• Info Terkini

    Thursday, December 27, 2012

    Mobil VW Kesayangan Papa pun Kusulap Jadi Perpustakaan Berjalan

    Yogyakarta, 27 Desember 2012
    Untukmu, FAM,
    di sajadah karyaku.

    Assalamualaikum.

    FAM yang kurindu, salam cinta, salam hormat.

    Mereka yang paling bahagia di atas bumi adalah mereka yang senantiasa bersyukur, bukankah begitu, FAM? Rasa syukur yang tidak akan pernah mampu diukur walaupun telah berlama-lama tafakur, dan justru yang tetap ditemui adalah noda-noda dosa bagaikan kumuhnya lumpur. Namun, setidaknya rasa terima kasih seorang hamba pada Sang Khaliq selalu diupayakan dengan gerakan bibir dan kedua tangan yang menengadah, sesekali cukup diucapkan berulang-ulang di dalam hati, atau boleh juga langsung bersujud mencium bumi-Nya dengan uraian air mata murni.

    Sungguh, saat hamdalah mampu terangkai dengan aura kenikmatan mengingat-Nya, saat itu jualah merpati menari di atas awan-awan putih yang tidak pernah lengah berarak menyinggahi negeri-negeri kecil di berbagai belahan bumi. Kupu-kupu bergandengan tangan dengan kumbang-kumbang taman di sejajaran mawar, kamboja, anggrek bulan, dan bunga kertas oranye kecoklatan. Indah bukan, FAM? Ketahuilah, seindah itu jualah kusyukuri perkenalan denganmu, FAM.

    FAM, mungkin tanpa-Nya aku tidak akan pernah bisa tertawa semanis ini. Kau tahu, FAM? Dua lesung pipiku menyimpan rona cinta dan sipu malu saat aku tahu secara diam-diam Dia selalu mengawasiku dan membekali malaikat-malaikat pencatat amal di sisiku. Aku selalu ingin ber-hamdalah indah menyebut asma-Nya. Kemudian rasa terima kasihku pada kekasih-Nya, buah cinta Abdullah dengan Siti Aminah, yang sangat rendah hati mengenalkan firman-firman-Nya kepadaku, hingga aku pun tahu ada surah syu’ara di dalam Al-Furqan (qur’an) yang menceritakan kisah para penyair.

    Berbicara tentang penyair, tiba-tiba aku ingat beberapa tahun silam, saat aku memaknai kata penyair sebagai profesi mulia layaknya penyair Dhirar bin Al-Khathtab yang bersyair sambil menangisi kematian Abu Al-Hakam saat Perang Badar, atau aku bisa juga melucu dengan syair-syair seperti kebiasaan orang-orang Arab saat menawar harga barang di pasar. Lain dari itu, aku pun ingat nama Muhammad Iqbal sebagai penyair asal Timur Tengah yang sangat dikenal hingga sekarang, pun juga demikian dengan syair-syair kasih Kahlil Gibran asal Lebanon.

    FAM, sungguh fantastis jika bisa bersyair, bukan? Aku pun bisa merangkai kata dalam cerita pendek, cerita panjang, cerita bersambung, cerita apa saja, berkat syair-syair pendek yang kusatukan hingga membentuk tatanan kalimat berupa konstituen, klausa, atau prosa. Kini, tiba-tiba aku tersenyum membayangkanmu yang abstrak dalam golongan bentuk wajah dan anggota badan. Hanya saja aku menyadari, syair telah mempertemukan kita di dunia maya, tidak berdua saja, tetapi bersama pecinta syair lainnya. Bayangkan saja jika aku tidak tertarik dengan syair, tentu aku tidak bergabung denganmu, sebaliknya aku akan mencari wajah-wajah eksak dengan rumusan fisika, kimia, atau matematika. Ah, sudahlah, aku tidak ingin membuatmu cemburu dengan pembahasan di luar lingkaran cinta kita.

    FAM, ada beberapa paragraf emas yang ingin kubagikan padamu. Akhir-akhir ini, aku menghadiri undangan di beberapa negara untuk mendiskusikan karya-karya fantantisku yang mulai diterjemahkan ke berbagai bahasa. Aku tidak bisa menolak setiap undangan karena aku sedang berusaha mengharumkan nama bangsa tercinta. Aku tidak pernah melewatkan kesempatan berharga untuk menyinggahi KBRI atau sekolah-sekolah anak Indonesia di negara orang sana, aku sangat percaya diri di depan mereka saat menjelaskan tentang perkembangan kesusasteraan di Indonesia. Sebelum meninggalkan ruang kelas, aku berupaya memberi syair penggoda agar minat baca dan berkarya mereka tinggi, tidak hanya menyandang status sebagai anak diplomat, tetapi ikut menghiasi kolam Nusantara dengan teratai-teratai berbunga karya.

    FAM, ternyata banyak anak-anak Indonesia yang sekolah di negara penjajah kita dahulu, tidak tahu apa-apa tentang ibu pertiwi, tanah asalnya. Maka, aku tidak bisa berdiam diri, kutulis wawasan tentang Indonesia dengan gaya bahasa populer, agar mereka tertarik membacanya, namanya juga anak-anak dan remaja keturunan darah merah (bukan berdarah biru), terkadang sengaja kuselipkan kata ‘plis deh’, ‘ciyus’, ‘miapah’. Hasilnya? Mereka akrab denganku, senang menantikan karya-karyaku berikutnya.

    Saat pulang dari negara orang, biasanya aku merasa tidak adil terhadap diriku. Mengapa di negeri orang aku bisa berarti, tetapi di negeri sendiri, aku masih minim memberikan perhatian pada anak negeri. Aku tidak bisa lagi menahan kemauanku. Kukumpulkan anak-anak di kampungku (maklum, aku gadis kampung, tetapi tidak kampungan). Kudongengkan cerita-cerita menarik dari berbagai buku karyaku. Kuajak mereka ke pematang sawah, dekat sungai Mangoi di kampungku. Kami bergantian membaca sajak-sajak sederhana karangan sendiri, sajak-sajak itu berisi tentang mimpi. Kau tahu, FAM? Mereka memiliki mimpi-mimpi dahsyat yang tidak kalah hebat dengan prestasi pejabat. Aku sengaja mengajak mereka ke alam terbuka, agar selain bersajak ria, mereka ikut merasakan indahnya bentangan karya Sang Pencipta. Aku bahagia, FAM. Sangat bahagia.

    Namaku secara bertahap di sebut-sebut dari satu kota ke kota lainnya, satu provinsi ke provinsi lainnya, satu pulau ke pulau lainnya, satu negara ke negara lainnya. Aku diundang ke sekolah-sekolah, madrasah, dan sanggar-sanggar sastra. Kau tahu apa yang membuatku tidak yakin, FAM? Aku masih terlalu muda untuk ini semua, aku belum menjadi sarjana. Lagi-lagi kurasakan nikmat-Nya luar biasa. Tentu semakin besar nikmat-Nya, maka aku juga harus semakin menyediakan banyak waktu untuk bersyukur, tak lupa juga beristighfar sebanyak-banyaknya. Terkadang kebahagiaan itu adalah bentuk anugerah dari-Nya, tetapi bisa juga ujian-Nya.

    Lama-kelamaan tabunganku menebal, FAM. Aku nekat membelikan rumah antik untuk papa, mama, dan adik-adik. Walaupun kredit, tidak masalah, yang penting aku melihat kebahagiaan itu terpancar di mata mereka, mungkin sudah saatnya keluargaku pensiun dari kontrakan alias nyewa rumah orang. Aku sedikit berbagi tips nih, FAM. Papaku pembaca yang tekun hingga sekarang, mama lumayan, adik-adik pun gemar membaca, maka di setiap ruang kuletakkan rak buku dengan desain khusus, kecuali di kamar mandi. Tujuannya, jika ada yang galau dan tidak tahu mau melakukan aktivitas apa, maka benda pertama yang mereka lihat adalah buku, buku apa saja dari berbagai sumber keilmuan, fiksi dan non-fiksi. Selain itu, mobil VW kesayangan papa pun kusulap menjadi perpustakaan berjalan, sudah kubuat jadwal hari dan tempat perhentiannya, agar masyarakat di kampung dan kotaku bisa membaca dimana saja. Luar biasanya, ideku itu diikuti oleh pemilik VW lainnya.

    Alhamdulillah, aku juga bisa membantu biaya pendidikan adik-adikku. Mereka pun secara bertahap mulai mengarang cerita fiksi. Sebentar lagi kami sekeluarga akan umrah, biayanya dari hasil karyaku yang sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

    FAM yang penuh cinta, ada persoalan cinta yang sedang kuhadapi. Usiaku semakin bertambah, sebagai sulung, aku diminta papa dana mama segera menikah. Aku tidak ingin bernasib tragis seperti Romeo dan Juliet, Sampek-Engtay, atau Laila Majnun. Oh, tidak! Tentu saja aku mendambakan imam hidup yang siap mendukung karirku di dunia kepenulisan. Setia mendampingiku melahirkan karya-karya hebat, memberi materi dan motivasi menulis di berbagai negara, bermain dan besajak riang dengan anak-anak kampung di tengah lumpur sawah, dan yang paling utama turut membahagiakan papa, mama, dan adik-adikku. Kapan kah masa itu?

    Namun, FAM, terkadang aku takut. Sangat takut jika suatu hari aku sombong dan angkuh dengan kepopuleran ini. Oleh karena itu, aku berupaya mencintai-Nya dengan sebenar-benar cinta, aku tidak ingin seperti Karun, apalagi Fir’aun. Hanya karena gila kekuasaan dan kekayaan, mereka lupa diri bahwa di atas langit masih ada langit. Aku tak pernah berhenti berharap, jika aku memang ditakdirkan menjadi penulis terkenal, maka semoga aku adalah penulis yang kaffah, istiqomah, hafidzah, dan selalu dinaungi mahabah-Nya, amin.

    Sudah semakin larut, FAM. Aku terlalu panjang bercerita, semoga tidak mengganggumu. Seperti janjiku sekian bulan yang lalu, besok aku akan datang ke rumahmu, FAM. Aku sudah siap berjuang denganmu untuk menancapkan bendera merah-putih di puncak gunung Everest!

    Oh, FAM, FAM, FAM. Aku sudah selesai membayangkan kisahku di layar laptop, kisah hidupku jika aku menjadi penulis terkenal. Sangat lega berkhayal positif seperti tadi, semoga saja bisa tercapai. Amin yaa Rabbana yaa Karim.

    Aku semakin mencintaimu, FAM. Hadirmu tak henti-hentinya memberi nutrisi semangatku untuk terus berkarya dan bermimpi, hingga suatu saat kubuktikan mimpi-mimpi itu bersamamu, mimpi-mimpi untuk segala yang kita cinta, keluarga, tanah air, dan semua. Semoga saja dimudahkan-Nya. Teruslah merangkulku dengan segala kehangatanmu.

    Salam,
    MARDHIYAN NOVITA M.Z
    IDFAM 1078M-PARIAMAN
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Mobil VW Kesayangan Papa pun Kusulap Jadi Perpustakaan Berjalan Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top