• Info Terkini

    Friday, December 14, 2012

    Ulasan Puisi “Wajah Indonesia Diinjak Pribumi” Karya Lya Lutfuntika (FAM Yogyakarta)

    Oleh: Lya Lutfuntika (Anggota FAM Yogyakarta)

    Menatap Indonesia...
    Layaknya karang yang telah jutaan kali dihantam ombak lautan
    Gagah, penuh potensi
    Tapi lebih rapuh dari bongkahan kayu randu kering
    Kutatap lagiindonesia yang malang
    Tak ubahnya sekedar senja di siang hari
    Cepat tenggelam dalam balutan kabut hitam

    Indonesia...
    Kehormatanmu diperjuangkan dengan tumpahan darah pejuang
    Kedaulatanmu ditorehkan dengan tinta intelektual bangsa

    Indonesia, bagaimana kabarmu hari ini?

    Kaum tua telah menghianati demi tumpukan rupiah
    Kaum muda yang dibanggakan kini sibuk dalam balutan merah darah asmara
    Miris rasanya, semakin tak ada nahkoda yang membawamu mencapai kedaulatan !
    Kaum tua berebut kekuasaan
    Kaum muda berebut pekerjaan
    Dan anak-anak cerminan generasi muda pembaharu masa depan,
    Semakin dalam jatuh di jurang nyanyian penebar nafsu syetan!

    Miris, apa kabarmu Indonesiaku tersayang...
    Pendidikan yang hanya bermental mencetak karyawan para perampas kehormatan bangsa
    Jabatan yang kian hari menjadi ajang pencetak uang
    Rakyat yang dengan senangnya menerima uang penjualan bangsa di masa pencalonan
    Rakyat pula yang hanya termangu menonton pertunjukan perampokan
    Dengan mengatasnamakan imbalan tugas kaum bangsawan

    Anak muda, engkaulah harapan bangsa yang terjajah ini
    Pantaskah dirimu terbaring di kamar membayangkan kekasih yang tak kunjung datang,
    Sedangkan dibelakangmu banyak yang terbaring kelaparan
    Sedangkan dibelakangmu ada yang tak tidur menciptakan strategi perang

    Hey pemangku kekuasaan,
    Lihatlah yang kalian katakan hiburan
    Tidakkah kau melihat nyata jamur kebiadaban seksual diumbar
    Lalu apa yang kaliantuliskan lulus sensor disetiap tayangan???

    Dan untuk media yang menggemborkan kebebasan...
    Bebas seperti apakah yang kau inginkan?
    Bebas menanyangkan pertengkaran rumah tangga orangagar berujung perceraian?
    Atau menyoroti kekurangan orang lalu kau umbar untuk menjatuhkan?
    Ataukah menjadi tangan-tangan pencekik kantong rakyat dengan iklan yang kau tayangkan?

    Bangsa ini merindukan kebesaran jiwa para penguasa
    Bangsa ini mendambakan perjuangan intelektual muda

    Mulia diri bukan tampak seberapa besar yang kita miliki
    Mulia diri lebih karena seberapa besar yang kita beri

    ULASAN TIM FAM INDONESIA:

    “Wajah Indonesia Diinjak Pribumi”, puisi yang cukup panjang dan luas untuk menggambaran rasa Nasionalis yang berkobar di saat melihat kenyataan demi kenyataan yang dihadapi dari waktu ke waktu. Apakah kita cukup hanya merasakan panjang dan luas atas tulisan ini? Cukupkah kita juga tersentuh dan merasakan pesan yang diamanatkan penulis di dalamnya? Ya, ternyata sebuah tulisan tak hanya perlu panjang dan luas, tapi juga sebaiknya "dalam" dengan makna dan rasa saat penulis mencari rangkaian kata dan saat pembaca juga ikut terbuai dan merasakannya.

    Saat membaca judul "Wajah Indonesia Diinjak Pribumi" kita mulai membayangkan keadaan yang tidak semestinya ada di negeri yang kita cintai ini. Benarkah keterpurukan bangsa dan negeri ini akibat ulah kita sendiri, akibat ketidakpedulian dari pengambil kebijakan dan penentu roda kenegaraan yang sama kita cintai ini? Sangat menarik memang tema yang diangkat untuk tulisan ini. Tapi tema ternyata perlu didukung dengan "The way how to say it". Bagaimana kita bisa mengemas sesuatu yang menarik dengan cara-cara yang menarik juga. Bila keduanya klop, dijamin laris manis.

    Menatap indonesia...
    Layaknya karang yang telah jutaan kali dihantam ombak lautan
    Gagah, penuh potensi
    Tapi lebih rapuh dari bongkahan kayu randu kering
    Kutatap lagiindonesia yang malang
    Tak ubahnya sekedar senja di siang hari
    Cepat tenggelam dalam balutan kabut hitam

    Kita sedikit membuat tertanya dengan maksud bait pertama puisi ini. Dua larik awal mungkin penulis melukiskan potensi yang memang besar sejak dulu kala atas negeri kita ini. Seperti karang yang dihempas ombak lautan, tetap tegar dan kokoh berdiri tanpa ingsut yang tergeserkan. Benarkah sejatinya kita akui semua ini?

    Pertanyaannya muncul ketika pada larik selanjutnya penulis meneruskan dengan kata " tapi lebih rapuh........"

    Setelah dianggap tegar dan kokoh seperti karang, kenapa dinyatakan dengan "lebih rapuh dari bongkahan kayu randu...."

    Kita tahu kata hubung "tapi" untuk menghubungkan dua hal yang berseberangan. Contoh, saya tidak menyintainya, tapi hanya kamu. Dia bukannya tidak mau membalas, tapi belum punya waktu untuk itu, dan contoh-contoh lainnya.

    Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk membuat kalimat pertentangan itu tidak rancu. Hanya dengan menambahkan atau membayangkan sebuah subjek setelah kata "tapi" itu.

    Menatap indonesia...
    Layaknya karang yang telah jutaan kali dihantam ombak lautan
    Gagah, penuh potensi
    Tapi kenyataannya kini ternyata lebih rapuh dari bongkahan kayu randu kering

    Bila kita teruskan membaca bait-bait selanjutnya, semakin tergambarlah keprihatinan yang mendalam dari penulis atas apa yang berlaku dan kita temui saat ini. Cukup jeli penulis menangkap potret-potret yang dibidik dengan lensa diksi yang digunakan, seperti:

    Kaum tua telah menghianati demi tumpukan rupiah
    Kaum muda yang dibanggakan kini sibuk dalam balutan merah darah asmara

    Lihatlah yang kalian katakan hiburan
    Tidakkah kau melihat nyata jamur kebiadaban seksual diumbar

    Ataukah menjadi tangan-tangan pencekik kantong rakyat dengan iklan yang kau tayangkan?

    Semua diksi-diksi yang dipetik dari puisi di atas patut kita acungkan jempol atas keberanian menyuarakan. Memang sebiknyalah kita saling mengingatkan untuk tidak keluar dari koridor yang telah ditentukan dengan tetap mematuhi rambu-rambu kemanusiaan, dan yang sangat penting adalah rambu-rambu Ketuhanan.

    Dunia ini memang seperti seorang tua yang semakin bersolek menebar pesonanya. Tinggal lagi bagaimana kita harus menyikapinya. Apakah terbawa dan semakin tergoda dengan rayuannya atau menyadari bila sewaktu saat akan berakhir semuanya.

    Ini mungkin yang diamanatkan penulis menyimak kalimat dan diksi-diksi ini. Baik kepada kaum tua maupun kaum muda. Harapan yang sama diimpikan tergambar sebagaimana mestinya diakhir -akhir puisi ini.

    Bangsa ini merindukan kebesaran jiwa para penguasa
    Bangsa ini mendambakan perjuangan intelektual muda

    Mulia diri bukan tampak seberapa besar yang kita miliki
    Mulia diri lebih karena seberapa besar yang kita beri

    Ini mungkin mutiara yang akan selalu kita cari saat menyelami dan merenagi dalamnya lautan kehidupan di negeri ini. Semoga himbauan ini dapat membuat perubahan yang berarti buat kita semua. Puisi yang menarik dan sangat membangun. Kita tunggu himbauan-himbaun moral selanjutnya dari penulis lewat puisi.
    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Ulasan Puisi “Wajah Indonesia Diinjak Pribumi” Karya Lya Lutfuntika (FAM Yogyakarta) Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top