Skip to main content

Menulis Lagi Cerita yang Sempat Tertunda

Samarinda, 19 November 2012

Dear FAM, aku menemukanmu disaat kegundahan hatiku sedang melanda. Tahukah kau FAM, kau telah membangkitkan semangatku untuk menulis lagi setelah sekian lama aku tidak pernah menulis. Ini adalah pertama kalinya aku menulis surat dan kuharap kau mau membaca surat dari ku.

FAM, aku hanya seorang gadis kecil yang gemar menuangkan apa saja yang ada dalam pikiranku dalam bentuk tulisan. Menulis sudah menjadi bagian dalam hidupku, keinginanku untuk terus menulis tak bisa kubendung. Aku sangat bahagia saat cerpen pertamaku berhasil aku selesaikan saat itu. Kuputuskan untuk mengikutsertakan cerpen ku dalam lomba cerpen baik di dalam sekolah maupun di luar lingkup sekolah. Tapi aku selalu saja gagal, namun aku tidak berhenti sampai di situ, aku terus menulis membuat cerpen baru maupun merevisi cerpen yang telah aku buat sebelumnya dan mengikutkannya lagi dalam ajang perlombaan. Hasilnya pun sama, selalu mengecewakanku. Sampai pada akhirnya aku sadar tidaklah mudah menjadi seorang penulis. Sejak saat itu aku memutuskan untuk berhenti menulis. Aku tahu keputusanku salah saat itu FAM, namun rasa keputusasaanku lebih besar daripada semangat untuk ku bangkit saat itu.

Dua tahun berlalu, ada rasa kerinduan di lubuk hatiku untuk menulis lagi. Aku sadar kalau aku tidak boleh meninggalkan impianku begitu lama. FAM, kini aku mulai menulis lagi naskah cerita yang sempat tertunda. Saat ini aku mulai mengumpulkan ide dan kata-kata yang sempat hilang. Saat ini keputusanku benar kan FAM? Ehm, suatu hari nanti kalau naskah cerita ini selesai kaulah orang pertama yang aku beri kabar.

Ups, maaf FAM aku sudah terlalu banyak cerita padamu. Di lain kesempatan aku akan bertulis surat lagi padamu. Sampai jumpa FAM.

Sahabat Barumu
Koizora Hana
Banjarmasin

Share ke:

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…