• Info Terkini

    Tuesday, November 27, 2012

    Profil Sekjen FAM Indonesia Diterbitkan Portal NetSains yang Berpusat di Jerman

    Wawancara Eksklusif bersama Aliya Nurlela, Sekjen FAM Indonesia (bagian I)

    Siapakah Aliya Nurlela itu?

    Saya termasuk tipe yang suka memperjuangkan impian dengan mengerahkan potensi yang dimiliki. Bahkan selalu belajar untuk bisa, meskipun pada awalnya kelihatan mustahil. Masa kecil saya bukanlah orang yang cukup berani memperjuangkan sesuatu, justru cenderung cengeng dan manja. Namun ujian bertubi-tubi yang hadir dalam kehidupan saya seolah mendewasakan dan menguatkan. Saya merasa tampil menjadi orang baru yang lebih tegar dan berani. Memang terkadang saya juga rapuh dan mengalami masa-masa sedih jika berhadapan dengan musibah atau kejadian yang diluar dugaan. Namun kondisi itu tak berlangsung lama. Saya memiliki konsep yang selalu saya terapkan dalam hidup, agar tak terlalu bahagia saat mendapat kenikmatan dan tak terlalu bersedih saat mendapat musibah. Kebahagiaan dan kesedihan harus disikapi sama. Itu pertanda sebagai hamba yang ridha dengan takdir Allah.

    Saya juga pernah menjadi orang yang menjengkelkan bagi orang lain dan merepotkan saudara. Namun, saya tidak suka berkubang dalam kelemahan. Harus belajar menjadi lebih baik. Setiap hari harus ada langkah maju perbaikan agar benar-benar terbebas dari kekurangan yang dimiliki diri sendiri. Kekurangan bukan untuk ditonjolkan, tetapi untuk diminimalisir. Hidup adalah belajar dan saya akan terus belajar menuju yang lebih baik.

    Impian atau obsesi yang saya miliki tidak muluk-muluk. Saya ingin menjadi muslimah yang memberi manfaat/kepedulian kepada sesama. Sebelum mencapai umur 40 tahun, saya harus sudah bisa memberi arti dalam hidup. Bukan melulu mengurusi diri sendiri dan keluarga, tetapi harus mulai berbuat banyak hal yang berguna bagi banyak orang. Salah satunya melalui mengelola wadah kepenulisan FAM Indonesia. Melalui wadah ini, bisa membuka pintu silaturahim dan pekerjaan untuk banyak orang. Termasuk saling memberi manfaat dengan berbagi ilmu. Bukan hanya ilmu menulis, tetapi bisa mencakup semua ilmu termasuk ilmu agama.

    Saya memiliki hobi membaca sejak kecil. Kebiasaan membaca itu tidak terbatas pada buku tertentu saja. Jika ada bacaan baru, selalu tergerak untuk membacanya. Terkadang sobekan koran bekas bungkus makanan pun saya baca dengan serius. Saya punya kebiasaan membaca sebelum tidur sambil berbaring di tempat tidur. Jadi saya tertidur dalam kondisi masih memegang buku. Buku berserakan di tempat tidur itu sudah menjadi cirri khas saya.

    Saya suka orang-orang yang semangat, optimis, punya obsesi dan berusaha mewujudkan obsesinya. Punya tekad yang kuat untuk belajar, tidak gengsi. Saya kurang suka melihat orang nganggur, tak memiliki aktivitas yang ditekuni, banyak menggantungkan pada orang lain dan ogah-ogahan dalam berusaha.

    Kegiatan di waktu luang, berkumpul bersama anak-anak dan bercengkrama dengan mereka. Sekaligus untuk mengetahui perkembangan mereka dan mendekatkan hubungan antar anak dan orangtua. Sebab, meskipun bertemu setiap hari, jaman sekarang ini kalau tidak dikhususkan agak sulit. Orang tua dan anak sama-sama memiliki kesukaan sendiri, apalagi didukung fasilitas handphone dan komputer. Bisa saja berada pada satu tempat (berkumpul) tapi asyik dengan dunianya sendiri-sendiri.

    Saya juga suka bermain dengan kucing-kucing peliharaan. Sudah tiga tahun ini, saya menyukai dan memelihara kucing. Ada delapan kucing di rumah yang dipelihara. Namun, satu persatu harus direlakan keluar dari rumah karena banyak pertimbangan dari pihak keluarga. Saya merasa kucing itu binatang yang mengerti, bisa merespon yang dilakukan tuannya.

    Berbagai ujian sakit diberikan Allah setelah saya menikah, hingga beberapa kali mencapai titik kritis. Ternyata, Allah masih memberikan kesempatan sembuh dan memperbaiki diri. Akhirnya, saya merasa waktu itu sangat berharga sekali. Sebab dalam kondisi sakit, tak banyak yang bisa dilakukan. Sekarang pun saya sedang sakit bellspalsy (sakit bagian syaraf wajah) dan sudah beberapa tahun belum mendapat kesembuhan. Dalam kondisi sakit, saya tidak mau hanya diam, murung dan tak melakukan apapun yang berarti. Saya tetap ingin berguna. Dengan melakukan kegiatan yang disukai, justru saya merasa sehat dan lupa dengan sakit yang saya derita. Pada awalnya, sakit ini membuat saya kehilangan rasa percaya diri. Saya yang sebelumnya senang difoto dan bercermin, justru pernah menjauhi. Tapi perlahan kepercayaan diri itu kembali. Saya ikhlas dengan takdir yang Allah tetapkan pada saya dan belajar mencintai wajah baru saya.

    Motto hidup saya, “Harus berkarya sebelum kehilangan semua. Kehilangan kesempatan, waktu dan umur.”

    Mewujudkan Mimpi

    DITO: Apakah menjadi penulis memang merupakan cita-cita sejak kecil? Bila tidak, apa cita-cita Anda sebenarnya? Mohon diceritakan…

    Cita-cita sejak kecil bukan ingin menjadi penulis. Cita-cita saya waktu kecil sedikit menggelikan. Seperti anak kecil lainnya, belum fokus dan suka berubah-ubah. Saya pernah bercita-cita jadi penjual pisang goreng. Lalu berganti lagi ingin menjadi Polisi wanita, ahli arkeolog dan terakhir ingin menjadi guru. Tak ada cita-cita untuk menjadi penulis. Aneh memang, padahal saya sudah menekuni menulis sejak kecil. Tetapi tidak pernah terpikir menjadi penulis.

    DITO: Bagaimana reaksi keluarga dan para sahabat, saat Anda memutuskan memilih bidang kepenulisan sebagai pilihan hidup?

    Jawab:  Alhamdulilah, reaksi orang-orang terdekat cukup baik. Sebagian besar mendukung secara terang-terangan. Sebagian lagi dukungan berupa sikap. Tak ada sikap demotivasi.

    Memang terkadang ada komentar-komentar kurang mendukung dari pihak luar soal keaktifan dalam menulis. Tetapi bagi saya, saya selalu bertanggung jawab dengan apa yang saya tekuni. Sebelum berkecimpung di dalamnya, sudah melalui pertimbangan yang matang dan tekad yang kuat. Intinya, reaksi apapun yang datang jika kita sendiri kuat memegang sebuah pilihan, kita akan bisa menjelaskan dan meyakinkan dengan terus berkarya.

    DITO: Mengapa lebih tertarik memilih menulis non fiksi?

    Jawab: Sebenarnya saya lebih suka menulis non fiksi, karena apa yang saya tulis selalu pengalaman hidup sendiri (kisah nyata). Saya merasa dalam setiap perjalanan hidup, banyak hal yang bisa dipetik. Baik buruk kejadian yang menimpa, selalu saya anggap takdir yang baik. Sebab, seberat apapun ujian selalu terselip hikmah yang indah. Pengalaman pribadi menyikapi ujian itulah yang saya tulis dengan berpatokan pada keyakinan yang saya pegang. Harapannya dapat bermanfaat bagi yang membaca.

    Namun demikian, saya tetap menulis fiksi bukan berarti total meninggalkan. Bagaimanapun antara tulisan non fiksi dan fiksi memiliki keunikan tersendiri yang membuat saya penasaran untuk belajar mendalami keduanya.

    Pengalaman Hidup

    DITO: Bagaimana Anda menjalani kehidupan masa anak-anak, remaja, dan dewasa?

    Jawab: Masa anak-anak, bagi saya sangat menyenangkan. Orangtua memiliki koleksi buku yang lengkap di rumah. Semua anggota keluarga suka membaca. Saya senang membawa teman-teman ke rumah, lalu membaca bersama di halaman rumah yang luas. Saya juga suka menulis dimana saja. Termasuk di atas batu sungai. Masa anak-anak rasanya bisa menyatu dengan alam.

    Masa remaja, saya banyak disibukkan dengan kegiatan organisasi dan ekstra kurikuler. Terutama ekstra kesenian. Berbagai bidang seni saya geluti. Dari kesenian tradisional, hingga modern. Bergabung dengan tiga kelompok teater sekaligus dan menjadi vokalis sebuah grup musik. Masa remaja saya tak lepas dari kegiatan seni. Meskipun ditentang keras oleh orangtua yang religius. Saya menolak tawaran main sinetron karena ancaman dari ayah, “Kalau jadi artis, pulang ke rumah akan digantung.” Karena ‘ancaman’ itulah, saya berada dalam kebimbangan. Seolah tarik-menarik antara kebaikan dan keburukan.

    Akhirnya, mantap memilih membenahi jalan hidup. Untuk mengikuti nasehat orangtua. Yaitu berbusana muslimah, mempelajari agama dan mengamalkannya. Alhamdulilah, ketika masuk kuliah saya bertemu dengan teman-teman kampus yang mengajak aktif dalam kegiatan keislaman dan rutin mengikuti kajian keislaman. Kegiatan saya berubah total, yang awalnya aktif dalam kegiatan seni menjadi aktif dalam kegiatan keislaman di kampus.

    DITO: Dapatkah Anda berbagi cerita tentang kehidupan “masa lalu” yang begitu menempa dan mendewasakan diri, sekaligus mengandung hikmah?

    Jawab: Bagi saya, perjalanan hidup itu adalah pembelajaran. Baik ataupun buruk yang terjadi dalam hidup, sesungguhnya kita sedang ditempa agar lebih kuat. Setiap kejadian tak ada yang sia-sia. Semua adalah pembelajaran untuk menjadi lebih kuat dan matang. Saya katakan, tidak ada takdir yang buruk. Sebab, pada setiap kejadian selalu mengandung hikmah. Dulu saya bergelut di dunia seni dan tidak menutup aurat. Lalu berubah berbusana muslimah dan mendalami agama. Nah, sekarang saya merasa bahwa kejadian dulu tidak semata-mata dihadirkan pada kehidupan saya, kalau tidak ada maksud tertentu di belakang hari.

    Andai dulu saya tidak menjadi seorang pelaku seni, mungkin saya tidak bisa bercerita dan ‘membuka mata’ seperti sekarang ini. Dulu saya cengeng, manja dan penakut. Alhamdulilah, berbagai ujian berat menghampiri dan sikap yang dulu itu seolah berubah total. Semua ada hikmahnya.

    DITO: Apa sajakah pengalaman Anda yang paling unik, lucu, dan/atau berkesan, serta suka-duka selama menjadi murid (TK, SD, SMP, SMA), mahasiswa, aktivis, pendiri dan sekjen FAM (Forum Aktif Menulis)?

    Jawab: Masa SD hal yang berkesan saat aktif mengikuti kegiatan pramuka. Saya selalu terpilih sebagai ketua regu. Hingga beberapa kali mewakili sekolah untuk lomba tingkat kecamatan. Pada saat SD saya benar-benar dilatih kegiatan pramuka yang sangat menantang. Misalnya, panjat tebing tanpa tali pengaman sama sekali, jurit malam di tempat angker dan melakukan latihan-latihan yang menguras tenaga serta cukup berbahaya. Anehnya, pada saat usia tersebut sangat menyukai tantangan seperti itu.

    Satu hal yang paling saya takuti adalah jurit malam. Semua ketua regu harus menahan takut berhadapan dengan setan jadi-jadian, yang sengaja disiapkan pembina pramuka. Jika lari atau berbuat kesalahan, maka akan dihukum. Saya lebih memilih membuat kesalahan, karena paling takut dengan kegelapan dan hal-hal yang berbau hantu. Meskipun itu hanya setan jadi-jadian. Saya lebih tergiur dengan hukumannya. Sebab, hukumannya adalah menyanyi di depan semua peserta pramuka depan api unggun. Bagi saya itu bukan hukuman tapi konser. Justru itu hukuman yang menyenangkan. (bersambung)

    Wawancara Eksklusif bersama Aliya Nurlela (Bagian II)

    Hidayah Jilbab


    DITO: Apa kejadian yang mendorong Anda memakai jilbab? Boleh diceritakan tentang kejadian di suatu malam, sepulang latihan teater yang membuka mata dan pikiran Anda, sehingga akhirnya memutuskan untuk berjilbab…. Silakan berbagi…

    Jawab: Suatu malam sepulang latihan teater kabupaten. Harus pulang jalan kaki, jam sebelas malam menuju tempat kos. Cukup jauh juga. Diantar dua orang lelaki teman teater. Mereka berjalan di depan dan saya di belakang tak jauh dari mereka. Saat itu saya belum mengenakan busana muslimah. Bagaimana mau berbusana muslim? Saat itu saya masih sebagai pemeran utama wanita dalam sebuah kelompok teater ternama di kota itu, yang dibimbing langsung sutradara terkenal Indonesia. Latihan teater hari itu, hingga larut malam. Karena akan ada jadwal manggung. Saya berperan sebagai seorang penari dalam latihan hari itu.

    Di dekat sebuah bangunan sekolah yang sepi, saya mendengar suara laki-laki dengan keras. Ia teriak menyebut nama saya dan mengatakan. ”Sampaikan pada kakakmu, kapan berjilbab? Apa nunggu mati?” Bahkan dengan jelas menyebut nama kakak saya, yang waktu itu menjadi seorang vokalis band. Suara itu jelas sekali. Saya meriding ketakutan dan menyampaikan pada dua orang yang mengantar. Tetapi mereka bilang tidak mendengar apapun dan tak ada siapapun.

    Saya mempercepat langkah dan setengah berlari tak sabar ingin menemui kakak yang tinggal satu kos. Sampai di tempat kos, saya ceritakan kejadian malam itu termasuk pesan aneh dari suara misterius. Kakak saya langsung menangis. Saya pun ikut menangis. Malam itu, saya dan kakak banjir tangis hingga menjelang pagi. Saya dan kakak berjanji untuk meninggalkan kegiatan seni dan segera menutup aurat. Bagi kita, suara tersebut adalah sebentuk teguran dari Allah.

    Wanita Berprestasi

    DITO: Anda adalah sosok wanita yang aktif berorganisasi dan kaya akan prestasi. Bagaimana Anda berhasil berprestasi akademis dan organisasi? Boleh tahu rahasia di balik prestasi Anda?

    Boleh, kan….. berbagi pengalaman agar bisa menjadi wanita berprestasi…. Silakan berbagi…..

    Jawab: Kalau disebut banyak prestasi mungkin terlalu berlebihan. Hanya sekadar aktif berkegiatan saja. Saya memang termasuk orang yang aktif sejak sekolah dasar. Tidak bisa diam. Dalam arti, selalu aktif mengikuti pramuka, kesenian, organisasi pelajar, petugas upacara dll. Saya termasuk orang yang manja, penakut dan cengeng waktu usia anak-anak dan remaja. Tapi anehnya, dalam hal kegiatan atau organisasi, saya selalu sangat tegar, disiplin dan tanggung jawab. Hingga, sering mendapat kepercayaan memimpin.

    Saya mungkin termasuk tipe yang gengsi membatalkan sesuatu yang sedang diperjuangkan. Lebih baik berkorban total, daripada membatalkan. Saya selalu berusaha meraih apa yang menjadi impian saya dengan cara saya. Anehnya juga, saya kurang suka dengan perempuan yang malas, tidak memiliki ambisi dan mudah menyerah. Itulah hal yang mendorong saya untuk tampil menjadi pribadi yang tidak lemah dan tak berkesan.

    Saya selalu berpandangan, bahwa seorang wanita boleh terlihat cantik, menawan, memesona dan lemah gemulai tetapi harus dibarengi dengan pribadi yang kuat dan tegar. Perpaduan itu akan memunculkan sosok yang menarik. Itu pendapat saya, jadi jangan sampai cap makhluk lemah itu benar-benar lemah luar dalam.

    Mahakarya Multitalenta

    DITO: Anda termasuk Ibu yang sangat produktif dan inovatif. Boleh berbagi bagaimana rahasia proses kreativitas Anda sampai berhasil membuat karya dan prestasi berikut ini, serta apa saja hikmah yang dirasakan:

    - di usia 14 tahun, terpilih sebagai pelajar teladan yang mengirim karya terbanyak, yaitu 52 tulisan selama waktu sebulan di mading komunitas pelajar.

    - juara kedua lomba cerpen yang berhadiah buku, dengan cerpennya yang berjudul “Romantika Perawan Desa.”

    - puisi dan tulisan lainnya selalu dimuat oleh koran-koran lokal di Ciamis.

    - lolos audisi menjadi pemain teater kabupaten.

    - menjadi vokalis dalam sebuah kelompok musik.

    - delegasi di dalam perlombaan busana muslimah.

    - mendapat amanah sebagai ketua bidang muslimah di Lembaga Dakwah Kampus.

    - penulis buku “100% Insya Allah Sembuh”.

    - penulis kumpulan cerpen berjudul FESBUK; ditulis bersama Muhammad Subhan (terbit April 2012).

    - Manager FAM

    Jawab:

    Prestasi sebagai pengirim karya terbanyak di mading komunitas pelajar. Ini memang hal yang tidak saya duga. Apalagi anggota komunitas itu terdiri dari mahasiswa, pelajar SMA dan SMP. Apalagi ada kakak kandung saya di komunitas tersebut yang juga aktif menulis. Karena menulis itu hobi, saya kirim saja cerpen, puisi, artikel dll ke ketua komunitas tersebut, bersaing dengan kakak perempuan. Waktu itu saya masih kelas dua SMP. Senang sekali saat terpilih sebagai pengirim terbanyak, bahkan dinobatkan sebagai anggota teladan di komunitas tersebut. Saya kira untuk berprestasi siapapun bisa asal punya kemauan.

    Juara kedua lomba cerpen, dengan judul ”Romantika Perawan Desa.” Lomba ini juga bersaing dengan kakak-kakak mahasiswa, sementara saya masih SMP. Alhamdulilah, cerpen saya mendapat juara kedua. Lawan tangguh saya, kakak kandung saya sendiri yang mendapat juara pertama. Tidak terlalu kecewa kalau kalah oleh kakak sendiri, secara usia saja sudah beda.

    Tulisan selalu dimuat di koran lokal. Saya sebenarnya tak mengira akan mendapat kemudahan dan rejeki seperti itu. Saya menulis dalam keterbatasan fasilitas dan keterbatasan kemampuan dalam mengetik, tapi karya saya diterima bahkan dimuat. Hikmah yang dapat saya petik dari kejadian ini adalah bahwa keterbatasan bukan alasan untuk tidak berkarya.

    Lolos audisi menjadi pemain teater kabupaten. Ini juga hal yang tidak saya duga. Sebab, sebelumnya hanya bergabung di dua kelompok teater sekolah yang tidak memiliki pelatih sehebat sutradara terkenal. Niat saya waktu audisi juga hanya mengantar teman yang ingin sekali menjadi anggota teater kabupaten. Saya sendiri tidak memiliki keberanian mengikuti audisi, karena sadar kemampuan saya dalam hal akting tak seberapa. Justru sang sutradara sendiri yang menarik saya dari bangku penonton dan ’dipaksa’ untuk akting di hadapan juri. Saya kira dalam hidup selalu ada hal-hal keberuntungan yang kita tidak berambisi meraihnya.

    Menjadi vokalis dalam sebuah kelompok musik. Ini juga berawal dari mengantar teman yang latihan dengan kelompok musiknya. Saya ditawari menyanyi juga oleh pemilik kelompok musik tersebut. Karena dari kecil saya sudah hobi nyanyi dan menjadi wakil lomba menyanyi antar sekolah, saya tidak menolak tawaran tersebut. Tapi saya menjalankan tidak sepenuh hati, karena orangtua kurang mendukung. Mereka tidak ingin anaknya menyanyi dengan membuka aurat, dan ditonton banyak orang.

    Delegasi dalam perlombaan busana muslimah. Ini hanya lomba di sekolah saja. Sebenarnya, mengikuti lomba ini terkesan bertolak belakang dengan aktifitas saya menjadi vokalis. Satu sisi membuka aurat, di sisi lain menutup aurat. Tapi itulah masa remaja yang labil, belum punya pendirian.

    Menjadi ketua bidang kemuslimahan di Lembaga Dakwah Kampus. Waktu kuliah saya aktif mengikuti kajian keislaman di lembaga dakwah kampus. Hingga terpilih sebagai panitia teraktif dalam kegiatan yang diadakan lembaga tersebut dan mendapat hadiah kursus komputer gratis. Beberapa amanah berikutnya saya terima. Sebagai koordinator kelas bahasa Arab, ustadzah, kepala rumah akhwat dan ketua bidang kemuslimahan. Saat menjadi kabid kemuslimahan ini, saya tertuntut menjadi pribadi yang kuat. Harus bisa memimpin, memotivasi dan menjadi pembicara di ruang publik. Tak terkecuali harus pandai bernegosiasi dengan pihak-pihak tertentu yang bekerjasama dalam kegiatan kemuslimahan. Saya mendapat ilmu memimpin dan berorganisasi disini. Hal yang tentu saja sangat disukai di masa menjadi mahasiswi.

    Menulis buku ”100 % InsyaAllah Sembuh.” Buku ini saya tulis setelah mengalami sakit parah. Saya tulis dalam waktu satu bulan. Saat dikirim ke penerbit, penerbit langsung tertarik dan katanya mengalahkan beberapa naskah dengan tema yang sama. Awalnya, saya dikasih saran oleh penerbit untuk memakai judul ”100 % Pasti Sembuh.” Tapi saya menolak. Sebab, kata ”pasti” adalah hal yang tidak patut digunakan seorang makhluk. Saya bukan jualan obat atau motivasi mencari keuntungan materi dari penulisan buku tersebut, saya hanya ingin berbagi atas pengalaman sakit parah tersebut. Setelah melakukan musyawarah dengan penerbit, disepakatilah judul tersebut. Hikmah yang saya dapatkan banyak sekali. Di awal terbitnya, buku ini mendapat banyak respon. Banyak orang yang mengalami sakit serupa menghubungi, minta dikunjungi untuk sekadar memberi motivasi. Tujuh bulan saya ’bolak-balik’ antar propinsi mendatangi orang yang sakit non medis.

    Menulis buku kumcer “Fesbuk” bersama Muhammad Subhan. Buku kolaborasi ini diterbitkan di awal perkenalan saya dengan Muhammad Subhan yang seorang jurnalis. Fesbuklah yang menghubungkan saya dan Muhammad Subhan. Beliau seorang yang aktif dalam dunia menulis, saya tergerak bertanya pada beliau, “Apakah seorang yang tidak terkenal kolaborasi karya dengan orang yang terkenal, tidak akan menjatuhkan reputasi orang terkenal itu?” Beliau menjawab, ”Emas jika bercampur dengan lumpur tetap saja emas dan saya bukan orang terkenal.” Itu artinya bisa. Jawaban itulah yang membuat saya percaya diri mengajaknya kolaborasi karya. Hal pertama dalam hidup saya, berani mengajak orang terkenal kolaborasi karya. Ternyata tidak semua orang terkenal, bersikap ’menjaga jarak’. Hal itu bisa dibuktikan oleh Muhammad Subhan.

    Sekjen Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia. FAM didirikan oleh saya dan Muhammad Subhan. Ada kesamaan cara pandang antara saya dan Muhammad Subhan. Terutama dalam cita-cita membangun gerakan membaca buku dan menulis karangan di kalangan generasi muda.
    Saat itu kami punya tekad untuk membuat wadah kepenulisan nasional yang bermisi dakwah bil qalam. Kita satu pandangan, bahwa menulis adalah jalan untuk menyebar kebaikan. Melalui menulis harus bisa memberikan manfaat atau kepedualian kepada sesama. Sepakatlah mendirikan FAM Indonesia. Muhammad Subhan sebagai ketuanya dan saya sekjennya. Kami tak menyangka jika responnya luar biasa. Sebagai sekjen tentu saya yang paling sibuk kebanjiran orang yang menghubungi. Baik lewat email, facebook, dan handphone. Tapi saya menemukan banyak hikmah disini. Salahsatunya, saya tersambung dengan banyak orang dari berbagai daerah bahkan negara yang memiliki minat sama. Hal yang tidak pernah terpikir di benak sedikitpun sebelumnya. (bersambung)

    Wawancara Eksklusif bersama Aliya Nurlela (Bagian III/Habis)

    “Menemukan” Allah Melalui Menulis dan Organisasi


    DITO: Bagaimana Anda dapat menemukan (mengakui) hakikat atau eksistensi Allah melalui aktivitas menulis dan berorganisasi selama ini?

    Jawab: Menurut saya, aktivitas apapun yang kita jalani harus dalam rangka mencapai ridho-Nya. Hingga, semuanya akan bernilai ibadah. Menulis itu sama saja dengan bicara. Artinya ada hisabnya. Ada pertanggungjawabannya. Itu merupakan rambu-rambu yang harus dipegang para penulis agar tidak keluar dari koridor syariat dalam menulis. Setidaknya menulis yang santun.

    Oleh karena itu, bagi saya menulis adalah ladang untuk menyebar kebaikan. Dakwah bil qolam. Hingga termotivasi untuk menulis hal-hal yang tidak melanggar norma-norma, baik norma agama maupun yang berlaku di masyarakat. Harapan saya, tulisan itu bisa berguna. Bermanfaat bagi banyak orang dan menjadi amal jariyah kelak.

    Demikian pula berorganisasi. Terutama yang sekarang ini, mengelola wadah kepenulisan nasional. Tujuannya untuk bersikap peduli pada sesama dengan menyebar kebaikan melalui tulisan, membuka jalan silaturrahim bagi banyak orang, membuka peluang pekerjaan dan lain-lain. Intinya ingin menjadi rahmatan lil ’alamin.

    Rasanya sia-sia belaka, jika kita hebat dalam menulis dan berorganisasi tapi melupakan bahkan menjauh dari Allah. Justru bagi saya, ini sarana untuk mendekat pada-Nya.

    Top Ten Issues

    DITO: Menurut Anda, apa saja “top ten issues” yang sering dijumpai di dalampraktek/kehidupan sehari-hari terkait bidang kepenulisan?

    Jawab: Saya cukup mengamati satu hal saja. Mungkin adanya kelatahan dalam berkarya. Misalnya, ada penulis yang sukses menulis novel dengan latar timur tengah. Lalu novel tersebut laris manis di pasaran. Menjadi best seller. Banyak penulis pemula yang latah mengekor dengan judul yang hampir sama, nama pena dibuat hampir sama dan isi cerita pun tak jauh beda. Tentu saja untuk novel yang sifatnya ’mengekor’ tadi, penjualan atau daya tariknya tidak seperti novel penulis pertama yang mampu menggebrak.

    DITO: Secara umum, bagaimana solusi dan strategi menangani “top ten issues” tersebut?

    Jawab: Menurut saya, meskipun mengekor itu tidak salah tetapi alangkah baiknya dalam berkarya memiliki ciri dan gaya sendiri. Tidak memaksakan diri mengikuti yang sudah ada atau mengikuti trend. Sebab, ’citarasa’ dari karya tersebut pun akan berbeda. Jadilah penulis yang memiliki gaya menulis sendiri dan kreatif menggali ide.

    Formula Sukses

    DITO: Boleh tahu formula sukses Anda? Bagaimana pula Anda memaknai kesuksesan ini?

    Jawab:

    Pengertian sukses mungkin akan berbeda pada tiap orang. Sebagian besar orang mengatakan bahwa yang namanya sukses itu, berjaya dalam segi harta. Bagi saya pribadi, sukses itu hanya bisa diukur dari kacamata agama atau keyakinan yang dipegang. Seorang yang sukses adalah orang yang mampu bertahan dan berjuang dalam kondisi apapun tanpa mengabaikan aturan agama. Ketika impiannya teraih, ia tetap berpegang teguh pada aturan-aturan dalam keyakinannya. Kelebihan yang ia raih, dijadikan sarana untuk berbagi dengan sesama. Bukan untuk kesombongan atau bersikap menutup mata dari orang-orang yang membutuhkan.

    Sulit memang menetapkan ukuran sukses yang sesungguhnya. Sebab, sukses yang sebenarnya itu adalah ketika seseorang telah kembali pada-Nya dan mendapat ridho-Nya. Itulah hakikat sukses.

    Banyak orang bilang, sukses itu jika urusan dunia dan akhirat bisa seimbang. Nah, kalau saya pribadi menganggap sulit menyeimbangkan urusan dunia dan akhirat. Saya lebih suka mengatakan, urusan dunia dan akhirat menyatu. Jika sudah bisa menyatukan urusan keduanya, maka itulah sukses saat di dunia.

    Saya berbagi soal tekad yang kuat dalam meraih sesuatu. Saat ini saya merasa belum sukses dalam ukuran kesuksesan dunia. Tapi tekad yang kuat, selalu berkomitmen dan terus semangat meraih impian adalah kunci kesuksesan. Itu saja yang saya pegang. Alhamdulilah dengan keyakinan tersebut, banyak terbuka jalan kemudahan.

    The Men-Women Behind the Gun

    DITO: siapa sajakah orang-orang penting yang berada di balik kesuksesan Anda?

    Jawab: Orang-orang penting yang telah menjadi motivator saya, yang utama adalah Ayah. Beliau sangat mengerti akan minat yang dimiliki anaknya terutama dalam bidang menulis. Fasilitas yang mendukung untuk semakin aktif menulis dan membaca, beliau penuhi. Sehingga rumah orangtua lebih mirip perpustakaan. Dimana-mana ada rak dan lemari buku. Hasil positifnya, semua anggota keluarga suka membaca dan menulis. Wawasan pun lebih luas. Meskipun tinggal di sudut kampung terpencil, tapi karena buku adalah santapan sehari-hari maka berita di negeri jauh pun bisa terbaca.

    Yang kedua, ibu. Ibu juga seorang guru yang hobi membaca. Kebiasaan itulah yang dilihat anak-anaknya dan akhirnya itu pula yang ditiru. Beliau menunjukkan rasa senang jika anaknya memiliki prestasi dalam hal pelajaran atau menulis.

    Yang ketiga, suami. Meskipun beliau tidak suka membaca dan menulis tetapi beliau yang mendukung dan memfasilitasi saya untuk aktif menulis.

    Yang keempat, ibu mertua. Beliau juga memberikan restu ketika saya menyampaikan akan lebih banyak beraktifitas di kantor FAM Indonesia. Beliau memberikan dukungan yang positif.

    Yang kelima, pembimbing bathin atau orang yang mengarahkan saya untuk terus berpegang pada tali Allah. Beliaulah yang selalu mengingatkan melalui nasehat-nasehatnya yang bijak dan penuh hikmah.

    Yang keenam, Muhammad Subhan. Beliaulah orang yang selalu membantu mewujudkan cita-cita dan harapan saya. Beliau bisa bekerjasama dengan baik dalam mengelola wadah FAM Indonesia dan memberikan banyak wawasan dalam dunia tulis menulis.

    DITO: Siapa (saja)kah guru yang amat berkesan dan berpengaruh dalam kehidupan Anda sampai saat ini? (Boleh guru TK, SD, SMP, SMA, dosen)

    Jawab: Saya mengenang kepala sekolah waktu saya masih sekolah dasar. Beliau adalah seorang yang santun dan bijaksana. Beliau juga selalu memberikan apresiasi terhadap karya siswa yang berprestasi. Saya senang dengan sikap beliau. Saat saya SD setiap saya berprestasi di sekolah, beliau selalu memberikan ucapan selamat dan nasehat yang membangun.

    Perhatian beliau ternyata terus berlanjut, tidak hanya saat saya sekolah di SD yang beliau pimpin. Hingga saya menikah, beliau masih sering berkunjung ke rumah. Apalagi beliau sahabat baik bapak saya. Beliau sering membaca buku di rumah atau meminjamnya untuk dibawa pulang

    Saat saya terkena penyakit parah yaitu tumor kandungan. Beliau memberikan petuah-petuah pada malam menjelang operasi di hadapan jamaah pengajian yang sengaja diundang ke rumah untuk mendoakan kelancaran operasi saya. Beliau juga yang pertama kali datang menjenguk saat saya baru saja keluar dari ruang operasi.

    Tiga bulan sebelum beliau meninggal sempat mengirim surat kepada saya yang isinya ucapan terima kasih dan selamat atas terbitnya buku kedua saya yang berjudul, ”100% InsyaAllah Sembuh.” Surat yang luar biasa tersebut, saya simpan sampai sekarang.

    Manajemen Waktu

    DITO: Boleh tahu kiat Anda di dalam mengharmoniskan waktu?

    Jawab: Saya termasuk tipe wanita yang tidak suka dengan kata “nganggur.” Inginnya berbuat dan berkarya. Rasanya waktu dalam sehari itu sedikit sekali dan berputar cepat sekali, ketika kita memanfaatkannya dengan baik. Saya sering melakukan dua pekerjaan sekaligus. Seperti memasak sambil menulis. Jaman sekarang Alhamdulilah ada kemudahan untuk melakukan itu. Saya bawa saja netbook ke dapur, diletakkan di meja dapur. Lalu mengetik bersamaan dengan memasak. Ternyata itu bisa dilakukan. Artinya, saya ingin waktu 24 jam sehari itu menjadi 36, 48 atau bahkan 60 jam. Sebab bisa merangkap beberapa pekerjaan dalam satu waktu.

    Namun meskipun pekerjaan itu dirangkap-rangkap, saya selalu berusaha untuk fokus agar hasilnya semua maksimal. Tidak setengah-setengah.

    Idola, Buku, Masakan Favorit


    DITO: Siapa (saja)kah tokoh/idola Anda? (Misal: Nabi Muhammad SAW, Ir. Sukarno, Albert Einstein, dsb). Lalu, buku jenis apa (saja) yang menjadi bacaan favorit Ibu di waktu luang (misal: novel Laskar Pelangi karya Andreas Hirata, dsb)?

    Jawab: Tokoh idola cukup Nabi Muhammad SAW saja. Tokoh atau nabi yang patut diidolakan. Beliaulah tauladan yang baik bagi ummatnya.

    Saya suka buku-buku yang memberi motivasi seperti buku “La Tahzan” karya ‘Aidh Al-Qorni. Atau novel-novel fiksi yang membangun dan memberikan pencerahan. Tidak sekadar bercerita tetapi ada pesan mendalam yang disampaikan. Seperti Novel “Rinai Kabut Singgalang (RKS)” karya Muhammad Subhan. Saya menyukai gaya bahasa yang digunakan pengarang, cerita disampaikan dengan deskripsi tempat yang detail dan mengandung pesan-pesan moral yang layak dibaca semua usia. Atau novelnya Asma Nadia, enak dibaca dan memiliki pesan yang bagus pada setiap isi cerita.

    DITO: Boleh tahu (apa saja) resep kudapan, masakan, makanan, dan minuman favorit Anda?

    Jawab:

    Wah, saya ini orang Sunda tapi sangat menyukai masakan Padang. Aneka masakan Padang saya suka. Meskipun masakan Sunda juga tetap favorit.

    Minuman favorit saya, Es Oyen Bandung dan Bajigur Sunda.

    “Pesan dan Kesan”

    DITO: Apa (saja) pesan dan kesan Anda untuk generasi muda yang berminat atau tertarik dengan dunia kepenulisan atau jurnalistik?

    Jawab: Yang paling utama agar meluruskan niat sebelum berkecimpung dalam dunia menulis. Sebab, menulis juga perlu rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar.Jika niat menulisnya benar, maka apa yang keluar dari goresan tangannya akan bermakna dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku. Baik norma agama ataupun yang berlaku di masyarakat. Jangan pula terkecoh untuk terburu-buru menghasilkan materi/uang dari menulis. Hal itu akan menghambat kreatifitas dan akhirnya lemah semangat ketika tulisan yang dikirim ke media berulangkali ditolak.

    Jadikan menulis sebagai ladang menyebar kebaikan untuk memberikan manfaat bagi banyak orang. Royalti, honor dan popularitas itu efek/bonus dari tulisan yang dihargai. Bukan tujuan utama.

    Tugas penulis adalah menulis. Tekuni dan menulislah. Semakin lama menulis, maka akan semakin terlatih. Tangan dan pikiran akan terbiasa bergerak bersama, bekerjasama dengan baik dalam menghasilkan sebuah karya.

    Kegiatan menulis itu sangat menyenangkan. Kita bisa melakukannya dimanapun. Apalagi peluang untuk mempublikasikan tulisan jaman sekarang ini semakin terbuka lebar. Media online pun bertebaran. Tinggal kita saja, siap tidak mengikuti perkembangan? Jika aktifitas menulis menjadi rutinitas, otomatis setiap hari akan punya karya yang bisa ditawarkan ke media atau diterbitkan sendiri.

    DITO: Apa pesan dan kesan Anda untuk pemerintah?

    Jawab:

    Saya prihatin dengan tayangan-tayangan di media elektronik dan bacaan-bacaan di media cetak yang mengarah kepada pornografi dan kekerasan. Sepertinya sekarang ini minim sekali sensor atau aturan jelas terhadap sebuah tayangan/ bacaan untuk publik. Mungkin sangat berbeda sekali dengan masa saya anak-anak dulu di tahun 80-an yang belum semarak ini. Saya merasakan tayangan di televisi pun lebih menonjolkan pendidikan dan pengetahuan. Untuk jenis hiburan, masih terkesan ada batasan-batasan (tidak bebas).

    Tidak mengherankan jika akibat buruknya sangat jelas terlihat di masyarakat sekarang ini. Anak-anak usia remaja yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa yang aktif berkarya, malah disibukkan dengan tawuran dan pergaulan bebas. Mengenaskan sekali, ketika membaca berita lagi-lagi soal tawuran dan hamil di luar nikah.

    Generasi muda akan semakin tak karuan, jika tak ada ketegasan dari pemerintah sebagai pemilik kebijakan. Meskipun bukan satu-satunya solusi, namun pemerintah bisa mengaturnya. Menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan keislaman, aturan ketat di sekolah, aturan sensor sebuah tayangan baik di media elektronik ataupun media cetak. Setidaknya pemerintah meminimalisasi atau mencegah agar tidak terjadi kerusakan yang lebih buruk lagi di masa yang akan datang.

    DITO: Apa pesan dan kesan Anda untuk pembaca netsains.net?

    Jawab: Apa yang saya sampaikan dalam wawancara ini semoga menjadi jalan terbukanya jalinan silaturrahim dengan pembaca netsains.net dimanapun. Saya percaya silaturrahim bisa terbuka lewat jalan apasaja termasuk melalui media online sekalipun. Saya telah ditunjukkan buktinya, yaitu sejak mengenal dunia maya dan tersambung dengan Muhammad Subhan (Ketum FAM) melalui dunia maya. Kini kami bisa membangun silaturrahim yang baik. Bukan silaturrahim kedua belah pihak saja, tapi kini terjalin silaturrahim yang baik dengan banyak orang setelah FAM Indonesia berkegiatan. Berawal dari dunia maya, sekarang terwujud di dunia nyata.

    Syukur Alhamdulilah pula jika ada manfaat yang bisa dipetik dari hasil wawancara ini. Kepada semua pembaca netsains.net, tak ada yang mustahil dan sia-sia di dunia ini. Semua telah tercatat dalam grand desain Sang Maha Pencipta. Berbahagialah jika Anda bisa memetik hikmah dari kisah oranglain yang Anda baca di media ini. Salam ukhuwah!

    Demikian wawancara eksklusif ini, semoga bermanfaat dan mencerahkan kita semua. Amin 3x. (Dito Anurogo)

    Sumber:

    http://netsains.net/2012/11/wawancara-eksklusif-bersama-aliya-nurlela-bagian-i/
    http://netsains.net/2012/11/wawancara-eksklusif-bersama-aliya-nurlela-bagian-ii/
    http://netsains.net/2012/11/wawancara-eksklusif-bersama-aliya-nurlela-bagian-iiihabis/
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Profil Sekjen FAM Indonesia Diterbitkan Portal NetSains yang Berpusat di Jerman Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top