• Info Terkini

    Saturday, December 15, 2012

    Untukmu yang Membuatku Tak Henti-hentinya Mencintai Dunia Literasi

    Getasan, 14 Desember 2012

    Teruntuk FAM yang tak henti-hentinya membuatku senantiasa mencintai dunia literasi.

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    FAM, senang sekali rasanya kali ini aku bisa kembali menulis surat untukmu. Memang baru untuk kedua kali surat dariku untukmu, namun kali ini aku benar-benar menulis karena ada banyak cerita yang memang tak pernah aku bagi pada siapapun yang ingin sekali aku ceritakan padamu. FAM, sungguh event ini membantuku untuk lebih giat menulis, dan yang terpenting adalah untuk belajar berbagi apa yang aku rasakan. Dan untuk itu, aku sangat berterima kasih padamu FAM...

    FAM, pertama-tama, aku akan bercerita sedikit tentang diriku. Dilihat dari suratku padamu sebulan lalu, mungkin semuanya sudah jelas bahwa sebenarnya aku adalah seorang yang dingin, tak pernah mau berbagi dan tak bisa memercayai orang lain karena egoku yang besar. Tak perlu kau mencari suratku dulu untuk membuktikan, pengakuan ini tak hanya aku yang menyimpulkannya. Namun, waktu demi waktu berlalu. Aku yang sebelumnya tak pernah menghabiskan waktu begitu lama di facebook dan internet, kini semakin sering melakukannya demi membuka grup dan situsmu, FAM. Dan setiap kali aku membuka, aku selalu mendapatkan pelajaran baru yang sangat bermanfaat, baik darimu, FAM, maupun dari para penulis-penulis hebat yang lain. Setiap tulisan teman-teman di grup selau memberikanku pemikiran baru dan perlahan membuatku mengerti bahwa keegoisan dan gengsi itu tak terlalu baik jika terlalu banyak ternanam dalam hati.

    FAM, menulis itu harus ikhlas, kan? Sekarang aku bisa tersenyum saat menulis, FAM... sekarang aku pun bisa menangis saat mengetik kata demi kata yang merangkai cerita haru. FAM, sekarang aku tak malu lagi menumpahkan perasaanku pada orang lain.

    FAM sahabatku, mengenai tema menulis kali ini: Jika aku menjadi penulis terkenal, aku akan..., sebenarnya aku tak begitu mengerti. Mungkin terdengar naif jika aku mengatakan bahwa aku tak ingin menjadi ‘penulis terkenal’. Namun itulah yang benar aku rasakan, FAM. FAM, izinkanlah aku kembali membagi kisahku...

    FAM, pernahkah kau mendengar atau membaca sebuah novel berjudul “The Perks Of Being A Wallflower” karya Stephen Chbosky? Itu buku lama yang beberapa tahun lalu aku baca di perpustakan umum, FAM. Dan kau tahu? Mungkin buku itu adalah salah satu dari sekian buku yang membuatku ingin menulis. Buku itu yang terbaik, menurutku. Buku itu bercerita tentang Charlie, sang tokoh utama yang menulis surat kepada ‘kita’ (baca: pembaca) dan bisa membuatku merasa seperti benar-benar mendapatkan surat dari Charlie. Buku yang hebat, bukan? Meskipun aku tahu, semua buku yang dibaca dari awal dan diresapi hingga halaman terakhir selalu bisa membuat orang menemukan hal yang bisa membuat mereka suka pada buku tersebut. Bukankah begitu?

    FAM, bukankah aku ini sangat bodoh? Sudah bertahun-tahun aku membaca surat-surat yang berada di dalam buku itu dan baru kali ini aku merasa benar-benar menjadi seorang Charlie? Baru kali ini aku benar-benar berniat mengungkapkan apa yang aku rasakan. Namun kali ini, aku tak ingin banyak membahas tentang itu. Mungkin di surat lain aku akan menceritakan padamu. Aku berjanji. FAM, dari sekian kata-kata yang membuatku tersanjung dalam buku itu, satu yang bahkan aku hafal adalah ketika Charlie mengungkapkan perasaannya tentang makna sebuah lagu baginya. Dia mengatakan:

    “.... And I thought about how many people have loved those songs.
    And how many people got through a lot of bad times because of those songs.
    And how many people enjoyed good times with those songs.
    And how much those songs really mean.
    I think it would be great to have written one of those songs.
    I bet if I wrote one of them, I would be very proud.
    I hope the people who wrote those songs are happy.
    I hope that they feel it's enough.
    I really do because they've made me happy.
    And I'm only one person.”

    Kira-kira artinya seperti ini:

    “... Dan aku memikirkan betapa banyaknya orang yang menyukai lagu-lagu itu.
    Dan betapa banyaknya orang yang telah melalui masa-masa sulit karena lagu itu.
    Dan betapa banyak orang yang menikmati masa-masa bahagia bersama lagu itu.
    Dan betapa lagu itu benar-benar berarti.
    Kurasa akan menjadi sebuah kebahagiaan jika bisa menulis satu dari lagu-lagu itu. Aku rasa jika aku menulis satu dari lagu-lagu itu, aku akan menjadi sangat bangga. Aku berharap mereka yang menulis lagu-lagu itu merasa bahagia.
    Kuharap mereka merasa cukup karena itu.
    Aku benar-benar berharap karena lagu-lagu itu telah membuatku bahagia.
    Dan aku hanyalah seorang diri.”

    Jika Charlie mengungkapkan betapa berterima kasihnya dia kepada sorang penulis lagu, aku mengibaratkan itu kepada seorang penulis buku. Aku sangat berterima kasih kepada setiap penulis, yang karya-karyanya telah membuat banyak orang sedih menjadi bahagia, membuat banyak orang bosan menjadi bersemangat, dan membuat mereka yang ‘hilang’ kembali menemukan tekad untuk menemukan jalan mereka. Tapi bukan hanya karena itu, aku ingin menjadi bagian dari orang-orang itu. Bukankah hebat bisa menjadi penulis sebuah buku yang bisa membuat orang bahagia, sedih dan terhanyut dalam setiap halaman buku tersebut? Kutebak iya. Akan sangat bahagia jika aku bisa menulis buku yang demikian. Itu impianku, FAM.

    FAM, namun jika kuasa Allah jatuh kepadaku dan mempertemukan naskah-naskahku dengan sebuah keberuntungan sehingga aku bisa menjadi terkenal, aku ingin membuat sebanyak mungkin naskah itu dan membuat orang-orang yang tak bisa menemukan bukuku dengan berbagai alasan—terutama masalah ekonomi—bisa membaca guratan pikiranku dalam tiap halaman yang terjilid rapi dalam sebuah buku atas namaku. Bukankah menyenangkan bisa membuat orang bahagia, FAM? Namun hanya kehendak Allah yang bisa membuat semua itu bisa terwujud. Sebagai manusia, aku hanya bisa berhusaha sebaik mungkin. Berusaha menulis lebih baik-dan lebih baik lagi, berusaha melapangkan dadaku perlahan, berusaha untuk ikhlas dan melunakkan keangkuhan yang selama ini hinggap di diriku. FAM, kau bersedia membantuku, kan?

    FAM, aku rasa cukup sekian ceritaku padamu. Semoga apa yang aku ceritakan tidaklah membuatmu mengantuk ketika membacanya. Terimaksaih telah membaca surat ini hingga akhir dan tidak mencoba untuk berhenti membaca walaupun sesungguhnya kau bisa melakukan itu.

    Wassalam,

    Salam Santun...

    NOER AST

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Post a Comment

    Item Reviewed: Untukmu yang Membuatku Tak Henti-hentinya Mencintai Dunia Literasi Rating: 5 Reviewed By: Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia
    Scroll to Top