• Info Terkini

    Monday, November 5, 2012

    Ulasan Puisi “Impian Dalam Mimpi” Karya Arif Hifzul (FAM Medan)

    Secara umum, suatu karya puisi disebut sebagai karya yang baik apabila unsur-unsur yang menjadi ciri sebuah puisi itu ada pada puisi yang ditulis oleh penulis. Ciri-ciri tersebut seperti menggunakan pilihan kata yang tepat, adanya unsur pencitraan, adanya pemadatan bahasa, adanya kata konkret, mengandung tema serta amanat. Herfanda dalam Aminuddin dkk., (2004:77) menjelaskan bahwa puisi yang bagus adalah puisi yang imajinatif yang dibangun dengan citraan yang indah, utuh dan konkret.

    Unsur-unsur puisi terdiri dari rangkaian ide atau pemikiran, imajinasi, irama, susunan kata, serta kepekaan rasa. Kesemua unsur ini haruslah ada dalam sebuah puisi. Dengan semua unsur penciptaan inilah sebuah puisi dibuat.

    Kekuatan sebuah ide. Ya, itulah yang semestinya menjadi sebuah patokan dasar bila kita sudah memutuskan untuk memulai sebuah tulisan. Ada sebuah niat, yaitu niat untuk mengabarkan kualitas imajinasi yang berkelindan bersama kepekaan perasaan dan ada pula sebuah ide yang kuat di mana keseluruhan tulisan yang akan dituangkan kemudian diikat olehnya sehingga jelas terbaca oleh pembaca sebagai penerima pesan dari si penulis, ide apa gerangan yang hendak disampaikan? Nah, pada konteks penerimaan pesan inilah letak pembeda antara puisi, sajak atau syair dengan karya sastra bercerita lainnya.

    Menakar ide sebuah puisi atau sajak ada kalanya tidak bisa didapat dalam sekali baca saja, di mana peran kepekaan pikiran dan keluasan imajinasi kadang kala dibutuhkan untuk memahami pesan dan ide yang hendak disampaikan si penulis. Namun, tentunya tidak selamanya proses penakaran ide itu jadi begitu rumit, ada juga saatnya kita cepat menangkapnya sejak baris kalimat pertama ataupun setelah membaca keseluruhan puisi. Contohnya pada Puisi IMPIAN  DALAM MIMPI ini.

    Terpampang dengan sangat jelas ide dan pesan yang hendak disampaikan oleh si penulis. Puisi ini sesuai sekali dengan realitas yang ada bahwa di dunia nyata saat ini, masalah sosial yang bermuara di jalanan terutama di kota-kota besar sudah sangat memprihatinkan. Banyak jiwa-jiwa yang belum mendapatkan nikmatnya kemerdekaan berperi kehidupan yang layak di sana. Permasalahan sosial ini hampir sama saja di seluruh kota-kota besar, sejak arus urbanisasi dari desa ke kota begitu menjadi-jadi. Namun begitu, mereka sesungguhnya adalah korban. Korban dari pergeseran budaya dan kecenderungan ekspansi ekonomi. Faktor kebutuhan serta budaya konsumerisme yang ditawarkan lewat berbagai media dan pertumbuhan pembangunan yang membutuhkan ekspansi besar-besaran ke seluruh pelosok mengakibatkan timbulnya masalah baru yaitu pengangguran yang tiba-tiba.

    Orang-orang desa ini kehilangan tanah dan pertanian yang biasanya menjadi mata pencahariannya. Sedangkan budaya konsumtif menggerogoti kehidupan mereka. Maka hilanglah kesederhanaan nan bersahaja itu sebagaimana ciri masyarakat pedesaan. Apatah lagi kemudian, kota bertumbuh bak kue raksasa menawarkan aroma nan sedap untuk memenuhi rasa keinginan, nafsu dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang kemudian ternyata malah mengkhianati orang-orang yang lugu ini, yang sejatinya tidak memiliki bekal apa-apa untuk menyokong persaingan kehidupan di perkotaan.

    Lalu, terjadilah ironi itu, ada pengangguran yang tiba-tiba. Maka ada kemiskinan yang menggejala pula. Disusul ancaman kelaparan, setelah itu kehilangan harga diri dan jati diri yang bermuara pada kehilangan kemerdekaan kehidupan. Awalnya timbul empati dan simpati kepada mereka. Namun, pergeseran nilai kembali terjadi. Tiba-tiba saja entah dimulai kapan, mengemis dan meminta-minta menjadi salah satu cabang dari pekerjaan. Maka hilanglah empati itu disusul oleh terlindasnya rasa simpati bersama debu dan angin kemudian berbalik menganggap bahwa kehadiran pengemis, peminta-minta, anak-anak jalanan adalah momok yang merusak tatanan kehidupan perkotaan.

    Puisi ini ditulis dengan mengambil sudut pandang sesama peminta-minta. Maka menjadi hal yang wajar bila kemudian disepanjang kalimatnya kita temukan berbagai ragam keluhan akan nasib yang tengah dirasakan. Dalam hal ini penulis bisa menempatkan dirinya dengan sangat pas dan mengena. Pemakaian EYD juga sudah bagus, selebihnya hanya pada penghalusan makna pada kata saja. Ada beberapa kata yang tidak pas tempatnya dan menjadi ambigu bila dipadu dengan kalimat berikutnya. Penulis disarankan untuk lebih memperkaya kosa kata sehingga enak dibaca bila diletakkan dalam kesatuan kalimat.

    Namun, ada hal yang rasanya mengganggu ketika ternyata puisi ini ditulis dalam satu kesatuan bait. Kita dipaksa untuk membaca cepat, padahal pesan-pesan moral yang dikandungnya membutuhkan perenungan untuk mendapatkan persetujuan dari nurani pembaca. Gaya penulisan seperti ini biasanya terdapat dalam epos atau balada di mana memang dibutuhkan kondisi aura yang menghadirkan perasaan semangat dalam tiap kata dan kalimatnya. Namun, puisi ini berbeda. Perasaan kita menjadi plin plan menanggapi maksud yang hendak disampaikan penulis. Ada baiknya bila dipenggal dalam beberapa bait, sehingga kita bisa berhenti sejenak sambil memberi kesempatan kepada kepala untuk mengangguk-angguk atau menggeleng-geleng.

    Penulisan sebuah puisi memang membutuhkan kreativitas dan imajinasi yang tinggi sehingga dihasilkan karya yang berkualitas dan karya sastra penuh makna. Jadilah penyair yang berkonsep dengan cara berlatih keras, menulis, menulis dan menulis…!

    Salam santun, salam karya !

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TIM FAM INDONESIA]

    IMPIAN  DALAM MIMPI

    Karya Arif Hifzul
    IDFAM865M Anggota FAM Medan

    Tahun ini seakan menunggu Dewa Matahari
    Memberi secercah harapan
    Di pagi yang hitam tak berkilau

    Anak-anak kecil merengek dipangkuan ibunya
    Meneteskan air mata penderitaan mereka
    Bagaimana mungkin aku bisa menghentikan jerit tangis mereka
    Sedang aku masih duduk bersila di sudut jalan raya
    Bersama kawan seperjuanganku
    Mengulurkan tangan kami
    Kepada orang yang mengasihi kami
    Menggadaikan nyawa kami
    Menggadaikan waktu kami
    Menggadaikan istri dan anak kami
    Demi sesuap nasi dan seonggok lauk
    Juga kebutuhan anak istri kami

    Disudut trotoar jalan raya kami teriak
    Bibir kami meronta dibalut penderitaan
    “Dimana kemerdekaan itu?”
    Kami tak pernah merasakannya
    “Apa kau sanggup melihat kami seperti ini?”
    Melihat banjir keringat kami tak bermuara
    Dari tubuh yang seakan sudah tak berharga
    “Apa kau sanggup mengabaikan tangan kami,
    Yang mengulur kepadamu?”
    “Bangkitlah dari sofa empukmu itu
    dan lihat kami dibalik kaca bening mobilmu itu”
    Dengarkan ratap penderitaan kami yang teramat sangat
    Dibalik kemerdekaan yang telah kau agung-agungkan

    Tahun ini kami tak butuh pemimpin
    Kami hanya butuh tangan-tangan yang membantu kami

    Bukan ini yang kami mau
    Bertahun-tahun kami tak diacuhkan dikampung kami sendiri
    Duduk bersila dengan segudang debu menempel dibaju kami
    Suara kendaraan yang memecahkan sunyi
    Menemani kami dibalik malam yang dingin
    Adakah orang yang membantu kami?

    Hanya dalam mimpi kami bahagia
    Merasakan kemerdekaan berpuluh-puluh tahun lamanya

    Sumber gambar: koran-jakarta.com

    [www.famindonesia.com]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Impian Dalam Mimpi” Karya Arif Hifzul (FAM Medan) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top