• Info Terkini

    Thursday, November 1, 2012

    Menggapai Mimpi Menjadi Penulis

    Oleh Pritha Khalida*)

    Waktu kecil saya punya banyak sekali cita-cita. Biasanya cita-cita itu muncul tiba-tiba sesuai dengan apa yang saya lihat-dengar-rasakan. Misalnya saja saat saya menonton acara pemilihan Miss Universe di tivi, maka saya langsung bersemangat ingin menjadi Miss Universe. Karena menurut saya sosoknya cantik, pintar dan keren plus bisa jalan-jalan keliling dunia. Tapi cita-cita ini tidak bertahan lama, karena saat beberapa hari kemudian ibu saya mengajak jalan-jalan ke supermarket, saya terpukau dengan aksi sang kasir menekan-nekan tombol mesin kassa. Maka cita-cita saya pun langsung berubah menjadi kasir, hehe!

    Tak terhitung berapa kali saya berganti cita-cita. Selain kasir dan Miss Universe, saya juga sempat ingin menjadi teller bank, pramugari, pengusaha roti keju, psikolog dan penulis. Dua cita-cita yang terakhir saya sebutkan merupakan yang bertahan paling lama di antara lainnya. Apa pasal? Seiring bertambahnya usia, saya jadi lebih ‘tahu diri’. Badan saya yang pendek nggak mungkin mengantarkan saya jadi pramugari atau Miss Universe, sifat pelupa saya yang kronis juga akan sangat menyulitkan seandainya saya jadi teller bank atau kasir. Kalau pengusaha roti keju? Ah, terus terang saya lebih suka makan daripada masak. Jadi cita-cita saya penulis dan psikolog saja, deh!

    Impian untuk menjadi seorang penulis berawal dari hobi membaca saya yang ‘menggila’. Sejak bisa baca, saya selalu minta dibelikan buku atau majalah. Tapi karena saya bisa membaca dalam waktu relatif cepat, maka orangtua saya kewalahan dan membatasi anggaran saya untuk beli buku antara 2-3 buku perbulan dan 1 majalah saja perminggu. Bagi saya tentu saja itu kurang banyak. Satu buku dengan ketebalan standar bisa saya selesaikan dalam waktu sehari. Sementara majalah bisa lebih cepat, hanya 2 jam saja. Dari situlah saya pengin banget jadi penulis. Dalam benak saya saat itu jadi penulis itu asyik. Bisa menceritakan apa saja lalu diterbitkan dan mendapat uang. Lebih dari itu, nama dan wajahnya juga menjadi terkenal karena dicantumkan di cover buku. Wih, bayangkan… asyik bukan? Padahal kerjanya ‘CUMA’ menulis! Maka saya pun bertekad untuk menjadi penulis.

    Kata ibu saya, kalau mau jadi penulis itu harus sering latihan menulis jangan baca buku aja. Saya menuruti kata-kata beliau dengan bersemangat. Mulailah saya menulis cerita sehari-hari dalam buku harian yang bergembok. Saya juga suka menulis ulang artikel-artikel yang ada di koran/majalah. Kalau enggak ada topik yang menarik, saya juga suka menulis ulang catatan belanja ibu. Pokoknya apa saja, setiap hari hampir selalu ada tulisan saya yang baru—meski hanya beberapa kalimat.

    Memasuki SMP, saya mulai menulis cerpen. Banyak teman yang bilang kalau tulisan saya bagus, mirip dengan cerpen-cerpen yang ada di majalah. Beberapa dari teman saya bahkan ada yang minta dituliskan kisah pribadinya. Mendapat pujian seperti itu membuat saya termotivasi untuk mengirimkan cerpen ke majalah remaja. Saya menulis banyak cerpen dengan tema berbeda lalu diprint dan dikirim. Setiap minggu setidaknya ada dua cerpen yang saya hasilkan. Dua cerpen berarti dua kali ke kantor pos. Saya lakukan itu setiap pulang sekolah. Capek dan panas tidak saya pedulikan, demi tercapainya cita-cita menjadi penulis.

    Minggu berganti minggu, bulan pun berganti bulan. Cerpen-cerpen yang saya kirimkan mulai menuai hasil: Kembali ke alamat pengirim alias ditolak. Bukan satu atau dua, tapi semuanya—entah berapa jumlah pastinya, saya tidak ingat. Setiap minggu ada saja amplop cokelat diantar tukang pos ke rumah. Isinya kurang lebih sama: Maaf cerita Anda belum memenuhi syarat untuk diterbitkan karena blablabla.

    Sedih? Tentu saja. Rasanya pengorbanan saya untuk sering melek sampai tengah malam demi menulis cerpen serta berpanas-panasan setiap pulang sekolah untuk ke kantor pos, tidak ada harganya sama sekali. Saya mulai putus asa. Saya juga sempat berpikir jangan-jangan pujian teman-teman atas cerpen saya bohong belaka. Mungkin mereka memuji karena kasihan.

    Untungnya saya punya ibu yang sangat mendukung mimpi anaknya. Beliau selalu menyemangati saya dalam menulis. Mengenai amplop-amplop berisi penolakan cerpen, tak sekalipun beliau mengomentarinya negatif. Menurut beliau, jika saya punya mimpi atau cita-cita, maka harus diperjuangkan sekuat tenaga dan jangan lekas menyerah. Ibu saya bahkan mencontohkan dirinya sendiri yang menurutnya gagal meraih impian. Kata ibu, dulu beliau bercita-cita menjadi seorang ahli gizi. Namun karena tak ada biaya, maka selepas SMA beliau memutuskan untuk bekerja dan mencari penghasilan tambahan dengan menjahit pakaian. Satu pekerjaan yang sesuai dengan hobi dan bakatnya.

    “Gagal mencapai cita-cita itu enggak enak. Makanya kalau sekarang kamu punya cita-cita, jangan cepat menyerah dan terus berusaha. Apalagi kamu punya bakat, tuh tulisannya bagus-bagus.” Begitu kata ibu saya. Dan saya percaya kalau beliau yang bilang itu artinya sungguh-sungguh.

    Saat SMA di sekolah ada beberapa kali kesempatan untuk menuliskan opini atas suatu isyu. Opini terbaik akan dimuat di majalah dinding sekolah. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan. Saya pun mulai belajar menulis opini. Seiring dengan itu, saya juga mulai membiasakan diri membaca koran agar opini saya bernas dan tidak asal ngomong. Usaha saya tidak sia-sia. Beberapa kali tulisan saya dipajang di mading sekolah. Wuih, tak terkira senangnya saya melihat orang-orang membaca tulisan itu. Padahal cuma sebatas mading sekolah! Tapi buat saya saat itu, rasanya luar biasa.

    Selepas SMA saya melanjutkan studi ke jurusan Psikologi. Ini juga salah satu cita-cita besar saya: menjadi Psikolog. Dalam benak saya saat itu kelak saya akan menjadi psikolog yang juga menulis buku. Hebat kan? Saking cintanya sama menulis, saya bergabung menjadi anggota penulis Mading dan Buletin Psychology Post di fakultas. Saya bahkan sempat memegang jabatan sebagai koordinatornya.

    Tahun demi tahun berlalu. Semasa kuliah saya menulis banyak hal (di luar tugas kampus). Saya yang sempat mengikuti kursus broadcasting, mulai belajar menulis script untuk siaran radio dan artikel berita. Saya juga sesekali menulis cerpen dan artikel untuk dikirim ke majalah. Namun hasilnya belum berbeda dari waktu SMP, tulisan saya tetap ditolak. Tapi saya enggak peduli, sambil terus mengasah kemampuan dengan membaca, saya terus mengirimkan tulisan ke media. Einstein saja baru berhasil dalam percobaan ke-2000, masa iya saya menyerah pada cerpen kesekian puluh? Saya yakin suatu saat nanti para media akan bosan menolak tulisan saya dan akhirnya memberi saya kesempatan dengan menerbitkannya.

    Impian saya menjadi nyata pada tahun 2005. Satu cerpen saya diterbitkan di sebuah majalah nasional. Betapa girangnya saya. Semua orang saya beritahu mengenai hal ini, mulai dari teman-teman, saudara, bahkan teman-teman sesame blogger di dunia maya. Rata-rata mereka memberi selamat dan terus menyemangati saya dalam menulis. Maka saya pun memberanikan diri mulai menulis novel.

    Novel bergenre teenlit itu sukses ditolak oleh dua penerbit besar! Tapi kali ini saya tidak memberi kesempatan pada diri saya untuk kecewa, putus asa ataupun patah semangat. Saya terus mencari celah—sekecil apapun itu. Melalui teman-teman blog, saya banyak belajar dan berdiskusi mengenai kepenulisan.

    Hingga akhirnya kesempatan itu datang.

    Saat itu saya sedang cuti dari kuliah karena masalah finansial. Ada masalah dalam bisnis yang dijalankan ayah bersama rekan-rekannya. Padahal saat itu ayah saya baru saja pensiun dari pekerjaannya di sebuah kapal pesiar. Usaha kecil-kecilan yang sudah lama dijalani ayah pun bangkrut karena ditipu oleh karyawan kepercayaannya. Jika diibaratkan dengan naik rollercoaster, mungkin saat itu keluarga kami tengah menukik ke bawah. Dengan cepat. Tanpa tedeng aling-aling. Ayah saya bahkan sempat berencana mengajak kami pindah keluar pulau. Namun karena satu dan lain hal, rencana tersebut batal.

    Dan kesempatan itu datang benar-benar tepat pada waktunya.

    Seorang editor dari sebuah penerbit yang cukup terkenal meminta saya menulis sebuah buku psikologi populer untuk diterbitkan. Rasanya seperti mendapat air hujan setelah kemarau panjang: Menyejukkan! Saya segera saja mencari ide dan menuliskannya. Hanya memakan waktu sebentar sampai akhirnya buku perdana saya terbit! Ya, betul-betul terbit, dipajang di toko buku dengan nomor ISBN, seperti buku-buku lainnya. Nama saya tercetak di cover depan dan foto saya di cover belakang. Aduh, dada saya rasanya sesak oleh kebahagiaan yang meluap-luap pada saat itu!

    Saya rasa setiap orang yang berhasil menggapai impian—setelah berjuang sekian lama dan sering mendapat penolakan, juga akan sebahagia saya saat akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya. Apalagi ini, mimpi saya terwujud pada masa-masa sulit, di mana saya membutuhkannya selain untuk mendapatkan materi juga untuk menggenjot semangat dan kepercayaan diri yang sempat terpuruk.

    Buku perdana saya bisa dibilang menjadi titik balik bagi saya untuk kembali melanjutkan perjalanan hidup yang sempat stagnan selama beberapa saat. Saya kembali ke kampus setelah ‘kabur’ satu semester. Saya melanjutkan skripsi yang tertunda sambil terus menulis buku-buku selanjutnya. Bahkan untuk menambah penghasilan, saya juga menyambi pengerjaan skripsi dengan menulis naskah sebuah sitkom di stasiun televisi swasta. Pekerjaan ini saya dapatkan dari sebuah audisi yang digelar oleh sutradara sitkom tersebut.

    Hingga saat ini saya sudah menghasilkan 5 buku solo, 1 buku duet dan 10 tulisan yang diterbitkan dalam bentuk antologi. Saya masih terus berjuang untuk menghasilkan karya. Well, cita-cita saya untuk menjadi psikolog belum tercapai, tapi setidaknya setengah perjalanannya sudah saya tempuh dengan mengantongi gelar sarjana psikologi. Tapi cita-cita sebagai penulis, sebagaimana yang pernah saya retas lebih dari dua puluh tahun yang lalu, kini Alhamdulillah sudah tercapai. Saya HANYA tinggal meneruskannya dan tidak membiarkannya padam karena masalah-masalah sepele seperti bad mood misalnya.

    Dulu saya pernah bilang bahwa suatu saat nanti—entah kapan, media/penerbit pasti akan bosan menolak saya dan akhirnya menerbitkan karya saya. Sekarang saya yakin bahwa sebagian ucapan itu adalah doa. Allah mengabulkan doa hambaNya asalkan dia pantang menyerah. Persis seperti yang dinasehatkan ibu saya dulu.

    Jika ada di antara Anda yang membaca tulisan ini dan juga bercita-cita menjadi seorang penulis, maka jangan pernah patah semangat karena penolakan. Terus perjuangkan cita-cita itu. Jangan pernah kehilangan semangat dan antusiasme.

    Salam menulis.

    *) Pritha Khalida. Seorang sarjana psikologi yang memutuskan untuk tidak kerja kantoran demi menjadi seorang penulis hebat dan full time mom yang dicintai keluarga.

    Sumber:  http://prithakhalida.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Menggapai Mimpi Menjadi Penulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top