• Info Terkini

    Thursday, November 22, 2012

    “Aku Iri Melihat Teman-Teman Mahir Menulis Kata-Kata Indah”

    Bumi Allah, minggu ketiga bulan Dzulhijjah

    Yang terkasih

    FAM Indonesia
    di-
    Tabir dakwah bil qalam

    Dear, FAM.

    Di sela goresan tinta ini kuselip sepucuk rindu berpupuk doa, semoga kau tak pernah lelah menyemai benih-benih dakwah bil qalam pada penulis umumnya dan FAMers pada khususnya. Amin.

    Ribuan untaian kata seperti tersesat di ujung bibirku. Betapa tidak, awal perjumpaan kita pada 28 Agustus 2012 yang lalu menyimpan banyak kenangan berbuah rindu, namun rindu itu terpaksa kuredam sejenak demi mimpi di ujung titi semakin dekat. Kurajut langkah meski tertatih, bangkit kembali meski terjatuh, hingga pada akhirnya 22 Oktober 2012 lalu tonggak mimpi itu telah kuraih.

    Maafkan aku FAM, karena baru sekarang bisa mengirim surat untukmu. Bukan lupa ataupun sengaja lupa, rindu untukmu tak pernah kuhapus dari hatiku. Bulir-bulir rindu itu takkan berpaling dan masih kusimpan rapi dalam diary dan lewat surat kecil ini semoga kau merasakan benih-benih rindu berbulir cinta itu. Ini untukmu FAM, hanya untukmu.

    Aku harus berterima kasih pada Kakanda Denni Meilizon yang telah mempertemukan kita, meski tak bertatap muka. Di sela kesibukan rutinitas dan sejumlah tugas yang harus diselesaikan, beliau masih menyempatkan waktu untuk memperkenalkan indahnya goresan-goresan literasi yang kau persembahkan untukku, FAM, hingga kini aku pun telah punya pena sendiri dengan identitas IDFAM1017U, Padang.

    Kuakui, betapa sulitnya menciptakan sebuah kata “Indah” di awal perjumpaan kita. Aku hanya termangu melihat “Indah” bertebaran dari goresan-goresan tinta sahabat kita dari seluruh penjuru Nusantara yang mereka persembahkan untukmu. Aku iri FAM, iri melihat mereka bersiteru mesra denganmu, karena aku juga ingin merasakan kemesraan itu. Namun dari "Indah" yang mereka goreskan itu, aku belajar dan Alhamdulillah aku mendapat motivasi odari Dik Achie Prasasti Zhieem. Adik bercita tinggi dan berdomisili di Hongkong itu berpesan padaku "Mungkin hari ini abang tidak tau apa itu makna "indah", namun teruslah menggoreskan penamu hingga suatu hari abang bisa menulis kata lain yaitu "Indah". Cukup lama aku memaknai kata-kata itu, hingga akhirnya aku faham dan akan terus mengemban amanah yang tersirat dari pesan itu.

    Dear FAM.

    Beberapa waktu lalu, aku sempat menulis beberapa puisi. Bahkan, semalam bisa kucipta 4 puisi, namun aku harus jeda sejenak karena ingin menyelesaikan studiku. Aku benci, karena belum bisa menulis waktu itu, namun alhamdulillah semua telah terselesaikan dengan baik, tinggal menunggu masa yudisium. Kini aku akan mulai menulis lagi, bertemu sapa dan bersalam karya dengan sahabat kita meski terasa sedikit kaku karena cukup lama istirahat dari ruang literasi.

    Dear FAM.

    Meski kita belum pernah bertatap muka, namun seuntai rencana telah kupersiapkan untuk pertemuan kita kelak. Semoga saja Pelabuhan Merak masih setia menanti kehadiran kapalku dari Sumatera lewat Bakauheni.

    Kuharap, lewat goresan kecil ini bisa mengobati rindu hingga nanti kita bisa bertemu.

    Pesanku, tetaplah menyemai benih-benih literasi lewat dakwah bil qalam, agar rinduku untuk berdiri di puncak everest tak pernah pupus.

    Dari sahabatmu,

    Tertanda

    Zul Hasibuan
    IDFAM 1017U, Padang
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: “Aku Iri Melihat Teman-Teman Mahir Menulis Kata-Kata Indah” Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top