjadi musuh manusia yang menakutkan, seperti tsunami, banjir bandang, air bah, yang tidak sedikit menelan korban jiwa.

    Konon kata orang, air yang baik adalah air yang mengalir. Bersumber dari mata air. Air yang langsung keluar dari mata air biasanya jernih. Bening. Harum aromanya. Sejuk pula dipandang mata. Di pegunungan banyak sumber-sumber mata air yang mengalir membentuk anak sungai, lalu mengalir terus ke laut. Dalam peraliran itu, air yang keluar dari sumbernya berjalan jauh ratusan kilometer menuju muara. Di perjalanan ia berbenturan dengan batu, pasir, daun-daunan, reranting pepohonan, dan segala benda-benda alam lainnya. Namun ternyata dalam benturan-benturan itu, air yang mengalir semakin jernih dan berhasil menempuh perjalanan panjang hingga ia menemukan laut, induk dari segala air.

    Jika air tak mengalir atau tidak dialirkan, sudah dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan kondisi air itu. Lama kelamaan air akan mengeruh, menguning, lalu menghitam. Bermacam kuman hidup dan berkembang biak. Lumut bertumbuhan. Lalu air membusuk dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Jika dibiarkan berlama-lama dalam kondisi seperti itu alamat air tersebut menjadi sumber segala macam penyakit. Tempat berkembang biak nyamuk yang membawa wabah mematikan.

    Dalam kehidupan ini, tak jarang kita menemukan orang-orang yang hidupnya bersahaja. Seolah tanpa beban mereka menjalani hidup. Bukan tidak ada masalah, namun mereka mampu memenej masalah itu menjadi energi positif. Setiap masalah dihadapi dengan bijak, dicarikan jalan keluar, dan tidak lari dari masalah. Mereka tidak banyak meminta, tetapi berusaha selalu memberi walau kadang keadaannya susah. Inilah manusia yang hidupnya bagai air mengalir. Semakin banyak masalah yang dihadapi semakin dewasa mereka menyikapinya. Semua persoalan digantungkan kepada Tuhan. Sebab Tuhan lah yang memberikan cobaan untuk menguji sejauh mana batas keimanan hambaNya.

    Inilah sebaik-baik manusia di dalam kehidupannya. Syukur dan sabar menjadi pegangan hidup mereka. Syukur ketika ada, sabar ketika tiada. Jika mereka menjadi kepala keluarga dalam rumah tangga, menjadi pemimpin yang baiklah dia. Begitupun, jika ia memimpin masyarakat, menjadi imam yang adil dan bertanggung jawab. Kebijakan-kebijakannya mencerahkan. Tidak menambah beban dan persoalan baru. Sangat cinta kepada rakyatnya.

    Tapi lihatlah manusia yang hidupnya ibarat air keruh yang tidak mengalir. Wajahnya muram, bawaannya mau marah saja. Siapa pun yang memandangnya dianggap hendak berburuk sangka kepadanya. Kesalahan orang dicari-carinya. Tidak mau mengakui apalagi memberi penghargaan kepada orang-orang yang berbuat lebih baik darinya. Dirinya merasa unggul, tetapi tidak mau berkarya. Kalau pun berkarya enggan membagi ilmu dan pengalamannya. Dia saja yang hebat. Dia saja yang boleh dipuji dan diberi apresiasi. Orang lain yang juga berkarya diburuk-burukkannya, dan kalau bisa tidak boleh disebut-sebut namanya.

    Manusia-manusia yang bersifat air keruh ini, biasanya kehidupannya tidak nyaman. Terjadi perang di batinnya. Hatinya kotor, sebab dipenuhi iri dengki dan dendam. Di awal-awal pergaulannya mungkin saja dia akan punya banyak teman, tetapi setelah terlihat perangainya yang buruk itu, satu persatu kawan-kawannya akan pergi menjauh. Takut tertular penyakit hatinya itu.

    Semoga kita terlindung dari sifat diri seperti air keruh dan dibukakan pintu hati kita untuk menerima kebenaran dengan menjadi air yang mengalir. Agar bersih segala kotoran, agar orang-orang dahaga dapat meneguk nikmat dan manfaat dari sumber air itu. Wallahu a’lam.

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Filosofi Air yang Mengalir Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top