• Info Terkini

    Friday, November 2, 2012

    Filosofi Hidup Induk Ayam

    Oleh Muhammad Subhan*)

    Ayam adalah hewan sebangsa unggas. Ia mempunyai dua sayap namun tidak bisa terbang layaknya burung. Untuk bertahan hidup ayam dianugerahi dua kaki yang unik untuk menceker dan sebuah paruh untuk mematuk. Dengan dua organ tubuh inilah ayam mencari rezeki untuk dapat bertahan hidup, seperti sisa-sisa makanan yang jatuh di tanah, cacing, ulat, semut, daun-daunan, umbi-umbian, dan berbagai makanan lainnya.

    Bangsa ayam punya dua jenis kelamin, jantan dan betina. Ayam jantan lumrah disebut ayam jago, karena memang jagonya berkelahi dengan ayam lainnya. Di kedua kaki ayam jantan dianugerahi taji yang tajam sebagai alat untuk melindungi diri ketika berkelahi dengan lawannya. Ketika dewasa tubuhnya lebih besar dari ayam betina. Perawakannya gagah, jambul di kepalanya menyembul merah, ekornya panjang tegak bagai gundukan, bulu-bulunya berwarna warni indah, jalannya melukiskan keangkuhannya. Namun jika kalah bertarung, ia bagai orang yang kalah perang. Lari terbirit-birit dan lemaslah seluruh persendiannya. Sampai sekarang, di perkampungan-perkampungan, orang masih suka mengadu ayam yang tak jarang diiringi taruhan sejumlah uang.

    Jasa ayam jantan setiap pagi adalah membangunkan manusia dari tidurnya. Ketika fajar menyingsing, menggeliatlah ayam jantan lalu berdiri gagah membusungkan dadanya. Keluarlah suaranya yang nyaring berkukuruyuk. Memecah kesunyian pagi yang dingin. Jika seekor ayam jantan berkukuruyuk, mengikut ayam jantan lainnya berkukuruyuk pula. Lalu terdengarlah di setiap pagi suara simponi orkestra kukuruyuk ayam bersahut-sahutan, menyambut matahari terbit.

    Namun itu hanya ada di kampung-kampung atau di pedesaan. Di kota-kota besar nyaris kukuruyuk ayam jantan tak lagi terdengar. Karena umumnya warga kota tak mau repot-repot memelihara ayam. Orang kota semuanya ingin serba instan. Jika mau makan daging ayam harus siap saji. Maka tamatlah riwayat kehidupan ayam di kota. Karena manusia kota tidak punya toleransi pada habitat ayam, muncullah sebuah penyakit yang disebut-sebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Namanya penyakit flu burung yang menyerang unggas khususnya ayam lalu menular kepada manusia. Berjatuhanlah korban jiwa sejumlah warga.

    Ayam betina tidak segagah ayam jantan. Namun tubuhnya lumayan tambun jika sedang mengeram telur yang bakal jadi anak-anaknya. Orang lumrah menyebutnya sebagai induk ayam. Jika seorang manusia perempuan disebut-sebut diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, tidak terbetik cerita ayam betina diciptakan dari tulang rusuk ayam jantan. Karena sampai sekarang para ahli-ahli dari bangsa manusia belum menemukan jawaban pasti tentang penciptaan ayam, apakah telur duluan atau ayam duluan, atau kedua-duanya diciptakan Tuhan bersamaan.

    Ketika seekor induk ayam bertelur ia akan mencari tempat yang baik dan nyaman untuk mengeram telurnya. Biasanya induk ayam mengeram selama tiga pekan atau lebih kurang 21 hari. Selama masa eram itu pula induk ayam berpuasa siang dan malam. Pengorbanannya sangat besar demi kelahiran anak-anaknya yang akan menetas dari telurnya masing-masing.

    Setelah telur menetas berciap-ciaplah suara anak ayam dan menyembul dari balik bulu-bulu halus induknya yang hangat. Bentuknya mungil dan lucu-lucu. Warna bulunya bisa beragam, ada putih, kuning, hitam, atau abu-abu. Ketika semua anak ayam telah menetas, barulah induk ayam turun dari sangkaknya. Mencari makanan untuk anak-anaknya. Anak ayam pun mulai belajar menceker dan mematuk. Kalau induk ayam dapat makanan, ia akan memanggil anak-anaknya dan mendahulukan anak-anaknya makan. Kalau ada manusia atau binatang lain yang mengganggu anak-anaknya, “histerislah” si induk ayam. Memekik dia. Bisa dikejarnya awak! Tak segan-segan induk ayam mematuk sebagai jurus andalannya jika keselamatan jiwa anak-anaknya terancam.

    Indah nian filosofi kehidupan induk ayam. Benar-benar bertanggung jawab ia kepada anak-anaknya. Namun dalam kehidupan manusia sekarang ini, betapa banyak orangtua yang mengorbankan masa depan anak-anaknya. Terbetik berita setiap hari di media massa, televisi dan koran, ada orangtua yang tega menjual bayinya sendiri karena terdesak kebutuhan ekonomi. Ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya lalu dibuang ke tong sampah setelah dibungkus kantong plastik. Ada yang sampai hati menggugurkan kandungan lantaran malu janinnya hasil hubungan gelap. Ada juga yang menjual anaknya untuk dipekerjakan sebagai budak seks. Ada yang mempekerjakan anak di bawah umur atau memperdagangkan anak-anak yang selayaknya mereka masih duduk di bangku sekolah, dan bermacam kasus lainnya. Miris benar. Ternyata induk ayam lebih mulia akhlaknya dibanding manusia yang diberikan akal dan pikiran.

    Induk ayam hanyalah cermin betapa seorang ibu sayang kepada anak-anaknya. Apapun akan dilakukan seorang ibu agar anak darah dagingnya dapat hidup selamat di dunia. Bukan malah membunuhnya atau mengorbankan masa depan mereka. Seburuk-buruk perangai seorang ibu, ia tak akan tega membiarkan anak-anaknya hidup buruk pula dikemudian hari. Begitupun, seorang laki-laki yang menjadi ayah bagi anak-anaknya, akan bertanggung jawab penuh melindungi istri dan buah hatinya. Sebab demikianlah kondrat hakiki yang harus dimiliki kedua orangtua. Anak adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

    *) Pengurus Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Filosofi Hidup Induk Ayam Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top