• Info Terkini

    Monday, December 24, 2012

    FAM, Mengenalmu Adalah Sesuatu yang Amat Membahagiakanku

    Pasuruan, 20 Desember 2012

    Jumpaimu:
    FAM, pengawal mimpiku
    di mana saja berada

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Jarum jam sudah beranjak jauh dari titik sepuluh malam, FAM. Biasanya aku sudah larut dalam buaian mimpi karena aktivitas yang melelahkan pada siang hari. Tetapi keinginan untuk menjumpaimu malam ini telah membuat kantukku enggan menemuiku. Entah harus kumulai dari mana suratku ini. Yang pasti aku merasa sangat gembira ketika Allah SWT memberiku kesempatan untuk menulis surat buatmu.

    Tidak banyak yang kuharap ketika aku akan memulai menarikan jari-jemariku menyusun kata-kata untuk surat perdanaku ini, FAM, kecuali harapan semoga Allah SWT selalu bersamamu, memberi keceriaan, kesehatan, dan kebahagiaan padamu, sehingga kau selalu ada di tengah-tengah kami, sahabat-sahabat penamu, dengan berbagai ilmu kepenulisan yang selalu menyegarkan dan amat bernutrisi.

    FAM pelecut semangatku…

    Mengenalmu adalah sesuatu yang amat membahagiakanku. Aku merasa seperti ada kekuatan baru yang membuat semangat menulisku bangkit kembali setelah sekian lama koma karena berbagai sebab. Mengingat usia yang bisa dikatakan sudah tidak muda lagi, jujur aku sempat malu. Bahkan ragu akan masuk ke rumahmu. Malu karena aku merasa sangat kecil jika kubayangkan aku sedang berada di antara sekian ribu sahabatmu yang sudah mahir menulis. Bahkan sudah banyak yang mampu menerbitkan buku-buku yang sangat bagus. Karya-karya mereka luar biasa memukauku. Ibaratnya FAM, jalanku masih merangkak-rangkak. Jangankan untuk berjalan ataupun sedikit berlari. Untuk mencoba berdiri saja aku harus mencari pegangan yang kuat. Sedangkan sahabat-sahabat yang lain sudah bisa berjalan, berlari. Mereka piawai menari-nari, berjalan sambil menari. Bahkan ada yang bisa menari, menyanyi, sambil berlari-lari pula. Pakai salto lagi! Subhanallah! Aku benar-benar merasa sangat kecil. Tetapi FAM, semangat yang selalu kau berikan telah mampu meyakinkanku bahwa kelak aku juga bisa menulis seperti mereka. Aku pasti bisa kan, FAM?

    FAM pengawal setia mimpiku…

    Ketika semangat itu mulai tumbuh di hatiku, aku mulai rajin corat-coret, FAM. Belajar merangkai kata-kata. Sebisaku. Tentang apa saja. Memang terasa kaku ketika kugerakkan jari-jemariku. Selalu buntu ketika kucoba menuangkan ide-ide yang liar menari-nari di benakku. Kadang aku putus asa, FAM. Sering kumaki diri sendiri karena ketidakmampuanku menulis satu kalimat saja. Tetapi ilmu-ilmumu, sapaan hangatmu, juga celoteh riang dan santun para sahabat pena di rumahmu, telah memacuku untuk tetap belajar dan selalu belajar. Hingga sampai pada kesempatan pertamaku ketika kuikuti undangan cantikmu dalam antologi puisi “Pahlawan di Mataku” itu. Aku terpacu untuk bisa ikut dalam antologi puisi itu, FAM. Allahu Akbar! Hanya Dia semata pemilik seru sekali alam. Dialah Yang Maha Perkasa yang telah memberi kekuatan pada sendi-sendi jemariku hingga bisa menulis puisi-puisi itu untukmu. Ketika kubaca email darimu, sungguh aku tidak percaya pada indera penglihatanku. Di situ tertulis "SELAMAT ...." Besoknya, di tempat kerja, kumanfaatkan jam kosongku untuk memuaskan rasa penasaranku dengan membuka grupmu, FAM. Ternyata namaku terpampang di situ. Wah, bahagiaku tidak bisa kutulis dengan kata-kata. Aku gembira sekali menerima kabar baik itu. Spontan aku lompat-lompat, bersorak gembira, bernyanyi-nyanyi. Temanku sempat berkata, "Bu, kesurupan apa bagaimana?" Kegembiraanku meluap-luap, FAM. Sampai tidak sadar aku bertingkah seperti anak kecil, padahal usia sudah...? (Hehehe...). Kabar baik darimu itu membuatku semakin mencintai dunia kepenulisan. Aku semakin erat memeluk mimpi-mimpiku.

    Sekarang, kalau kau bertanya apa yang akan kulakukan jika aku menjadi penulis terkenal, yang pertama kali muncul di benakku adalah keinginan untuk melaksanakan ibadah haji bersama suami, kedua orangtuaku, dan ibu mertuaku. Akan kutabung uang hasil penjualan buku-bukuku dan royaltinya. Aku tahu hadiah yang kupersembahkan untuk mereka bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan perjuangan kedua orangtuaku untukku selama ini. Aku ingin membuat mereka bisa tersenyum bahagia, FAM. Jika keinginan pertamaku itu sudah terlaksana, aku juga ingin mendirikan rumah baca. Kebetulan tidak jauh dari rumahku ada sebidang tanah yang kabarnya dijual. Aku ingin membelinya, FAM. Akan kudirikan rumah baca di atas tanah itu. Aku ingin mengajak anak-anak di sekitar rumahku untuk menyukai kegiatan membaca dan menulis. Selama ini mereka menghabiskan waktu luangnya hanya untuk bermain game di warnet atau asyik dengan permainan lain yang kupikir kurang bagus untuk perkembangan intelektual dan emosional mereka.

    Di anganku, rumah bacaku nanti akan kuisi dengan berbagai macam buku yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan orang dewasa. Aku akan mengoleksi buku-buku cerita, pengetahuan, keagamaan, dan sebagainya yang bisa membantu tumbuh kembang mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan berakhlak mulia. Dengan datang ke rumah baca yang kusediakan, kuharap mereka bisa mengatasi kesulitan tugas belajarnya, wawasan mereka juga bertambah luas. Yang penting lagi FAM, agar anak-anak bisa memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat. Ibu-ibu juga bisa menambah pengetahuannya tentang kuliner, keterampilan, keagamaan, atau pengetahuan lainnya melalui kegiatan membaca. Mungkin mimpiku ini terlalu tinggi ya, FAM? Tetapi sungguh FAM, aku sekadar ingin mengajak orang-orang di sekitarku agar bisa memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat.

    FAM yang selalu kurindu…

    Kau adalah bara dalam hidupku. Selalu menghangatkan, sehingga semangat menulisku selalu ada. Terima kasih sudah berkenan memberi ilmu yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan proses belajar menulisku. Cukup Allah saja yang membalas semua jerih payahmu dan ketulusan hatimu yang telah berbagi ilmu kepadaku dan sahabat-sahabat pena yang lain.

    Kiranya hanya itu yang kusampaikan padamu dalam surat perdanaku kali ini. Dengan rendah hati aku minta maaf jika ada tutur kataku yang mungkin kurang berkenan di hatimu. Mohon maaf juga kalau tuturanku ini terlalu panjang. Jaga kesehatan ya, FAM. Sukses selalu buatmu. Akhir kata, salam santun, salam karya, salam erat persaudaraan.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    Sahabatmu selalu,
    WAHYU PRIHARTINI
    IDFAM1240U, Pasuruan, Jawa Timur
    email: hartiniwahyu.p@gmail.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: FAM, Mengenalmu Adalah Sesuatu yang Amat Membahagiakanku Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top