• Info Terkini

    Monday, December 24, 2012

    Ulasan Cerpen “Atas Nama Kesempurnaan” Karya Elvi Murdanis (Anggota FAM Deli Serdang)

    Cerpen “Atas Nama Kesempurnaan” ini bercerita tentang seorang wanita bernama Wina, yang di mata orang-orang sempurna, baik secara fisik maupun sifat. Namun semua itu justru menjadi bumerang baginya. Ia belum menikah meski usianya sudah 35 tahun. Setiap laki-laki yang dicintainya mundur karena merasa tidak pantas berpasangan dengannya. Hingga akhirnya ia menjadi gila.

    Dari segi cerita cukup unik. Bahkan di akhir cerita, presiden mengunjungi Wina di rumah sakit jiwa. Itu merupakan hal yang hampir mustahil dilakukan oleh seorang presiden mengingat banyaknya tugas yang harus dilakukan beliau. Tapi inilah cerita, yang bisa dimodifikasi sesuka hati penulisnya. Satu hal yang membuat cerita menarik adalah akhir cerita yang menggantung. Ini membuat pembaca menyimpulkan dan menerka sendiri bagaimana kelanjutannya. Apakah Wina sembuh lalu menikah atau bagaimana.

    Cerita cukup mengalir, sehingga membuat pembaca nyaman menikmati alur yang disajikan. Meski begitu, masih terdapat kesalahan utamanya pada EYD. Selain itu, beberapa kata bahkan kalimat perlu diganti agar tulisan lebih nyaman lagi untuk dibaca.

    Misalnya kalimat “Tapi aku benar-benar sedang tidak enak mood” bisa diganti dengan “Tapi, aku sedang tidak mood”. Dan beberapa kalimat yang lain. Untuk penulisan nama orang seharusnya diawali dengan huruf besar. Dalam cerpen ini tidak semuanya seperti itu. Lalu kesalahan yang hampir ditemui pada setiap cerpen juga ditemui dalam cerpen ini, yaitu penulisan kata “di”. Kata “di” yang diikuti kata tempat penulisannya dipisah.

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    ATAS NAMA KESEMPURNAAN

    Karya: Elvi Murdanis (Anggota FAM Deli Serdang)

    Dengan hormat,
    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada bapak Presiden yang telah memberikan saya kesempatan untuk menulis surat langsung kepada bapak melalui lomba ini.

    Saya adalah wanita berusia 35 tahun. Saya lahir di keluarga yang kaya, berpendidikan dan terpandang di mata masyarakat. Sekarang saya bekerja sebagai direktur utama di salah satu perusahaan properti terkenal di Jakarta. Secara rupa dan kepribadian, saya sangat sempurna, begitu kata semua teman-teman saya. Cantik, manis, tinggi, body mantap, kulit putih bersih, supel, baik hati, suka menolong, bertanggung jawab, dan lain sebagainya. Tapi sebenarnya inilah boomerang bagi diri saya. Sampai saat ini tidak ada satu pun lelaki yang siap menjadi pendamping hidup saya karena kesempurnaan saya ini. Lelaki yang saya cintai dan semua lelaki yang pernah menjadi pacar saya memutuskan saya dan mengatakan bahwa saya terlalu sempurna bagi mereka. Mereka tidak pantas untuk saya. Pak, salahkah saya dengan semua kesempurnaan saya ini????

    Pak Presiden yang terhormat, melalui surat saya ini saya berharap bapak dapat memahami kegelisahan saya ini dan saya juga berharap bapak dapat mencarikan saya pendamping hidup, yang dapat menerima saya apa adanya, menerima segala kesempurnaan saya. Saya yakin bapak pasti lebih banyak mengenal orang-orang dibandingkan saya, oleh karena itu sekali lagi saya mohon bantuan bapak agar saya segera menemukan pendamping hidup.

    Terima kasih
    Salam hormat saya,
    Wina

    Dua bulan sudah surat itu kukirim. Namun balasannya tak kunjung datang. Sore ini aku ada meeting dengan staff. Tepat jam 4 sore nanti. Tapi aku benar-benar sedang tidak enak mood. Aku sedang ingin sendiri. Aku ingin sendiri. Sendiri....

    "Ros, batalkan meeting nanti. Kita ganti minggu depan saja," telepon kututup.

    Aku terus menerawang jauh. Mengingat wajah-wajah lelaki yang pernah mengisi hari-hariku. Kenangan itu begitu indah. Hari-hari yang bertabur kasih dan cinta. Hari-hari yang membuat hidupku terasa indah. Tiba-tiba kenangan itu berhenti pada satu wajah, Hamdan. Wajah itu tak pernah bisa lekang dari memoriku. Lelaki yang membuatku cinta setengah mati. Lelaki yang kusimpan rapi dalam relung hatiku, walau aku telah putus dengannya. Walau ia telah menikah dengan wanita lain. Ahhhh...sakitnya. Luka itu menguak lagi. Luka itu segar lagi. Tiap hari, bahkan tiap saat. Karena sekarang lelaki itu bekerja sebagai bawahanku. Namun aku berusaha tegar. Aku tak ingin terlihat cengeng dihadapannya.

    Tokkk...toookkk...suara ketukan pintu menghapus semua lamunanku.

    "Masuk!" wajah hamdan muncul di balik pintu. Mendadak aku kikuk. Kakiku sejenak gemetar.

    "Bu, ini laporan pemasaran untuk bulan ini," ia meletakkan beberapa file di meja kerjaku. Aku mengangguk tanpa sadar. Ia pun beranjak meninggalkan ruanganku. Hah...aku tertegun jadinya dan mendadak memanggilnya.

    "Hamdan!" ia menoleh.

    "Nanti malam kamu ada waktu?" kulihat kening Hamdan berkerut mendengar pertanyaanku.

    "Maaf, Bu, saya tidak bisa. Kalau malam saya kumpul dengan anak dan istri," jawabnya santun. Aku kehilangan bahan pertanyaan melihat sikapnya yang biasa-biasa saja. Tak bisakah ia memberi celah sedikit saja untukku agar bisa mendekatinya???

    "Bagaimana kalau sekarang??Aku mentraktirmu makan disini. Ayolah, Kumohon!" wajahku memelas. Aku berjalan mendekatinya. Kulihat rona wajahnya berubah. Heran bercampur penasaran.

    "Disini???? Ini masih jam kerja, Bu. Ini juga ruangan direktur, bukan tempat makan," ia mengingatkanku. Ah, masak bodoh. Aku tidak perduli.

    "Direkturnya aku. Dan semua berjalan atas perintahku. Semuanya bisa diatur. Ayolah Hamdan, sekali saja. Aku ingin berbincang-bincang denganmu." kutarik ia duduk di sofa. Ia akhirnya menurut walau kutahu ia terpaksa. Makanan dan minuman pun kupesan. Sebentar saja keduanya sudah ada dihadapan kami.

    "Hamdan, aku ingin menanyakan beberapa hal padamu. Kuharap kau menjawabnya dengan jujur," ia menatapku penuh tanda tanya.

    "Ibu ingin bertanya apa?"

    "Jangan panggil ibu, panggil Wina saja. Seperti kau memanggilku dulu!"

    "Tapi..."

    "Hussssstttt......" kutempelkan jari telunjukku di depan bibirnya. Kudekatkan tubuhku padanya. Mendadak ia canggung. Dapat kurasakan tubuhnya sedikit gemetar. Ia pun menjarak dariku.

    "Apa aku ini cantik???" ia terkejut mendengarnya. Ia mengangguk.

    "Kalau aku cantik kenapa tidak ada yang mau menikah denganku. Apakah aku jahat??"

    "Tidak, kamu baik. Sangat baik. Semua yang mengenalmu pasti senang berada di dekatmu,"

    "Kalau aku baik, kenapa tidak ada yang mau menikah denganku. Apa kekuranganku???"

    "Kekuranganmu tidak ada. Engkau begitu sempurna. Tidak ada cacat sedikitpun. Budi pekertimu elok, rupamu indah dan bagus"

    "Ya, itulah kekuranganku. Aku dilahirkan begitu sempurna. Aku tak pernah merasakan masalah dalam hidupku dengan apa pun dan siapa pun. Hidupku datar-datar saja. Hidupku tenang-tenang saja. Tak ada riaknya apalagi gelombang" suaraku meninggi. Hamdan terkejut. Suasana berubah hening. Kami tenggelam dalam diam.

    "Hamdan, apa karena aku dilahirkan begitu sempurna, aku tak layak mendapatkan cintamu?" aku lari memeluk Hamdan. Sejenak kurasakan tubuhnya yang hangat. Seperti pertama kali aku memeluknya dulu.

    "Wina, Wina, lepas Wina! Lepas! Nanti yang lain lihat!" cepet-cepat ia melepaskan pelukanku. Ia mendorongku jauh.

    "Aku mencintaimu, Hamdan. Begitu juga dengan laki-laki yang pernah menjadi pacarku. Tapi kenapa kalian semua meninggalkanku karena kesempurnaanku. Salahkah aku yang dilahirkan sempurna. Salahkah???" aku berteriak. Kucampakkan semua barang-barang yang ada didekatku. Aku kehilangan kesadaranku

    "Wina, Wina, tenang Tina! Tenang! Ini hanya masalah waktu, mungkin belum saatnya kamu menikah" ia mendekat dan berusaha menenangkanku.

    "Tidak ada yang salah dengan kesempurnaanmu itu. Semua wanita malah ingin memiliki kesempurnaan seperti yang kamu miliki. Cinta itu hadir bukan karena kesempurnaan atau kekurangan seseorang. Ia hadir tanpa kita duga. Tidak bisa di paksakan, tidak bisa dibuat-buat."

    "Kalau begitu nikahilah aku. Aku akan lakukan apa saja untukmu," kupeluk Hamdan erat tak kulepas. Sekuat tenaga ia melepaskan tanganku dari tubuhnya.

    "Tidak mungkin. Aku sudah punya anak dan istri. Aku sangat menyayangi mereka," akhirnya Hamdan berhasil melepaskan tanganku. Aku terdorong hingga jatuh.

    "Sayang. Cinta. Anak, istri. Aku sayang sama kamu. Aku cinta cinta sama kamu. Aku sempurna. Aku cantik! Cintailah aku karena kesempurnaanku. Hahahahahha" aku tertawa terbahak-bahak. Aku melompat-lompat. Aku menari-nari kegirangan.

    ***

    "Aku cantik. Aku baik. Aku sempurna. Aku cinta Hamdan. Aku sayang Hamdan." aku terus berdendang. Berlari-lari kecil. Mengitari taman bersama Hamdan-ku. Boneka beruang pemberian Hamdan dulu. Sebentar-sebentar aku tertawa. Sebentar-sebentar terdiam.

    "Wina, lihat siapa yang datang. Wina kenal?" tanya seorang dokter ramah. kumemerengkan kepala ke kanan untuk melihat orang yang berdiri dibelakang dokter.

    Aku menggeleng. Pria separuh baya itu tersenyum kepadaku.

    "Batinnya begitu terguncang. Ia selalu mengalami kegagalan dalam bercinta karena kesempurnaan yang ia miliki. Ia tidak kuat menerima semua kesempurnaan yang dianugrahkan Tuhan kepadanya. Ia merasa hidupnya tidak berwarna dengan segala kesempurnaan baik fisik maupun sifat. Dan akhirnya ia frustasi," papar dokter kepada pria itu. Sesekali ia melirik kepadaku.

    Lama mereka berbincang-bincang, sambil sesekali menunjuk kepadaku. Aku tak perduli. Aku asyik dengan duniaku sekarang.

    "Ih, beruntung sekali si Wina ya, sudah gila saja masih ada yang perduli. Gak tanggung-tanggung, Presiden langsung yang datang mengunjungi dia,"

    "Iya, ya. Kita saja yang waras belum pernah jumpa langsung dengan Presiden," bisik-bisik para suster dari kejauhan.

    [Sumber: www.famindonesia.com. Sumber gambar google.com]

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Atas Nama Kesempurnaan” Karya Elvi Murdanis (Anggota FAM Deli Serdang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top