• Info Terkini

    Friday, November 9, 2012

    Hinaan dan Ejekan Membuat Saya Semakin Mantap Berkarya

    Sabtu, 10 November 2012
    Kepada Yang Terhormat FAM Indonesia
    Di Ruang Mimpiku

    Assalamualaikum Wr. Wb

    Desah beriring doa dan lantunan zikir mengiringi diri menulis dan menghias kertas kosong ini dengan tinta-tinta hitam. Bukan bermaksud untuk membuat lukisan tak berarti melainkan menulis untukmu yang jauh di sana. Aku iringi ini, dengan kesungguhan dan ketulusan yang ada dalam diri. Mungkin berlebihan atau bulsyit, tapi kutulis ini sesuai dengan gambaran hati dan jiwaku. Pertama, aku kirimkan salam rindu dan kasih padamu yang jauh di sana. Beriring doa dan panjatan syukur atas kebesaran dan keagungan dan rahmatNya. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah hingga saat ini, diriku dan dirimu masih diberi kesempatan untuk hidup dan beribadah. Salam syukur tak terhingga hingga saat ini aku masih bisa menulis dan merangkai kata untukmu yang jauh di sana. Semoga kau baca surat ini dengan kerendahan hatimu. Karena surat ini kutulis dengan ketidaktahuan dan ketidakmengertian diri tentang dunia penulis. Namun aku tetap menulis, karena aku ingin berbagi dan berkarya untuk orang lain.

    FAM Indonesia, pasti kau bingung tak mengerti dengan kehadiran surat ini. Kau pasti tak ingin membaca sajak ini. Bingung? Siapa ini? Ada apa? Aku tak mengenalmu? Tak memahami dengan beribu pertanyaan yang ada dalam pikiranmu. FAM Indonesia, perkenalkan aku Sandi Iswahyudi seorang manusia yang ingin menjadi penyair dan pelukis kehidupan. Aku nonanggotamu, tapi aku ingin mewujudkan mimpiku itu FAM. “Hahaha… Jangan kau tertawakan, itulah mimpiku.” Aku terlahir di Kota Batu, kota yang dulu dingin, sejuk dan asri. Tapi sekarang kota itu berbalik 180° menjadi panas, gersang dengan berbagai permasalahan lingkungan yang mulai menjamur. Sekarang ini, diriku berstatus mahasiswa semester 5 di UMM, jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan.

    FAM Indonesia, walaupun aku termasuk mahasiswa eksak, namun aku suka dan bercita-cita menjadi penulis. Salah satu cita-cita dan impian terpendamku. Aku mulai mengenal dunia penulisan sudah sejak SMP. Ya, sejak SMP itulah aku mengenalnya. Aku mengenal lewat pertemuanku dengan hati dan jiwa yang bercinta. Jiwa dan hati itu ternyata memberikanku efek sedih, senang, gembira serta berbagai permasalahan yang berkecamuk di dalamnya. Tertekan hati dan pikiran, sampai-sampai air mata itu turun tanpa dimengerti. Saat itu, tanpa disengaja, aku menuliskan segala apa yang aku rasa dalam bentuk puisi. Kamu pasti mengerti kan bagaimana perasaanku saat itu? Tak usah aku jelaskan rinci, pasti kau akan memahami dan mengerti juga. Iya kan? Pada saat itu, aku mulai menyukai menulis puisi, walau masih tertatih dalam merangkainya.

    FAM Indonesia, aku tak mengetahui apa yang harus aku tulis untuk menceritakan kisahku ini. Namun aku akan tetap tuliskan apa yang ada dalam pikiran dan benakku. Maaf jikalau banyak kesalahan dan kamu mungkin tak mengerti alurnya.Tapi aku harap kamu memahami apa yang aku maksud. FAM Indonesia dari aku berkenalan pertama kali dengan menulis puisi, di situ aku menemukan bahwa kesedihan dan kegelisan mampu menghilang dengan aku mencurahkannya pada selembar kertas. Kemudian diriku tumbuh seiring berjalannya waktu, aku tetap menulis dan menulis hanya saja masih dalam bentuk puisi.

    Semakin diriku menanjaki tangga kedewasaan, aku menemukan berbagai tekanan hidup, yang membuat jiwaku terpukul, terhantam bahkan sampai-sampai berpikiran untuk aku sirna dari dunia ini selamanya. Astagfirullah, kalau aku ingat masa-masa itu. Aku saat SMA, menjadi anak yang pendiam, baik dalam sosialisasi ke orang lain dan menghasilkan karya. Di masa itu, aku hanya berpikir sekolah dengan mengikuti sistem yang ada. Jarang atau bahkan malas dengan yang namanya mengikuti rutinitas organisasi, seperti OSIS dan estrakulikuler lainnya. Tak ayal dari situ aku hanya mendapatkan ilmu standar seperti murid-murid lainnya. Di lain pihak saat itu, aku hanya hidup biasa-biasa saja, sekolah, membantu orangtua dan mengaji. Rutinitas yang rutin aku lakukan. Membosankan? Pastinya. Saat sekolah SMA aku harus jalan kaki dengan jarak 1 km lebih. Untuk menghemat pengeluaran, karena aku tahu orangtua hanya bekerja sebagai buruh. Capek? Lapar? Pasti itu. Bahkan aku juga sering membawa nasi dan lauk dari rumah. Hahaha, memalukan ya? Kalau untuk kondisi saat itu aku pasti malu, karena memang kebanyakan teman-teman lainnya dia tidak sepertiku. Namun jika sekarang, aku tidak merasakan itu, karena aku telah menemukan hikmah dan keajaibannya. Hemm… Alhamdulillah, saat itu aku masih bisa sekolah. Perjuangan, keluh kesah, derai keringat dan tangisan mengiringi perjalananku saat itu. Alhamdulillah ya Rabb atas nikmat dan cobaan hidupmu.

    Haaaa... Membosankan ceritanya ya?

    FAM Indonesia, aku harap kamu tidak bosan untuk meneruskan membaca surat perjalananku ini.
    Karena lewat inilah, salah satu cara untuk aku menemukan makna dan arti kehidupan. FAM Indonesia, setelah lulus kuliah, aku tidak langsung melanjutkan ke perguruan tinggi. Melainkan saat itu, aku mencari pekerjaan dulu. Walau aku, dalam hati ingin kuliah. Saat mencari pekerjaan aku juga menemukan banyak pelajaran. Ternyata pekerjaan itu tidak semudah yang aku angankan. Sulit, penuh kerja keras, melelahkan dan harus mau bersinggungan setiap hari dengan gejolak jiwa dan fisik. Haaa, upah yang minim dengan tenaga yang terkuras pun salah satu masalahnya. Ternyata kehidupan yang sebenarnya bukan di bangku pendidikan melainkan di kehidupan nyata. Beda sekali dengan kehidupan di SMA sama kerja. Low? Inikan menceritakn suka dukanya penulis, ko’ malah menceritakan kisah hidup? FAM Indonesia dari sini pula, mental dan tekadku untuk bertahan hidup dan menjadi penulis tumbuh.

    FAM Indonesia, saat aku kuliah semester 1. Aku masuk pertama kali ke beberapa organisasi. Kenapa? Karena di sini aku ingin mulai mencari pengalaman tentang organisasi. Salah satu organisasi yang membuat aku minat adalah Unit Kegiatan Mahasiswa Forum Diskusi Ilmiah. Ya, sebuah UKM yang bergerak di arah tulis menulis. Dulu walau aku tak mempunyai latar belakang seorang penulis sama sekali, tetapi aku tetap masuk organisasinya. Karena banyak dari para kader dan lulusan dari organisasi tersebut selain mempunyai kemampuan organisasi mereka juga memiliki kemampuan menulis. Tahukah kau wahai sahabatku FAM Indonesia, aku mengenal dan mulai memahami tulisan, salah satunya dari dari UKM ini.

    FAM Indonesia, pertempuranku yang sebenarnya menuju seorang penulis dimulai pada saat aku kuliah. Kenapa? Pada kondisi kuliah inilah aku masih menemukan setengah apa itu kehidupan. Pertama, kalau kata dosenku, di dunia kerja dan masyarakat nanti itu, bukan IPK yang mereka cari tapi yang nomor satu/utama adalah soft skillnya. Kemampuan mereka dalam menghargai, komunikasi, kerja sama dan nilai-nilai kepribadian lain yang sangat diperlukan. Kedua di sebagian besar lingkup teman-teman kuliah, mereka lebih menyukai organisasi dan kuliah dari pada dunia tulis menulis. Maka, dari UKM inilah saya menggali ilmu tentang kepenulisan. Ketiga, terjadinya gejolak jiwa dan pikiran yang begitu kuat, masalah-masalah pun mulai berdatangan silih berganti. Mulai dari kuliah yang padat dengan tekanan-tekanan yang terjadi. Kemudian dari teman mahasiswa sendiri. Sampai-sampai dulu saya pernah dihina dan dilecehkan oleh teman satu kelas. “Ouwwalah, Sandi ta? Gak nyangka aku, kemaren memimpin organisasi gak berhasil ko malah mau masuk ke jajaran yang lebih tinggi?” kata teman saya dengan suara lantang menghina di depan umum. “Hemm… saat itu saya hanya bisa terdiam seperti biasa. Pada saat itu juga saya langsung menuliskan pada hati dan sebuah kertas, bahwa saya harus berubah menjadi lebih baik. Akan aku buktikan bahwa aku bisa dan nanti kamu akan menyesal, karena telah menghinaku di depan umum. Tanggal 12 Juli 2012, kutulis dan kuingat bahwa hari itu adalah hari yang membuat saya harus berubah. Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus berubah. FAM, dari saat itu ejekan, hinaan itu terus aku dapatkan, walau tidak dalam bentuk verbal. Tapi itu terus menggempur jantung pertahananku.

    FAM Indonesia, tahukah kau dengan kondisi yang seperti itu? Hemm… kondisi yang harus segera dicurahkan dan tidak boleh tidak dicurahkan, karena nanti berbahaya pastinya. Hehehe… Saat itu aku tidak melakukan curhat ke manusia, aku lebih nyaman mencurahkannya lewat tulisan. Aku menangis, merengek dan merintih pun tidak ada yang menghina. Semua bebas aku curahkan tanpa ada yang merasa terganggu. Di sini aku mulai berkenalan dengan pena dan kertas.

    FAM yang aku tak mengerti wujud dan suaramu. Tetapi, entah kenapa aku mencurahkan isi hati ini. FAM setelah aku mendapatkan berbagai tekanan dan masalah seperti itu, dengan mencurahkan lewat tulisan, aku mendapatkan kenikmatan tersendiri. Dulu hidupku terisi dengan hal-hal yang biasa-biasa saja, sekarang aku isi dengan menulis, menulis dan menulis. Kemudian aku menemukan semangat dan kenikmatan menulis ini terhitung tanggal 16 September 2012. Ketika dua karyaku lolos seleksi dan akan dibukukan. Alhamdulillah aku senang sekali dan pada saat itu aku bertekad untuk terus menulis, menulis dan menulis.

    FAM, sampai saat ini kalau untuk prestasi menulis, masih belum ada, karena memang aku baru semangat dan memiliki ghirah pada bulan September itu. Aku tahu bahwa sebenarnya aku kalah start dengan teman-teman penulis lain. Ada mereka yang dari SMP dan SMA sudah aktif, sedangkan saya. Tapi alhamdulillah tidak ada penyesalan dalam diri saya akan hal ini. Malah sebaliknya saya jadikan ini, menjadi pendorong untuk diriku lebih semangat dan produktif lagi.

    FAM sebagai bapak dan ibunya para penulis, saya merasa menulis itu memang menyenangkan ya? Asik, keren dan pokoknya asyik bangetlah. Profesi baruku sebagai penulis ini sangat aku nikmati dengan mottoku berbagi dan peduli. Dua kata sederhana dengan makna dan pengaplikasian yang besar. FAM, kemudian kau tahukah nama julukanku, aku kalau di UKM sama teman-teman dipanggil dengan sang Pujangga. Taukah kau kenapa aku dipanggil seperti itu? Aku dipanggil seperti itu karena saya suka dan cukup ahli membuat puisi. Selain itu aku juga dipanggil anak bumi, karena memang saya sendiri suka dengan alam dan berpetualang di dalamnya. Hehehe… Walau masih belum menemukan kehebatnya menulis, tapi sampai detik ini aku menemukan kenikmatan dari menulis.

    FAM mungkin itu dulu, surat dariku. Semoga lain waktu komunikasi ini bisa dilanjutkan. FAM yang baik hati, makasih karena telah membaca suratku yang sederhana, tidak beraturan dan masih banyak kesalahan di dalamnya ini. Makasih dan semoga FAM memahaminya. FAM maaf pula diriku sebenarnya juga bukan termasuk keluargamu. Tapi kulihat saudara dan keluargamu adalah para penulis semua. Jadi aku ingin bercengkrama bersama denganmu dan saudara-saudaramu lainya. Aku harap kamu mau menerima diriku yang pemula ini. Sekali lagi minta maaf dan terima kasih. Salam karya, untukmu FAM Indonesia. Berbagi dan Peduli untuk Bangsa.

    Penulis?
    Apa itu penulis? Apa arti kata dari penulis?
    Kenapa harus menjadi penulis?
    Apa untungnya sih penulis itu?

    Hahaha… Kau itu hanya sok gaya?
    Kau jadi penulis agar dikata dirimu kaum intelektual?
    Kau jadi penulis agar kau disapa dengan sang pujangga?
    Hahaha… Bulsyit kau itu?

    Menulis?
    Apa itu menulis? Apakah menulis itu penting?
    Kenapa kita harus menulis? Bagaimana cara menulis?
    Bagaimana menyalurkan tulisan untuk masuk ke sanubari dunia?
    Bagaimana, bagaimana dan bagaimana?
    Banyak kata dan sajak yang masih belum aku mengerti dan pahami
    Apa itu? Hakekat? Dan apa makna dari ini dan itu?

    Hahahaha... Sok low!
    Gaya low! Tulisan jelek aja di bangga-banggain
    Tulisan yang tidak bermutu itu tempatnya di sampah bukan di sini!
    Hahaha… Ngaca dulu dong, low itu!

    Woeeee… Diam low!
    Gue gak bakalan ngurus perkataan-perkataan bejat low!
    Diam low!

    Hahaha… Pergi aja low dari sini!
    Low itu gak pantes!
    Low itu amatiran!
    Low itu tempatnya di tempat yang paling bawah!
    Jadi orang ngaca dong? Hahaha…

    FAM ajari aku
    Pahamkan aku
    Akan makna dan hakekat penulis menulis

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Sandi Iswahyudi
    Malang-Kotak Mimpi dan Penulis Dunia
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Hinaan dan Ejekan Membuat Saya Semakin Mantap Berkarya Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top