• Info Terkini

    Monday, December 17, 2012

    Profil Anggota FAM Indonesia: Sutadi Resa Abdullah (FAM Jerman)

    "Bermukim di Negeri Orang, Tetap Berkarya untuk Indonesia”
    Namanya Sutadi, sebuah nama pemberian orang tuanya. “Suta” semakna dengan anak dan “di” berarti baik atau adi yang berarti besar. Nama yang mengandung doa agar si penyandang nama kelak menjadi orang yang baik dan atau menjadi orang besar. Lahir pada bulan Juni 1971 dengan enam bersaudara dari keluarga Resadiharja dari kakek Umar Abdullah yang sederhana di Kampung Dawang Sabdodadi Bantul Yogyakarta. Satu pedukuhan dengan kampung Manding, sentra kerajinan kulit di kilometer 11 Jalan Parangtritis. Jarak yang kurang lebih sama ke pusat Kota Yogyakarta dan laut selatan.

    Enam tahun mengenyam pendidikan di SD Kanisius Manding, sekolah terdekat yang hanya berjarak 50 meter. Adi selalu rajin belajar dan bercita-cita ingin menjadi insinyur seperti sepupunya. SMP, SMA terbaik dan terdekat dipilih, karena hanya memiliki sepeda sebagai alat transportasi. Adi mendapat kesempatan seleksi tanpa tes masuk di IPB. Tetapi pada saat itu belum terpikir olehnya bisa hidup jauh dari orangtua, sehingga sama sekali ia tidak berminat mengirimkan berkas pendaftaran.

    Adi juga berkesempatan ikut seleksi tanpa tes di UGM meskipun tidak lolos. Akhirnya ia ikut UMPTN dengan pilihan IPC. Adi tidak berhasil menembus seleksi masuk UGM. Meski berat Adi harus menerima kenyataan bahwa kepintaran saja tidak cukup. Adi merenung selama seminggu di kamar, tidak keluar kecuali untuk salat dan makan. Ia sadar dan menemukan jawabannya bahwa ia merasa terlalu percaya diri (baca: takabur) dan mengabaikan peran Allah.

    Tahun berikutnya Adi masuk IKIP Negeri Yogyakarta Jurusan Pendidikan Teknik Elektro bersamaan dengan adiknya di IKIP Semarang Jurusan Biologi. Pada semester tujuh Adi mulai bosan kuliah karena hanya mengulang mata kuliah yang sulit dan belum juga lulus, sehingga ia ‘nyambi’ kerja sebagai room boy di sebuah hotel melati di kawasan Malioboro. Hotel itu dibangun oleh bapaknya sendiri yang tukang batu milik sang juragan. Adi diterima sebagai room boy karena bisa berbahasa Inggris dan memiliki penampilan serta kepribadian yang cukup bagus. Shif kerja semakin membuat Adi sering bolos kuliah dan hampir saja di drop out. Beruntung sejak kuliah Adi aktif di Muhammadiyah sehingga memiliki teman yang bisa menyemangati untuk menyelesaikan kuliah sebagai wujud bakti dan tanggung jawab atas jerih payah orang tua. Adi pun berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan menyandang gelar S.Pd setelah delapan tahun termasuk cuti pada tahun 1999.

    Hiruk pikuk reformasi dinikmati dengan tetap aktif mengaji dan berafiliasi ke sebuah partai Islam bahkan menjadi ketua cabang dan caleg mewakili kecamatan. Sarjana menganggur tidak ada dalam kamus Adi. Ia mengajar TPA di masjid kampungnya, bimbingan belajar di dua tempat berbeda bahkan melayani les privat. Dalam kesibukannya Adi menyadari perlunya bimbingan seorang kyai. Ia pun melamar jadi santri, tetapi mengetahui sejarah  pribadinya sang kyai malah memintanya jadi ustad. Adi pun menolak.

    Mei tahun 2000, Adi diminta menengok dua kakaknya yang mukim dan bekerja di Merauke. Mereka berdua yang mensupport biaya kuliah Adi. Dan bekerjalah Adi sebagai guru honor di dua madrasah dan SMA selama setahun, sebelum diterima sebagai CPNS. Kehidupan Adi pun berubah. Status sebagai pegawai negeri dengan gaji yang melebihi kakak-kakaknya. Adi sangat bersyukur dan merasa cukup dengan rejeki yang diberikan Allah. Ia senang bisa berbagi dengan keluarga dan sesama. Adi berprinsip bahwa harta yang dibelanjakan di jalan dakwah adalah harta yang sesungguhnya.

    Adi bisa menikmati dakwah dan bergabung dalam Yayasan Assalaam Merauke sebagai sekretaris bahkan sejak tahun 2004 hingga sekarang menjabat sebagai ketua. Yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan sosial tersebut, memiliki tempat penitipan anak, PAUD, TK dan SDIT serta melayani dakwah hingga penjuru kawasan transmigrasi. Berkat doa orang banyak, itu yang mengantarkan Adi lolos seleksi beasiswa Study Master di UGM 2005 serta short course ke Australia tahun 2010 dan ke Jerman tahun 2012.

    Sementara perjalanan menulisnya, Adi pernah mengikuti kursus singkat jurnalis sewaktu kuliah tetapi tidak sampai selesai karena harus masuk kerja di hotel. Menulis beberapa kali di koran lokal Merauke tentang pendidikan dan perkembangan daerah.

    Prestasi menulis di FAM Indonesia: naskah puisinya lolos seleksi dalam proyek Antologi Puisi FAM Indonesia, bertema “Pahlawan di Mataku.”

    Alasan lelaki yang kini berdomisili di Kota Mannheim, Jerman, bergabung dengan FAM Indonesia adalah ingin berbagi pengalaman hidup dan menambah cita rasa tulisan untuk berdakwah. Ia merasa bahwa FAM adalah wadah yang tepat untuk membina berdakwah bil qalam. Kini, meskipun Adi tinggal jauh dari Tanah Air, ia aktif mengikuti ivent, info-info seputar FAM Indonesia melalui website FAM dan grup Forum Aishiteru Menulis.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Profil Anggota FAM Indonesia: Sutadi Resa Abdullah (FAM Jerman) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top