• Info Terkini

    Thursday, November 15, 2012

    Profil Anggota FAM Indonesia: Rahimah Ib (Medan)

    Bersama FAM Saya Merasa Memiliki Saudara yang Suka Berbagi Semangat
    Rahimah Ib lahir di Bireun, pada tanggal 1 Januari 1971, tepat pada malam pergantian tahun. Sulung dari lima bersaudara ini hobi menulis sejak SD—ketika awalnya mengikuti lomba baca puisi—di pengajian kampungnya. Pada waktu itu panitia memberikan beberapa puisi yang wajib dihapal. Gadis kecil yang masih duduk di kelas tiga SD ketika itu kebingungan karena tak mampu menghafal dalam waktu terbatas. Maka ia memberanikan membuat puisi sendiri yang sangat singkat. Puisi tentang ajakan melaksanakan salat. Puisi yang natural dan “anak-anak” sekali. Tanpa disangka, puisinya lolos menjadi pemenang di urutan ketiga.

    Sejak itu, Rahimah kecil merasa sudah menjadi penyair dan mulai ‘tergila-gila’ pada puisi. Ibunya membelikan sebuah buku agenda. Jadilah buku agenda itu berisi puisi-puisi dengan tulisan tangannya. Prestasi membaca dan mencipta puisi ini terus mengiringi langkahnya hingga duduk di bangku perguruan tinggi. Ia suka belajar dari alam, maka ia memilih aktif di Pramuka mulai dari SMP hingga perguruan tinggi (IAIN) Medan. Wadah ini pula yang mampu membawanya mengelilingi kota-kota besar Pulau Jawa hingga ke Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tentu saja, dia dianggap mampu mewakili semua dengan puisi dan tulisan-tulisannya.

    Perempuan yang besar dalam keprihatinan ini –ayahnya adalah seorang penjual bandrek keliling—semakin gila menulis ketika memasuki masa SMA dan tulisannya mulai dipublikasikan di beberapa media lokal. Menulis untuk mendapatkan honor, memenuhi hasrat membeli buku atau keperluan pribadi yang tidak mampu dibeli dari uang saku yang diberi orangtuanya. Akhirnya, ia merasakan bahwa sudah kecanduan menulis. Hampir setiap minggu tulisannya muncul di media lokal. Tulisan yang telah terbit itu dikliping. “Sayang kliping tersebut hilang karena sering berpindah-pindah rumah kontrakan,” ujarnya sedih.

    Membaca juga adalah hobi yang tidak pernah lepas darinya karena dengan membaca inspirasi itu muncul. Ia pernah bercita-cita ingin menjadi wartawan yang mampu menuliskan semua kejadian dalam sebuah tulisan. Pertentangan dengan orangtua terjadi. Ibunya tidak mengizinkan dia menjadi wartawan dan menuntutnya menjadi seorang guru. Alasannya, seorang perempuan lebih baik menjadi guru karena merekalah yang akan melahirkan generasi bangsa dan mendidiknya dalam keluarga. Kata ibunya pula, seorang guru lebih banyak libur hingga punya banyak waktu di rumah. Akhirnya ia mengalah, memilih kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN-SU.

    Di kampus inilah ia bertemu jodoh yaitu dengan sahabatnya sendiri, Ibrahim Nst. Mereka menikah pada saat masih kuliah di semester akhir. Rahimah berprinsip “No relationship without married”. Dia bisa merasakan, bahagianya pacaran setelah menikah. Hingga kini mereka telah dikarunia empat orang putri, yaitu: Liza, Syifa, Bila dan Wafi. Liza (Chaliza Nazra Nst) si sulung, mengikuti jejak ibunya hobi menulis dan sudah bergabung menjadi anggota FAM Indonesia dengan mengantongi nomor ID 140S.

    Ketika memasuki kehidupan berumah tangga, Rahimah mengaku memiliki keasyikan sendiri sehingga “lupa” menulis. Membesarkan anak-anak yang lucu, mengajar hingga ia kehilangan “candunya.” Namun, pada akhirnya ia tersentak. Kemana ia selama ini? Mengapa pula ia harus menggantungkan penanya? Membiarkan pena itu tumpul? Ia merasa harus kembali bangkit dan kembali menulis dengan mengirimkan tulisan ke beberapa media lokal. Tentu saja tidak mudah untuk bangkit kembali. Beberapa kali tulisan itu ditolak. Rahimah tak pernah menyerah, akhirnya tulisan-tulisannya kembali terbit di media. Diantaranya cerpen “Langitku” (Waspada, 2011), “Emak” (Waspada 2011), “Perempuan Kedua” (Waspada 2011), “Bocah Jalanan” (Waspada 2012), dll.

    Sambil menulis, perempuan ini terus menjelajah dunia maya mencari sahabat sejiwa. Namun banyak hal positif maupun negatif yang dijumpainya. Menurutnya, ada penulis yang “cuek” dan tak ingin berbagi. Ada forum “abal-abal.” Ada juga penulis yang menjaga jarak.

    Pada bulan Maret 2012, Muhammad Subhan (Ketum FAM Indonesia) di akun facebooknya memposting cover buku berjudul “100 % Insya Allah Sembuh” karya Aliya Nurlela (Sekjen FAM Indonesia). Rahimah segera meng-add akun facebook Aliya Nurlela. Lalu setelah saling menyapa lewat dunia maya, Aliya mengajaknya bergabung dalam wadah kepenulisan nasional, tanpa ragu sedikitpun ia langsung memutuskan bergabung. Padahal saat itu FAM Indonesia baru berdiri seminggu. Ia yakin dengan pilihannya setelah membaca profil kedua pendiri, kiprah mereka dalam dunia menulis dan visi misi FAM Indonesia yang menitikberatkan pada dakwah bil qalam.

    “Saya merasa memiliki sahabat dan saudara yang luar biasa. Tak pernah berjumpa namun merasa sudah sejiwa. FAM adalah keluarga baru yang hangat, membuat hidup semakin bersemangat, bangun pagi dengan penuh gairah dan cita-cita,” ucapnya dengan penuh semangat.

    Setelah bergabung dengan FAM Indonesia, ia semakin aktif dan produktif menulis. Setiap event yang digelar FAM Indonesia, ia tak pernah ketinggalan mengikutinya. Bersama FAM, ia ingin  terus melesat maju. Beberapa prestasi telah diraihnya, di antaranya: Pemenang surat terbuka terbaik pertama pada Lomba Milad Sekjen FAM Indonesia (Juni 2012). Penghargaan sebagai pemilik ide kreatif yang membuat T-shirt berlogo FAM Indonesia (Mei 2012). Salah satu pemenang surat terbuka pilihan pada Lomba Menulis Surat kepada FAM Indonesia (Juli 2012). Salah satu cerpennya lolos dalam Proyek Buku Antologi Cerpen FAM Indonesia yang bertema “Cinta Bernilai Dakwah” (Agustus 2012). Ia akan terus mengukir prestasi di FAM Indonesia.

    Sejak enam bulan lalu Rahimah mendapat kepercayaan dari FAM Indonesia menjadi calon ketua cabang FAM Medan. Kini ia mulai aktif mengadakan kopdar dan presentasi di wilayah Medan demi berkembangnya kegiatan tulis menulis di sana. Rahimah juga bisa belajar bersama FAM Indonesia dengan cara mengulas cerpen karya anggota.

    Rahimah kini sedang mempersiapkan sebuah naskah kumcer dan novel yang akan segera ditawarkan kepada penerbit. Kegiatan lain Rahimah adalah sebagai wakil kepala sekolah di SMP Darussalam Medan. Untuk menghubungi Rahimah, dapat  dikunjungi di rumahnya, Jl. Banten No. 5 Diski, Deli Serdang Sumut atau lihat tulisannya di http://blogsbunda.blogspot.com atau HP 085372067534 dan email rahimah.ib@gmail.com.

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Profil Anggota FAM Indonesia: Rahimah Ib (Medan) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top