Skip to main content

Profil Anggota FAM Indonesia: Ayu Puji Sri Lestari (Banten)

"Kenangan Berkesan Mendapat Hadiah Buku dari Gol A Gong”

Nama lengkapnya Ayu Puji Sri Lestari. Ia memakai nama pena, Puji Dandelion (disebut bunga Tanpopo). Alasan Ayu memakai nama pena tersebut karena ia sangat menyukai bunga Tanpopo yaitu semacam bunga liar yang mandiri, yang hidupnya tidak pernah dirawat maupun disentuh oleh orang lain. Sehingga selalu tumbuh dengan alami.

Nama panggilannya, ‘Nyu’ atau ‘Popo’. Nyu untuk singkatan panggilan Ayu dari teman-teman sekolahnya dan Popo dari kata Tanpopo, ketika ia masuk dalam grup Nishikai (Nippon Shiawase Kyoukai), yaitu grup perkumpulan orang-orang yang menyukai Jepang. Ayu memilih karakter anime yang ia suka. Untuk nama Jepangnya yaitu Yamazaki Tanpopo dari komik Imadoki, maka jadilah panggilan kesehariannya menjadi Popo.

Ayu lahir dari pasangan Yuyum Yuhana dan Wati. Ayahnya asli dari Banten dan ibunya berasal dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Ayu lahir di Serang pada tanggal 8 Januari 1989. Saat ini ia berdomisili di daerah Merak. Ia aktif kuliah di UNTIRTA (Universitas Sultan Ageng Tirtayasa) di Serang, Banten dan saat ini sedang menyelesaikan skripsi.

Sejak lahir sampai besar Ayu tumbuh di Kota Merak, namun waktu kecil ia pernah tinggal di Kalimantan sampai umur 4 tahun. Setelah itu kembali ke Kota Merak dan semua jenjang pendidikan ditempuhnya di Kota Merak, Cilegon dan Serang. Ayu memiliki keinginan selalu berpetualangan, selain bersepeda, menulis dan membaca.

Ketika SMA ia sempat mengikuti organisasi Saka Bahari Banten. Pada waktu di perkuliahan ia mengikuti organisasi MAPALAUT yaitu organisasi Mahasiswa Pecinta Alam UNTIRTA. Di sinilah hobinya berpetualang pun menjadi tersalurkan. Di Mapala Ayu pernah menduduki jabatan sebagai Ketua Divisi Rock Climbing dan Ketua LitBangDik. Masih banyak lagi organisasi-organisasi yang ia ikuti. Termasuk Nishikai yang sampai saat ini masih ia ikuti. Namun karena kesibukan berorganisasi itu, ia merasa vakum menulis.

Padahal ia tahu di Serang ada Rumah Dunia, Gol A Gong yang jaraknya lumayan dekat dengan kampusnya. Lagi-lagi karena alasan kesibukan yang padat, ia tidak bisa bergabung dalam dunia kepenulisan di Rumah Dunia. Waktu Gol A Gong meluncurkan buku ‘Balada Si Roy’ ia sempatkan hadir untuk mengikutinya. Kedatangannya ternyata tidak sia-sia, Ayu berhasil mendapatkan buku gratis dari Gol A Gong, lengkap dengan tanda tangan dan tanda tangan sahabat karibnya, Toto ST. Radik.

Sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Ketika sudah mempunyai notebook sendiri, ia langsung mencari-cari lomba di internet. Ia ingin sekali memiliki buku hasil karya sendiri. Kesempatan itu tidak akan disia-siakan lagi. Beberapa lomba pun mulai ia ikuti, dari perlombaan cerpen, puisi maupun artikel. Walaupun hasilnya masih belum memuaskan. Namun tidak membuatnya menjadi patah semangat. Berkali-kali ia jatuh dan berkali-kali itu pula ia akan bangkit. Itu tekadnya.

Kabar baik pun hadir ketika Ayu mengikuti lomba ‘LMCR’ yang diadakan oleh Rohto-Mentholatum. Pada tahun pertama karya Ayu masih belum berhasil masuk sebagai pemenang. Namun di tahun kedua, cerpennya berhasil menang menjadi Karya Favorit pada tahun 2011. Ia menjadi terharu saat itu. Usahanya tidak sia-sia. Ia semakin semangat mencari info-info lomba. Hingga akhirnya ia menemukan perlombaan yang diadakan oleh FAM Indonesia. Ia sangat ingin sekali mengikutinya, sayang waktu itu masih ada kendala untuk bergabung menjadi anggota FAM.

Ayu juga merasa penasaran dengan grup “Forum Aishiteru Menulis” milik FAM Indonesia. Ia melihat banyak penulis-penulis hebat yang aktif menuangkan tulisannya di grup tersebut. Hal itu mendorong tekadnya untuk segera menjadi bagian dalam grup dan wadah kepenulisan FAM Indonesia. Karena melalui grup FAM selalu ada semangat untuk terus dan tetap menulis. Akhirnya, ia pun resmi menjadi anggota FAM Indonesia dengan nomor id, IDFAM1055M.

Ayu memiliki motto hidup, “Kita adalah apa yang kita pikirkan.” Menurutnya, kalau kita berpikir berhasil maka kita pun akan berhasil. Sebaliknya kalau kita berpikir gagal maka kita pun akan gagal. Maka yakinlah dan kita pun akan berhasil. Tak lupa terus berdoa dan selalu berusaha. Insya Allah, Allah akan menjawabnya, menjawab semua impian kita.

Comments

Popular posts from this blog

"di antara" atau "diantara"? "di antaranya" atau "diantaranya"?

Yang lazim adalah “di antara” dan “di antaranya” (kata “di” dan “antara” diberi spasi). Fungsi “di” pada frasa ini adalah sebagai kata depan yang menunjukkan tempat dan bukan sebagai awalan pembentuk kata kerja pasif. Kata “di” selalu ditulis terpisah saat berfungsi sebagai kata depan dan baru ditulis serangkai kala berfungsi sebagai awalan.

Memang betul ada kata kerja “mengantara” yang merupakan bentuk aktif dari “diantara”, tetapi bentuk ini jarang sekali dipakai. Bentuk kata kerja yang sering dipakai adalah “mengantarai”, yang bila dipasifkan akan melahirkan bentuk “diantarai”, misalnya pada kalimat: “Konflik kedua negara itu diantarai oleh Indonesia.” (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

“kedua” atau “ke dua”?

Kata yang benar adalah “kedua”. Awalan ke- yang diikuti oleh bilangan (satu, dua, dst.) berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat (misal: pihak ketiga) atau kumpulan (misal: kesebelas pemain).

Sebagai awalan, ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Kata bilangan semacam ini juga dapat ditulis dengan (1) angka Arab dengan memberi tanda hubung antara awalan ke- dan angka, misalnya ke-38 peserta, atau (2) angka Romawi tanpa awalan ke- dan tanpa tanda hubung, misalnya: abad XXI.

Kata “ke” memang ditulis terpisah bila berfungsi sebagai kata depan yang menandai arah atau tujuan. Pada kasus ini, “ke” biasanya diikuti oleh kata benda yang menyatakan tempat. Jadi, bila “Dua” adalah nama tempat (yang ditulis dengan diawali huruf kapital), kita memang menulisnya secara terpisah, “ke Dua”. (*)

Sumber: Tanja Bahasa

Ingin menerbitkan buku di FAM Publishing? Klik caranya DI SINI.

Didukung FAM Indonesia, Pilar Ekonomi Unila Bantu Penderita Thalesemia

Bandarlampung (FAMNews) – Donasi sosial yang digelar Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi Universitas Lampung (Unila) untuk para penderita penyakit thalesemia diserahkan kepada pendiri Darah Untuk Lampung, Yopie Pangkie, kemarin.

Donasi tersebut diserahkan langsung Pemimpin Umum Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi, Gita Leviana Putri. Penyerahan donasi dilaksanakan di sebuah rumah makan di Bandarlampung.

“Alhamdullilah, donasi dari kawan-kawan sudah kami serahkan. Semoga bisa bermanfaat,” ujar Gita Leviana Putri lewat siaran pers, Jumat (26/9).

Gita menjelaskan, tujuan kegiatan Pilar Peduli itu merupakan salah satu cara Pilar Ekonomi sebagai lembaga kemahasiswaan untuk menumbuhkan jiwa sosial di kalangan mahasiswa, khususnya di Kampus Unila.

Penyerahan Donasi Pilar Peduli tersebut juga masih dalam rangkaian kegiatan Creology Week 2014 Unila yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. Sebelumnya Pilar Peduli telah menggelar acara donor darah pada acara bazzar bekerjasama dengan KSR Unila dan PMI B…