• Info Terkini

    Friday, November 23, 2012

    Proses Kreatifku, Suka Duka Menjadi Penulis

    FAM sahabatku. Saya senang sekali bisa bergabung dan memberikan kontribusi tulisan di grup ini. Senang bisa menemukan sahabat berbagi cerita dan berbagi ilmu dan pengalaman. Pengalaman saya tentang suka duka menulis. Betapa awalnya saya malas sekali menulis hingga sebuah tragedi yang menyadarkan dan menginspirasi saya mulai mencintai dunia kepenulisan.

    Tahukah kamu FAM, kisah saya mulai mencintai menulis diawali dari kesukaan saya membaca majalah-majalah islami kelas 6 SD hingga SMP. Kalau boleh saya menyebut majalahnya, ia adalah Annida, Ummi dan Sabili. Abang saya yang tertua sering membeli majalah-majalah tersebut. Setiap akhir pekan, jika abang saya punya jadwal kosong dari rutinitas kampusnya. Maka ia sempatkan pulang kampung dengan membawa majalah-majalah itu. Awalnya, abang saya itu tidak menyuruh membaca majalah tersebut. Hanya ia sering memprovokasi saya dengan membaca tepat di hadapan saya. Seolah-olah abang saya itu ingin berkata, ‘hei, dek kalau mau baca ini, kemarilah”. Saya sedikit merasa penasaran dan memberanikan diri meminjam. Ternyata memang benar, beliau meminjamkannya untuk saya baca. Awalnya agak aneh. Bacaan yang melulu membahas masalah Islam. Ada kata-kata jihad, dakwah dan istiqamah dan kata-kata serupa lainnya yang asing didengar oleh anak seusia saya.

    FAM yang baik dan bersahabat, tahukah kamu bacaan-bacaan yang sering saya baca sungguh memberikan saya pemahaman baru tentang dunia Islam, dunia tulis menulis. Saya teringat sebuah majalah yang bernama Annida, di sana sering memuat cerpen-cerpen atau tulisan-tulisan yang mengajak kepada kebaikan. Bahkan di sana isinya sering membahas betapa pentingnya dakwah lewat tulisan, salah satunya cerpen. Di majalah itu bahkan beberapa waktu juga memuat pendaftaran menjadi anggota grup kepenulisan. Grup yang mirip dengan kamu FAM. Waktu itu saya ingin sekali ikut grup itu tapi saya merasa tidak berbakat menulis. Jangankan berbakat, menulis saja belum pernah. Maka jadilah saya orang yang minder dan tak mau menulis meski suka baca cerpen. Saya berpikir menulis adalah pekerjaan yang membosankan dan monoton ketika itu. Apalagi saya orangnya cepat bosan jika melakukan satu pekerjaan terlalu lama.

    FAM yang baik hatinya, tahukah kamu keminderan saya itu berlanjut hingga SMA. Saya sering mendapat motivasi dari guru agar menulis. Menulis terutama dalam pelajaran bahasa indonesia, hehe. Waktu itu guru saya digantikan sejenak oleh guru PL (guru magang). Guru PL itu mewajibkan semua siswa membuat tulisan berupa cerpen atau puisi. Tulisan siswa yang terbaik akan ditempel di mading sekolah. Aduh, bukan main peningnya kepala saya. Betapa tidak, jika tidak dikerjakan maka nilai Bahasa Indonesia bisa terancam jeblok. Akhirnya dengan perasaan terpaksa saya mencoba juga menggoreskan pena di lembaran kertas. Butuh waktu lama saya merangkul ide-ide, berjam-jam ide itu sukar saya rangkul. Begitu ketemu saya tulis. Setelah menulis, cerita tulisan mentok dalam penyelesaian. Dengan bersusah payah akhirnya saya berhasil menyelesaikan cerpen itu. Sesegera mungkin saya serahkan ke guru PL. Beberapa hari berikutnya, diumumkanlah cerpen dan tulisan yang dimuat di mading. Ternyata, tulisan saya tak dimuat. Aduh, sedihnya saya yang dengan susah payah membuat cerpen akhirnya tak dimuat. Alasan guru PL tidak meloloskan cerpen saya karena cerpen saya kurang enak dibaca dan jalan ceritanya amburadul.

    FAM yang baik, sejak kejadian itu saya betuk-betul beranggapan bahwa saya memang tidak berbakat menulis. Saya mulai membuang dan mengubur harapan jadi penulis. Hingga saya mulai kuliah. Dunia tulis menulis tetap tak membuat saya tertarik lagi. Hingga semuanya mulai berubah saat saya berteman dengan seorang senior di kampus. Ia mengajak bahkan merayu saya untuk menulis...hehe—kayak wanita saja yang dirayu. Senior saya itu ternyata memang seorang penulis. Ia sudah menghasilkan sebuah buku. Ajakannya itu tetap membuat saya tak bergeming. Saya teguh dengan pendirian: menulis itu membosankan.

    FAM sahabatku, tahukah kamu semua berubah ketika saya lulus dari kampus dan mulai bekerja. Ketika saya baru mulai bekerja, saya mengalami musibah. Saya kecelakaan dan mengalami patah kaki. Tahukah kamu FAM bagaimana perasaan saya ketika itu? Saya merasa sedikit frustasi. Saya tak bisa lagi bekerja dan harus istirahat total. Saya tinggal bersama keluarga. Dirawat oleh ibu dan ayah saya. Saya tak pernah lagi bertemu dengan teman-teman saya. Saya hanya di rumah. Menghabiskan waktu dalam pemulihan kondisi fisik. Berselang waktu, seorang senior sering menelepon saya dan memberikan support agar saya bangkit dan melihat ke depan. Tahukah kamu FAM siapa dia? Dialah senior yang sempat saya acuhkan ketika ia mengajak saya menulis ketika di kampus. Ia mengompori saya agar saya mencoba menulis. Setidaknya menulislah yang mampu saya kerjakan selama masa pemulihan, kata senior saya itu. Saya mulai berpikir dan merenung. Akhirnya, saya memutuskan mulai belajar menulis. Ya, itulah keputusan saya. Saya harus menulis. Hanya itu yang bisa saya lakukan dan kebaikan yang bisa saya berikan untuk orang lain lewat tulisan saya kelak.

    FAM yang baik, taukah kamu proses belajar dalam tulis-menulis yang saya lakukan? Allhamdulillah akhirnya tulisan pertama saya dimuat disebuah situs berita islam online. Itu pertama kali. Hanya berselang dua hari sejak saya kirim, tulisan itu langsung dimuat. Hal ini membuat saya semakin percaya diri menulis. Saya baru menyadari sekarang bahwa ternyata menulis itu enak. Hingga akhirnya nasib mempertemukan saya dengan kamu, FAM. Pertemanan saya dengan kamu didasarkan karena saya ingin belajar dan terus belajar menjadi seorang penulis sejati. Terima kasih FAM sudah menerima saya jadi teman.

    Iwan Setiawan Jambak
    Payakumbuh, Sumatera Barat
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Proses Kreatifku, Suka Duka Menjadi Penulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top