• Info Terkini

    Saturday, November 24, 2012

    Ulasan Artikel “Zero Waste untuk Merauke Bersih” Karya Sutadi (FAM Jerman)

    Artikel ini menceritakan keprihatinan mendalam seorang penulis terhadap problematika sampah. Sayangnya, penulis belum mengungkapkan data terkini tentang berapa persen sampah yang ada di Merauke, berapa persen orang yang sadar akan sampah, bagaimana dampak sampah terhadap kesehatan, upaya sederhana yang dapat dilakukan warga di dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan konsep zero waste. Lebih baik lagi bila penulis juga dapat mengungkapkan berapa rupiah sebenarnya anggaran yang ada dan yang telah dimaksimalkan oleh pemerintah berkaitan dengan sampah.

    Berikut ini sedikit koreksi dari FAM Indonesia demi perbaikan dan kesempurnaan artikel “Zero Waste untuk Merauke Bersih”.

    Penulisan Judul: ZERO WASTE untuk MERAUKE BERSIH, disarankan menulis kapital hanya huruf awal, menjadi: Zero Waste untuk Merauke Bersih.

    1. Untuk kalimat berikut ini:

    Miris ... melihat sampah menumpuk di lahan-lahan kosong hampir di setiap sudut kota Merauke.

    Nilai rasanya akan berbeda bila dituliskan demikian:

    Sungguh miris rasanya. Melihat sampah menggunung, menempati lahan-lahan kosong hampir di setiap sudut kota Merauke.

    2. Perhatikan sensasi makna kalimat berikut ini:

    Bahkan di bawah rambu bertuliskan larangan membuang sampah sekalipun.

    Cobalah bandingkan dengan yang ini:

    Meskipun telah ada rambu larangan membuang sampah, seolah percuma.

    3. Untuk kalimat ini:

    Jelas ini mencerminkan perilaku penduduk yang tidak bertanggung jawab serta intitusi terkait yang kewalahan mengatasi laju pertumbuhan sampah.

    Sebaiknya diedit lagi menjadi:

    Benarkah ini cerminan perilaku penduduk yang kurang bertanggung jawab? Atau institusi terkait memang telah kewalahan mengatasi masalah sampah?

    4. Perhatikan perlunya tanda koma dan pemilihan diksi agar secara semiotika dan hermeneutika serasi:

    Kota yang makin cantik dan terus membangun sayangnya masih terkesan tergopoh-gopoh mengimbangi laju perkembangan penduduk dengan permasalahan sampah khususnya.

    Sebaiknya ditulis:

    Kota yang makin cantik dan terus membangun, sayangnya masih belum siap mengatasi problematika masyarakat, terutama berkaitan dengan sampah.

    5. Untuk kalimat berikut ini:

    Masyarakat perkotaan yang lebih dari 80% penduduknya terpelajar dan melek budaya harusnya bisa diberdayakan bagi kemajuan Merauke.

    Akan lebih bermakna bila diganti dengan kalimat berikut ini:

    Pemerintah diharapkan dapat memberdayakan 80% kaum terpelajar dan sadar budaya demi kemajuan Merauke.

    6. Kalimat ini:

    Namun bagi kita setiap elemen masyarakat yang memiliki ide dan gagasan hendaklah bisa saling support agar bisa membantu pemerintah memberi solusi permasalahan sampah tersebut.

    Sebaiknya ditulis:

    Hendaklah setiap elemen masyarakat yang memiliki ide dan gagasan dapat saling mendukung, sehingga pemerintah dapat menemukan solusi tepat untuk mengatasi permasalahan sampah.

    7. Pernyataan berikut ini:

    Dialog di RRI tentang sampah berkali kali telah dilakukan sejak hari Senin 11 Juli 2011, hingga Senin 7 November 2011 menggambarkan betapa keluhan masyarakat sudah semakin memuncak.

    Lebih baik bila diungkapkan sebagai berikut:

    Keluhan masyarakat semakin memuncak. Hal ini terlihat dari berkesinambungannya dialog tentang sampah di RRI mulai 11 Juli 2011 hingga 7 November 2011.

    Saran: adakah data atau referensi terkini yang dapat memperkuat wacana ini?

    8. Untuk frase:

    Mewujudkan Kampung/Kelurahan Percontohan

    Cukuplah ditulis:

    Kampung Percontohan

    9. Untuk kalimat ini:

    Mengusahakan adanya kampung percontohan bisa dengan menyelengarakan lomba kebersihan dan keindahan lingkungan antar RT, mengoptimalkan peran PKK, kelompok pengajian, antar masjid atau gereja.

    Dapat disempurnakan sbb:

    Kampung percontohan dapat diwujudkan dengan langkah sederhana. Misalnya dimulai dengan menyelenggarakan lomba kebersihan antarRT, mengoptimalkan peran PKK, kelompok pengajian, antarmasjid, atau antargereja.

    10. Untuk kalimat berikut ini:

    Di kota-kota besar ataupun yang tengah tumbuh di daerah lain, ada yang telah membuktikan bisa mengelola permasalahan sampah dan bisa dijadikan tempat studi banding.

    Sebaiknya disempurnakan sbb:

    Pemerintah bersama Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota dan Dinas Cipta Karya, Pemukiman dan Tata Ruang Kabupaten Merauke dapat melakukan studi banding ke daerah lain yang sukses mengelola sampah.

    Catatan: perlu dipastikan lagi dinas mana saja yang mengelola sampah. Sebaiknya dengan tegas disebutkan secara eksplisit.

    11. Kalimat berikut ini:

    Salah satu contoh di dusun Sukunan kabupaten Sleman Yogyakarta.

    Dapat diefektifkan menjadi:

    Misalnya: Dusun Sukunan, Kabupaten Sleman,Yogyakarta.

    12. Sebelum paragarf berikut ini:

    Di sana kita lihat bagaimana penduduk sukunan berangkat dari awal terkena dampak pembuangan sampah sembarangan (terdokumentasikan) hingga tumbuh kesadaran dan berhasil menangani permasalahan sampah. Bahkan ada kampung yang memiliki bank sampah. Menabung bukan dari uang tetapi dari sampah yang bisa didaur ulang yang dikumpulkan dan dinilai dengan uang.

    Sebaiknya diberi sub judul: Dari Sampah Menjelma Rupiah

    Untuk kajiannya, dapat lebih diperdalam dan diberi tambahan data terkini.

    13. Kalimat sub judul berikut:

    Mengatasi dari hulu hingga hilir

    Dapat diefektifkan menjadi: Solusi

    14. Tambahkan tanda koma pada kalimat berikut ini:

    Secara umum sumber sampah dibagi menjadi dua.

    Menjadi sbb:

    Secara umum, sumber sampah dibagi menjadi dua.

    15. Kalimat berikut ini:

    Dari rumah tangga dan dari industri baik kecil ataupun menengah dan besar termasuk pedagang kaki lima (PKL) dan pertokoan atau rumah sakit. Untuk Industri tentu sudah menerapkan amdal, tinggal bagaimana pengawasannya berjalan atau tidak. Untuk pertokoan dan PKL dapat (sudah) diterbitkan aturan pengelolaan sampah yang dihasilkan dengan membayar retribusi tiap bulannya.

    Lebih baik diefektifkan menjadi:

    Sampah rumah tangga dan sampah industri. Sampah industri terdiri dari: industri kecil,  industri menengah, industri besar, termasuk sampah yang berasal dari pedagang kaki lima (PKL), pertokoan, dan rumah sakit. Untuk industri sudah ada ketentuan tentang AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Untuk sampah pertokoan dan PKL, sudah ditetapkan aturan pengelolaan sampah, salah satunya membayar retribusi setiap bulan.

    16. Kalimat berikut ini:

    Al hasil di samping sampah yang rutin diambil oleh petugas kebersihan untuk dibawa ke TPA, masih banyak lagi sampah yang tidak sempat terambil sehingga dibuang sembarang.

    Lebih baik diefektifkan menjadi:

    Hasilnya, sampah yang rutin diambil oleh petugas kebersihan untuk dibawa ke TPA. Namun sayangnya, sampah yang tidak sempat terambil dibuang sembarangan.

    17. Kalimat berikut:

    Apalagi kalau bisa menjadikan sampah yang organik menjadi kompos, tentu menjadi sangat berguna bahkan bernilai rupiyah kembali.

    Dapat diefektifkan menjadi:

    Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sehingga menghasilkan rupiah.

    18. Frase berikut ini:

    Mengupayakan Zero Waste dari Rumah Tangga

    Dapat diefektifkan menjadi: Zero Waste

    19. Sebaiknya setelah frase zero waste, diberikan definisi singkat dan jelas apakah zero waste itu?

    20. Kalimat berikut ini perlu dilengkapi data terkini:

    Laju pertumbuhan penduduk kota Merauke sangat cepat, terlihat dengan munculnya komplek-komplek perumahan baru.

    21. Sedikit upaya “pemadatan” untuk kalimat ini:

    Bahkan terkadang lahan yang ada dihabiskan ditutup dengan bangunan tambahan bersemen. Kalau setiap kita memiliki kesadaran dan kedisiplinan untuk bisa memisahkan jenis-jenis sampah yang ada maka “zero waste” bisa terwujudkan paling tidak bisa diminimalisir.

    Inilah koreksinya:

    Bahkan lahan yang ada dialihfungsikan menjadi bangunan bersemen. Sebaiknya sampah dipilah dan dipilih, sehingga “zero waste” terwujud.

    22. Koreksi untuk kalimat ini:

    Sampah organik bisa dikembalikan ke tanah tidak lebih dari seminggu sampah sudah bisa dimanfaakan untuk pupuk atau media tanam. Sampah kering bisa dibakar. Membakar sampah meskipun mengasilkan CO2 yang terbawa ke udara lebih baik dari pada membuangnya menjadi polusi tanah, merusak keindahan bahkan menjadi sumber/sarang penyakit dan sumber bencana seperti banjir misalnya. Merubah perilaku, kharakter (watak) perlu kesungguhan dan waktu yang lama. Perlu sosialisasi dan dorongan serta contoh yang terus menerus. Tidak semudah mengobati batuk (watuk) yang cukup dengan tiga hari resep dokter.

    Sebaiknya ditulis sbb:

    Sampah organik bisa dikembalikan ke tanah. Belum sampai seminggu, sampah dapat dimanfaatkan menjadi pupuk atau media tanam. Sampah kering sebaiknya dibakar, karena bila dibuang sembarangan akan mencemari tanah, berakibat wabah penyakit, serta sumber bencana. 

    Memang diperlukan usaha untuk mengubah perilaku, karakter, watak masyarakat disertai upaya pembiasaan sejak dini. Diperlukan pula diseminasi dan sosialisasi berkelanjutan.

    23. Kalimat berikut:

    Kalau daerah lain bisa mewujudkannya, kita juga pasti bisa... Siapkah kita-kita menjadi pionir  penggerak dan pelaku Zero Waste Home sehingga Merauke bersih?

    *) Penulis adalah Staf Pengajar SMK Negeri 3 Merauke, Alumni MST UGM

    Dapat diefektifkan menjadi:

    Kalau daerah lain bisa, kita juga bisa! Permasalahannya, sudah siapkah kita?

    *) Penulis adalah staf pengajar SMK Negeri 3 Merauke, alumni MST UGM.

    Salam aktif, teruslah berkarya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    ZERO WASTE untuk MERAUKE BERSIH

    Miris ... melihat sampah menumpuk di lahan-lahan kosong hampir di setiap sudut kota Merauke. Bahkan di bawah rambu bertuliskan larangan membuang sampah sekalipun. Apakah karena membuangnya di malam hari sehingga tidak membaca tulisan itu atau memang sudah buta mata hatinya? Jelas ini mencerminkan perilaku penduduk yang tidak bertanggung jawab serta intitusi terkait yang kewalahan mengatasi laju pertumbuhan sampah. Kota yang makin cantik dan terus membangun sayangnya masih terkesan tergopoh-gopoh mengimbangi laju perkembangan penduduk dengan permasalahan sampah khususnya.

    Masyarakat perkotaan yang lebih dari 80% penduduknya terpelajar dan melek budaya harusnya bisa diberdayakan bagi kemajuan Merauke. Kita semua menyadari bahwa pemerintah Merauke yang baru sudah menganggarkan dan memikirkan bagaimana mengatasi permasalahan sampah di Merauke. Namun bagi kita setiap elemen masyarakat yang memiliki ide dan gagasan hendaklah bisa saling support agar bisa membantu pemerintah memberi solusi permasalahan sampah tersebut. Dialog di RRI tentang sampah berkali kali telah dilakukan sejak hari Senin 11 Juli 2011, hingga Senin 7 November 2011 menggambarkan betapa keluhan masyarakat sudah semakin memuncak. Adakah setiap kita yang peduli dan memiliki tanggung jawab langsung, tergerak untuk mengupayakan berbagai alternatif penanganannya?

    Mewujudkan Kampung/Kelurahan Percontohan

    Mengusahakan adanya kampung percontohan bisa dengan menyelengarakan lomba kebersihan dan keindahan lingkungan antar RT, mengoptimalkan peran PKK, kelompok pengajian, antar masjid atau gereja. Dengan demikian setiap warga akan bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungannya. Kalaupun ada orang yang membuang sampah sembarangan bisa diketahui dan segera dilaporkan untuk mendapat pembinaan atau sangsi.

    Studi Banding

    Di kota-kota besar ataupun yang tengah tumbuh di daerah lain, ada yang telah membuktikan bisa mengelola permasalahan sampah dan bisa dijadikan tempat studi banding. Salah satu contoh di dusun Sukunan kabupaten Sleman Yogyakarta. Di sana kita lihat bagaimana penduduk sukunan berangkat dari awal terkena dampak pembuangan sampah sembarangan (terdokumentasikan) hingga tumbuh kesadaran dan berhasil menangani permasalahan sampah. Bahkan ada kampung yang memiliki bank sampah. Menabung bukan dari uang tetapi dari sampah yang bisa didaur ulang yang dikumpulkan dan dinilai dengan uang.

    Mengatasi dari hulu hingga hilir

    Secara umum sumber sampah dibagi menjadi dua. Dari rumah tangga dan dari industri baik kecil ataupun menengah dan besar termasuk pedagang kaki lima (PKL) dan pertokoan atau rumah sakit. Untuk Industri tentu sudah menerapkan amdal, tinggal bagaimana pengawasannya berjalan atau tidak. Untuk pertokoan dan PKL dapat (sudah) diterbitkan aturan pengelolaan sampah yang dihasilkan dengan membayar retribusi tiap bulannya. Namun bisa jadi sampah yang “diretribusikan” tidak sebanyak sampah sesungguhnya. Al hasil di samping sampah yang rutin diambil oleh petugas kebersihan untuk dibawa ke TPA, masih banyak lagi sampah yang tidak sempat terambil sehingga dibuang sembarang.

    Alangkah baiknya kalau dari sumber asal sampah sudah bisa dipilah-pisahkan. Mana yang bisa didaur ulang, mana yang kaca, plastik, kaleng/logam atau kertas. Sehingga pemulungpun mudah mengambilnya. Mana pula sampah yang organik yang bisa membusuk dan menimbulkan bau tak sedap. Apalagi kalau bisa menjadikan sampah yang organik menjadi kompos, tentu menjadi sangat berguna bahkan bernilai rupiyah kembali.

    Mengupayakan Zero Waste dari Rumah Tangga

    Laju pertumbuhan penduduk kota Merauke sangat cepat, terlihat dengan munculnya komplek-komplek perumahan baru. Serta ratusan atau ribuan rumah sewa yang hampir tidak pernah kosong. Sayangnya tidak disediakan fasilitas umum, khususnya untuk mengelola sampah. Bahkan terkadang lahan yang ada dihabiskan ditutup dengan bangunan tambahan bersemen. Kalau setiap kita memiliki kesadaran dan kedisiplinan untuk bisa memisahkan jenis-jenis sampah yang ada maka “zero waste” bisa terwujudkan paling tidak bisa diminimalisir. Sampah organik bisa dikembalikan ke tanah tidak lebih dari seminggu sampah sudah bisa dimanfaakan untuk pupuk atau media tanam. Sampah kering bisa dibakar. Membakar sampah meskipun mengasilkan CO2 yang terbawa ke udara lebih baik dari pada membuangnya menjadi polusi tanah, merusak keindahan bahkan menjadi sumber/sarang penyakit dan sumber bencana seperti banjir misalnya. Merubah perilaku, kharakter (watak) perlu kesungguhan dan waktu yang lama. Perlu sosialisasi dan dorongan serta contoh yang terus menerus. Tidak semudah mengobati batuk (watuk) yang cukup dengan tiga hari resep dokter.

    Kalau daerah lain bisa mewujudkannya, kita juga pasti bisa... Siapkah kita-kita menjadi pionir  penggerak dan pelaku Zero Waste Home sehingga Merauke bersih?

    *) Penulis adalah Staf Pengajar SMK Negeri 3 Merauke, Alumni MST UGM
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Artikel “Zero Waste untuk Merauke Bersih” Karya Sutadi (FAM Jerman) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top