• Info Terkini

    Friday, December 14, 2012

    Sejak Mengenalmu Aku Seolah Terlahir Kembali

    Padang, 30 Muharram 1434 H /14 Desember 2012
    Teruntuk Sahabatku, FAM Indonesia
    di-
    Taman Indah Tinta Berkarya

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Maha suci Allah yang telah menganugerahkan nikmat berupa ‘aqal dan fikiran kepada kita, menjadikan kita lebih mulia daripada makhluk-makhluk Allah yang lainnya.

    Shalawat dan salam semoga tercurah buat Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sang Nabi teladan ummat yang telah mewariskan pusaka hidup berupa Al-Qur’an dan Sunnah buat kita.

    FAM yang baik… Pada kesempatan yang berharga ini izinkanlah aku mengungkapkan semua isi hatiku. Ucapan terima kasih yang tulus dari lubuk hati yang terdalam ingin kusampaikan kepadamu. Ungkapan bangga atas komitmen dan mottomu yang mulia: “Membina Dengan Hati Calon Penulis Islami”. Dari motto sederhanamu itu aku menangkap kedewasaan cara berfikirmu, kematangan konsep hidup yang kau miliki, kemuliaan tujuanmu yang lahir dari pemahaman akan hakikat dari penciptaanmu. Aku menilai bukanlah orientasi duniawi semata yang engkau tuju, melainkan lebih mulia daripada itu yaitu orientasi ukhrawi mencari Ridha Ilahi.

    Pada kesempatan ini izinkan juga aku menyampaikan terima kasih atas kesediaanmu menerimaku menjadi bagian dari keluarga besarmu. Sebuah kesempatan yang sangat kusyukuri bisa mengenalmu dan menjadi salah satu batu bata yang turut menopang istanamu yang megah. Bisa merasakan indahnya ukhuwah islamiyah bersamamu merupakan anugerah terindah buatku. Semenjak mengenalmu aku seolah terlahir kembali. Aku merasa baru menemukan jati diriku yang sesungguhnya. Motivasi menulis yang engkau tularkan menjadikan aku merasa sangat berarti dan mulai mengenal potensi diriku yang terpendam selama ini. Aku merasakan di sinilah keluarga keduaku setelah keluargaku di rumah (bersama anak dan istri). Tak bisa kubayangkan seandainya Allah tidak mempertemukan kita, barangkali aku hanya akan menjadi seorang yang tidak berguna selamanya dan tidak diperhitungkan dalam kehidupan ini.

    Barangkali engkau tidak merasakan seperti apa yang kurasakan. Bahkan mungkin juga engkau tidak butuh aku. Tidak memerlukan bantuanku. Tapi tidaklah mengapa. Itu tidak menjadi soal bagiku. Namun aku sangat membutuhkanmu. Petuah-petuah darimu senantiasa kutunggu. Memotivasiku di kala semangat menulisku mulai kendor. Memberikan inspirasi kepadaku di kala mata penaku mulai tumpul. Mengingatkanku di saat aku terlupa. Menasehatiku di kala aku tersalah. Menghiburku di saat aku gelisah. Mengulas karya-karyaku yang memiliki banyak kekurangan dan memberikan masukan untuk perubahan yang lebih baik. Aku berkomitmen akan membuatmu bangga dengan karya-karyaku nantinya. Di sini bersamamu aku ingin menebus kealphaanku dan mengejar ketertinggalanku selama ini. Mudah-mudahan belum terlambat di usiaku yang nyaris kepala 3 dua tahun lagi. Hanya doa dan bimbingan darimu yang ku harapkan.

    FAM yang dirahmati Allah… Tak terkira betapa senang dan bahagianya hatiku, di saat kau nyatakan puisiku lolos antologi puisi yang kau adakan beberapa waktu lalu. Suatu hal yang tak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya. Bahkan singgah dalam mimpi pun tidak. Tahukah engkau FAM, hal tersebut telah membangkitkan percaya diriku untuk terus berkarya dan mengasah kemampuan menulisku. Betapa tidak, itu merupakan karya perdanaku yang langsung engkau hargai dengan meloloskannya dalam antologi puisi dan menyandingkannya bersama puluhan karya penulis lain yang sudah malang melintang dalam dunia kepenulisan. Aku belumlah apa-apanya dibanding mereka.

    FAM Sang Inspirator dan Motivator… Izinkanlah aku menyematkan gelar tersebut untukmu. Aku tidak tahu entah mengapa setelah mengenalmu waktuku terasa sempit sekali. Detik demi detik terasa cepat sekali berlalu. Waktu 24 jam sehari terasa sangat kurang bagiku. Rasanya ingin kuminta tambahan waktu kepada Allah 24 jam lagi agar aku bisa berkarya lebih banyak dan lebih baik lagi.

    FAM dan sahabat karibku semua… Menjadi penulis terkenal bukanlah tujuan utamaku. Menulis bagiku bukan hanya aktivitas dan rutinitas biasa. Bagiku menulis merupakan salah satu ladang amal untuk menyebar kebaikan buat sesama. Menulis bagiku merupakan sebuah sarana ibadah. Sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sarana untuk menyampaikan indahnya hidup dalam kemuliaan islam. Sarana untuk menyampaikan kebesaran Allah lewat tulisan. Sarana untuk bisa berbagi kebahagiaan dengan orang-orang di sekitarku. Sebagai sarana pembuka pintu hidayah buat saudara-saudaraku yang belum menemukan hidayah.

    FAM yang manis dan baik hati… Salah satu impianku jika nantinya aku menjadi penulis terkenal dan menghasilkan royalty yang banyak dari buku-buku karyaku adalah akan kupergunakan untuk menyampaikan niat kedua orang tuaku memenuhi panggilan Allah yang mulia menuju tanah suci. Tak bisa kubayangkan seperti apa perasaan mereka nantinya ketika berhasil menapakkan kaki di tanah suci. Tanah suci para nabi dan rasul. Dan mudah-mudahan itu sebagai salah satu bentuk pengabdianku kepada mereka.

    Selain itu aku juga memiliki impian terbesar ingin membangun sebuah panti asuhan anak yatim. Aku ingin menjadi orang tua dari puluhan, ratusan bahkan ribuan anak yatim yang mengalami nasib yang kurang beruntung di negeri ini. Tahukah engkau FAM, setiap kali aku melihat dan teringat akan duka lara mereka yang masih kecil-kecil, aku tidak bisa menahan air mataku. Serasa semuanya mau tumpah membasahi pipiku. Aku merasa betapa pedih penderitaan mereka. Masih kecil sudah ditinggal mati sang ayah. Sungguh malang nasib mereka. Barangkali ada diantara mereka yang menginginkan lebih baik aku mati saja daripada harus menanggung penderitaan dan beban hidup seperti ini sepanjang masa. Na’udzubillah. Di usia yang masih sangat belia tersebut perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tualah yang sangat mereka butuhkan, namun tidak mereka dapatkan. Bahkan orang-orang di sekitar lingkungannya pun tidak bersahabat dengan mereka. Kasihan sekali menyaksikan kondisi mereka.

    Tahukah engkau FAM. Saat menulis tentang ini terasa air mataku menganak air dan tak sengaja menetes membasahi mejaku. Aku tidak bisa membayangkan kalau saja itu yang terjadi padaku. Akan tetapi Allah masih sayang kepadaku. Kedua orang tuaku masih hidup sampai saat ini. Mudahan-mudahan aku diberikan kesempatan untuk berbakti kepada mereka.

    Selanjutnya yang menjadi impianku jika aku menjadi seorang penulis terkenal adalah, aku ingin mendirikan sebuah Pondok Tahfidz Qur’an. Itu berangkat dari kemirisanku menyaksikan kondisi ummat yang sudah sangat jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah. Aku menilai mereka tidak bangga lagi menjadi seorang muslim sejati. Bahkan sebagian besar generasi muda islam sekarang gengsi menunjukkan jati dirinya sebagai seorang muslim/ah. Zaman sekarang ini sudah jarang yang mau untuk belajar Qur’an, apalagi menghafal dan mengamalkannya. Mereka malu nantinya dianggap kolot, tidak modern, dan tidak mengikuti perkembangan zaman, dll. Di pondok Al-Qur’an nantinya akan dibina terutama para generasi muda yang berminat untuk menghafal, mempelajari dan tentunya mengamalkan Al-Qur’an.

    FAM yang ramah dan bersahaja… Barangkali itulah sekelumit harapan dan impianku. Masih banyak yang lain. Keterbatasan ruang dan waktu sehingga tidak bisa ku ungkapkan di sini semua pada kesempatan ini. Mudah-mudahan di lain waktu dan kesempatan disambung lagi. Do’a dan motivasi dari FAM dan sahabat semua sangat ku butuhkan untuk tetap berkarya dan menghasilkan yang terbaik. Semoga Allah mengabulkan harapan dan impianku tersebut. Aamiin.

    Salam Karya,

    Muhammad Abrar
    FAM1174U-Padang-Sumatera Barat
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sejak Mengenalmu Aku Seolah Terlahir Kembali Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top