• Info Terkini

    Monday, November 12, 2012

    Sumbernya Ada Pada Jiwa

    Oleh Satria Nova*)

    "Lebih mudah untuk melawan ribuan orang bersenjata lengkap dibandingkan melawan kesombongan diri sendiri."

    Sewaktu kecil, bahkan hingga sekarang, saya masih suka mengikuti lanjutan kisah Naruto, seorang ninja yang memiliki cita-cita menjadi Hokage (pemimpin ninja di desanya). Naruto adalah tokoh rekaan yang ada di dalam sebuah manga yang ditulis oleh Masashi Kishimoto.

    Naruto yatim piatu sejak masih bayi. Ayahnya, yang menjadi Hokage ke-4 meninggal demi melindungi desa dari amukan Kyubi (rubah berekor sembilan). Ibunya, meninggal beberapa saat setelah melahirkan Naruto ketika membantu suaminya untuk menyegel Kyubi yang tengah membabi buta menghancurkan desa ke dalam tubuh anaknya sendiri. Ini adalah hal yang sangat beresiko, mengingat Kyubi memiliki kekuatan yang sangat besar dan jahat.

    Terbukti, ketika Naruto dewasa, ia direpotkan dengan ulah Kyubi yang ingin keluar dari tubuhnya. Beberapa kali Kyubi berhasil menguasai tubuh Naruto sehingga bocah ini kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri dan akhirnya malah menghancurkan apa saja yang ada di depannya. Hal ini berelangsung cukup lama, hingga akhirnya Naruto berhasil menjinakkan monster ini dan menggunakan kekuatan besar yang dimilikinya untuk membantu sesama dan menghadapi musuh-musuhnya.

    Saya rasa, setiap orang juga memiliki hal serupa yang bersemayam di dalam dirinya. Inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya dengan potensi akal dan kendali nafsu yang dimilikinya. Saya percaya bahwa pertempuran terbesar ada di dalam hati, karena manusia terbit dari rahim ibu dalam kesendirian, dan terbenam pula di liang lahat dalam kesendirian.

    Manusia yang berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang telah sanggup mengalahkan musuh yang bersemayam di dalam dirinya. Banyak orang takut berbicara di depan umum, bukan karena dia tidak mampu, tapi karena jiwanya tidak berani melakukan itu. Banyak orang tidak berani memulai membuka usaha, bukan karena tidak punya modal atau karena tidak bisa berbisnis, tapi karena nyalinya menciut memikirkan resiko apa yang akan dialaminya jika kegagalan menimpanya. Begitu juga dengan ketakutan-ketakutan yang lain.

    Dalam banyak hal, meski berbeda kasus dan konteksnya, selalu saja menghadirkan dua hal yang nantinya akan dijadikan kambing hitam, yaitu kita dan mereka. Kebanyakan orang, ketika mengalami suatu kegagalan akan menunjuk faktor eksternal sebagai biang keladinya. Seorang pelajar misalnya, jika nilainya jelek, yang disalahkan adalah gurunya, dosennya, atau bahkan pelajarannya. Seorang direktur, jika perusahaan yang dipimpinnya tidak berkembang, yang disalahkan adalah karyawannya, saingan bisnisnya bahkan konsumennya. Seorang istri, jika dalam hubungan rumah tangganya tidak harmonis, yang dipersalahkan adalah suaminya, anaknya, mertuanya bahkan kehadiran sosok lain yang belum tentu kebenarannya.

    Inilah yang menjadikan banyak orang tidak bisa berkembang. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang ketika mengalami suatu kegagalan, maka yang menjadi bahan evaluasi dan obyek untuk dipersalahkan adalah dirinya sendiri. Meskipun dalam kenyataannya faktor eksternal juga berpengaruh. Menyalahkan orang lain tidak akan menyelesaikan masalah, justru mungkin akan menambah masalah. Maka orang-orang yang mendahulukan dirinya sendiri untuk dievaluasi adalah mereka yang telah sanggup mengalahkan musuh yang ada di dalam dirinya sendiri. Merekalah orang-orang yang memiliki kesempatan dan potensi lebih untuk meraih keberhasilan hidup.

    ***

    Inilah awal mula perjalanan saya sebagai seorang penulis. Kisah ini bermula saat saya menyandang status sebagai mahasiswa. Sebelumnya, saya tidak pernah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang penulis. Semasa belajar di bangku SMA, saya hanyalah pelajar biasa yang tidak memiliki latar belakang menulis sama sekali. Ketika menginjakkan kaki di perguruan tinggi pun sama, saya hanya menjadi mahasiswa biasa.

    Banyak kejadian dan pengalaman yang saya rasakan. Sebagai mahasiswa dengan segala dinamikanya, pola pikir saya berkembang, sedikit demi sedikit. Dulu yang awalnya hanya berniat belajar serius agar bisa cepat lulus, perlahan bergeser dan berkembang untuk bisa meraih lebih. Jika di awal semester pertama masih banyak sifat-sifat bawaan dari SMA, maka lambat laun, sikap dan mentalpun berubah menjadi lebih dewasa.

    Saat saya menginjak semester empat, saya baru sadar dan memahami betapa pentingnya membuat life plan. Inilah tonggak awal lahirnya mimpi-mimpi dan cita-cita. Maka sejak saat itulah, saya berani bermimpi dan berusaha menggapainya. Saya berani menggantungkan harapan tinggi-tinggi untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Saya mulai menyusun rencana hidup beserta mimpi dan keinginan yang ingin terwujud. Dari sekian banyak impian yang tersusun rapi menjadi rencana hidup itu, salah satunya berbunyi “Menulis Buku”.

    Dari impian itulah akhirnya satu persatu karya mulai lahir. Dan sejak saat itu, saya dikenal orang sebagai seorang penulis. Perjuangan untuk bisa menghasilkan tulisan, apalagi menerbitkannya bukan perkara mudah. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, saya tidak punya background sama sekali soal tulis menulis. Pengalaman saya barulah dimulai saat semester tiga, dikala saya tergabung dalam pembuatan zine (majalah mini) di kampus. Itupun hanya menghasilkan dua sampai tiga artikel setiap bulannya, dengan panjang masing-masing tulisan maksimal tiga halaman ukuran kuarto.

    Saya sadar keputusan untuk menulis buku adalah hal yang di mata banyak orang kurang wajar mengingat latar belakang saya sebagai mahasiswa teknik. Tentu hal ini beralasan sebab apa yang saya lakukan jauh dari disiplin ilmu yang saya pelajari, sehingga bagi kebanyakan orang, kesulitan yang dihadapi bertambah dua kali lipat.

    Menjadi seorang penulis adalah anugerah besar yang saya terima dan saya mensyukuri itu. Apalagi ditengah keterbatasan yang saya miliki. Pertama kali memutuskan untuk menulis buku, saya harus menghadapi kenyataan bahwa saya tidak punya komputer ataupun laptop. Ini seperti seorang samurai yang kehilangan pedangnya ketika hendak memulai pertarungan. Mau melawan menggunakan apa?

    Kala itu, saya manfaatkan fasilitas komputer gratis yang disediakan perpustakaan kampus. Di sela-sela kuliah, saya sempatkan pergi kesana untuk menuliskan apa yang ada di dalam pikiran saya. Malam atau pagi hari sebelum berangkat kuliah, jika memang tidak sedang mengerjakan sesuatu yang lain, saya sempatkan untuk meminjam laptop teman satu kos untuk digunakan menulis. Dan hasilnya, satu persatu karya mulai lahir.

    Tak jauh berbeda dengan menulis, saya juga dibuat bingung dengan naskah yang telah selesai ini mau dibawa kemana. Sebelumnya, saya hanya berpikir bagaimana caranya tulisan saya bisa selesai, itu saja. Barulah ketika tulisan benar-benar selesai saya kembali disergap bingung. Maklum, saya tidak mengerti sama sekali tentang seluk beluk perbukuan dan penerbitan. Akhirnya, saya mencari informasi di internet.

    Saya perhatikan betul informasi yang saya dapat itu. Saya pelajari tata caranya. Saya persiapkan syarat-syarat yang dibutuhkan. Dan setelah yakin semua sudah sesuai, saya beranikan diri untuk mengajukan naskah tersebut ke penerbit.

    Ternyata yang saya harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Perjalanan menerbitkan buku tidaklah mulus. Berbagai penolakan dan kata maaf saya terima dari berbagai penerbit ketika saya mengajukan naskah kesana. Alasan penolakannya pun beragam. Entah berapa banyak, seingat saya lebih dari sepuluh kali naskah saya ditolak berbagai penerbit hingga akhirnya ada penerbit yang baik hati mau menerima tulisan saya. Tentu saja, disetiap penolakan sebelumnya saya melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap naskah yang saya tulis.

    Akhirnya saya sadar bahwa sebenarnya kendala dalam menulis letaknya bukan pada fasilitas ataupun minimnya informasi dan pengetahuan soal dunia tulis menulis melainkan terdapat pada jiwa. Ketiadaan laptop dan komputer, seharusnya tidak dijadikan alasan bagi seorang penulis atau mereka yang ingin menjadi penulis untuk tidak menulis. Ketidaktahuan serta minimnya kemampuan dan pengalaman menulis juga tak layak jika dijadikan pembenaran untuk mundur dari keinginan menulis.

    Tak hanya tentang menulis, di banyak kasuspun sama. Mereka yang sanggup mengalahkan keengganan dirinya sendiri adalah mereka yang selangkah bahkan beberapa langkah lebih dekat terhadap harapan dan impian. Lihatlah Oscar Pictorius, yang menjadi salah satu pelari tercepat padahal kedua kakinya diamputasi. Pria asal Afrika Selatan ini terlahir tanpa tulang betis sehingga orang tuanya terpaksa mengamputasi kakinya. Tapi semangatnya sanggup mengalahkan dirinya sendiri. Ia menggunakan kaki palsu. Dengan kerja keras, ia berhasil menyabet medali emas di beberapa olimpiade.

    Mungkin inilah letak kekuatan sejati manusia. Kekuatan yang telah lama terpendam dan menunggu untuk dibangkitkan. Sayangnya, banyak orang yang tak mengenal kekuatan itu. Mereka baru menyadarinya disaat-saat yang genting, terjepit, atau di saat diselimuti keterbatasan. Disinilah kekuatan tersembunyi itu bisa muncul. Percaya atau tidak, seseorang tiba-tiba bisa berlari dua kali lebih cepat dari sebelumnya saat dikejar anjing. Seseorang bisa melompat menyebrangi sungai selebar tiga meter ketika hendak diterkam harimau.

    Dan mereka yang tangguh, yang berhasil, yang sukses, yang menang adalah yang telah melampaui batas keterbatasan yang ia miliki. Terlebih lagi, ia masih bisa mengeluarkan kekuatan tersembunyinya itu tanpa harus distimulasi dengan kondisi serba terbatas, terjepit, dan genting. Itulah orang-orang yang bisa memenagkan atas dirinya sendiri. Orang-orang hebat yang bisa mengendalikan dan mengajak jiwanya untuk maju.

    Saya jadi teringat dengan sebuah petuah bijak yang mengatakan, satu-satunya yang paling bisa menghambat dirimu untuk meraih apa yang kamu inginkan adalah dirimu sendiri.

    Artikel ini juga menjadi salah satu bab dalam buku saya yang berjdul "Jendela Hati: Catatan Nurani Seorang Muslim" yang diterbitkan oleh Elex Media.

    *) Penulis anggota FAM Surabaya, Jawa Timur

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sumbernya Ada Pada Jiwa Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top