• Info Terkini

    Wednesday, December 26, 2012

    Sukses Menulis, Ingin Membuat Mama Bangga

    Lampung, 25 Desember 2012
    Kepada Sahabaku, FAM Indonesia
    Di-
    Mimbar Inspirasi

    Assalamualaikum wa rohmatullahi wa barakatuh.

    Hanya salam kepada para fisabilillah yang patut kuhaturkan. Tidak berlebihan jika kukatakan kaulah sang fisabilillah, FAM. Kata-kata yang kau torehkan, tanpa atau dengan disadari telah membuat semua orang mendapatkan suatu cahaya pencerahan. Tak salah bila kau kusebut sebagai sebuah rembulan yang berpijar di gulita malam. Di kala kami—keluarga di wadah kepenulisan FAM—kehilangan suatu kesempatan untuk mereguk nikmatnya semangat menorehkan tinta barang setetes jua, kau selalu datang menyuguhkan kata-kata yang memotivasi kami untuk bangkit. Ketika aku merasa bahwa aku hanyalah anak desa yang tidak memiliki kesempatan, ternyata Allah Azza Wajalla menganugerahkan aku seorang sahabat sepertimu.

    FAM, entahlah, dengan apa aku bisa membalas segalanya. Aku mencoba berpikir hingga aku tak mampu lagi untuk memikirkannya. Mungkin hanya Allah yang mampu membalas semua yang kau berikan padaku. Sekali lagi kuharap aku tidak berlebihan. FAM, aku mengucapkan banyak terima kasih padamu. Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya kau berikan aku kesempatan untuk mencurahkan isi hatiku di grup Forum Aktif Menulis (FAM) ini.

    Aku bersyukur memiliki sahabat setulus dirimu. Aku menemukan keluarga baru denganmu. Ketika aku merasa bahwa aku sendiri. Allah Azza Wajalla melimpahkan rahmatnya yang teramat agung padaku dengan menghadirkanmu di sisiku. Semoga, setiap detik yang kita semua lakukan, dapat menciptakan motivasi bagi sesama manusia yang kehilangan semangatnya untuk melangkah maju ke depan. Ketika aku menulis, maka dengan “Pucuk dicinta ulam pun tiba”, mungkin peribahasa itu pantas terlontarkan pada kisah yang terjalin antara aku dan sang khalik. Aku sering membayangkan, bagaimana jika kelak aku menjadi seorang penulis terkenal. Tidak lain dan tidak bukan, itu kubayangkan lama sebelum datangnya tema itu. Rupanya, Allah memberikanku gambaran, betapa Dia-lah yang paling dekat di sisiku, sehingga Ia bisa mendengar isi hatiku.

    Aku sering mengkhayal—aku mempunyai hobi mengkhayal—tentang sebuah kesuksesan. Ini terdengar menggelikan, bukan? Para terua sering barkata, “Jangan banyak mengkhayal tinggi-tinggi, kalau jatuh akan terasa sangat menyakitkan.”

    Kurasa, kami tidak sepaham. Bagiku, mengkhayal sama artinya dengan imajinasi dan mimpi. Aku ingin mengembangkan imajinasiku selagi aku bisa melakukannya. Mengkhayal juga sama artinya dengan sebuah impian. Aku menggenggam erat keyakinan dalam hatiku bahwa mimpi adalah sebuah nyata yang belum terwujud. Bahkan tak tanggung-tanggung, Andrea Hirata-penulis novel laskar pelangi-berucap, “Bermimpilah! Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.”

    Itulah yang membuatku selalu mengkhayal di setiap waktu. Hingga aku sering dimarahi oleh nenek dan mamaku karena sering melamun.

    Sukses, yang terbayang saat pertama kali aku memikirkannya adalah sebuah kekayaan, popularitas, atau yang lebih sederhana adalah tercapainya sebuah impian. Aku pernah sesekali mengkhayal tentang sebuah kenikmatan yang diraih ketika aku menjadi seorang penulis terkenal. Jika aku ke toko buku, maka semua orang akan memanggilku, berhambur padaku, dan meminta tanda tanganku. Aku juga akan diundang ke berbagai seminar sastra. Bukuku yang akan terbit diburu oleh ribuan bahkan jutaan pemesan seperti halnya JK Rowling--penulis  serial novel legendaris Harry Potter. Namaku pun akan tercantum di berbagai artikel kesasteraan di media cetak ataupun media elektronik. Tentunya, jika aku menjadi penulis terkenal, maka aku berhasil membanggakan keluargaku. Bukan hanya orangtua dan sanak saudaraku, tapi juga berarti orang-orang yang berdiri di belakangku, dan menyiagakan tangannya untuk mendorongku ketika aku hendak melangkah mundur. Mereka adalah kau, FAM, mereka juga adalah guru-guruku, teman-temanku, dan para penulis senior yang banyak menginspirasiku. Itulah yang kubayangkan ketika aku menjadi penulis terkenal.

    Tapi, itu hanyalah kenikmatan semu. Fatamorgana kehidupan yang hanya membuatku tidak mensyukuri apa yang Allah limpahkan padaku. Karena sesungguhnya, menjadi penulis terkenal bukanlah hal yang patut diprioritaskan. Tugas seorang penulis sejati adalah menyuguhkan cerita berbobot makna yang secara tulus ikhlas semata-mata untuk menghibur dan menebar inspirasi kepada pembacanya. Karena selagi aku memberikan yang terbaik, maka para pembaca dengan sendirinya akan mengenalku. Bagiku, kebahagiaan tidak dinilai dari apa yang kumiliki dan apa yang kudapatkan. Bahagiaku yang sesungguhnya adalah memberikan yang terbaik kepada siapapun. Bahagia datang karena memang diriku yang menghendakinya, sehingga hatiku pun tak luput dari rasa syukkur dan puas yang pada akhirnya, segala kenikmatan berhamburan ke pelukanku bagaikan semburat senja memeluk bumi. Ketika aku memberikan usaha yang terbaik untuk para pembaca tanpa harapan untuk menjadi yang terbaik, maka tanpa kuminta Allah akan memberikan nikmat terbaiknya secara tak terduga melebihi nikmatnya menjadi penulis terkenal.

    Amatlah jauh dari semua itu, kucoba renungi kembali. Jika kelak aku menjadi penulis terkenal, tak dipungkiri, aku akan merindukan masa di mana aku sedang bergelut dengan kehidupan yang sarat makna saat mencapai impianku. Terpatri dalam jiwa ini, dari mana aku berasal. Aku hanyalah anak yang lahir dari keluarga broken home. Dengan sebuah nyali yang tersulut abadi, kutemukan sebuah keluarga baru denganmu. Di mana aku tahu, aku tidaklah sendiri. Aku bisa membuka sebuah kesempatan sekalipun pintu kesempatan itu sudah tertutuprapat. Karena bagiku, tidak ada kesempatan yang hilang. Kesempatan akan terbuka dengan sendirinya jika kita berusaha untuk membukanya.

    Kerika aku lelah mengejar mimpi, selalu datang kata-kata harapan Papa di layar monitorku yang selalu memotivasiku untuk bangkit. Ketika aku merasa bahwa kesempatanku telah hilang karena aku anak yang tinggal terpencil, selalu ada kau yang memberikan harapan pada kesempatan yang pernah kuanggap hilang. Ketika sebuah karya telah kubuat, maka Mama-lah orang pertama yang dengan setia mendengarkan karyaku yang kubacakan untuknya. Ketika aku memenangkan suatu perlombaan, maka ada Suci, sahabat yang menjadi orang pertama yang bertepuk tangan untukku. Tidak ada bahagia yang lebih besar dari pada itu. Kau dan merekalah, orang yang berdiri di belakangku. Selalu ada di balik kesuksesanku sehingga kelak, aku menjadi penulis terkenal. Tanpa semua itu, aku tidak tahu bagaimana menjalani kehidupan semu dan hampa ini.

    Kuakui sebuah kedahsyatan dari peribahasa yang berucap, “Untuk naik itu sangat sulit, tapi dengan sekali kecerobohan, maka dengan mudahnya untuk meluncur kebawah.” Ketika kini kurasakan betapa sulitnya masa yang kualami menuju kebahagiaan. Untuk menjadi penulis yang memberikan inspirasi kepada pembacanya. Aku takut, ketika aku sudah menjadi penulis terkenal, maka dengan mudahnya aku meluncur ke bawah dengan segala ketidaktahuanku. Karena aku tahu, Allah selalu menguji hambanya. Semoga dengan suksesnya aku, aku tidak lupa diri pada ujian yang berdalih sebagai sebuah kesuksesan.

    Kini, mungkin aku masih bisa mengharapkan suatu yang berguna bagi sesama. Tapi apalah daya dan upaya manusia sepertiku yang hanya bisa berencana. Hanya Allah sang penentu. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa agar kelak, ketika aku menjadi penulis terkenal, maka aku tidak menjadi orang yang melampaui batas. Aku percaya, iman manusia terkadang naik dan terkadang turun. Aku takut, aku manjadi seorang yang sombong dan tamak. Karena, selalu ada cobaan yang menghadang di suatu perjalanan hidup. Terlebih, selalu ada syaitan dengan hawa nafsunya yang mengiringi manusia setiap saat untuk melancarkan tipu muslihatnya. Semoga Allah azza wa jalla terus melimpahkan ridhanya di sisiku, dan mengizinkanku untuk menggempur segala tipu muslihat syaitan tanpa kehilangan semangat.

    Yang pasti, jika aku menjadi seorang penulis terkenal, maka kebahagiaan sepenuhnya harus didapatkan mama, terus mama, dan selalu mama. Karena keberanianku untuk melangkah sejauh ini tak lain berasal dari kekuatan yang Mama berikan padaku. Aku tidak tahu, bagaimana hidupku tanpa mama di sisiku. Mama memang bukan orang yang mendukungku secara langsung dan kentara. Mama pun kerap menjadi ujian bagiku. Mama acapkali menjadi penghalangku dengan segala sifat buruknya. Tapi, Mama rela berkorban demi kebahagiaanku sekalipun harus mengorbankan hidupnya. Mama selalu menangis di saat aku menangis. Aku sering berpikir, apa yang bisa kulakukan untuk membahagiakan hidupnya.

    Semoga, Allah mengizinkanku untuk memberikan harapan pada orang yang merasa kehilangan kesempatan seperti yang pernah kualami. Aku ingin mereka tahu, impian itu tidak terbatas. Tidak tergantung dari apa yang kita miliki, bagaimana keadaan kita, di mana kita, siapa kita. Karena impian akan menghampiri orang yang benar-benar mengejarnya. Karena Allah ada di sisi kita, mendampingi kita di setiap langkah menuju impian. Semoga Allah terus menggenggam mimpi-mimpiku, terus memberiku kekuatan untuk menghadapi sebuah makna menjadi penulis terkenal yang mungkin akan menjadi ujian bagiku. Sekalipun aku akan terjatuh dan terjatuh. Aku percaya, tidak ada manusia yang diciptakan untuk menderita. Menderita hanya dirasakan oleh orang yang tidak mensyukuri nikmat-Nya. Karena kelak, Allah akan memberi bahagia yang terlampau besar dari apa yang manusia harapkan. Hidup akan berubah, pasti terjadi! Aku yakin dengan segala keyakinanku! Semoga Allah menjaga hati dan keyakinanku. “Amiin Tsuma Amiin.”

    Tinta tergores luka. Mengabad masa. Terburai semalam. Di dekapan Tuhan.

    Wassalamualaikum wa rohmatullahi wa baraakatuh.

    Salam Aishiteru!

    ARINNY FHARAHMA
    FAM 1103S, Lampung
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Sukses Menulis, Ingin Membuat Mama Bangga Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top