• Info Terkini

    Wednesday, December 5, 2012

    Kopdar FAM Pekanbaru Memantik Semangat Menulis

    Peluhku bercucuran melewati wajah, menembus jilbab hitam yang kupadukan dengan baju berwarna merah dan rok berwarna hitam juga. Aku berjalan dengan cepat mengejar waktu. Rasanya, dari tadi berjalan aku tak sampai ke tempat tujuan. Detik, menit, berlalu dengan cepat. Aku tidak pernah ingin terlambat dalam agenda apapun. Aku benar-benar ingin menerapkan sembilan prinsip hidup yang pernah dipaparkan oleh dosenku di akhir perkuliahan tengah semester.

    Etika sebagai prinsip sehari-hari, kejujuran dan integritas, bertanggung jawab, hormat pada aturan dan hukum masyarakat, hormat pada hak orang lain, cinta pada pekerjaan, berusaha keras untuk menabung dan investasi, mau bekerja keras, serta disiplin dan tepat waktu. Dari sembilan prinsip itu, aku ingin memulainya dari disiplin dan tepat waktu. Karena, perubahan itu bisa dimulai dari mana saja dan tentunya dimulai dari diri sendiri.

    Langkahku rasanya terasa lebih cepat dari pada denyut nadiku sendiri. Jantungku pun berdebar sangat cepat. Aku yakin, jika sekarang aku bercermin, wajahku telah memerah karena aliran darah lebih kencang memompa detakku. Dekat, tempat itu semakin dekat dengan langkahku. Senyumku kian merekah, tak sabar ingin bertemu dengan orang-orang yang membangkitkan gairah menulisku.

    Aku berjalan melewati jembatan berwarna nila. Di bawahnya, sungai berwarna kecokelatan mengalir cukup deras karena beberapa hari ini rintik itu selalu muncul dari celah awan hitam dan membanjiri beberapa lokasi di kampusku. Gamang, aku tidak berani melihat ke bawah. Aku melangkah perlahan, begitu takut jika terjatuh. Karena, jembatan ini beralaskan balok-balok kayu, yang berdecit ketika langkahku menjejak.

    Kini, aku sudah berada di musala yang dekat dengan lokasi pertemuan. Mataku mencari kawan-kawan yang ikut dalam agenda ini. Belum satu pun yang hadir. Lima menit lagi akan tepat pada pukul 13.00 WIB. Padahal, sebelumnya aku sudah mengirim pesan agar mereka tepat waktu. Aku mengetik huruf-huruf yang ada di handphoneku agar mereka segera datang.

    Lima menit berlalu, seorang Ahmad Saadillah pun menampakkan batang hidungnya. Begitu senang melihatnya datang meski terlambat dua menit. Senyumnya yang khas itu membuatku semakin ingin mencandainya, begitu juga dengan yang lain. Aku adalah seorang perempuan yang sangat senang membuat orang di sekelilingku tertawa. Tak lama kemudian, Hamda, Hamdi, Rini dan Elite pun datang.

    “Jadi, kita di lokasi kemarin saja atau bagaimana?”

    “Aku rasa, kita ke sana saja. Yuk.”

    “Tapi, di sana kan ada orang, dua-duaan lagi. Juga, ada tiga orang remaja lelaki di sana.”

    “Tenang saja, tuh yang dua-duaan sudah mau pergi. Kalau tiga orang itu, serahkan padaku,” ucapku yakin. Entah karena intuisiku yang kuat atau apa, tiga remaja itu langsung pergi dengan sepeda motornya setelah melihatku dan yang lain mendatangi mereka.

    “Tuh, kan. Benar, mereka pasti pergi,” lanjutku dengan senyum simpul. Tak lama kemudian, seseorang yang kami tunggu-tunggu pun tiba dengan sepeda motornya yang berwarna biru—Rian Harahap. Ia datang dengan senyumnya yang teduh dan tas ransel serta jacket kulit berwarna cokelat. Selang beberapa lama agenda berlangsung, rinai pun turun membasahi lekuk-lekuk bumi.

    Kami pun beranjak ke musala, tapi rasanya tidak enak bila ada forum yang berbaur seperti ini di musala. Biasanya, musala di kampusku hanya untuk halaqah atau asistensi serta kajian rutin. Jika berbaur, misalnya dalam agenda rapat, kami pasti menggunakan hijab musala dan berbicara di balik hijab itu.

    Aku mengajak mereka untuk beranjak lagi ke gedung bahasa yang ada di seberang jembatan kayu berwarna nila tadi. Lagi-lagi aku mencandai mereka. Menjelang sampai ke gedung bahasa, mereka kubuat tertawa hingga wajah mereka merona. Aku sangat bersemangat dan melupakan kesedihanku. Karena, sebenarnya hari ini pengurus rohis di kampusku mengadakan kegiatan yang harus dihadiri pengurusnya. Tapi, aku tetap memilih prioritas di atas prioritas.

    Dengan rinai hujan yang turun romantis, kami melanjutkan agenda pertemuan ke-2 FAM Indonesia. Di sana, forum memulai dengan tilawah dan kata motivasi serta acara inti. Subhanallah. Rasanya, hari ini benar-benar puas walau harus mengorbankan salah satu agenda yang juga menjadi prioritas bagiku. Kanda Rian Harahap menumpahkan ilmunya kepada kami. Tapi, ia hanya mengisinya seperempat karena kamilah yang harus mencari dari sumber lain untuk memenuhinya.

    “Aku ada, karena aku menulis. Orang-orang mengenalku melalui tulisanku. Menulis itu harus orisinil, murni dari olahan pemikiran kita. Untuk menulis, kita harus memulai dari niat. Untuk apa kita menulis, apakah karena ingin populer, ingin berbagi atau apapun. Yang penting ada niat yang diikuti tekad dan semangat.” Itulah inti kalimat yang aku tangkap dari Kanda Rian Harahap sebagai pembicara pada hari ini. Sebagai tantangan, dan agar pertemuan ini ada hasilnya, Kanda Rian Harahap berinisiatif untuk meminta kami menulis di koran lokal yang ada di Pekanbaru. Setidaknya, satu di antara tulisan kami ada yang dimuat.

    Tak terasa, dentingan waktu berlalu begitu cepat. Tanpa menunggu, dua jam berlalu seperti dua detik. Perlahan, rinai berhenti menyirami Bumi Lancang Kuning. Kami pun melangkah membawa semangat yang kuat untuk tetap menulis, menulis dan menulis. Karena, yang menentukan akan jadi siapa diri kita di masa depan adalah diri kita sendiri.

    Salam hangat dan semangat dari FAM Pekanbaru!

    *Pertemuan ke-2 dihadiri oleh Rian Harahap (Penulis dan Aktor Teater), DP Anggi II (FAM790M), Ahmad Saadillah (FAM974M), (TWin AlfansuRi's) Hamda Alfansuri (FAM795S), Hamdi Alfansuri (FAM796S), Rini Eka Putri Elite, Deny Hariandy.

    [Laporan: DP Anggi, FAM790M]
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Kopdar FAM Pekanbaru Memantik Semangat Menulis Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top