• Info Terkini

    Sunday, December 16, 2012

    Aku Berani Menaruh Mimpiku di Atas Segala Ketidakmungkinan

    Surabaya, 13 Desember 2012

    Untuk sahabatku FAM
    Penebar benih cinta menulis
    Di hati, pikiran, dan alam imajinasiku

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan olehNya untuk saling menyapa. Lagi-lagi aku tak tahu apa yang akan kutulis di suratku. Seperti yang sudah-sudah, aku selalu terpaku di depan 'kertas', terdiam untuk beberapa saat demi memikirkan barisan kalimat seperti apa yang hendak kutuang dalam surat ini.

    Tahukah kau, FAM? Darimulah kebiasaan menulis surat 'kembali' mengepung dan menerjangku tanpa ampun. Selama dua puluh satu tahun masa hidupku, kuingat dengan jelas berapa kali aku menulis surat. Kau tahu? Tak lebih dari sepuluh kali. Yang lebih membuatku senang adalah sebagian besar dari surat-surat itu ditujukan untukmu. Tapi kali ini, bukan itu yang ingin kuceritakan. Ada hal lain yang ingin kubagi denganmu. Sudikah kau untuk mendengar, untuk sejenak saja meluangkan waktu demi membaca surat ini?

    Apa yang akan kutulis kali ini adalah tentang mimpi seorang pemuda yang tak memiliki apa-apa seperti diriku. Tentang doa sejak kupu-kupu dan lebah di jendela ruang tamu masih akrab menjadi sahabat masa kecilku. Juga saat pertama kali Ayah dan Ibu mengenalkanku pada mimpi.

    Aku hanyalah seorang pemuda biasa, yang menggenggam erat mimpi-mimpiku di antara jemari dan langkah kaki. Entah, tak dapat kuhitung berapa banyak langkah kaki itu. Semua itu kujalani dengan berbekal semangat dan keyakinan padaNya.

    Tempo hari, kau bertanya padaku tentang keinginan apa saja yang ada dalam benak, yang ingin dilakukan—kala diri ini mampu menjadi seorang penulis sukses. Baiklah, akan kuceritakan. Mungkin untuk pertama kali kukisahkan ini padamu. Kuharap dengan menuliskannya menjadi sebuah surat, akan memberi energi positif yang lebih bagiku. Aku juga akan merasa sangat bahagia, jika sahabat lain yang turut membaca, dapat memetik satu-dua manfaat dan menjadikannya pribadi yang lebih bersemangat mengejar mimpi.

    Dulu, sebelum semua ini terjadi, aku hanyalah seorang bocah kecil yang bermain-main di tepian pantai imajinasiku—tanpa ada siapa pun yang peduli. Pantai itu sendiri hasil dari lamunan panjang yang tak tentu arah, hingga semakin lama aku berada di dalamnya, semakin aku merasa sepi.

    Entahlah, bagaimana semua ini berawal. Masih kuingat dengan jelas ketika Ayah Ibuku tengah membicarakan sesuatu yang penting. Kala itu, usiaku masih sangat belia. Entah berapa tahun, aku tak ingat. Di antara semilir angin malam yang menggigit mata dan leherku, kudengar Ayahku berkata tentang sebuah tempat di negeri yang jauh. Aku sendiri cukup mengenal negeri yang dimaksud. Karena sejak kecil aku sudah diajarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan negeri tersebut.

    Kedua orang yang kucintai itu tak menyadari kehadiranku yang bersembunyi di balik pintu dan senandung jangkrik. Alangkah bahagianya saat mendengar bahwa negeri jauh itu menjadi cita-cita baru bagi Ayah Ibuku. Akan tetapi senyumku pudar seketika. Betapa tidak? Cita-cita itu seolah sangat jauh bagi keluarga kami. Memang sangat jauh. Dan aku baru menyadari akan hal itu.

    Di mataku, cita-cita mereka adalah sebuah harapan yang membawa pada kedamaian hati. Tentu untuk mewujudkannya bukan hal yang mudah, begitu pikirku. Apa yang mereka berdua bisikkan saat jarum jam dinding tak lagi dapat mengusik cicak yang bersembunyi di punggungnya, menjadikan malam menjelma menjadi sesosok makhluk yang mengusap ubun-ubunku. Malam itu, kudengar mimpi kedua orangtuaku. Mereka ingin pergi haji. Sederhana tapi rumit. Terasa bagai benang kusut yang berputar dalam kepala kecilku—yang belum kutahu bagaimana cara menyudahi kekacauan di ujung benang tersebut. Tanah suci, tentu sudah kukenal sejak kecil. Aku sering melihat Ka'bah di majalah atau televisi. Aku juga pernah melihat seorang tetangga berangkat menunaikan ibadah haji bersama keluarganya. Tapi satu pertanyaan yang menggelayuti benak, adalah bagaimana untuk pergi ke sana?

    Mungkin bagi sebagian orang, apa yang kedua orangtuaku impikan itu adalah sebuah hal yang mudah untuk diraih. Sayangnya, itu tak berlaku untuk kami. Ayahku bekerja sebagai seorang sopir, dengan penghasilan pas-pasan, bekerja banting tulang hampir setiap hari. Sementara Ibu tidak bekerja. Kami hidup dalam keterbatasan.

    Lalu bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Tak ada hal yang lebih indah bagiku selain membuat kedua orangtuaku itu tersenyum bahagia. Tak ada yang lebih indah bagi seorang anak selain berbuat sesuatu yang membanggakan. Sejak itulah kutanam mimpiku. Dalam tiap doa, tak lupa kusisipkan satu kalimat permohonan kepada Yang Maha Kuasa agar apa yang kami harapkan itu dapat terwujud.

    Waktu pun berlalu, tanpa terjamah lagi jejak-jejak lama garis cakrawala yang memerah hingga ribuan kali. Bumi pun mungkin lupa berapa kali ia menari. Tibalah saat aku merenung seorang diri, memikirkan apa yang harus kulakukan untuk meraih cita-citaku menjadi seorang penulis sukses. Berbagai macam kejadian, membuatku mencintai pena. Tak ada hal lain yang dapat kulakukan untuk meneguhkan langkahku selain memulai untuk menulis. Maka, sejak itu aku mulai menyisihkan sedikit uangku untuk pergi ke warnet secara rutin. Bukan untuk bermain, melainkan mengetik beberapa judul puisi dan tulisan.

    Dalam tiap lamunan saat malam tiba, mimpi tiket haji untuk kedua orangtuaku tak pernah lenyap—sedetik pun tak pernah, meski sejak bermusim lamanya mimpi itu kuucap dalam hati. Justru semakin kuat. Hal ini berpengaruh besar pada apa yang terjadi dalam diriku. Semangatku kian membara. Walau cobaan dan kegagalan datang bertubi-tubi, tak pernah kutinggalkan mimpi orangtuaku di atas tumpukan koper di sudut kamar kecilku di Jakarta.

    Tahukah kau, FAM? Mimpi itu akan selalu kupelihara dalam hati dan tiap helaan nafasku. Jika kau bertanya apa yang akan kulakukan kalau suatu saat gelar 'penulis terkenal' benar-benar melekat padaku, tanpa berpikir panjang tentu aku langsung menjawab, "Akan kuajak Ayah Ibuku pergi haji!"

    Ya, jika Allah menghendaki, itulah yang pertama akan kulakukan. Seringkali aku berusaha menahan sesak di dada ketika melihat uban putih di rambut Ayah mulai menyebar tanpa peringatan, sementara mimpi mulia beliau berlum tercapai. Beliau masih harus berlarian membukakan pintu kala menjemput orang-orang kaya di berbagai macam tempat mewah yang bahkan tak peduli akan keberadaannya. Terik menghanguskan atau hujan badai sekali pun, beliau tak peduli—demi keluarganya. Aku sungguh ingin mengakhiri semua itu dengan kesuksesan yang kuraih. Biarlah nanti aku yang membukakan pintu untuknya. Akan kuajak berlibur menikmati masa tuanya dengan mobil hasil jerih payahku. Agar setidaknya beliau pernah merasakan lembutnya kursi 'terhormat'—tidak lagi menahan pusing dan mata berkunang-kunang karena terlalu lama memandangi garis-garis putih jalanan.

    Melihat Ibu, tak kurang perihnya hatiku. Tak terhitung seberapa sering aku merepotkan beliau. Kini meski aku dewasa dan belum sanggup menjadi seorang anak yang diharapkannya, beliau tetap menyayangiku. Cintanya tak berkurang seolah aku masih bocah ingusan berumur lima tahun saja. Jika saja semua orangtua di atas bumi ini mempunyai cinta tak terkira seperti Ibu, pasti anak-anaknya akan bahagia dan tak sekali pun ada kata durhaka. Aku sungguh pedih merasakan ketulusan Ibu. Betapa tidak bergunanya diriku yang belum siapa-siapa ini. Padahal sudah saatnya aku yang memberi kebahagiaan pada Ibu, bukan sebaliknya.

    Rambut panjang Ibu yang dulu indah, kini berubah—tak sepenuhnya terselimuti hitam. Pantulan wajahnya yang perlahan berubah di cermin, menjadikan waktu seakan berlari sesuka hati meninggalkan kami. Mimpinya menyentuh Ka'bah pun juga belum tercapai. Aku ingin membalas cintanya meski mungkin segala upayaku takkan sanggup menyamai apa yang beliau beri padaku. Tiap sore, beliau pergi ke kampung sebelah. Di sana ada sebuah bangunan kecil di samping masjid. Bangunan itu adalah tempat para orangtua menitipkan anak-anak mereka pada guru mengaji. Ya, Ibu tak lain adalah guru mengaji di kampung itu. Sejak lama beliau berkeinginan menjadi guru mengaji. Baru sekitar empat tahun yang lalu keinginan itu terwujud. Jika nanti hasil torehan pena membawaku pada sebuah kata sukses, aku ingin membangun sebuah masjid dan taman pendidikan Al-Qur'an yang letaknya tak jauh dari situ. Agar Ibu dapat menikmati masa tuanya dengan membagi ilmu di sana.

    Lalu akan kubangun rumah bagi kedua orangtuaku. Tak perlu yang berukuran besar asal cukup untuk menampung kami semua dalam kehangatan cinta yang sama seperti dulu—saat aku merengek minta dibelikan mobil-mobilan. Juga kemudahan rezeki agar kami bisa berbagi pada saudara yang membutuhkan.

    FAM-ku yang baik.

    Ibu, seperti halnya Nenek. Mereka adalah orang-orang yang penuh cinta. Selain untuk membahagiakan Ayah dan Ibu, diam-diam aku juga ingin membalas segala kebaikan Nenek dengan mengajaknya tinggal bersama di rumah baru yang kubangun setelah aku menjadi penulis sukses nanti. Akan tetapi, takdir berkata lain. Nenek meninggal justru di anak tangga awal perjuangkanku menjadi seorang penulis.

    Kau tahu, betapa aku sedih melihat orang-orang yang hidup sendiri di masa tuanya?
    Nenekku pun demikian, beliau tinggal berdua dengan Bibiku yang hampir setiap hari jarang berada di rumah karena bekerja. Kini, beliau telah tiada. Aku mendapat banyak pelajaran hidup darinya. Tatapan matanya ketika kami masih bersama dulu, sarat akan cinta tanpa mengharap sedikit pun imbalan. Kepergian Nenek membuatku mengukir satu mimpi baru dalam 'diary' imajinasiku.

    Kurasa kau pasti bertanya-tanya, mimpi macam apa itu? Sebelum kukatakan, sebentar, aku punya sedikit cerita tentang alasan mimpiku yang satu ini. Dulu waktu aku masih kecil, Ibu sering mengajakku pergi ke pasar. Di sana kudapati seorang nenek tua duduk di sebuah bangku kecil. Garis wajahnya menyiratkan banyak pengalaman pahit dalam hidup. Nenek tua yang mungkin berumur di atas delapan puluh tahun itu telah lama menjadi pelanggan masyarakat sekitar. Nasi pecelnya terkenal enak. Tanpa sengaja, perkenalan pertamaku saat berkunjung ke pasar itu menciptakan sebuah cetak biru rasa iba jauh di alam bawah sadarku. Usiaku belumlah cukup untuk mengerti segala hal tentang kejamnya hidup. Akan tetapi, nenek penjual nasi pecel ini, dengan segala yang ada pada dirinya, mengetuk hati kecilku.

    Di hari-hari berikutnya, aku mengenal seorang kakek tua penjual es kacang hijau yang ditusuk dengan potongan bambu. Aku yang terkenal nakal, hanya terdiam sedih memperhatikan dari kejauhan beliau menggoyang lonceng di tangannya, demi menarik perhatian anak-anak kecil. Langkahnya limbung bagai dedaunan kering yang tersapu angin gurun. Semua itu, dilakukannya demi satu-dua keping uang logam berukir angka lima ratus.

    Mungkin saat itu aku belum bercita-cita menjadi seorang penulis. Namun detik itu juga kubulatkan tekad dalam hati bahwa aku ingin membantu orang-orang yang seharusnya menikmati masa tuanya, agar tak lagi bekerja. Mungkin terdengar aneh bagimu, tapi dari situ pula tumbuh satu mimpi baru yang tadi kumaksud. Yakni jika aku berhasil menjadi seorang penulis 'best seller', akan kubangun sebuah panti jompo yang menampung orang-orang berusia lanjut yang hidupnya sebatang kara.

    Satu lagi, aku juga ingin membangun sebuah perpustakaan di daerah terpencil yang serba kekurangan fasilitas. Agar tunas bangsa yang hidup dan besar di sana berani untuk bermimpi--berani untuk menentukan arah menuju masa depan yang cerah. Biarlah buku menjadi jendela pertama bagi mereka untuk melihat dunia. Agar kuat sayap mereka melawan arus dunia yang semakin kejam.

    Itulah mimpi dan harapan di balik perjuanganku menjadi seorang penulis. Itulah doa yang selama ini kuucap dalam hati.

    Tapi apa pantas seorang bocah kampung sepertiku bermimpi sedemikian rupa? Tidakkah terlalu banyak? Bahkan satu di antara sekian banyaknya 'daftar mimpi' yang kubuat itu seolah tampak mustahil.

    Aku teringat apa yang pernah tokoh Arai katakan dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu!"

    Aku pun berani menaruh mimpiku di atas segala ketidakmungkinan. Aku percaya padaNya. Jika segala sesuatu telah dikehendaki olehNya, takkan ada yang dapat menghalangi.

    Itulah yang membuatku kerap berjuang membangkitkan diri sendiri dari keterpurukan tanpa bantuan seorang pun. Itulah yang membuatku semangat menjalani masa-masa sulit kala aku menjadi sebuah 'bayangan' di belakang kamera yang acuh tak acuh--di satu dunia yang tak semua orang mengetahui rasa pahit yang tersimpan di sana. Itulah yang membuatku semangat bangun sebelum subuh saat teman-teman perantauanku masih meringkuk di balik selimut--agar tak terlambat mengikuti beberapa bulan masa magang di sebuah perusahaan besar (jarak rumah kost-ku jauh). Dan itulah yang membuatku semangat mengayuh sepeda atau bahkan berjalan kaki demi ke warnet yang gelap, bising, dan pengap, yang jaraknya cukup jauh. Karena aku tak punya laptop untuk sekadar mengetik tulisanku. Tak peduli panas dan hujan menanti.

    Terakhir, kuucap beribu terima kasih pada mereka yang mengajariku arti cinta: Ayah, Ibu, Nenek, dan para pejuang hidup yang menginspirasiku. Juga padamu FAM, dan seluruh sahabat pena yang mendapat tempat tersendiri di hatiku. Terima kasih atas kesediaanmu membaca suratku yang panjang ini.

    Aku hanyalah dari seorang pemimpi. Mengenalmu, menjadikan semangat dan keyakinan akan mimpi semakin bertambah. Aku takkan berhenti mengejar mimpi, apalagi melepasnya, tak pernah!

    Salam hangat dariku, untukmu selalu...

    Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

    KEN HANGGARA
    ID FAM801M-Surabaya
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    Item Reviewed: Aku Berani Menaruh Mimpiku di Atas Segala Ketidakmungkinan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top