• Info Terkini

    Tuesday, November 13, 2012

    Ulasan Puisi “Sebatas Impian” Karya Desy Rohmawati (FAM Solo)

    Mimpi. Tak ada larangan bagi orang bermimpi. Bahkan banyak hal-hal besar yang berawal dari sebuah mimpi. Dulu orang pernah menghayal untuk dapat terbang bebas seperti burung di angkasa yang lepas tanpa batas. Berbagai usaha dan kegagalan datang dan pergi untuk mewujudkannya, hingga terciptalah berbagai media seperti yang kita saksikan hari ini, balon terbang, pesawat udara bahkan pesawat luar angkasa yang telah menembus batas atmosfir bumi juga sampai ke bulan untuk menjejakkan kaki. Kita tidak tahu bila kemajuan teknologi yang kita nikmati saat ini dianggap hal yang mustahil di zaman dulunya, telepon genggam yang dapat menghubungkan di mana saja pada orang-orang di berbagai tempat dan bisa tetap berkomunikasi tanpa kabel, jendela dunia yang mampu kita akses dengan mudah dari monitor, dan banyak hal-hal lainnya yang dulu dianggap mustahil namun menjadi suatu kenyataan berkat usaha dan akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia.

    Ya, hanya dengan ilmu pengetahuan yang kita gali semua impian bukan lagi sekadar angan-angan, sebagaimana Firman Allah:

    “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujaadilah: 11).

    Begitupun, “Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. ‘Thaahaa: 114)

    Ayat di atas menyadarkan kita betapa pentingnya kita sebagai makhluk ciptaanNya untuk terus belajar dan menuntut ilmu yang bermanfaat sampai kapan pun dan di mana pun. Agar apa yang pernah kita impikan dapat diraih dalam hidup yang diridhaiNya.

    Uraian di atas hanya sebagai umpan balik bagi kita untuk mengingat kembali bahwa hasrat dan keinginan hati bukan lagi sesuatu yang tak mungkin, sejauh kita tawakal dan berusaha mendapatkannya. Semua usaha yang kita lakukan, atas dasar niat baik, insya Allah menjadi ibadah dalam keseharian kita. Apapun hasil akhir yang kita peroleh jelas itulah yang terbaik yang ditakdikan untuk kita, sesungguhnya akan selalu ada hikmah atas semua catatan perjalan hidup yang kita temukan.

    Puisi ‘Sebatas Impian' ini boleh jadi kita anggap sebuah kerelaan menerima kenyataaan yang didapatkan. Namun bukan berarti menjadi sebuah penyesalan apalagi sempat melemahkan untuk menatap dan melangkahkan kaki ke depan.

    Untuk sebuah cermin waktu, puisi ini cukup jujur menggambarkan suatu kepedihan kala seseorang yang dianggap akan menjadi pelengkap belahan hati untuk mengisi hari-hari esok dalam sebuah kebersamaan yang indah menjadi pupus dan tak mungkin terlaksana, terpisah oleh sebuah keadaan yang tak terelakan. Ini kita rasakan sekali bila menyelami kalimat, "Impian itu kini ada di ambang mataku/ Takkan lagi jadi mimpiku". Ada semacam keraguan memang bila menyimak dua kalimat yang ditulis berdekatan ini. Mimpi itu ada di depan mata, tapi tak lagi menjadi mimpi. Mungkin kita rasakan sesuatu/seseorang yang dulu pernah kita inginkan telah hadir dekat kita namun tak lagi menjadi sesuatu yang berpeluang untuk kita miliki.

    Kesedihan nampaknya semakin kental mewarna bila kita simak larik-larik selanjutnya.

    Impian itu bagai di seberang
    Terpisah jurang tak berdasar
    Meski selangkah, tak ada jembatan kesana
    Apa aku harus melompat ?
    Atau kubiarkan mimpi itu berlalu,
    tak lagi dihadapanku,
    terus menjauh dan entah kapan kembali ?
    Aku hanya termangu di tepi jurang itu
    Memikirkan apa yang selalu kupikikan
    Dan tak pernah terselesaikan


    Sebuah ketidakberdayaan semakin terlukis di sini.Ya, untuk sebuah hati kadang kita tak mampu mengendalikannya dalam sebuah tindakan. Hanya mampu termanggu, terdiam, dan menahan sebuah perih yang mungkin dirasakan. Ada memang tipe hati yang dianugerahkan seperti itu. Percayalah, sejauh apa yang mampu kita lakukan, kita dibatasi dengan sebuah takdir, dan batas itu adalah wilayah aman bagi hati kita sesungguhnya yang masih diberi Maha KasihNya.

    Jadi bila memang sebuah mimpi yang tak mungkin hadir pada kita, tanpa ada jembatan menuju ke sana, terpisah jurang dalam yang tak memungkinkan meraihnya, itulah sebenarnya kenyataan mimpi terbaik bagi kita.

    Puisi sebatas mimpi ini cukup menyentuh kita yang membacanya, seakan merasakan perasaan penulisnya yang sedang dirundung duka, seakan kita sebagi sahabat ingin selalu berada dekat untuk menghiburnya.

    Untuk sebuah rasa, penulis telah mampu menyentuh kita, namun untuk sebuah amanat sebaiknya penulis mampu bersikap positif dan optimis dalam menjalani roda kehidupan ini.

    Tulisan ternyata juga mempunyai "jiwa" saat selesai kita rampungkan, dan dirasakan oleh penikmat atau pembacanya. Alangkah indah dan bermanfaatnya saat tulisan itu kita lepaskan ia mampu "berkata dan membawa dakwah" demi kemaslahatan umat.

    Selamat menulis, kami rasakan bakat yang besar dari penulis saat membaca puisi ini. Terus asah dan berlatih, teruslah untuk giat menulis. Salam Karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    SEBATAS IMPIAN
    Karya Desy Rohmawati

    IDFAM956M Anggota FAM Solo

    Impian itu kini ada di ambang mataku
    Takkan lagi jadi mimpiku
    Dulu …….,
    ia selalu mengoyakku
    Mendorongku untuk meraihnya
    Tapi saat ia di hadapanku ……
    Satu langkah,
    hanya satu langkah untuk menggapainya
    Penghalang itu ada
    Impian itu bagai di seberang
    Terpisah jurang tak berdasar
    Meski selangkah, tak ada jembatan kesana
    Apa aku harus melompat ?
    Atau kubiarkan mimpi itu berlalu,
    tak lagi dihadapanku,
    terus menjauh dan entah kapan kembali ?
    Aku hanya termangu di tepi jurang itu
    Memikirkan apa yang selalu kupikikan
    Dan tak pernah terselesaikan

    Share ke:
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Sebatas Impian” Karya Desy Rohmawati (FAM Solo) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top