• Info Terkini

    Thursday, December 27, 2012

    Apakah Mungkin Jika Aku Menulis Buku Nanti Akan Laku dan Menguntungkan?

    Cilegon, 25 Desember 2012

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Untukmu:
    Sang penyejuk resah kalbuku, FAM Indonesia

    Bertalu rindu ingin bertemu, memuncak gelora awal hati mengenalmu.

    Selamat malam sahabat penaku, bagaimana kabarmu FAM? Kuharap anugerah serta berkah kesehatan selalu meliputimu sepanjang hari. Bahagia rasanya kala Allah masih memberikanku kesempatan untuk menyapamu lagi di suratku yang kedua ini. Aku berpesan padamu, jangan ada kejenuhan yah jika harus membaca suratku lagi dan lagi, hehehe…

    Sebelum mengalir pada impianku tentang tema “Jika Aku penulis terkenal maka aku akan…” izinkanlah Aku sedikit mengutarakan sebuah lembayung asa yang sempat memudar pada ujung penaku. Dalam dunia mengarangku yaitu yang sedang aku coba geluti saat ini, aku pernah putus semangat tentang menjadi seorang penulis hebat. Aku mulai menulis ketika aku masih duduk di kelas 2 MTs/SMP. Aku pernah menulis sebuah novel yang sampai saat ini belum pernah aku ketik di komputer. Karyaku itu belum rampung sampai sekarang dan hanya beberapa teman saja yang tahu tentang karyaku itu. Pernah suatu ketika aku ingin menjadikannya sebuah buku yang berbentuk print out. Namun ada hal yang membuatku putus semangat yaitu kecanggihan tekhnologi yang semakin berkembang seperti saat ini. Loh kok bisa? Memang, di sisi lain aku merasa sangat menguntungkan serta terbantu, karena mengakses apapun terasa mudah, tetapi keinginanku untuk menjadi seorang penulis pun pupus. Semua kandas karena aku tahu, segala macam berita: seperti koran, majalah, dan bahkan buku pun sekarang ada yang dibaca secara online. Tentu aku jadi berpikir, apakah mungkin jika aku membuat buku nanti akan laku dan menguntungkan? Dan bagaimana mungkin aku bisa menjadi penulis terkenal? Sedangkan dunia persaingan begitu amat cepat berkembang. Sejujurnya, aku lebih senang membaca segala apapun itu dalam bentuk hardprint dari pada harus membaca berjam-jam di depan komputer/laptop, sebab itu akan membuatku sangat tidak nyaman dan membuat mataku sedikit berkunang-kunang.

    Ibarat tanaman layu yang tersiram embun sejuk di pagi hari, gelora asaku untuk menjadi seorang penulis kini tumbuh lagi, kehadiran sebuah wadah penampungan penulis-penulis Indonesia khususnya, sepertimu FAM Indonesia sungguh aku merasa amat terbantu. Peluang demi peluang perlahan memberikan kesegaran bak segelas air yang diteguk pada gurun padang pasir. Mengusir kehausan dan menghilangkan dahaga. Mulai dari ajang lomba cipta puisi, cerpen dan bahkan kau siap menampung karya novelis yang ingin membukukannya. Aku sungguh tak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu sobat. Aku bersyukur dapat menemukanmu di antara banyaknya semak berduri dalam dunia maya. Setidaknya aku mendapatkan manfaatnya, selain berinteraksi dengan banyak orang yang terkadang dirasa kurang begitu berguna.

    Kesempatan untuk menanggapi tentang cita-citaku kau sajikan, sebuah tema yang mengusik alam imajinasiku yang berdenting, “Jika Aku Penulis terkenal, maka Aku akan...” itu benar-benar membuatku mengkhayal tentang masa depan, masa di mana saat pencapaian terbesarku dapat terwujud. Tentu jika aku menjadi penulis hebat yang terkenal lagi sukses, yang pertama aku lakukan adalah membahagiakan keluargaku yang tercinta, terlebih kepada kedua orangtuaku. Merekalah penawar resah dalam gundah, pelipur sukma kala hatiku lara. Ingin rasanya melukis senyum di antara kerut wajahnya yang sudah tak muda lagi. Satu yang kutahu, mereka sangat menginginkan sekali untuk menjejakkan kaki di kota kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Mengitari kemegahan Ka’bah, dan menjalankan semua rukun-rukunnya. Entah kapan itu dapat terwujud, mengajak kedua orangtuaku menunaikan rukun Islam yang kelima. Mengitari indahnya Kota Mekkah dan Madinah. Meski aku tahu andai semua itu terjadi, tetap saja keagungan kasih sayang serta ketulusan hati nan lembut dari kedua orangtuaku tidak akan dapat dan tidak pernah terbalaskan. Mereka yang membesarkanku dengan segala daya upaya, bahkan Ibu sampai melawan rasa sakit—yang mendengarnya saja aku tidak sanggup—hingga mengorbankan nyawa sekalipun.

    FAM yang budiman, ada sekelumit mimpi lagi yang masih ingin aku katakan padamu. Dalam rintik hujan di malam ini, beteman angin lembut yang menari bersama kumpulan sawang dan pekatnya debu di atas bilik bambu rumahku. Rasanya ingin sekali aku merenovasi rumah di mana tempat aku dilahirkan ini. Menjadikannya lebih layak huni, agar tak ada lagi tetesan air langit yang jatuh membasahi kasur empuk Ibuku. Sudah saatnya kurasa untuk membahagiakan mereka, sekecil apapun, semampuku sampai dentum nadi tak lagi berdenyut di jasad ini. Aku tidak ingin memandang lagi guratan di dahi Bapak, ketika harus menaiki atap untuk memperbaiki genting yang bocor dan menggantinya di antara hawa malam yang dinginnya menusuk ke tulang rahang. Air mataku pecah ketika harus menemui Bapak saat turun dari atap dengan tubuhnya yang menggigil, di usia senjanya beliau masih merasakan ketidaknyamanan disaat menikmati tidur pulasnya. Anak macam apa aku ini jika terus menerus hanya dapat menyusahkan keluarga. Karenanya, disaat aku diberikan kesempatan untuk menjadi seorang penulis yang terkenal hingga hasil goresan tintaku menjadi best seller, aku tidak akan menyia-nyiakan itu. Sebab untuk mencapai sebuah keberhasilan tidak akan semudah yang dibayangkan. Tetapi yang lebih sulit dari pencapaian adalah cara kita mempertahankan kesuksesan itu.

    Bukan hal yang tidak mungkin sepertinya, jika suatu saat segala asa yang menggelayut di benakku dapat menjelma menjadi sebuah kenyataan yang membahagiakan. Dalam rintik hujan yang masih mengalir aku berdoa, semoga segala cita-cita dan harapan kita semua dapat indah pada waktu yang sudah Allah tentukan dan menjadi waktu yang terbaik, yang sesuai dengan apa yang kita rencanakan dan kita inginkan. Mari sobat saling membimbing dan saling memperjuangkan hal-hal positif melalui dakwah bil qalam, semoga orang mengenal kita melalui karya-karya nyata yang menjadi salah satu perubahan dunia, aamiin.

    Salam santun, salam karya.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    UBAIDIL FITHRI
    IDFAM 1198M
    Cilegon-Banten
    (adeubaidil@yahoo.co.id)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    1 komentar:

    1. subhanallah,walhamdulillah. aku baru tahu ternyata suratku ini sempat di publikasikan di blog FAM Indonesia. aku gemetar FAM. terima kasih beribu kasih. semoga kita semua mendapatkan segala harapan yang telah dicita-citakan :)

      salam ukhuwah kawan :)
      Ade ubaidil
      FAM1198M,Cilegon-Banten.

      ReplyDelete

    Item Reviewed: Apakah Mungkin Jika Aku Menulis Buku Nanti Akan Laku dan Menguntungkan? Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top