Skip to main content

Inilah Pemenang Lomba Menulis Surat Bertema “Proses Kreatifku, Suka Duka Menjadi Penulis”

Selamat malam anggota FAM Indonesia dan warga grup ‘Forum Aishiteru Menulis’. Semoga setiap detik yang berlalu menambah semangat Anda untuk terus berkarya, sekecil apapun usaha yang dilakukan. Sebab, tidak ada yang sia-sia di dunia ini bila kita senantiasa mensyukuri apa yang terjadi.

Setelah mengumumkan 10 Nominator Penulis Surat Terbaik bertema “Proses Kreatifku, Suka Duka Menjadi Penulis”, sebagaimana yang dijanjikan FAM sebelumnya, bahwa malam ini diumumkan nama-nama penulis surat terbaik. Walau sesungguhnya seluruh surat yang sahabat-sahabat posting di dinding grup FAM menarik dari berbagai macam sisinya, tetapi penerima hadiah sebagai penulis surat terbaik hanya ditetapkan 3 orang. Inilah mereka:

1. Arinny Fharrahma (Lampung)
2. Mardhiyan Novita M.Z (Padang Pariaman)
3. Moch. Ghufron Cholid (Madura)


Kepada pemenang diucapkan selamat. FAM Indonesia akan mengirimkan hadiah berupa buku terbitan FAM Publishing dan piagam penghargaan. Dan, kepada sahabat penulis surat lainnya yang belum beruntung, jangan berkecil hati. Anggap ini sebagai latihan membiasakan menulis, terutama lewat media surat yang ditulis secara online. Atas kerja keras semua peserta, FAM juga akan mengirimkan e-piagam ke alamat email Anda masing-masing.

Untuk membantu tugas-tugas admin dan demi kelancaran penyelenggaraan kegiatan ini, kepada para pemenang dan seluruh peserta yang mengikuti lomba ini, diharapkan mengirim alamat domisili (khusus kepada 3 pemenang utama), dan alamat email untuk dikirim e_piagam. Silakan menghubungi FAM Indonesia di email: forumaktifmenulis@yahoo.com atau forumaishiterumenulis@yahoo.com.

FAM Indonesia menerima 70an surat dari sahabat FAM yang sangat antusias mengikuti kegiatan rutin bulanan di grup FAM ini. Tentu saja hal tersebut dengan sendirinya menghidupkan suasana di dalam grup sehingga surat yang diposting menjadi bacaan menyenangkan bagi sahabat-sahabat FAM lainnya yang ingin mengetahui bagaimana proses kreatif seorang penulis. Dan, semua pengalaman sahabat-sahabat itu, sangat bernilai terutama bagi penulis-penulis pemula.

Tunggu kabar kegiatan terbaru di grup FAM Indonesia. Dan, aktiflah Anda selalu. Sebab, dengan keaktifan itu ‘menandakan Anda ada’, dan siap menyongsong sukses yang akan mengubah hidup Anda sebagai penulis masa depan Indonesia. Amin tsumma amin.

Salam santun, salam karya.

FAM INDONESIA
www.famindonesia.com

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…