• Info Terkini

    Thursday, November 22, 2012

    Kesibukan PPL Membuat Aku Terpaksa Vakum Menulis

    Bangun Purba, 4 November 2012

    Teruntuk Sahabat Penaku, FAM Indonesia!

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Hari ini aku baru bisa menulis surat untukmu, FAM. Lama sudah aku tak memberikan kabar untukmu. Keaktifanku yang dulu kini mulai sirna. Aku sudah jarang berkomunikasi denganmu lagi, FAM. Hari-hari telah kusibukkan dengan kegiatan kuliahku. Ya, kini aku sedang PPLT di sebuah sekolah SMA di Bangun Purba, Deli Serdang, Sumatera Utara.

    Aku rindu denganmu lagi, FAM. Rindu dengan saran-saranmu yang kau tuliskan di kolom komentar dari setiap tulisanku yang muncul di grup ini. Aku rindu dengan semangatmu yang kau lontarkan dalam bait kata yang kau rangkai. Aku rindu saat aku tersenyum membaca puluhan karya yang kau tulis di grup ini. Aku rindu, rindu dan rindu!

    Ah, aku ingin seperti dulu saat aku pertama kali mengenalmu. Berbagai tulisan kukirim. Entahlah, apakah tulisanku menyemakkan pandanganmu atau tidak, aku tak tahu. Tapi kuharap aku tak melunturkan suasana hatimu, aku juga tak memburukkan perkembangan dunia sastra yang semakin berkembang sampai saat ini.

    Oh FAM Sahabat Penaku, bagaimana kabarmu saat ini? Aku harap kau benar-benar baik. Aku harap kau tak pudar mengembangkan semangat berkarya dalam menulis. Aku harap kau tak seperti aku yang sedang membutuhkan suntikan semangat lebih darimu. FAM, kau tahu, aku benar-benar dalam keadaan baik saat ini. Tapi tidak untuk tulisanku. Tulisanku semakin memburuk. Ya, aku jarang sekali menulis. Aku tak tahu manajemen waktu seperti apa yang kubuat sekarang. Tapi intinya aku semakin jarang menulis.

    Mungkin kau lihat di setiap berandaku selalu terlihat tulisanku yang menggunakan bahasa aneh. Bahasa yang awam didengar orang. Ya, bukan berarti aku tak cinta dengan bahasaku, bahasa Indonesia. Tapi sekadar kau tahu FAM, setiap tulisan yang kubuat hanya untuk melatih dan menghibur diriku. Tulisan itu kubuat agar aku tak lupa akan bahasa aneh itu, juga agar saat anak didikku melihat beranda facebookku, mereka tetap semangat dalam belajar bahasa itu. Bahasa itu yang terkadang jika aku ingat lebih jauh lagi, aku sebenarnya tak menyukainya. Ya, bahasa Jerman, itulah prodi yang kupilih 3 tahun lalu saat aku menyelesaikan bangku SMA. Dulu aku takut, masa depanku tak seindah yang aku harapkan. Kini aku yakin bahwa sesungguhnya apapun ilmu yang aku miliki selagi itu baik dan aku bersungguh-sungguh belajar, aku pasti mendapatkan apa yang aku inginkan. Bukankah begitu, FAM?

    Sahabat Penaku FAM, kulihat kau juga semakin baik dengan tulisan-tulisanmu yang melonglong masuk setiap harinya. Aku bisa tahu ketika sudah beberapa buku yang telah diterbitkan oleh FAM Publishing. Aku bisa tahu ketika kulihat namamu tertera sebagai pemenang diberbagai lomba cerpen, puisi maupun essay. Kau hebat, kau begitu semangat mengembangkan bakatmu yang semakin hari semakin baik. Sedang aku harus menunggu hingga waktu PPL ini berakhir. Tak apalah, sekalipun aku harus ketinggalan denganmu. Aku siap belajar dari dasar lagi. Cita-cita dan harapanku tak akan luput begitu saja.

    Sahabat Penaku FAM, sebenarnya tak ada kesan yang istimewa yang akan kuberikan padamu, karena aku benar-benar tak ada pengalaman dalam dunia tulis menulis. Kau tahu, lima bulan yang lalu aku baru berkenalan denganmu, tapi tak ada sepak terjang yang luar biasa kutorehkan. Suka dukaku menulis. Ah, aku malu menceritakannya. Tak ada yang berkesan sedikitpun yang aku rasakan. Ups, aku hampir lupa, kalau ternyata aku juga pernah menorehkan namaku sebagai pemenang kedua di Sayembara Surat Ide Kreatif untukmu. Aku juga menjadi kontributor 25 penulis Kumcer “Cinta Bernilai Dakwah” yang telah terbit kemarin. Aku juga menjadi salah satu kontributor penulis Kumcer “Salam Lebaran” dari salah satu penerbit. Hanya rasa itu yang aku rasakan. Dari situ aku mulai serius untuk mengasah bakatku menulis. Kubagikan karya-karya usangku untukmu. Kuikuti perlombaan menulis puisi, cerpen maupun essay di media lainnya. Hampa terasa jika aku tak menulis. Tapi entahlah, perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Tinta penaku telah membeku, tak lagi goresan pena pada lembaran kertas itu.

    Sahabat Penaku FAM, jika kuingat dulu dari SMA aku menyukai dunia tulis menulis. Bakatku di sana mulai diasah. Karena hampir setiap jam pelajaran Bahasa Indonesia kami ada tugas menulis, baik itu puisi, pidato, dan essay. Alhamdulillah nilaiku tak pernah buruk. Aku mulai semangat menulis ketika guru Bahasa Indonesiaku saat aku kelas 3 SMA menunjukkan tulisan-tulisannya dulu yang dimuat di koran. Mulai dari puisi, cerpen, hingga artikel dan tajuk rencana. Beliau yang memang dulu adalah alumni dari kampusku yang sekarang, begitu menarik tulisannya, mengalir seperti air, berwarna. Aku terkesan melihat tulisannya. Aku ingin seperti beliau. Setidaknya aku sangat salut kepada tulisan beliau. Kupikir hanya wanita saja yang bisa membuat puisi, cerpen dan lainnya, karena kaum hawa lebih sensitif merasakan detailnya hidup. Sedang kaum adam hanya bisa berpikir logika. Itu menurutku dulu. Tapi seketika adanya tulisan beliau, aku langsung merubah pola pandangku bahwa pria juga bisa menjadi pujangga kelas dunia.

    Tapi dibandingkan dengan tulisanku. Ah, sungguh miris. Bagai pinang dibelah dua. Aku dan tulisan guruku nyaris tak sama. Tulisanku terlalu monoton, gaya tulisanku tak hidup, dan tak bernuansa. Begitulah kata beliau seingatanku. Entahlah, tulisanku mengalir begitu saja. Maksudku mengalir hingga tumpah meluber tak tahu arah. Aku tak mahir membuat kelokan cerita yang menarik, menggunakan gaya yang indah untuk dibaca. Aku yang membacanya saja sudah garing. Ingin kubuang tulisanku seketika saat kulihat tulisan itu tak bergairah. Dari situlah aku ingin meneruskan perjuangan beliau. Aku ingin menjadi generasi beliau kedua.

    Ah, cukup kurasa surat yang aku tulis ini untukmu, FAM. Aku harap kita bisa bersama lagi dalam berkarya, canda gurau, saran dan motivasi sesama.

    Aku sangat merindukanmu, FAM!

    Salam Hangat,

    Arif Hifzul
    FAM 865M, Medan
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kesibukan PPL Membuat Aku Terpaksa Vakum Menulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top