• Info Terkini

    Monday, November 5, 2012

    Ulasan Cerpen “Cahaya Terang di Atas Langit Banda Aceh” Karya Muhammad Riyan Andrianus (FAM Jakarta)

    Cerpen “Cahaya Terang di Atas Langit Banda Aceh” bercerita tentang seorang putri duyung yang bernama Sirenia. Sirenia adalah salah seorang putri duyung dari klan Dugong Ibandae yang tinggal di laut Aceh dan sekitar laut Pulau Weh. Pada usia sang putri ke-48 tahun (tahun duyung) biasanya diadakan suatu upacara sabda langit. Upacara ini khusus diadakan untuk putri duyung yang boleh meminta apa saja kepada Dewa Laut memalui ayahnya (pemimpin klan).

    Ada tiga putri duyung yang mengikuti upacara sabda langit dari tiga klan, yaitu Cartini dari klan Javaqua, Martha dari klan Floresium dan Sirenia dari klan Dugongibandae. Pada upacara tersebut, Cartini meminta Pearla Pinctada yaitu sebuah mutiara langka yang mistis dan dapat memenuhi segala keinginannya. Martha menginginkan kastil bawah laut dengan lima puluh dayang-dayang yang siap melayaninya. Sementara Sirenia hanya minta dia dapat mencintai manusia.

    Keinginan Sirenia terpenuhi. Dia bertemu Saviens, seorang pemuda kesepian yang sangat mengagumi laut. Saviens yang kemudian mengidap penyakit Splenocerebellar Atrophy suatu penyakit yang menyerang saraf motorik yang berada di otak. Pada akhir pertemuannya dengan Saviens, Sirenia membawanya ke tepi laut, dini hari 26 Desember 2004. Saviens batuk-batuk megeluarkan darah dan Sirenia menangis, kakinya menyentuh air dan berubah menjadi ekor. Perlahan, tubuhnya memudar lenyap menjelma menjadi cahaya dan dia tidak bisa merasakan apapun.

    Ayah Sirenia, Akhelous bersedih dan berduka. Semua duyung menangis memperingati kematian Sirenia. Laut bergolak, Ayah Sirenia menyusul anaknya, mati. Laut semakin kalut, ribuan duyung menangis dan tiba-tiba makhluk besar dengan ujung kepala tak terlihat menghentakkan tongkat besarnya hingga tebing-tebing laut runtuh dan terjadilah longsor bawah laut. Kemudian ombak bergulung-gulung menghempas pantai, melahap apapun yang ada di depannya. Tsunami menerjang Kota Banda Aceh. Sirenia yang kini berupa cahaya mencari Saviens, berharap pemuda yang dicintainya itu masih hidup. Benar! Dia menemukan pemuda itu berdiri tegak dan sehat di tepi pantai. Apakah dia sudah menggantikan nyawanya untuk kehidupan Saviens?

    Sirenia bingung ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa Saviens adalah boneka dari duyung lainnya. Duyung yang menyeringai layak iblis, yang di lehernya ada bias cahaya yang bersumber dari sebuah kalung mutiara. Siapa dia? Dialah Kar. Ataukah Cartini?

    Cerita “Cahaya Terang di Atas Langit Banda Aceh” adalah cerita imajinatif yang ditulis pengarang. Cerita yang mempunyai daya imajinasi tinggi dan sangat menarik, dengan nama-nama tokoh yang unik sehingga membuat pembaca selalu ingat. Kemudian, penulis juga cukup cerdas menceritakan kehidupan duyung dan membaginya kepada beberapa klan dan menguraikannya satu persatu. Tidak semua penulis mampu menulis fiksi seperti ini, karena membutuhkan daya imajinasi yang tinggi.

    Kelemahan tentu ada ditemui dalam setiap tulisan. Cerita “Cahaya Terang di Atas Langit Banda Aceh” tidak dapat disebut sebagai sebuah cerpen, mengingat jumlah halaman yang mencapai 10 lembar kertas A4. Kemudian, beberapa hal yang perlu menjadi perhatian:

    1. Tulisan  tidak memiliki paragraf

    2. Ending cerita membingungkan. Apakah tokoh ‘aku’ dalam penutup cerita adalah Sirenia atau Saviens? Yang membaca tulisan di dalam gua itu siapa? Kemudian yang berjanji ingin bertemu dengan perempuan bernama Kar itu siapa?

    3. Perempuan itu (Kar) ditulis pergelangan tangan yang menyentuh air, seharusnya  pergelangan kaki yang berubah menjadi ekor duyung.

    4. Duyung, adalah ikan. Sehingga digunakan kata seekor duyung, bukan seorang duyung. Kutipan kalimat “Namaku Siren, Sirenia. Oh, aku lupa memberitahumu, aku bukan manusia. Aku seorang duyung.”

    5. Penulisan kata asing ditulis bercetak miring seperti klan.

    6. Perhatikan kembali penggunaan huruf kapital. Penulisan “Laut Aceh” yang sebenarnya adalah “laut Aceh”.

    7. Hilangkan penggunaan titik koma (;) seperti dalam kalimat “klanku, klan Dungongibandae; klan Javaqua; dan klan Floresium”. Cukup menggunakan koma (,) saja.

    8. Nilai pembelajaran dari cerita ini bersifat tersembunyi. Perlu kecerdasan untuk dapat mencernanya menjadi sebuah pembelajaran. Sehingga cerita ini hanya sebuah fiksi imajinatif seperti layaknya dongeng.

    9. Dan, ini bukan cerita bersifat dakwah bil qalam. Tapi, kita diberi kemerdekaan untuk berimajinatif.

    Untuk penulis, teruslah menulis dan menciptakan imajinasi baru yang lebih luas. Jangan lupa, tulis cerita yang jelas nilai-nilainya sehingga mudah dicerna oleh pembaca ‘awam’ sekalipun.

    Terus berkarya, Semangat! Salam karya, salam santun.

    TIM FAM PUBLISHING

    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TIM FAM INDONESIA]

    Cahaya Terang di Atas Langit Kota Banda Aceh

    Karya Muhammad Riyan Andrianus

    IDFAM1026M Anggota FAM Jakarta

    “Kemarin dinihari, seberkas cahaya terang terbang di atas langit kota Banda Aceh dengan kecepatan rata-rata lima puluh kilometer per jam. Cahaya ini diduga berasal dari suatu tempat di pantai Banda Aceh. Sampai sekarang pun, tidak ada informasi yang pasti mengenai cahaya ini atau pemikiran tentang apakah sebenarnya ini sebuah pertanda alam, peringatan, atau cahaya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan semua ini. Hal ini masih menyimpan misteri.”

    Aku menggelengkan kepala melihat begitu banyaknya reporter dari berbagai stasiun televisi melaporkan berita secara langsung dari pantai Banda Aceh. Aku mengerti benar bagaimana rasanya sekaligus melihat, mendengar, membaui, meraba, dan mengecap kesedihan. Tapi semuanya sudah berakhir. Sebenarnya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi oleh manusia-manusia ini. Kini, aku satu-satunya yang seharusnya khawatir. Bisakah aku menemukannya? Entahlah. Kata-kata salah satu dari mereka ada benarnya juga: banyak hal di dunia ini yang masih menyimpan misteri.

    Namaku Siren. Sirenia. Oh, aku lupa memberitahumu, aku bukan manusia. Aku seorang duyung.

    Jika kalian manusia, kalian tidak akan tahu kalau sebenarnya bangsa duyung bekerja dan hidup berdampingan dengan kalian. Bangsa kami sangat berhati-hati dan tidak bodoh. Kami dapat bekerja di bidang apapun dengan kualitas sama seperti kalian, kecuali yang berhubungan dengan air. Kami tidak mau jati diri kami diketahui manusia karena setiap kali terkena air, kaki kami akan berubah menjadi ekor ikan.

    Bangsa kami terbagi atas dua klan. Klan Bagian Barat bermukim di wilayah laut Eropa, Amerika, dan sekitarnya. Klan Bagian Timur bermukim di sekitar Asia dan Australia. Dua klan tersebut terbagi lagi ke dalam puluhan klan yang tersebar di berbagai belahan laut dan samudera. Klanku, klan Dugongibandae, bermukim di Laut Aceh dan sekitar Laut Pulau Weh.

    Di setiap klan akan ada satu pemimpin. Pemimpin tersebut adalah duyung sakti. Hanya pemimpin duyung yang dapat berkomunikasi dengan dewa laut. Jika seorang pemimpin melahirkan satu anak perempuan, maka duyung perempuan inilah yang disebut putri duyung. Putri duyung adalah anggota klan yang paling dijaga dan disayangi. Ketika seorang putri duyung berumur 48 tahun (menurut perhitungan Tahun Duyung), sudah menjadi tradisi bahwa dia dapat mengajukan satu permintaan apapun pada Dewa Laut melalui ayahnya (pemimpin klan) dan permintaannya itu akan dikabulkan. Tradisi itu akan dilakukan setiap tahun dalam upacara Sabdalangit.

    Aku seorang putri duyung. Ayahku bernama Akhelous. Dia adalah pemimpin klan Dugongibandae.

    Hari itu tiga klan berkumpul di bawah Laut Aceh untuk merayakan upacara Sabdalangit: klanku, klan Dugongibandae; klan Javaqua; dan klan Floresium. Tahun ini ada tiga putri duyung dari Klan Bagian Timur yang berusia 48 tahun, salah satunya aku.

    “Putriku, Cartini.” Panggil ayahnya. Cartini segera menghampiri ayahnya. Duyung-duyung jantan berdecak kagum ketika putri duyung cantik dari klan Javaqua itu berlutut di hadapan ayahnya dan dua pemimpin klan lainnya.

    Sebenarnya catatan sejarah mengenai hubungan klan kami dengan klan Javaqua tidaklah bagus. Dari dulu, kami seringkali bersitegang. Dulu sekali, klan Javaqua berkeinginan menempati Laut Aceh sebagai tempat tinggal mereka. Mereka menginginkannya karena Laut Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa. Selain itu, lokasinya strategis untuk melakukan perdagangan dengan sesama duyung ataupun dengan manusia. Setiap duyung yang ingin menjadi kaya, cukup menangkap hasil lautnya kemudian menjualnya kepada manusia. Berdasarkan hal itulah, muncul kecurangan-kecurangan mereka untuk menjajah tempat kami. Tapi kelicikan mereka dikalahkan oleh kecerdasan kami. Dalam hasil perundingan di Konferensi Duyung Internasional kami dinyatakan sebagai penduduk sah Laut Aceh.

    Setelah itu keadaan semakin parah. Klan Javaqua tak pernah mau lagi melakukan kerja sama apapun dengan klan kami. Tidak cukup sampai disitu. Klan mereka sering melakukan adu-domba dan menghasut klan-klan lainnya untuk memusuhi kami. Perang dingin tersebut berlangsung sampai beberapa tahun terakhir. Sampai kemudian klan Javaqua dipimpin oleh Zosroningrat, Ayah Cartini. Selama kepemimpinannya, hubungan antar klan semakin membaik.

    “Tahun ini kau telah menginjak usia 48,” ucap Zosroningrat. “Kini Dewa Laut akan memberkatimu dan kau akan resmi menjadi duyung dewasa. Kau berhak memperoleh apa yang kauinginkan sebagai permulaannya, sebutkanlah putriku.”

    Ekspresi Cartini datar ketika mengatakan, “Aku ingin memiliki Pearla Pinctada.”

    Aku terkesiap. Pearla Pinctada adalah mutiara laut yang hanya ada di dasar paling dalam Samudera Hindia. Aku pernah mendengar bahwa mutiara tersebut menyimpan kekuatan mistis yang luar biasa. Oleh bangsa kami, Pearla Pinctada diyakini dapat membawa keberuntungan dan kesejahteraan bagi yang memilikinya.

    Tak berapa lama tiba-tiba muncul sebuah mutiara laut dengan sisi yang mengeluarkan cahaya keperakan. Pearla Pinctada. Mutiara langka itu melayang di hadapan Cartini yang menerimanya dengan wajah berseri-seri. Riuh suara para duyung bertepuk tangan dan berdecak  kagum.

    “Putriku, Martha Tiahahu.” Suara berat pemimpin klan Floresium membuat suasana tenang kembali dalam sekejap. Putri duyung yang dipanggil itu maju dengan langkah tegak dan sedikit mendongak. Klan Floresium merupakan klan duyung tertua di bagian timur sehingga mereka disegani.

    “Kau, putri dari klan Floresium yang terhormat, tahun ini telah memasuki usia 48. Aku, dengan bantuan Dewa Langit, akan mengabulkan satu permintaanmu sebagai tanda pemberkatan. Sebutkanlah apa keinginanmu.”

    Martha, yang saat itu sedang berlutut, dengan mantap berkata, “Aku ingin memiliki kastil (bawah laut) yang indah dan megah beserta lima puluh pelayan yang setia menjagaku, merawatku, dan melakukan apapun yang aku perintahkan tanpa sedikitpun melakukan kesalahan dan tanpa sedetik pun merasa lelah.”

    Belum sempat putri duyung itu menyelesaikan kalimatnya, seluruh duyung yang hadir telah bertepuk tangan. Bagi duyung biasa, merupakan suatu kehormatan untuk menjadi pelayan seorang putri.

    Pemimpin klan Floresium batuk-batuk. Mungkin untuk mendapatkan perhatian kembali. “Baik, Dewa Laut baru saja memberitahuku bahwa saat kau kembali ke Laut Flores Utara, kau akan mendapati kastil impianmu itu telah berdiri megah lengkap dengan duyung-duyung pekerja terbaik dari seluruh dunia khusus untuk melayanimu, putri dari klan Floresium yang terhormat.”

    Kembali terdengar tepuk tangan dari duyung-duyung yang hadir. Martha dan ayahnya menggerak-gerakkan ekor dengan bangga.

    “Putriku, Sirenia.” Ayah memanggilku dengan lembut. Kini giliranku. Aku berjalan dan mulai merasa gugup. Aku tidak tahu apa yang duyung-duyung tersebut pikirkan tentangku. Apakah cantik seperti Cartini? Atau anggun seperti Martha? Ketika sampai di altar, aku berlutut di hadapan ketiga pimpinan sakti itu. “Tahun ini kau telah berumur 48 tahun. Sebenarnya, Ayah sangat sedih menyadari hal itu karena itu berarti kau telah cukup umur untuk menentukan hal-hal yang akan kauperbuat kelak. Ayah sangat menyayangimu lebih dari siapapun. Tapi sekarang Ayah sudah tua—“ Ayah berhenti sejenak untuk mengambil napas dengan insangnya. Satu bukti bahwa dia memang sudah setua yang diucapkannya.

    “Umur Ayah sudah 145 tahun. Mungkin hanya soal waktu sampai Ayah pergi untuk selamanya dan tidak dapat lagi menemanimu. Oleh karena itu, saat ini Ayah ingin sekali membahagiakanmu. Katakanlah apa keinginanmu.”  Tiba-tiba aku merasa suasana menjadi amat sakral dan mengharukan. Aku dapat mendengar beberapa duyung terisak sedih mendengar kata-kata ayahku.

    “Ayah. A-aku… aku ingin mencintai seorang manusia.”

    Suasana hening. Kali ini tidak ada yang bertepuk tangan. Enam puluh detik mereka menatapku dengan tatapan seolah-olah aku ini hantu.

    “Apa! Kematian—?” tiba-tiba Ayah memekik pelan. Meskipun begitu aku yakin suaranya bisa didengar oleh seluruh duyung yang hadir. Sepertinya dia sedang berkomunikasi dengan Dewa Laut.

    Sebelum semuanya menjadi lebih parah, tanpa menunggu respon selanjutnya aku langsung pergi meninggalkan upacara itu. Berenang sampai ke daratan kemudian berlari sekencang mungkin menggunakan sepasang kaki yang muncul menggantikan ekor.

    “Kamu kenapa, Ren? Nggak biasanya kayak gini. Sakit?” Saviens menyadarkanku dari lamunan.

    “Nggak. Lagi ingat sesuatu aja.” Mana mungkin aku bilang ke Saviens kalau aku ini putri duyung dan beberapa bulan yang lalu aku mengikuti upacara Sabdalangit. Apalagi…

    “Kamu lagi mikirin laut, ya?” tanyanya tiba-tiba. Aku gelagapan. Jangan-jangan dia punya kekuatan untuk membaca pikiran manusia. Tapi aku kan bukan manusia, duyung lebih tepatnya.

    “Eh? A-aku…”

    “Aku becanda tau,” ledek Saviens. “Habis kamu ngeliat keluar jendela terus sih. Kalau dari sini, mana bisa ngeliat laut.” Mendengar kata-katanya aku langsung lega. Saviens mungkin hanya menebak karena aku dan dia sangat suka dengan laut.

    Ketika aku diperbolehkan untuk berbaur dengan manusia, Saviens adalah orang pertama yang aku kenal. Saat itu usiaku masih dua puluh tahun dan aku sama sekali takut dengan manusia. Aku hanya berani naik ke daratan jika tidak ada manusia yang berada di pantai.

    Sampai suatu hari aku baru saja akan kembali ke laut saat aku melihat Saviens tertidur dengan pulas di atas pasir. Aku tidak berniat membangunkannya tapi saat itu aku berpikir dia sudah mati sehingga aku berteriak sekencang-kencangnya. Saat dia terbangun..

    “Kamu siapa?” tanyanya.

    “A-aku Siren,” jawabku gugup. “Apa yang kaulakukan di sini?”

    “Aku.. aku tadi bolos sekolah dan datang ke sini. Saat terbangun tiba-tiba sudah ada kamu,” jawabnya jujur. “Sebenarnya, aku sering ke sini. Aku suka laut. Dia adalah sahabatku yang paling baik. Dia selalu mendengarkan tanpa menyela dan selalu memberi tanpa harus kuberi.”

    Aku tidak mengerti apa yang diucapkan anak ini. “Apa maksudmu?”

    “Laut itu adalah pendengar yang lebih arif daripada manusia. Dia selalu bisa menampung semua cerita-ceritaku tanpa memotong, mengkritik atau mencemooh. Selain itu, dia juga selalu memberiku sesuatu walaupun aku tak memberinya apa-apa.”

    “Apa itu?”

    “Keindahan.”

    Aku terdiam. Ada sesuatu di dalam hatiku yang bergetar. Ketika aku sadar bahwa yang ada dihadapanku sekarang adalah anak manusia, aku bergegas meninggalkannya.

    “T-tunggu!” Anak ini menggenggam tanganku. “Kalau kamu mau menjadi temanku, aku janji tidak akan sering bolos sekolah dan datang ke sini hanya untuk melihat laut lagi.”

    “Memangnya kenapa?” tanyaku polos.

    “Karena.. aku sudah menemukan sesuatu yang lebih indah dari laut.”

    Begitulah. Sejak saat itu aku sering bertemu Saviens di pantai dan karena dialah aku tidak lagi takut dengan manusia. Dia selalu bisa menghiburku sehingga bersamanya selalu membuat hatiku menjadi senang. Dia tidak pernah mengajariku cara untuk bersedih meskipun kesedihan sudah menyapanya sejak kecil. Ya, Saviens sudah ditinggal mati orangtuanya dari kecil. Aku tak pernah menanyakan perihal keluarganya lebih jauh lagi karena aku pun tidak mau keluargaku ditanyai olehnya. Tidak mungkin aku bilang padanya kalau keluargaku adalah duyung dan tinggal di dalam laut.

    Sudah sebulan ini Saviens tidak kuliah. Dia bilang dia terkena penyakit Splenocerebellar Atrophy[1]. Aku tak tahu penyakit seperti itu ada di bangsa manusia. Dia bilang penyakit itu sangat langka dan mematikan. Saat itu aku tidak tahu bagaimana bisa penyakit itu menyebabkan kematian karena sampai detik itu Saviens masih terlihat baik-baik saja. Walaupun begitu aku selalu menyempatkan untuk menjenguknya setelah pulang kuliah. Hal itu aku lakukan karena…

    “Ayo kita ke laut!” tiba-tiba Saviens mengatakan kalimat itu sambil tersenyum kepadaku.

    Anak ini! Bagaimana bisa aku menolaknya dengan senyuman seperti itu. Aku mengangguk setuju.

    “Janji?” Dia menjulurkan jari kelingkingnya.

    “Janji.” Aku menyatukan jari kelingkingku dengan jari kelingkingnya.

    Kami tertawa bersama. Saat itu aku pikir bulir-bulir pasir waktu akan memberikan kesembuhan untuknya. Tapi memang Tuhan lebih berkuasa daripada Dewa Waktu.

    ***

    Dinihari, 26 Desember 2004.

    Setelah mendengar bahwa umur Saviens tak lama lagi, aku langsung membawanya ke sini. Pantai Laut Aceh. Saviens yang terbaring lemah di kursi roda dan aku yang berlutut di sampingnya. Splenocerebellar Atrophy adalah makhluk terkutuk yang menyebabkan semua ini. Saviens mulai terbatuk-batuk dan mulutnya mengeluarkan darah. Aku gemetar saat mencoba membersihkan darah yang mengucur deras dari mulut Saviens. Aku saja yang gantikan, aku saja. Tolong jangan renggut Saviens-ku, Tuhan, aku berdoa. Aku tidak kuasa untuk menahan tangis dan akhirnya air mataku pun tumpah.

    “Aku cinta kamu, Vi.” Aku memeluk Saviens kuat-kuat dan menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Seketika aku merasakan sesuatu perubahan pada kedua kakiku. Air! Aku menyentuh air! Saviens menatap kakiku. Wajahnya terlihat bingung. Ekor ikan berwarna biru laut baru saja muncul menggantikan tempat dimana seharusnya kakiku berada.

    Tiba-tiba ragaku memudar secara perlahan menjadi seberkas cahaya. Rasanya seperti dibawa pusaran yang dahsyat. Pusaran ini membawaku menjauh dari Saviens. Melayang. Jauh. Jauh. Lebih jauh. Dan sampai akhirnya aku tidak dapat melihatnya lagi.

    ***

    “Hari ini kita telah kehilangan seorang putri yang luar biasa.” Suara Ayah tercekat. Dia melanjutkan, “dia telah membuktikan kesetiaan yang luar biasa dengan mengorbankan nyawanya untuk seorang manusia. Sekarang, berkat pengorbanannya, mungkin dia sudah menjadi cahaya terang yang menghuni surga. Sejak upacara Sabdalangit, dia tidak pernah kembali lagi ke klan. Dia tidak pernah tahu bahwa dia ditakdirkan untuk mati jika benar-benar ingin mencintai seorang manusia. Untuk itu, mari kita semua mengenang semua kebaikan yang telah dilakukan oleh Putriku tercinta, Sirenia.”

    Dimulailah upacara kematian yang dihadiri semua duyung dari Klan Bagian Timur. Pertama-tama para duyung berdoa. Kemudian salah satu dari mereka maju sebagai perwakilan.

    “Mari kita mengingat sekilas tentang Putri Sirenia. Dari kecil, Putri Sirenia adalah seorang duyung yang pemalu namun baik hati. Meskipun seorang putri, dia sama sekali tak pernah bersikap sombong. Dia selalu bersedia membantu setiap duyung yang sedang kesusahan. Dibandingkan dengan putri-putri duyung lainnya, menurutku, dialah yang paling tulus dalam menebar kebaikan. Hal itu membuatnya sangat terkenal di kalangan duyung Bagian Timur. Mungkin satu-satunya yang tidak menyadari hal itu adalah dirinya sendiri. Oleh karena itulah, aku, mewakili duyung-duyung tersebut sangat kehilangan atas kepergiannya.”

    Aku tertegun. Sekarang aku tahu isi hati duyung-duyung tersebut. Jika seberkas cahaya bisa menangis, mungkin aku akan melakukan hal itu sekarang.

    Ayah yang pertama kali menangis. Lalu duyung-duyung klanku ikut menangis. Kemudian semua duyung yang menghadiri upacara kematianku menangis. Tangisan mereka membuat Laut Aceh bergejolak. Air laut pasang bercampur menjadi satu dengan air mata kesedihan puluhan ribu duyung tersebut sehingga menimbulkan arus yang sangat besar dari dalam laut.

    Setelah itu keadaan semakin kacau.

    Ayah yang tiba-tiba ambruk..

    Salah satu dari mereka yang mengatakan bahwa Ayah telah mati..

    Jerit dan tangisan para duyung..

    “Ayaaah!” Aku berteriak tapi tak satu duyung pun mendengarku. Bahkan, aku tidak bisa mendengar teriakanku sendiri.

    Di tengah segala kekalutan itu aku melihatnya! Makhluk tinggi besar dengan ujung kepala tak terlihat yang tiba-tiba muncul entah-dari-mana. Makhluk itu membawa semacam tongkat dengan tangan kirinya. Meskipun tak dapat melihat wajahnya, aku dapat memastikan bahwa dia benar-benar marah dari caranya menggenggam tongkat tersebut. Anehnya, duyung-duyung yang lain sepertinya tak dapat melihatnya. Tunggu! Apakah dia Dewa Laut yang sering disebut-sebut Ayah? Belum sempat aku berpikir tiba-tiba dia menghentakkan tongkatnya ke dasar laut sehingga terjadi retakan-retakan lempengan di tempat tersebut. Satu detik setelahnya tebing-tebing laut mulai runtuh dengan gerakan tegak lurus dari permukaan laut. Diperparah dengan arus laut yang bergejolak akibat tangisan para duyung,  timbullah tanah longsor bawah laut.

    Aku melayang ke atas.

    Kemudian melihat sesuatu yang mengerikan: hempasan ombak mahadahsyat menggulung-gulung siap melahap apapun yang ada di depannya. Disampingnya, aku melihat sebuah wajah tanpa hidung menangis.

    ***

    Aku masih terus mencari. Sudut-sudut terkecil Kota Banda Aceh yang telah porak-poranda telah kutelusuri. Tapi aku tetap tak dapat menemukannya. Di sinilah harapan terakhirku. Semoga dia masih hidup. Semoga. Sementara itu, suara-suara lirih reporter televisi masih saja terdengar.

    “Bagi Anda yang baru saja menyaksikan, sekali lagi kami memberitahu bahwa kemarin, 26 Desember 2004, tsunami besar akibat gempa berkekuatan 8,9 Skala Richter telah menghantam Kota Banda Aceh. Ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam itu pun porak-poranda. Ratusan ribu orang meninggal dunia. Ratusan ribu lainnya dinyatakan hilang…”

    Saviens! Ya, itu dia! Dia masih hidup. Terima kasih Tuhan. Terima kasih telah menyelamatkannya.

    Aku bisa melihat Saviens berdiri sendirian di tepi pantai yang sepi. Berdiri dengan tegak dan sehat tanpa kursi roda. Ada yang tak dapat kumengerti. Apakah dengan memberikan nyawaku untuknya telah membuat dia sembuh total dari penyakitnya? Selain itu, sedang apa dia di sini? Apa hanya kebetulan?

    Ah, lupakan. Aku harus fokus pada tujuanku ke sini. Aku harus membuatnya membaca tulisan itu.

    ***

    Kini aku berada di dalam sebuah gua yang diselimuti kegelapan. Di depanku, seberkas cahaya kecil berpendar. Cahaya misterius inilah yang membawaku ke sini. Apa yang ingin ditunjukkannya? Belum sempat aku berpikir lebih jauh, cahaya itu tiba-tiba berhenti pada sebuah dinding. Dengan agak takut aku mendekatinya. Aku kaget ketika tiba-tiba cahaya itu semakin lama semakin membesar menerangi ruangan. Ketika mataku sudah mulai terbiasa, aku melihat sesuatu yang nampaknya seperti surat tertulis di dinding gua tersebut.

    Aku membacanya perlahan.

    Untuk Saviens. Jika kamu yang membaca tulisan ini sekarang, kemungkinan besar aku sudah mati.  Jika kamu tak cukup tahu siapa aku, mungkin saat ini aku telah menunjukkan jati diriku yang sebenarnya kepadamu. Bahwa aku adalah seorang duyung. Itulah permasalahannya. Seorang manusia yang telah melihat duyung dalam wujud aslinya akan terhapus ingatannya yang berhubungan dengan duyung tersebut. Ataupun jika duyung tersebut mati. Oleh karena itu, mungkin sekarang kamu tak bisa mengingatku maupun cintaku kepadamu. Ah, semua ini memang salahku. Duyung memang tak seharusnya mencintai manusia. Yang perlu kamu tahu, aku sudah mencoba membunuh perasaan itu berkali-kali. Tapi dia bukan makhluk hidup. Dia tidak bisa dibunuh. Kau tahu? Aku juga sudah berusaha memendamnya. Tapi rupanya dia benih. Benih yang tetap akan tumbuh meskipun kupendam dan tak kurawat. Ah, satu dari banyak hal yang membuatku tidak pernah mengerti akan arti cinta. Untukku, tak ada bedanya antara kebahagiaan dan kesedihan jika yang manapun menghasilkan keajaiban. Bagiku, membuatmu tetap hidup dan tersenyum saja sudah cukup.

    Siren.

    Ketika aku selesai membacanya, cahaya yang bersinar terang itu padam.

    Tiba-tiba aku teringat janjiku dengan wanita itu. Aku berlari keluar dari gua dan mencoba kembali ke sisi pantai semula tempat seharusnya aku bertemu dengannya. Belum sempat aku ke sana, tiba-tiba dia muncul entah dari mana.

    “Hai,” sapanya padaku.

    “Hai, Kar, hari ini kamu benar-benar cantik.”

    “Terima kasih.”

    “Untuk pujianku terhadapmu?”

    “Salah satunya. Terima kasih atas segalanya. Sudah berpura-pura sakit untukku. Sudah mau mengikuti segala perintahku. Sudah mau membunuhnya untukku.” Kar tertawa. “Rupanya sangat mudah mempermainkan perasaan seorang putri yang lemah. Dan begitu segalanya berjalan sesuai rencana, aku tinggal mengatur bagaimana caranya agar kematian tua bangka pada upacara itu terlihat sangat natural dan dramatis.”

    Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya.

    “Memang aku tak menyangka efek kematiannya sampai membuat Dewa Laut marah. Tapi yang terpenting sekarang klan Dugongibandae telah hancur. Kini, akan sangat mudah untuk menguasai dan mengambil alih tempat ini.” Wanita ini mulai menyeringai jahat. Kecantikannya hilang seketika.

    Tiba-tiba dia mendekati laut dan memasukkan pergelangan tangannya ke air. Aku tak bisa memercayai penglihatanku ketika kaki wanita itu secara berangsur-angsur berubah menjadi ekor ikan.

    Kar tertawa mengerikan sebelum berkata, “Terima kasih telah menjadi bonekaku, Saviens. Siren pasti akan senang di surga.”

    “Tunggu! Siren? Sebenarnya siapa dia? Dan kamu--! Duyung?”

    Tak ada jawaban. Kar hanya menyeringai jahat. Iblis. Dia bukan duyung. Dia iblis. Hal terakhir yang bisa kuingat adalah seberkas cahaya. Tidak sama dengan yang tadi. Cahaya ini berwarna keperakan dan berasal dari sebuah kalung mutiara yang tergantung di lehernya.

    [1] Sebuah penyakit yang menyerang persarafan motorik yang berada di otak

    Sumber gambar: google.com

    [www.famindonesia.com]

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Cahaya Terang di Atas Langit Banda Aceh” Karya Muhammad Riyan Andrianus (FAM Jakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top