• Info Terkini

    Wednesday, December 5, 2012

    Ulasan Puisi “Berharap Lorong Waktu Hening” Karya Firza Randisia (FAM Pandeglang)

    Sebuah judul biasanya menjiwai secara umum isi keseluruhan suatu tulisan. Apakah kita cukup merasakan sinkronisasi dari judul puisi ini dengan tiap-tiap baris kalimat yang ada di dalamnya? Agak sedikit sulit kita mengaitkan isi karangan dengan judul yang telah dipilih, walau tentu saja penulis punya alasan kenapa judul itu muncul menggambari isi tulisannya.

    "Berharap Lorong Waktu Hening", sebuah pengharapan akan sebuah masa yang merentangkan jarak dengan seseorang yang dicinta menjadi saat indah dalam sebuah rindu yang menggamit hati.

    Cerita cinta adalah materi yang tak pernah kering kita gali sejak bumi ini mulai berputar pada porosnya, bahkan untuk kelak setelah segala sesuatunya tiada. Ya cinta adalah satu anugerah dari Allah yang Maha Kuasa, pemilik dan pemberi atas semua nama cinta.

    Satu cinta yang sesungguhnya ditangkap penulis saat dua buah hati telah menyatu dalam sebuah mahligai rumah tangga. Benar, sesuatu yang tadinya dilarang telah menjadi satu yang dihalalkan, sesuatu yang tadinya masih merupakan jarak yang harus dibatasi telah menjadi kesatuan yang berpadu dalam sebuah langkah perjalanan.

    Puisi ini cukup melankolis, dan sangat menyentuh perasaan. Barangkali karena sebuah tugas atau alasan tertentu, dua hati yang telah disatukan harus merentang jarak untuk sesaat waktu. Sebuah "pengorbanan" hati yang harus dirasakan saat indahnya pertemuan yang baru saja dirasakan harus terjeda karena sebuah situasi.

    Ini begitu kental kita rasakan ketika menyimak bait puisi ini:

    Namun penyatuan itu bukanlah berarti peleburan.
    Hanya di saat terpisah, dua jiwa itu akan merasai hal yang serupa, RINDU.
    Apakah dia memakan makanan yang sama seperti yang aku makan?.
    Apakah dia meminum minuman yang sama seperti yang aku minum?.
    Apakah dia tidur di atas kasur seperti yang aku rebahi?.
    Apakah dia bersandar di atas bantal dan guling seperti yang aku sandari?

    Ya, Rindu dan kesetiaan sebuah penantian juga akrab kita rasakan menyelami makna dalam bait ini.

    Di setiap tindakan sehari-hari, di setiap situasi yang sedang dihadapi, penulis selalu tak bisa lepas membayangkan hal yang serupa dengan si jantung hati yang sedang berada jauh dari sisi. Sungguh sebuah kesetiaan yang patut diteladani bagi pasangan yang telah disatukan dalam rumah tangga.

    Ada semacam perjuangan yang cukup gigih sedang dilakukan oleh pasangannya bila menyimak dan menyelami bait puisi ini. Dalam sebuah penantian penulis masih merasakan kenyamanan atas berkah hidup yang sedang dijalani, masih makan dari rezeki yang masih diberi, masih minum sebagi pelepas rasa dahaga, masih tidur di kasur empuk yang dipunya, masih bisa bersandar dengan bantal dan guling yang menemani.

    Namun ke semua itu masih terasa hampa dalam kesendirian, jauh dari si jantung hati. Sungguh sebuah cermin loyalitas sebuah pasangan yang islami.

    Tapi apapun bentuk pertanyaan dari rasa itu, aku merasai satu rasa, RINDU.
    Aku ingin makan dari suapannya.
    Aku ingin minum dari tangannya.
    Aku ingin bersandar di bahunya saat air mata ini mengalir.
    Hidup ini sulit, dan akan lebih sulit saat dia tak ada disini.

    Ya, sekali lagi nada-nada rindu semakin "bernyanyi" di sini. Banyak perasaan yang dibiarkan hanyut tanpa sedikit 'mengontrol' ke mana arah arus yang membawanya.

    Bila nafsu makan hanya ada saat si dia ada di sisi kita, bukankah akan membuat segala sesuatu semakin runyam? Bisa membuat badan menjadi kurus, bahkan bisa jatuh sakit. Satu lagi yang harus kita pandang dalam merangkai kata, selalulah mencoba mencari benang merah dari sebuah masalah atau situasi yang digambarkan, selalulah mencoba menerapkan pesan moral dan kebenaran dalam tulisan. Apalagi kita akan merasakan sebuah kepuasan batin bila mampu berdakwah bil qalam.

    Kenapa harus mengeluh dan menganggap hidup ini sulit tanpa kehadiran si dia? Bukankah sebuah masalah tak akan pernah ada sejauh itu memang mampu kita pikul? Itu mungkin sedikit pesan dari Tim FAM buat penulis puisi ini.

    Secara umum penulis sangat berbakat untuk merangkai kata dalam sebuah puisi. Karena memang tak semua orang mampu mengungkapkan dengan kata-kata menjadi sebuah tulisan dari sebuah perasaan. Teknik dalam penulisan sudah cukup bagus dengan memberi penguatan isi dalam pengulangan-pengulangan kata yang dimunculkan. Tinggal lebih mengembangkan gaya bahasa yang dimunculkan dan meluaskan sedikit imajinasi dalam tulisan.

    Ada beberapa koreksi dalam pemilihan diksi, seperti "merasai" seharusnya "merasakan". Akhiran "kan" lebih pas diimbuhkan dalam kata itu. Juga ada baiknya dilakukan pemenggalan kalimat menjadi beberapa bait. Karena puisi rasanya masih punya peluang dijadikan dua bait.

    Sepertinya bait ke dua dapat kita mulai dengan kata "apakah" yang muncul pada baris pertama.

    Kepada penulis, terus berlatih dan membaca, ditunggu karya-karya selanjutnya.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA
    www.famindonesia.com

    [BERIKUT PUISI PENULIS YANG DIPOSTING TANPA EDITING TIM FAM INDONESIA]

    Berharap Lorong Waktu Hening
    Karya: Firza Randisia (FAM Pandeglang)

    Inilah cinta yang sebenarnya.
    Cinta setelah pernikahan,
    saat segala hal menjadi halal.
    Penyatuan dua jasad.
    Penyatuan dua perasaan.
    Penyatuan dua detak jantung.
    Namun penyatuan itu bukanlah berarti peleburan.
    Hanya di saat terpisah, dua jiwa itu akan merasai hal yang serupa, RINDU.
    Apakah dia memakan makanan yang sama seperti yang aku makan?.
    Apakah dia meminum minuman yang sama seperti yang aku minum?.
    Apakah dia tidur di atas kasur seperti yang aku rebahi?.
    Apakah dia bersandar di atas bantal dan guling seperti yang aku sandari?.
    Tapi apapun bentuk pertanyaan dari rasa itu, aku merasai satu rasa, RINDU.
    Aku ingin makan dari suapannya.
    Aku ingin minum dari tangannya.
    Aku ingin bersandar di bahunya saat air mata ini mengalir.
    Hidup ini sulit, dan akan lebih sulit saat dia tak ada disini.
    Jika tak ada dia disini, aku berharap waktu diam tak bergerak, seperti lorong waktu yang kedua.
    Seperti para Ashabul Kahfi yang tertutup telinga selama beratus tahun di dalam gua, namun tak menjadi tua.
    Aku ingin seperti itu.
    Agar jantung ini, tak merasakan rindu yang berkecamuk.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Berharap Lorong Waktu Hening” Karya Firza Randisia (FAM Pandeglang) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top