• Info Terkini

    Friday, December 28, 2012

    Ulasan Puisi “Hidup dan Rassulullah” Karya Anisa Aulia Rohmat (FAM Purwakarta)

    Angin berdesir diantara pepohonan lebat dan hijau
    Menggelitik telinga dan menyeruhkan dada
    Seakan masalah hilang dalam sekejap
    al-qur'an kecil selalu kupegang

    Ya Rasul...
    Namamu akan selalu menyertai sholat dan doaku
    Namamu akan selalu membuatku tenang
    Semua masalah kehidupan ini akan terbantu oleh shalawat-mu

    Ya Rasul...
    Kami rindu padamu, kami ingin menjadi umatmu
    shalawat yang selalu kami ucapkan
    sangat berarti bagi kehidupan kami

    Namamu bagaikan denting piano
    yang selalu menyegarkan pikiran
    teman yang tak pernah mendukungku
    teman yang tak ada saat aku membutuhkannya
    tergantikan oleh shalawat-mu

    Awan seputih kapas yang berada di langit biru
    bagaikan mengukir namamu

    Ukiran kerinduanku padamu selalu bertambah detik demi detik

    Ya Rasul...
    Kami mencintaimu kami merindukanmu
    Terimalah kami sebagai umatmu

    ULASAN TIM FAM INDONESIA:

    Cinta Rasul, adalah sebuah sikap terpuji yang sepatutnya kita lakukan bahkan juga pada umat saat Baginda Rasul masih hidup sampai umat Muhammad di akhir zaman nanti. Segala puji tak henti-hentinya mengalir , bersalawat dan berharap safaatnya di yaumil mahsar kelak.|

    Sungguh pada diri Rasulullah adalah sebaik-baik teladan yang patut kita tiru, sebagai Insan Kamil, sebagai Habibullah. Bila Allah yang maha kuasa telah menyatakan Muhammad adalah sebagi utusan dan kekasihNya, tak perlu lagi sebuah alasan apun atas keraguan dengan kerasulannya.

    Sesungguhnya dengan bersalawat kepada Rasulullah, adalah semacam bentuk segitiga atas segala kebaikan yang insyaAllah kembali kepada kita. Dengan bersalawat kepada Nabi, Nabi akan memohon segala kemudahan dan kebaikan pada Allah untuk kita, dan Allah tentu tidak akan mengabaikan begitu saja permintaan RasulNya, lalu permohonan itu InsyaAllah akan dapat kita terima. Amin.

    Puisi Hidup dan Rasulullah ini mungkin terlahir dari sebuah rasa kecintaan yang mendalam pada beliau. Atau juga sesuatu yang kembali kita renungkan atas segala hujatan dan penghinaan yang tak henti-hentinya dilakukan oleh kaum yang dilaknati Allah.

    Mereka sepertinya tidak akan pernah berhenti dan tenang sebelum kita selaku penganut agama yang diridhai Allah terpengeruh atau mengikuti jalan sesat mereka.

    Sungguh ujian bagi umat Muhammad agar lebih meningkatkan ketaqwaan dari waktu ke waktu, hingga waktu itu sendiri berakhir di suatu masa yang pasti akan datang.

    Angin berdesir diantara pepohonan lebat dan hijau
    Menggelitik telinga dan menyeruhkan dada
    Seakan masalah hilang dalam sekejap
    al-qur'an kecil selalu kupegang

    Bait awal dari puisi ini akan memberikan sebuah rasa pada pembaca bila penulis dalam menjalani roda kehidupannya sudah tentu tak lepas dari masalah, begitulah setiap makhluk yang bernama manusia.

    Sebuah bentuk metafora cukup bagus terangkai untuk menggambarkan sebuah kelegaan dengan tiupan angin yang sejuk di antara rimbun pepohonan, rasa itu meresap langsung ke dalam dada seolah sebuah kepuasan bathin yang luar biasa.

    Satu contoh atau seruan cukup menggugah kita selaku Muslim yang baik. Ya, kenapa hanya buku agenda, kamus mini, buku petunjuk perjalanan, atau buku-buku lainnya yang tak pernah lepas mengiringi setiap langkah kita? Kenapa bukan Alquran yang nyata-nyata pedoman hidup, penunjuk arah dan pelita dalam kehidupan kita yang kita bawa mengiringi langkah-langkah ini? Bukankah sekarang telah ada Alquran mini yang gampang dibawa kemana saja?

    Ini pesan moral yang tersirat bila menyelami bait pertama puisi ini. Semoga hal ini mengingatkan kita disaat lupa.

    Ya Rasul...
    Namamu akan selalu menyertai sholat dan doaku
    Namamu akan selalu membuatku tenang
    Semua masalah kehidupan ini akan terbantu oleh shalawat-mu

    Ya Rasul...
    Kami rindu padamu, kami ingin menjadi umatmu
    shalawat yang selalu kami ucapkan
    sangat berarti bagi kehidupan kami

    Dua bait berikut ini jelas sebagaimana tadi diulas di atas akan betapa pentingnya kita bersalawat kepada nabi.

    Menyimak kedua bait ini penulis seakan meyakinkan kepada pembaca bila salawat itu benar-benar memberi ketenangan dan kelapangan bagi kita dalam hidup dan dalam mengalami masalah. Semoga penekanan pentingnya itu dilakukan dapat menyentuh hati kita.

    Demikian juga pada bait-bait selanjutnya. Pada seorang sahabat yang kita anggap telah begitu dekat, banyak orang beranggapan bila teman untuk berbagi suka mudah dicari, tapi teman di kala sedih dan gundah kita seakan menjadi langka kita dapati.

    Dalam puisi ini penulis menganjurkan shalawat kepada rasul adalah sebagai sahabat yang melebihi teman sejati.

    Teknik penulisan yang dilakukan penulis untuk sebuah puisi telah cukup memadai. Begitu mampunya penulis mengungkapkan rasa kecintaan dan pentingnya mengingat rasul dalam kehidupan kita. Ini tercermin dengan beberapa kalimat yang diulang.

    Beberapa bentuk gaya bahasa telah dicoba dengan memberi kiasan pada alam atau sesuatu benda. Seperti pemakaian diksi "angin, denting piano, pepohonan. dan beberapa lainnya". Cukup sangat berani untuk memberi sebuah polesan dalam puisi ini. Semoga untuk puisi-puisi selanjutnya porsinya agak lebih banyak daripada yang kita temui di sini. Puisi adalah bahasa jiwa, kita menggali semua yang diraskan hati, kenapa juga tak kita ikuti bila sebuah rasa mengajak kita melayang? Ikuti dan ungkapkan semua imajinasi itu dengan tetap berpegang pada sebuah nilai kebenaran.

    Selamat menulis, tetap ditunggu bentuk imajinasi yang telah dituangkan dalam puisi.

    Salam santun, salam karya.

    TIM FAM INDONESIA

    www.famindonesia.com
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Hidup dan Rassulullah” Karya Anisa Aulia Rohmat (FAM Purwakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top