• Info Terkini

    Thursday, December 27, 2012

    Ulasan Cerpen “Jilbab Patah Hati” Karya Kirana Octaviana (FAM Tangerang)

    Cerpen yang berjudul “Jilbab Patah Hati” ini bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Rara yang menjalin hubungan dengan seorang lelaki yang bernama Hakim. Rara termasuk awam dalam pemahaman agama. Ia baru belajar mengenakan hijab secara benar melalui sahabatnya, Husna.

    Rara tidak tahu kalau pacaran itu dilarang. Dan Husna menjelaskan semua itu. Meski setelah diberitahu, Rara tetap menjalani aktivitas pacaran jarak jauhnya. Suatu hari, Hakim memutuskannya tiba-tiba. Rara pun patah hati. Sejak peristiwa itu, ia bertekad untuk menjadi muslimah yang sesungguhnya.

    Sebenarnya, pesan yang ingin disampaikan penulis sangatlah baik. Hanya saja, cara penyampaiannya biasa saja sehingga cerita tidak berkesan bagi pembacanya. Hal ini mingkin disebabkan jam terbang dalam menulis masih kurang.

    Cerpen yang bercerita tentang pacaran sudah sangat banyak. Oleh karena itu, jika ingin menulis kisah tersebut, harus pintar-pintar dalam memilih ‘scene’ cerita dan percakapan yang tepat sehingga orang yang membaca tidak merasa bosan dan bisa tergugah hatinya.

    Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah EYD dan penulisan nama. Ada beberapa yang kurang tepat, misalnya penulisan kata “di” yang seharusnya dipisah jika diikuti kata tempat. Contohnya bisa dilihat pada paragraf pertama pada kata “dihadapanku” yang seharusnya ditulis “di hadapanku”. Lalu penulisan nama orang seharusnya diawali dengan huruf besar. Dalam cerpen ini, ada beberapa yang diawali huruf kecil.

    FAM berharap penulis terus berlatih agar kualitas karya semakin meningkat.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT CERPEN PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    JILBAB PATAH HATI
    Oleh Kirana Octaviana
    Anggota FAM Tangerang

    Aku menatap takjub bayanganku di depan cermin, ada begitu banyak perasaan yang bergelumat di hatiku. Heran, bahagia, damai, tenang, takut, sedih, haru dan lainnya. Ku cermati sosok dalam cermin yang ada dihadapanku, sosok wanita dengan busana muslimah lengkap dengan jilbab lebarnya. Hatiku pun disesaki berbagai pertanyaan yang aku sendiri bingung untuk menjawabnya. Inikah aku? Sampai kapan aku akan begini? Tidak, selamanya aku akan seperti ini, aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Kata ku mantap pada hatiku sendiri.

    "Subhanallah, kamu tambah cantik Ra dengan busana muslimah seperti ini, terlihat lebih anggun, lebih feminin, lebih shalihah, lebih baik InsyaALLAH." Puji Husna , sahabat baruku di kampus saat kami sedang makan siang. Mungkin lebih tepatnya sahabat yang membuatku membulatkan niat untuk merubah penampilan, meski aku sadari niatan awal ku hanya ingin seperti Husna, Ingin terlihat lebih baik dan anggun.

    "Kamu bisa saja na, aku begini kan karna kamu." Jawabku yang tersipu malu.

    "Mulai sekarang niatnya diubah ya cantik, bukan karena aku tapi karena Allah."

    "Hehe, iya Husna ku sayang, InsyaALLAH."

    Dan tiba-tiba saja ponsel ku berbunyi, nada dering sms pun mengalihkan perhatianku.

    "Sebentar ya Na, ada sms".

    Kubaca pesan singkat yang masuk, dari Hakim pacarku.

    "Sayang, jangan lupa makan siang ya. Nanti kamu sakit, ingat kamu punya penyakit magh."

    Dengan cepat ku balas sms dari Hakim.

    "Dari siapa Ra?" Pertanyaan Husna membuyarkan senyumku.

    "Dari Hakim Na, mengingatkan makan siang." jelasku singkat.

    "Oh dari pacar baru mu?."

    "Hehe, iya Na. Aku mau tanya Na, memang benar kamu tidak punya pacar?".

    "Memangnya kenapa Ra?” Husna memandangiku penuh selidik.

    “Iya tidak apa-apa. Aku hanya heran saja ada orang yang tidak punya pacar bahkan belum pernah sekalipun pacaran seperti kamu, maaf ya Na.”

    “Iya, aku tidak punya pacar dan belum pernah pacaran sekalipun."

    "Kamu serius Na? Kok bisa? Apa kamu tidak bosan atau merasa kesepian? Pacar itu sedikit banyaknya penting juga na." Jelasku pada Husna.

    "Rara, Rara. Sejauh ini hidupku baik-baik saja. Tidak punya pacar tidak lantas membuatmu mati ataupun stroek Ra, aku memiliki keluarga dan sahabat-sahabat yang menyayangiku dan hidupku tetap bahagia. Lagi pula apa aku harus tetap menjalani sesuatu yang sudah aku ketahui hukumnya haram menurut agama? Apalagi sejauh pengalaman yang aku dapat dari cerita teman-teman pacaran lebih banyak kerugiannya daripada untungnya" Husna menatapku dengan senyum khasnya yang membuatku semakin bingung.

    "Maksud kamu hukumnya haram bagaimana Na? Aku masih belum mengerti."

    "Jadi gini ra, tadi kan kamu tanya kenapa aku tidak mau pacaran? Karna aku sudah tau bahwa hukum pacaran itu haram, agama kita melarang laki-laki dengan perempuan yang bukan mahram berdua-duaan, sedangkan kita sama-sama tau bagaimana aktifitas pacaran? Sangat sulit menghindari untuk tidak jalan berdua. Oke lah jika sebagian orang ada yang tidak pernah jalan berdua dengan pacarnya atau long distance dan saat bertemu masing-masing ditemani mahram, tapi zaman sekarang kan sudah serba kacau Ra, ketemu tidak bisa kan ada hp, telp, sms bahkan 3G-an dan yang lebih keren video call. Dari situ saja kan sudah sangat bertentangan dengan agama kita yang melarang segala macam zina, baik zina suara, zina mata maupun zina lainnya. Islam tidak hanya melarang kita melakukan zina tetapi juga hal-hal yang mendekatinya. Setan tidak akan pernah menyerah menggoda manusia sampai manusia terjerumus kedalam lubang fatamorgananya. Banyak Ra aktivis-aktivis dakwah yang akhirnya terjerumus karena diawali dengan pacaran yang mereka bilang pacaran islami padahal dalam islam tidak ada yang namanya pacaran." Jelas Husna panjang lebar.

    “Jika dalam islam tidak ada yang namanya pacaran, lantas bagaimana kita mengenal lawan jenis untuk menuju pernikahan Ra?”

    “Pertanyaan yang sangat bagus Ra, memang dalam islam tidak ada yang namanya pacaran, tapi bukan berarti kita tidak dibolehkan mengenal sifat atau tabiat orang yang kelak akan menjadi suami kita, bahkan kita diharuskan mengetahuinya agar kita dapat menentukan apakah dia sejalan dan satu fikiran dengan kita atau tidak? Teruma dalam hal akidah. Karena jika tidak mengetahui bagaimana tabiat seseorang yang kelak akan menjadi pasangan hidup dikhawatirkan akan terjadi banyak perbedaan yang mengakibatkan pertengkaran-pertengkaran saat berumah tangga. Dan kamu tidak perlu khawatir karena Allah telah mengatur segala sesuatu dalam agamaNya yang Rahmatan lil ‘alamiin pengenalan lawan jenis dengan ta’aruf. Akan  tetapi Ta’aruf itu sangat berbeda dengan pacaran Ra. Contoh, jika dalam pacaran biasanya pasangan muda-mudi menghabiskan waktu berdua tetapi tidak untuk ta’aruf, pasangan yang sedang berta’aruf dalam artian untuk mengenali pasangan di perbolehkan bertemu akan tetapi wajib dan harus ditemani mahramnya. Seseorang yang sedang berta’aruf dapat bertanya tentang pribadi pasangan ta’arufnya kepada murobbi masing-masing, sahabat ataupun orang-orang yang dipercayai dapat berkata jujur, dan tidak harus ber-sms maupun telepon yang dapat menimbulkan zina hati dan suara. Allah juga telah berjanji dalam kitabNya di QS. An-Nur : 26. Yang kurang lebih artinya seperti ini, ‘Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).’ Sangat indah dan terhindar dari fitnah bukan?.”

    "Iya, janji Allah memang indah. Itu artinya aku salah ya pacaran dengan Hakim walaupun long distance?"

    "Kamu mau jawaban yang sejujurnya dari hatiku tapi membuatmu sakit atau jawaban bohong tapi menyenangkanmu?" Husna semakin membuatku semakin mengaguminya, dia menjawab semua pertanyaanku dengan penuh kesabaran tanpa sedikitpun menyinggung maupun menceramahiku.

    "Tentu saja jawaban yang jujur Husna cantik.”

    "Menurutku tentu salah karena tidak sesuai dengan syari’at Islam, dan saranku kamu lebih baik putuskan hakim. Jika dia benar-benar jodohmu kelak dia akan kembali padamu dengan cara yang baik dan indah."

    "Begitu ya Na?" Tanyaku kembali.

    "Iya kurang lebih seperti itu Ra, bagaimana? Tertarik untuk memutuskan hakim?”

    "Hehe, yang itu nanti dulu saja Na, belum berfikir sejauh itu." Jawabku terkekeh.

    "Rara Rara, lantas sekarang sudah sejauh apa? Apa mau melangkah semakin jauh dan semakin sulit nantinya? Tidak takut sakit hati?" Husna memandangiku dengan pandangan menggoda.

    "Husna jahat, sudah-sudah ayo kita lanjut makan kasihan nasinya sudah dingin." Ku santap kembali nasi goreng yang sudah 15 menit ku acuhkan.

    "Hehe, Rara tambah cantik kalau lagi marah." Husna tertawa lepas melihat tingkahku, dan kami pun kembali melanjutkan makan siang.

    * * *

    2 bulan kemudian.

    "Husnaaa..." Aku melebur ke dalam pelukan Husna. Jilbab biru Husna basah dengan air mataku.

    "Kamu kenapa Ra? Kenapa tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Husna kebingungan dengan tangisku yang tiba-tiba saja meledak saat bertemu dengannya.

    "Hakim Na, Hakim memutuskan aku." Dan tangisku pun semakin pecah.

    "Kenapa Ra? Kok bisa?." tanya Husna yang semakin bingung.

    "Beberapa hari ini Hakim berubah drastis Na, sikapnya mulai dingin dan sudah jarang menghubungiku. Saat aku meminta penjelasannya dia marah dan bilang aku tidak pengertian dengan segala kesibukannya, apa susahnya sih Na menghubungiku satu kali saja dalam 1 minggu? Aku hanya ingin tau kabarnya saja Na, wajar kan Na? Apalagi kami berhubungan jarak jauh." Tangisku pun semakin keras.

    "Iya-iya aku mengerti Ra, ya sudah mungkin belum jodoh, yakinlah akan ada hikmah di balik ini semua, Allah sedang menguji keikhlasanmu ukhty cantik, sabar ya. Terbukti kan sekarang bagaimana dampaknya pacaran?"

    "Huhu... Iya Na. Aku sadar, aku mau bertaubat ?Na, aku ingin seperti kamu. Aku ingin jadi wanita shalihah Na. Aku ingin menjalankan hidup sesuai syari’at agama dan tidak pacaran."

    "Iya, kita sama-sama mengingatkan ya, ya sudah kamu jangan nangis lagi. Menagis secara berlebihan itu dosa apalagi untuk manusia. Nanti Allah cemburu loh.” Husna merapikan jilbabku yang sudah tidak karuan bentuknya.

    "Iya Na, bantu mengingatkan aku ya karena banyak hal-hal yang belum aku ketahui, terus nasihati dan semangati aku ya." Ku hapus sisa-sisa air mataku.

    "Iya sayang InsyaAllah, kita sama-sama belajar ya. Aku punya 1 buku bagus karya Dr. Aidh Al qarni judulnya La Tahzan! Cocok untuk kamu yang sedang sedih."

    "Aku pinjam ya Na? Aku memang membutuhkan banyak motivasi saat ini."

    "Iya, ya sudah ayo kita shalat Dzuhur karena panggilan Allah telah datang." Kami pun bersegera menuju masjid kampus, ingin segera ku adukan segala lara ini padaNya dalam sujudku.

    * * *

    2 tahun kemudian.

    Tak terasa 2 tahun telah berlalu, setelah aku menguatkan niat untuk menjadi muslimah yang sebenarnya hanya karena Allah SWT, hidup berlandaskan kitabNya meski segalanya masih dalam tahap belajar dan proses. Bukankah segala sesuatunya berproses? Dan ini lah aku yang sekarang.

    2 tahun telah berlalu setelah masa yang membuatku jatuh, saat hakim memutuskanku. Semenjak itu pula aku telah berjanji untuk tidak pernah lagi berpacaran. Berbagai aktivitas pun kini ku jalani, aku pun mulai menyibukkan diri dalam dunia dakwah dan mengajar.

    Aku pun sadar, hijrah yang sebenarnya adalah saat hatiku remuk setelah hakim memutuskanku.
    Jilbab yang kini ku kenakan pun bukan lagi semata ingin seperti Husna, Jilbab sakit hati, Husna menyebutnya. Meski ku sadari semua berawal dari patah hati tapi aku sangat bersyukur karena luka itu yang kini membuatku hidup dalam jalan yang lebih positif dan baik. Walaupun bayangan hakim masih melekat kuat dalam benakku, biarlah ku kembalikan segala rasa kepada Allah dan menjalani hidup hanya demi mencari ridhaNya.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Cerpen “Jilbab Patah Hati” Karya Kirana Octaviana (FAM Tangerang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top