• Info Terkini

    Tuesday, November 13, 2012

    Rindu Ranah Minang, Ingin Menulis Lagi Seperti Masih di Pesantren

    Salam kenal buat temanku di seluruh penjuru Indonesia…

    Kita berbeda namun satu tujuan
    Kita jauh tapi dekat lewat FAM
    Kita cuek namun peduli karena FAM
    FAM, FAM, FAM, kaulah yang kami cinta


    Hmm, malu rasanya aku menulis surat ini, surat yang teruntuk buat lingkungan yang telah lama tak meresap dalam napas kehidupan. Malu berlampiaskan keseganan yang luar biasa ketika aku diterima sebagai anggota resmi FAM Indonesia.

    Bernostalgia sedikit, agak sombong aku berucap, dulu aku kenal FAM jauh sebelum teman-teman yang lain bergabung di dalamnya. Ketika itu aku baru saja keluar dari rumah penampungan bagi orang sakit, sepuluh hari terasa berabad aku mendapat pelayanan di sana. Ketika terbaring tiada obat yang paling mujarab melainkan pesan-pesan singkat dari sang guru yang mengajarkan sastra dan dari teman yang satu tujuan, yaitu “angkat pena dan tulis unegmu!”. Lama terbaring tak membuatku terlalu resah, tapi sedetik tak menulis membuatku amat bodoh dan diperdaya dunia. Sungguh luar biasa antusiasku waktu itu.

    Dua hari aku menghirup udara bebas dari pantauan dokter. Akhirnya, sampai juga ucapan “Alhamdulillah, jaga kesehatannya dan tetap semangat”. Pesan pendek dari seorang proklamator FAM Indonesia yang sungguh luar biasa buat manusia biasa. Tidak hanya sampai di sana, saling bertukar pesan, akhirnya Uda Muhammad Subhan mengirimkan kontak atas nama Kak Aliya. Pendek cerita, akhirnya Kak Aliya meminta aku untuk bergabung dan membuka facebook melihat pertemanan kita, aku janjikan nanti siang dan pada akhirnya baru 4 hari setelah itu aku kerjakan. Benar-benar jam karet yang aku gunakan waktu itu. Berhari, berbulan, bahkan UAN pun telah selesai, namun aku masih belum terdaftar sebagai anggota. Hanya berjanji dan terus mengeluh kepada para admin. Hingga akhirnya aku resmi tercatat sebagai anggota sekitar seminggu yang lalu, malu menyandang gelar sebagai manusia yang bernapas dengan jam karetnya. Namun FAM tak pernah menolakku, bahkan selalu mendengarkan curhatku.

    Kali ini aku akan bercerita sedikit tentang kesepian yang membalut hati, jiwa dan semangatku. Tak terbayangkan sebelumnya jika kehidupan seperti ini termasuk jalan yang harus aku tapaki. Di sini aku tak punya teman, tak punya motivator, tak punya wadah, tak punya lingkungan dan tak punya semuanya. Aku orang miskin bahkan lebih miskin dari mereka yang jelata. Kuliah, bikin makalah, persentasi, ketemu dosen, bertanya, rapat, acara, pelatihan… ya hanya itu rutinitasku saat ini. Agenda yang membosankan. Kehidupan saat ini terasa begitu pahit dibandingkan aku harus menelan butiran pil dari rumah sakit. Area kampus, jadi mahasiswa itu ternyata tak seindah yang aku bayangkan, apalagi jadi mahasiswa di Ibukota Jakarta. Suara klakson kendaraan, demo polusi udara, hanya itu yang ada. Manusia di sini serba cuek, “siapa loe, siapa gue”. Prinsip itu yang telah mengalahkanku.

    Berjalan lima bulan aku tinggal di Ciputat. Awal di sini yang pertama aku cari adalah sanggar sastra, tapi aku tak dapat apa-apa. Akhirnya aku vakum dan melupakan dunia sastra. Kemudian lambat laun aku ketemu FLP Ciputat, akhirnya aku bergabung, namun masih belum menulis seperti air yang mengalir waktu di pesantren dulu. Karena apa? Waktu di FLP hanya sedikit sedangkan aku tak punya lingkungan dan teman yang akan saling mengingatkan.

    Kembali kemasa lalu, aku mencintai dunia tulis menulis sejak duduk di bangku Tsanawiyah. Ketika itu aku mencoba menulis sebuah puisi buat kakak kelas yang menginspirasiku, hanya untuk itu dan diam lagi. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 11 April 2011 salah seorang temanku mengajak aku dan beberapa orang lainnya untuk pergi ke Rumah Puisi, katanya ada pertemuan dengan guru sejarah yaitu Ustad Arby Syafri, sekaligus pembimbing kami di dunia tulis menulis. Sebenarnya kami mau ikut, cuma kesana butuh dana, sedangkan kami tak punya uang sepersen pun di kantong. Akhirnya kami menolak, tapi dia terus mengajak dengan rayuan akan membayarkan ongkos kami. Sebagai santri yang jauh dari orangtua, tentunya penawaran keluar asrama tanpa biaya adalah sesuatu yang “waw banget”.

    Pendek cerita, kami berjumpa di Rumah Puisi Pak Taufiq Ismail di daerah Padangpanjang. Kami disambut dengan sapaan yang hangat oleh Uda Muhammad Subhan, pengurus Rumah Puisi. Lama bercerita akhirnya menemukan nama buat komunitas kami “GUNA (Gerakan Ujung Pena) Aie Ketek”, itulah nama yang kami sepakati waktu itu. Dan sepulang dari sana kami langsung mendapatkan tugas dari sang pembimbing untuk menuliskan apa yang telah kami baca selama di Rumah Puisi serta pengalaman perjalanan ke sana. “Makan, muntah, makan, muntah!” Istilah yang pertama kali kami gunakan. Keesokan harinya dengan sangat semangat kita bercerita di sepucuk kertas.

    Lama berselang hingga tanggal 4 Juni sebuah puisi karya Revi Rahadian terpampang jelas di sebuah koran lokal. Hal ini membakar semangatku, kali pertama mengirim langsung diterima, dan tentu suatu kebanggaan juga bagi sekolah karena almamaternya tertulis jelas di sana.

    Sejak itu, aku yang hobinya ngomong setiap saat alias cerewet berubah drastis menjadi pendiam. Biasanya aku akan menceritakan segala sesuatu kepada orang lain, tapi saat itu berbeda, aku lebih suka menuliskan apa yang aku rasakan dalam sebuah cerpen hingga setiap orang yang membaca bisa mengetahui aku lagi galau atau tidaknya. Aku lagi punya masalah apa, mereka semua tahu. Begitulah hasil tulisanku dari dulu. Karya yang aku hasilkan itu lebih condong tentang kehidupan keseharianku yang aku rekayasa ulang. Terkadang 2 sampai 3 cerpen tuntas aku selesaikan dalam waktu sehari saja. Sejak itu aku tak pernah lagi galau atau sedih. Setiap aku merasa sedih aku akan mampir ke Rumah Puisi dan pulang dari sana akan enjoy lagi. Begitulah rutinitasku.

    Di pesantren aku pusing memikirkan kitab kuning, tugas, mengatur asrama dan hal lainnya. Di waktu bersamaan aku juga seorang presiden OSIS, hingga membuat aku benar-benar stress memikirkan permasalahan rakyatku. Tapi dengan menyempatkan diri ke Rumah Puisi yang hanya menghabiskan ongkos Rp4.000,- saja sembari membeli bika di Talago, aku kembali fresh dan bersemangat untuk hari esok. Apalagi, lingkunganku semuanya mendukung, memberi ide yang cemerlang dan obat galau yang ampuh. Di mana pun aku duduk, kemana pun aku pergi, apapun pemandangan yang aku lihat, seolah semuanya meniupkan ide yang cemerlang. Tapi sekarang apa? Tak satu pun yang bisa menggairahkan aku.

    Karena puisi pertama juga aku mendapatkan sebuah hadiah yang special dari orangtua, sebuah laptop yang waktu itu masih barang elite di lingkunganku. Sebelum ada laptop, aku menulis di tengah malam yang hening ketika teman tak lagi menggunakan laptopnya. Di balik senang tentu ada pahitnya, ada suatu masalah yang sangat pribadi tak bisa diungkapkan hingga membuat aku benci dunia tulisan. Perih jika mengingat masalah itu, sakit tapi apa boleh buat semuanya telah terjadi. Awal aku keluar pesantren, aku memutuskan untuk melupakan dunia sastra dan menghapus semua kenangan tentang itu, termasuk salah satunya aku menolak perintah orangtua untuk kuliah di Padang. Tanpa berpikir panjang dan menggunakan emosi yang tinggi, aku putuskan untuk kuliah di Ibukota. Tapi apa yang aku dapat, aku terasa tertekan dan ingin kembali ke lingkungan asal. Bukittinggi di bawah naungan Jam Gadang ditemani badut lucu, aku sering bertukar pikiran. Di Rumah Puisi berbalut kabut yang menggigilkan, aku menumpahkan kesedihan. Bika Talago yang masih hangat menjadi penangkal lapar, ayam bakar, dendeng, ikan bakar, semuanya kenangan di masa lalu. Tekadku udah bulat, “mambangkik batang tarandam.” Tapi wadah yang tepat belum ada… sepi, sungguh sepi aku seorang diri di negeri yang penuh dengan mahasiswi. Besar harapku, FAM dan teman-teman lainnya memberikan solusi dari semua yang aku hadapi ini. Saat ini aku merasa tak lagi hidup… terima kasih, semoga suratku mendapat respon yang aku inginkan.

    Ciputat, 30 Oktober 2012

    Ketika hati tak lagi mempunyai tempat bersandar.

    REVI RAHADIAN
    FAM Jakarta
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Rindu Ranah Minang, Ingin Menulis Lagi Seperti Masih di Pesantren Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top