• Info Terkini

    Saturday, December 15, 2012

    Semakin Kita Tahu, Semakin Banyak yang Tidak Kita Tahu

    Pasuruan, 15 Desember 2012
    Kepada FAM INDONESIA
    di-
    Lubuk hati setiap sahabatnya

    Bismillahirrahmanirrahiim

    Assalamualaikum FAM,

    Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menulis surat lagi untukmu. Sudah lama aku tak menyapa dirimu lewat rumah yang selalu membangkitkan jiwa menulisku. Senang rasanya bisa berbagi denganmu. Hmm, kali ini tema yang kau angkat dalam event ini membuatku tersenyum dan bangga kepadamu. Kamu tahu kenapa? Yups, karena tema ini amatlah unik dan sekaligus menjadi doa agar tidak menjadi angan-angan belaka namun bisa terwujudkan. Amiinn.

    FAM yang selalu kurindukan, terima kasih atas undanganmu itu. Kau membutku bersemangat kembali setelah beberapa hari yang lalu disibukkan dengan ujian dan kini saatnya refreshing dan tak lupa penuhi undanganmu untuk merangkai kata-kata emas mengenai impianku jika aku menjadi penulis terkenal kelak. Menjadi penulis terkenal? Siapa sih yang tak menginginkan hal itu. Termasuk aku, FAM. Aku yang selalu berjuang untuk menggapai setiap mimpiku yang pernah kutuliskan dalam secarik kertas putih dan pernah kubacakan di depan ratusan orang yang tak lain adalah teman-temanku sendiri dalam suatu acara di sekolah.

    Aku jadi ingat petuah guru agamaku, Bu Umi. Beliau pernah berpesan kepada kami bahwa menjadi orang penting itu penting, namun menjadi orang baik itu yang lebih penting. Seperti itulah kata beliau di sela-sela mengajar. Sejak saat itu rumus tersebut selalu teringat dalam benakku. Nah, aku tidak hanya ingin menjadi orang penting dengan sejuta karya yang membuatku menjadi terkenal. Tapi aku hanya ingin menjadi orang baik yang selalu dikenang akan karya-karyanya dan mampu mengambil manfaat atas karya-karyaku. Menjadi orang yang selalu dalam lindungan-Nya.

    FAM sahabatku, engkau begitu baik denganku dan tak pernah bosan mendengarkan cerita-ceritaku. Aku hanya ingin engkau mendengar bahwa aku tak mudah putus asa. Menjadi penulis terkenal itu amatlah sulit. Bagai berperang melawan kemalasan untuk menulis demi sebuah kemenangan untuk menjadi terkenal dengan karya-karya yang bermanfaat bagi umat. Nah, jika aku menjadi penulis terkenal, aku tak akan lupa dengan perintah Allah. Sedekah. Yups, itulah kunci dari setiap harta. Karena sesungguhnya harta itu milikNya. Dan apa yang disedekahkan itulah milik kita.

    Setelah hal itu terpenuhi, maka orangtuakulah yang akan menikmati hasilnya. Senyum manis Ibuku yang setiap hari harus bangun lebih awal sebelum orang-orang bangun untuk mengais rezeki di bumi Allah. Menjajakan dagangan kecil yang kadang kala tak mendapatkan laba. Ingin rasanya mengajak beliau pergi ke Baitullah dengan segudang senyuman yang tak pernah pudar. Ayahku yang selalu merindukan itu, akan kuajak pula bersama. Tak lupa, akan kasih sayang kedua adikku yang membutuhkan uluran tanganku untuk tetap mencari ilmu untuk bekal mereka nanti. Aku akan menyekolahkan mereka hingga perguruan tinggi.

    Keluarga adalah aset pertama dalam hidupku. Mereka bagaikan emas permata yang selalu bersinar dalam hatiku. Royalti yang kudapat dari hasil karya-karyaku memang masih belum banyak. Jika masih sisa, aku akan terus berkarya dan memberikan hasil itu untuk membangun sebuah rumah baca yang kutempatkan di kampung halamanku. Karena memang, di kampung itu masih minim sekali minat bacanya. Tak lupa kuajak segenap orang untuk terus menyuarakan semangat menulis. Menulis adalah rahmat. Menulis adalah kebutuhan. Tanpa adanya penulis, kita tidak akan pernah tahu apa yang ada di alam semesta ini. Seperti kata guru sejarahku, “Semakin kita tahu, semakin banyak yang tidak kita tahu”. Ya, itu memang benar. sedikit saja kita membaca semakin banyak rasa penasaran yang membuncah yang membuat kita merasa kecil karena tak tahu dan membuat kita semakin aktif membaca. Jika hanya membaca, kita hanya bisa mengambil ilmu dari apa yang kita baca. Namun dengan menulis, kita juga bisa menyebarkan ilmu. Seperti yang disunnahkan oleh Rasulullah kepada kita untuk menyampaikan ilmu walau satu ayat.

    Okay FAM, sepertinya itulah impianku jika aku menjadi penulis terkenal. Aku sudah cukup banyak bercerita ini itu kepadamu. Itu artinya aku juga harus menyudahi surat ini. FAM, kamu tahu aku selalu merindukanmu. kamulah obat hati yang selama ini kucari untuk mengobati kemalasanku dalam berkarya. Terima kasih atas segala ilmu yang telah engkau berikan.

    Salam santun, salam semangat

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Salam manis dariku
    Suffi Azizi, ~FAM 1054M, Pasuruan~
    (suffi_azizi@gmail.com)
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Semakin Kita Tahu, Semakin Banyak yang Tidak Kita Tahu Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top